Putra Mahkota Arab Saudi
Opini

Opini: Putra Mahkota Arab Saudi Tak Terlalu Diperlukan

Opini: Putra Mahkota Arab Saudi Tak Terlalu Diperlukan

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bukannya tidak tergantikan. Stabilitas negara tersebut tidak bergantung padanya. Dan sejauh ini, ia telah merugikan upaya untuk menahan Iran.

Baca Juga: Negara-Negara Arab Khawatir Kasus Khashoggi Picu Ketidakstabilan Regional

Oleh: Bobby Ghosh (Bloomberg)

Sejak kontroversi seputar pembunuhan kritikus Jamal Khashoggi, Arab Saudi telah dapat mengandalkan dukungan dari sebagian besar negara Arab. Bahkan seiring para pejabat secara pribadi menyatakan perkiraan bahwa kecaman internasional atas pembunuhan kolumnis Washington Post tersebut akan mengekang kekuasaan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman—penguasa de facto kerajaan Saudi—namun pernyataan publik mereka sangat tegas.

Sekarang, dengan pangeran Mohammed dilemahkan secara politis oleh kontroversi tersebut, beberapa pemimpin paling kuat di wilayah itu—Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi—secara diam-diam melobi pemerintahan Trump untuk mendukung Mohammed. Argumen mereka: Kelangsungan hidup MBS—julukan putra mahkota tersebut secara luas—sangat penting bagi stabilitas kerajaan, dan untuk menahan Iran—tujuan utama Amerika dan Israel di wilayah tersebut.

Terdapat alasan bagi Amerika Serikat (AS) dan lainnya untuk mendukung MBS, terutama jika ia membuka penyelidikan Khashoggi, memulai reformasi, dan menghentikan perang di Yaman. Tetapi stabilitas bukanlah salah satunya. Itu adalah sebuah kiasan lama yang benar-benar didiskreditkan yang digunakan untuk mendukung tirani-tirani Timur Tengah selama beberapa dekade. Itu jarang digunakan untuk membela penguasa Saudi, dan untuk alasan yang bagus.

Stabilitas adalah—pada kenyataannya—sifat terkuat dari Keluarga Saud. Keluarga tersebut telah memerintah Arab Saudi modern sejak tahun 1932, dengan transfer kekuasaan yang paling halus dari satu penguasa ke yang lain. Keluarga Saud telah bertahan dari segala macam guncangan politik, dari upaya kudeta hingga tantangan politik Islam. Keluaga Saud mengatasi efek destabilisasi Revolusi Iran tahun 1979 dan serangan terhadap Masjidil Haram di Mekkah pada tahun yang sama. Hubungannya dengan AS juga mengalami tekanan besar, seperti guncangan minyak tahun 1970-an dan, baru-baru ini, serangan 9/11 di New York dan Washington.

Singkatnya, tidak ada negara di Timur Tengah di mana perubahan penguasa tidak mungkin menciptakan ketidakstabilan, atau mengancam aliansi dengan Amerika Serikat.

Ketika Sisi harus membuat argumen stabilitas, itu sangat tidak mengejutkan: Hal ini sering dikerahkan oleh para pembela—di Kairo dan Washington—untuk membenarkan dukungan AS untuk otokrat Mesir tersebut. Sisi mungkin juga merasa dia berutang pada raja Saudi karena telah mendukung kudeta tahun 2013 yang membawanya ke tampuk kekuasaan.

Baca Juga: Erdogan Bicara dengan Putra Mahkota Saudi di Tengah Kasus Khashoggi

Di bawah jenderal tersebut, Mesir telah menjadi semakin bergantung secara ekonomi pada Arab Saudi, dan Sisi telah dengan gigih mendukung petualangan MBS di wilayah tersebut, termasuk perang di Yaman dan blokade Qatar. Yang mengecewakan banyak rakyat Mesir, Sisi bahkan telah menyerahkan wilayah ke Saudi.

Dukungan Netanyahu terhadap MBS lebih mengejutkan. Memang benar bahwa hubungan Israel-Saudi telah meningkat pesat sejak Putra Mahkota Mohammed mengambil alih, terutama karena kedua negara merasa terancam oleh pengaruh Iran yang meluas dan agresif di wilayah tersebut.

Tetapi karena alasan itu, tujuan Israel tidak bergantung pada putra mahkota: Ketakutan akan Iran bersifat institusional, bukan individual. Itu sudah ada lama sebelum MBS naik, dan akan hidup lebih lama darinya. Tidak dapat dibayangkan bahwa raja Saudi manapun akan mengadopsi sifat yang sangat berbeda terhadap Republik Islam tersebut.

Terdapat alasan lain mengapa Israel tidak membutuhkan MBS: pengembangan hubungan regional Netanyahu sendiri, yang dulu dianggap mustahil. Bulan lalu, ia membuat terobosan baru dengan melakukan perjalanan ke Muscat untuk bertemu dengan Sultan Qaboos dari Oman. Pada minggu yang sama, Menteri Kebudayaannya berkunjung ke Dubaifor yang termasuk tur ke masjid agung.

Netanyahu juga bertemu Sisi pada bulan September ketika keduanya menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hubungan ini—yang independen dari MBS—tidak bergantung pada dukungan Amerika untuk putra mahkota tersebut.

Memang, setiap pemeriksaan rasional terhadap kebijakan MBS dapat menyebabkan baik Israel maupun pemerintahan Trump untuk menyimpulkan bahwa—jauh dari upaya yang penting untuk menahan Iran—MBS telah merusak upaya itu. Perang di Yaman dan blokade Qatar, yang keduanya adalah inisiatifnya, telah memecah dunia Arab, menguras sumber daya militer dan politik, tepat ketika persatuan melawan ancaman Iran adalah yang paling penting. Dan pembunuhan Khashoggi—seperti yang dikatakan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis di Manama bulan lalu—telah merusak stabilitas regional.

Dalam memutuskan apakah akan mendukung MBS, pemerintahan Trump harus lebih banyak mendengarkan Menteri Pertahanannya dan mengurangi mendengar para pemimpin Israel dan Mesir. Baik stabilitas Arab Saudi maupun dorongan untuk menahan Iran, bergantung pada putra mahkota tersebut.

Bobby Ghosh adalah kolumnis dan anggota dewan editor Opini Bloomberg. Dia menulis tentang urusan luar negeri, dengan fokus khusus pada Timur Tengah dan dunia Islam yang lebih luas.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Presiden Donald Trump. (Foto: Getty Images/Mark Wilson)

Opini: Putra Mahkota Arab Saudi Tak Terlalu Diperlukan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top