Perang Suriah
Timur Tengah

Perang Suriah Mungkin Berakhir, Tapi Gelombang Terorisme Akan Tiba

Tentara Suriah berpatroli di Damaskus selatan, Suriah, pada Mei 2018. (Foto: AAP/EPA/Youssef Badawi)
Berita Internasional >> Perang Suriah Mungkin Berakhir, Tapi Gelombang Terorisme Akan Tiba

Perang Suriah mungkin akan berakhir dengan Assad terus berkuasa, tetapi kebencian yang ditimbulkannya kemungkinan akan berevolusi menjadi gelombang terorisme baru. Sebagian besar populasi akan mempertanyakan mengapa perang itu dilancarkan, yang menciptakan 5 juta pengungsi, menggusur 6 juta orang, dan membunuh lebih dari 400.000 orang, mengingat bahwa Assad masih berkuasa pada akhirnya. Kebencian akan berkembang dan berubah menjadi kemarahan yang tak terbendung, mungkin bermanifestasi dalam bentuk regu pengeboman bunuh diri.

Baca juga: Bagaimana Strategi Perang Suriah Putin Rendahkan Donald Trump

Oleh: Mehmet Ozalp (The Conversation)

Seiring perang Suriah berada di tahap akhir, masa depan negara tersebut dan seluruh wilayahnya menghadapi ketidakpastian. Seiring Presiden Suriah Bashar al-Assad mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengalahkan semua oposisi, perlawanan berisiko akan berubah menjadi gelombang baru terorisme terorganisasi.

Analisis saya pada awal tahun 2018 memprediksi akan segera berakhirnya konflik, dengan Assad menang atas para pemberontak. Tahap akhir perang diperkirakan akan terjadi di kota penting dan Provinsi Idlib, yang merupakan kubu kelompok pemberontak. Perebutan Idlib akan memperkuat kontrol Assad terhadap Suriah Barat yang dibatasi oleh Sungai Eufrat.

Idlib dan Daraa adalah tempat pertama di mana perang sipil pecah pada tahun 2011. Daraa jatuh ke pasukan Assad pada bulan Juli 2018. Tak terelakkan, Idlib berada di urutan berikutnya.

Sejak tahun 2015, Idlib telah berfungsi sebagai gudang para pemberontak yang melarikan diri dari pasukan Assad. Strategi Assad sangat jelas: untuk menyerang pasukan oposisi di setiap kota dengan dukungan udara Rusia; menghancurkan sebanyak mungkin pemberontak bersenjata; izinkan para pemberontak bersenjata untuk pindah ke Idlib sebagai tempat berlindung sementara, dan kemudian luncurkan serangan terakhir terhadap Idlib untuk menyingkirkan semua oposisi bersenjata. Saat ini semuanya berjalan sesuai rencana, dan berhasil.

Jutaan warga sipil juga pindah ke Idlib, melarikan diri dari perang di tempat lain. PBB telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Idlib bisa menjadi “bencana kemanusiaan terburuk abad ke-21”.

Pada Juli 2018, dunia dan pemerintah Amerika Serikat (AS) menunggu dengan gugup untuk melihat apa yang akan dilakukan KTT Trump-Putin Helsinki untuk Suriah. Namun masalah Suriah dibayangi oleh isu campur tangan Rusia dalam Pemilu AS 2016, dan Trump secara mengejutkan memilih untuk mempercayai Putin daripada para ajudan intelijennya sendiri mengenai masalah ini.

Kurang pentingnya masalah Suriah selama KTT tersebut—ditambah dengan kurangnya wawasan strategis Trump—menegaskan kembali kepada Putin bahwa AS tidak berperan aktif di Suriah. Sesaat setelah KTT tersebut, Assad dan Rusia mengintensifkan persiapan mereka untuk menyerang Idlib.

Perang Suriah: Ribuan Berdemo, Lawan Rencana ‘Serangan Berdarah’ Idlib

Ribuan warga hadiri protes di kota Maarat al-Nouman di Suriah, melawan rencana serangan berdarah di provinsi Idlib, pada 14 September 2018. (Foto: Al Jazeera/Mohammed al-Daher)

Orang-orang penting lainnya di pemerintahan AS menunjukkan kepedulian, tidak seperti Trump. Penasihat keamanan John Bolton, Menteri Pertahanan Jim Mattis, serta negara-negara Eropa lainnya, mengeluarkan peringatan berulang-ulang terhadap penggunaan senjata kimia.

Sebagai tanggapan, Rusia telah meluncurkan kampanye yang mengklaim bahwa negara-negara blok AS dan Barat menggunakan serangan kimia bertahap sebagai dalih untuk menyerang Assad. Pada saat yang sama, Rusia sibuk memperkuat pasukan angkatan lautnya di Mediterania dengan menambahkan 10 kapal perang lagi ke armada yang cukup besar.

Setelah menenangkan AS dan sekutu Baratnya, Rusia, Iran, dan Turki bertemu di Teheran pada awal September untuk memutuskan nasib Idlib dan penduduknya. Putin secara terbuka menolak seruan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk gencatan senjata.

