Standar Rusia Semakin Turun, dan Tidak Ada yang Peduli
Eropa

Standar Rusia Semakin Turun, dan Tidak Ada yang Peduli

Berita Internasional >> Standar Rusia Semakin Turun, dan Tidak Ada yang Peduli

Kehidupan rakyat Rusia mungkin menjadi semakin sulit, tetapi Vladimir Putin tampaknya tidak peduli. Kremlin tidak hanya tidak siap untuk mengejar kebijakan untuk meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga merangkul langkah-langkah yang membuat negara lebih miskin. Namun warga Rusia tampaknya tidak paham, setidaknya belum.

Oleh: Chris Miller (Foreign Policy)

Baca Juga: Rusia: 27 Anak-Anak Anggota ISIS Telah Tiba dari Irak

Tahun demi tahun, Rusia terus bertambah miskin. Menurut data baru dari badan statistik negara Rusia, organisasi yang sering dituduh memalsukan data yang mendukung Kremlin, tahun 2018 menandai tahun kelima berturut-turut di mana pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) yang disesuaikan dengan inflasi mengalami penurunan di Rusia. Dengan kata lain, sejak pemerintah melakukan aneksasi Krimea pada awal tahun 2014, kondisi negara semakin memburuk.

Terdapat beberapa penyebab, tidak semuanya berada dalam kendali Rusia. Negara tersebut sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas, jadi ketika harga mereka jatuh, seperti yang terjadi pada tahun 2014 dan 2015, perekonomian negara pun melambat. Tetapi ketika harga minyak naik pada tahun 2016, ekonomi negara mulai tumbuh lagi.

Tahun 2018, harga minyak relatif tinggi, berkisar sekitar US$70 per barel. Berkat kenaikan itu, total ekspor meningkat 27 persen. Hal itu tidak berarti banyak bagi orang Rusia biasa: Perusahaan minyak mungkin menunjukkan performa lebih baik, tetapi rata-rata orang lainnya mengalami situasi yang lebih buruk.

Sanksi keuangan Barat juga tak banyak membantu. Dengan membatasi investasi asing dan meningkatkan biaya pendanaan, sanksi akan memperlambat pertumbuhan bisnis. Meski demikian, berbagai perusahaan Rusia telah menunjukkan performa lebih baik daripada warga Rusia. Produksi industri, misalnya, meningkat 2,9 persen pada tahun 2018, menunjukkan pertumbuhan yang relatif solid. Hal itu berarti sedikit bagi pendapatan individu.

Rusia bukan satu-satunya negara di mana perusahaan menunjukkan performa lebih baik daripada para pekerja. Hal ini mungkin dilihat sebagai bukti bahwa tren global kekuatan ekonomi bergeser ke arah perusahaan besar. Mungkin saja benar demikian, tetapi pemerintah Rusia memiliki keunikan dalam semangat yang di dalamnya merangkul kebijakan yang semua orang tahu akan membuat negara menjadi lebih buruk. Masyarakat Rusia juga unik karena tidak ada yang tampak peduli.

Dengan mempertimbangkan kebijakan ekonomi utama Rusia selama setahun terakhir, semuanya akan terus berlanjut di masa mendatang. Pertama, pemerintah Rusia menjalankan surplus anggaran yang cukup besar pada tahun 2018 dan berencana untuk terus melakukannya hingga tahun 2021. Dikhawatirkan bahwa Amerika Serikat akan menjatuhkan sanksi baru yang memotong akses Rusia ke pasar keuangan Barat, sehingga pemerintahan Putin kini menabung sebagai bentuk persiapan.

Surplus anggaran bukanlah hal buruk. Tetapi uang harus datang dari suatu tempat. Salah satu metodenya ialah memangkas pengeluaran, yang dilakukan pemerintah Rusia secara agresif. Sejak beralih dari perdana menteri menjadi presiden pada tahun 2012, Putin telah memangkas pengeluaran pemerintah di hampir setiap aspek, tidak termasuk pertahanan, pensiun, dan olahraga (berkat Piala Dunia 2018). Dalam perawatan kesehatan saja, Putin telah mengurangi pengeluaran 16 persen, disesuaikan dengan inflasi, terlepas dari hasil kesehatan Rusia yang biasa-biasa saja dan populasi yang menua. Belanja pendidikan turun 14 persen sejak tahun 2012.

Baca Juga: 18 Alasan Mengapa Trump Bisa Jadi Merupakan Agen Rusia

Bahkan ketika pemerintah Rusia memotong layanan publik, kebijakan itu menaikkan pajak, terutama pajak pertambahan nilai, yang meningkat 2 poin persentase awal tahun 2019. Harga untuk semua barang dan jasa akan naik menyesuaikan, meskipun gaji tidak turut naik. Hal ini kelak akan membuat Rusia menjadi lebih miskin lagi.

Sebagai tambahan, tahun 2018, Kremlin mendorong melalui rencana kontroversial untuk menaikkan usia pensiun. Tujuannya adalah mengurangi pengeluaran untuk pensiun pemerintah. Keputusan itu mungkin diperlukan dalam jangka panjang mengingat populasi negara kian menua dan menyusut. Tetapi hampir semua rakyat mengandalkan pensiun pemerintah untuk sebagian besar pendapatan pensiun mereka. Sekarang mereka akan mendapat lebih sedikit dana pensiun.

Gabungkan semua kebijakan ini dan sebuah trenakan  muncul: Kremlin tidak hanya tidak siap untuk mengejar kebijakan untuk meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga merangkul langkah-langkah yang membuat negara lebih miskin. Namun warganya tampaknya tidak paham, setidaknya belum.

Yang pasti, ada banyak bukti bahwa rakyat Rusia tidak puas. Akhir bulan Januari 2019, lembaga survei pemerintah Rusia sendiri menemukan bahwa hanya 33 persen orang Rusia mengatakan mereka mempercayai Putin, turun dari angka 70 persen setelah ia menganeksasi Crimea. Dalam beberapa pemilihan umum tingkat tinggi tahun 2018, para kandidat pilihan Kremlin kalah, berkat suara protes terhadap partai United Russia yang dipimpin Putin dan elit penguasa Rusia secara umum.

Tetapi untuk setiap jajak pendapat atau hasil pemilu yang menunjukkan ketidakbahagiaan, ada yang lain yang menunjukkan arah yang berlawanan. Rusia mungkin kurang begitu mempercayai Putin lebih dari sebelumnya, tetapi lebih dari 60 persen mengatakan mereka menyetujui pekerjaannya sebagai presiden. Angka ini turun dari yang tertinggi pasca aneksasi Krimea, tetapi ini adalah angka yang akan menyenangkan Presiden AS Donald Trump atau Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Jajak pendapat mungkin telah melebih-lebihkan dukungan untuk Putin, setidaknya sedikit. Tetapi pertanyaan kuncinya bukanlah apa yang dikeluhkan orang Rusia atau apa yang mereka katakan kepada para pengelola jajak pendapat, melainkan tindakan apa yang mereka ambil. Pemerintah di seluruh dunia dengan senang hati akan menaikkan pajak dan memotong pengeluaran sosial, tetapi di sebagian besar negara, warga negara akan memobilisasi menentang mereka.

Elit politik Rusia dan elit bisnisnya saling terkait erat, sehingga bisnis, terutama perusahaan milik negara, tahu bagaimana cara mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebaliknya, warga negara biasa tidak memainkan peran dalam proses pemerintahan, sehingga mereka diabaikan. Menggerutu saja tidak akan mengubah kondisi masyarakat Rusia.

Pemerintah Rusia tidak selalu begitu meremehkan kesejahteraan rata-rata orang Rusia. Selama tahun 2000-an, dekade pertama Putin berkuasa, penasihat politiknya percaya bahwa peningkatan pendapatan dan peningkatan pengeluaran sosial adalah kunci untuk menjaga populasi tetap diam dan menjaga Putin tetap berkuasa. Kremlin telah menaikkan pensiun dengan tarif dua digit di sebagian besar tahun 2000-an. Di tengah protes anti-Putin pada tahun 2011 dan 2012, pemerintah Rusia meningkatkan upah pegawai negeri, dengan benar bertaruh bahwa hal itu akan memperbaiki ketidakpuasan rakyat.

Namun, selama lima tahun terakhir, pemerintah Rusia telah menarik pelajaran yang berbeda: Populasi dapat dikelola tanpa pendapatan yang lebih tinggi. Elit tidak perlu berbagi hasil pertumbuhan. Dengan pertumbuhan yang sangat sedikit, hanya 1 atau 2 persen selama tahun-tahun mendatang, tidak ada banyak pertumbuhan untuk dibagikan. Alih-alih meningkatkan pendapatan, memotong pajak, maupun menaikkan pensiun atau upah, pemerintah Rusia lebih mengandalkan taktik lain untuk mengelola populasi.

Sedikit propaganda akan membantu mengalihkan kesalahan dari Kremlin. Sedikit penindasan dapat meningkatkan kerugian yang akan dihadapi rakyat Rusia jika turun ke jalan. Sedikit pesimisme, yang secara luas dirasakan di antara penduduk maupun elit, akan mempertahankan pandangan bahwa perubahan merupakan hal yang tidak mungkin.

Ini tidak benar, tentu saja. Sangat mudah untuk membayangkan kebijakan yang akan membuat orang Rusia pada umumnya menjadi lebih kaya daripada menjadi lebih miskin. Perusahaan-perusahaan milik negara dapat mentransfer lebih banyak keuntungan mereka kepada pemerintah melalui cara-cara legal seperti pajak, alih-alih membuangnya melalui korupsi, misalnya. Putin dapat berinvestasi lebih banyak di bidang kesehatan dan pendidikan. Dia bisa berkompromi dengan Barat untuk agar sanksi dicabut.

Tetapi mengapa Kremlin harus peduli? Seperti kebanyakan pemerintah, penguasa Rusia merespons terhadap insentif. Tahun 2000-an, mereka khawatir dengan pecahnya protes. Namun, lima tahun terakhir telah meyakinkan mereka bahwa tidak ada hubungan yang jelas antara proses pemiskinan dan perbedaan pendapat.

Beberapa orang Rusia bercanda bahwa penduduknya sedang berada di tengah perang pengaruh antara kulkas dan televisi mereka. Kulkas mereka di rumah kosong, tetapi televisi mengatakan bahwa semuanya hebat. Bagi mereka yang tidak percaya televisi, ada tongkat pemukul polisi.

Sejauh ini, mereka telah melakukan keajaiban dalam memastikan agar warga Rusia tidak turun ke jalan. Selama rakyat Rusia tetap duduk diam di rumah, Kremlin tidak punya alasan untuk memastikan bahwa lemari es mereka tetap penuh.

Baca Juga: Mengapa Rusia Terus Tertawakan Dunia?

Chris Miller adalah Asisten Profesor di The Fletcher School dan penulis buku bertajuk Putinomics: Power and Money in Resurgent Russia.

Keterangan foto utama: Seorang pria Rusia berhenti di sebuah jalan di pusat kota Moskow, tanggal 10 Maret 2017. (Foto: Getty Images/Spencer Platt)

Standar Rusia Semakin Turun, dan Tidak Ada yang Peduli

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Khevin

    February 15, 2019 at 4:43 am

    Kebijaka ini harus di tindak lanjuti oleh pihak wewenang dan tida makas

Beri Tanggapan!

To Top