Sekitar satu minggu kemudian, Putin dan Erdogan bertemu. Putin mengumumkan perjanjian antara Rusia dan Turki untuk menciptakan “zona demiliterisasi hingga 15-20 kilometer, dengan penarikan diri para pemberontak yang berpikiran radikal, termasuk al-Nusra”.

Tidak seorang pun yakin siapa “para pemberontak yang berpikiran radikal” itu, tetapi Turki akan bertindak sebagai penjamin dalam proses demiliterisasi, dengan mengandalkan pengaruhnya yang signifikan atas kelompok-kelompok pemberontak tersebut.

Turki tidak punya pilihan. Turki menghadapi kemungkinan nyata gelombang lain ratusan ribu warga sipil terlantar yang menambah 3,5 juta warga Suriah yang mencari perlindungan di Turki. Lebih penting lagi, para pelaku jihad yang melarikan diri kemungkinan akan berkumpul kembali di Turki, menciptakan ancaman keamanan internal yang besar bagi negara itu.

Seiring kelompok pertama mulai meninggalkan zona demiliterisasi pada 30 September, sekelompok kecil pengungsi kembali ke Suriah dari Lebanon. Ini tentu saja pertanda baik, tetapi itu bukan berarti perang telah berakhir. Bahkan tidak ada gencatan senjata resmi, dan PBB terus mengeluarkan peringatan bahwa Suriah masih terlalu berbahaya untuk dijadikan tempat tinggal dan beroperasi.

Yang pasti adalah, bahwa semua pihak—termasuk Turki, AS, dan beberapa kelompok oposisi—sekarang menerima bahwa Assad tetap berkuasa sebagai satu-satunya pemerintah yang sah di Suriah. Kenyataan ini akan memiliki dua konsekuensi utama.

Pertama, setelah benar-benar bebas dari oposisi bersenjata, Rusia melalui rezim Assad kemungkinan akan menantang kehadiran AS di Suriah. Rusia berada di Suriah bukan karena alasan yang baik, tetapi terutama untuk memastikan keabadian aksesnya ke Laut Tengah. Kehadiran permanen AS di Suriah bentrok dengan tujuan ini.

Opini: Kejahatan di Dunia Makin Kuat, Kita Tak Bisa Biarkan Mereka Menang

Seorang wanita mencari barang-barang untuk diselamatkan, seiring rezim Suriah mulai membersihkan puing-puing di kamp pengungsi Palestina Yarmuk di ibu kota Suriah, Damaskus, pada Selasa (9/10). (Foto: AFP/Getty Images/Louai Beshara)

Pada akhir 2018, dan tentu saja pada 2019, tuntutan AS untuk meninggalkan Suriah akan meningkat—suatu kemungkinan yang dengan jelas disuarakan Trump sejak April 2018. AS kemungkinan akan mundur dari Suriah dengan syarat bahwa pengaruh Iran di negara itu telah ditahan. Rusia dan Assad akan membuat janji, tetapi begitu AS keluar, Iran akan kembali.

Kedua, masalah terbesar yang dihadapi Suriah adalah perasaan kebencian yang mendalam di sebagian besar populasi. Mereka akan mempertanyakan mengapa perang itu dilancarkan, yang menciptakan 5 juta pengungsi, menggusur 6 juta orang, dan membunuh lebih dari 400.000 orang, mengingat bahwa Assad masih berkuasa pada akhirnya dan Suriah tidak lebih dekat menjadi negara demokrasi yang memajukan hak asasi manusia.

Baca juga: Antisipasi Berlanjutnya Perang Suriah, Turki Kerahkan Pasukan di Perbatasan Idlib

Bagi beberapa orang, kebencian akan tetap terasa. Tetapi bagi minoritas yang signifikan, kebencian akan berkembang dan berubah menjadi kemarahan yang tak terbendung, mungkin bermanifestasi dalam bentuk regu pengeboman bunuh diri. Mereka akan mengatur kembali diri mereka dan meluncurkan kampanye terorisme yang berfokus terutama pada sasaran sipil yang mudah. Ini hanya akan melayani narasi Assad dalam memerangi terorisme dan telah memperkuat klaimnya di mata warga Suriah, serta semakin meningkat dalam komunitas internasional.

Kampanye terorisme secara tak terelakkan akan menyebar ke Rusia karena Rusia secara kuat mendukung Assad, dan ke AS dan sekutu-sekutu Baratnya karena mereka mengizinkan Rusia mengambil alih Suriah, menumbangkan semua upaya untuk menyingkirkan Assad.

Perang sipil di Suriah mungkin akan berakhir dengan Assad yang terus berada dalam kekuasaan, tetapi kebencian yang ditimbulkannya kemungkinan akan berevolusi menjadi gelombang terorisme baru.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Tentara Suriah berpatroli di Damaskus selatan, Suriah, pada Mei 2018. (Foto: AAP/EPA/Youssef Badawi)

Perang Suriah Mungkin Berakhir, Tapi Gelombang Terorisme Akan Tiba

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Smith

    October 21, 2018 at 6:37 pm

    GO HOME BASTARD ASU AMERIKA LIKE ANIMAL DOG. . …YOU ARE ALWAYS LOSE.. EVERYWHERE..

Beri Tanggapan!

To Top