Opini: Rawan Bencana, Indonesia Harus Segera Siapkan Sistem Logistik Kemanusiaan
Berita Politik Indonesia

Opini: Rawan Bencana, Indonesia Harus Segera Siapkan Sistem Logistik Kemanusiaan

Home » Berita Politik Indonesia » Opini: Rawan Bencana, Indonesia Harus Segera Siapkan Sistem Logistik Kemanusiaan

Membangun sistem logistik tidaklah sederhana, terutama yang berfokus pada manajemen bencana. Sistem logistik bencana lebih kompleks daripada sistem logistik umum karena ketidakpastian ancaman dan kerentanan. Namun, terletak di Ring of Fire yang rawan bencana, Indonesia perlu segera menyiapkan sistem logistik kemanusiaan. Penyelamatan korban di Sulawesi Tengah lamban dan terhambat karena tidak adanya sistem yang memadai.

Oleh: Suprayoga Hadi (The Conversation)

Terletak di Ring of Fire yang rawan bencana, Indonesia perlu segera menyiapkan sistem logistik kemanusiaan. Menyusul gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9), para pekerja Search and Rescue (SAR) di Sulawesi Tengah telah berjuang untuk menyelamatkan para korban yang terperangkap di bawah reruntuhan karena kurangnya peralatan berat.

Setidaknya 1.300 orang telah meninggal, dan puluhan ribu orang telah mengungsi. Mereka membutuhkan berbagai persediaan untuk bertahan hidup, termasuk listrik, air bersih, makanan, obat-obatan, tenda, selimut, popok bayi, dan pembalut wanita.

Kelangkaan alat-alat berat dan bantuan kemanusiaan telah membuat situasi di daerah-daerah yang terkena dampak di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi-Moutong sangat mengerikan. Sejumlah warga meninggalkan Palu dan daerah-daerah lain yang terkena dampak menuju ke lokasi yang lebih aman.

Baca Juga: Waktu Mulai Habis untuk Pencarian Korban Gempa Palu

Warga Palu antre untuk meninggalkan Palu dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah, pada tanggal 1 Oktober 2018. (Foto: EPA/Hotli Simanjuntak)

Logistik kemanusiaan

Indonesia adalah negara kepulauan dengan sekitar 17 ribu pulau. Konektivitas antara bagian barat dan timur negara tersebut telah lama menjadi masalah. Palu—ibu kota Sulawesi Tengah—terletak lebih dari 2.200 kilometer timur laut Jakarta, Indonesia.

Indonesia memiliki sistem logistik untuk mengangkut barang-barang antar-berbagai bagian negara. Tetapi itu tidak dirancang untuk menangani bencana darurat. Jadi, ketika bencana besar melanda, seperti di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada bulan Juli dan Agustus, dan di Sulawesi Tengah akhir pekan lalu, Indonesia berjuang untuk memberikan bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah tersebut.

Indonesia memang mengembangkan sistem logistik bencana. Setelah tsunami tahun 2004 yang menghancurkan di Aceh, Sumatra, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Indonesia (BRR) bersama Program Pangan Dunia (WFP) mengembangkan sistem untuk menanggapi keadaan darurat dan untuk mendukung proses pemulihan Aceh antara tahun 2005 dan 2009.

Pada tahun 2010, WFP dan kementerian terkait merancang Rencana Induk Logistik Kemanusiaan (HLMP). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ditugaskan untuk mengawasi dan mengkoordinasikan rencana induk logistik bencana ini, termasuk integrasinya ke dalam sistem logistik nasional.

Tetapi pemerintah belum mengadopsi rencana induk ini. Saat ini, pengembangan sistem logistik Indonesia diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi dengan mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi di wilayah timur Indonesia.

Baca Juga: Gempa dan Tsunami Palu: Jokowi Lakukan Kunjungan Kedua, Seiring Bantuan Bertambah

Tantangan untuk membangun sistem logistik kemanusiaan

Membangun sistem logistik tidaklah sederhana, terutama yang berfokus pada manajemen bencana. Sistem logistik bencana lebih kompleks daripada sistem logistik umum karena ketidakpastian ancaman dan kerentanan.

Indonesia harus mempertimbangkan setidaknya delapan tantangan untuk mengintegrasikan sistem logistik darurat bencana ke dalam sistem nasional:

  1. rantai panjang pasokan logistik
  2. prosedur birokrasi yang rumit, terutama yang berkaitan dengan bea cukai
  3. konektivitas pengiriman yang lemah
  4. layanan dan operasi pelabuhan yang tidak efisien
  5. konektivitas yang buruk di daerah yang terkena dampak
  6. beban besar yang ditangani oleh sektor penerbangan
  7. konektivitas internasional yang terbatas
  8. dan koordinasi yang lemah antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani logistik bencana.

Selain itu, Indonesia perlu mempertimbangkan untuk membangun lebih banyak jalan dan pelabuhan untuk meningkatkan konektivitas antar-pulau dan wilayah. Harus ada jalan dan pelabuhan yang menghubungkan titik-titik di dalam kota dan kabupaten juga.

Sehubungan dengan pasokan logistik, Indonesia juga menghadapi tantangan. Harga komoditas untuk bantuan kemanusiaan relatif tinggi, penyedia layanan dan komoditas logistik memiliki kapasitas terbatas, kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen logistik rendah, dan masih terdapat penggunaan teknologi yang terbatas dalam logistik manajemen bencana.

Akhirnya, terkait dengan aspek darurat manajemen bencana, Indonesia menghadapi beberapa masalah. Kepemimpinan dan koordinasi pada manajemen logistik bencana masih lemah. Orang-orang tidak terlatih dalam logistik manajemen bencana. Tidak memiliki sistem informasi yang canggih untuk manajemen logistik. Dan tidak ada depot khusus untuk mengakomodasi logistik darurat bencana.

Baca Juga: Gempa Palu, Kampanye Pemilu Harus Tetap Dilanjutkan

Menyiapkan logistik kemanusiaan untuk Sulawesi

Untuk mengelola bencana di Sulawesi Tengah, Indonesia perlu segera membangun sistem logistik darurat bencana.

Untuk tahap awal, langkah-langkah ini patut dipertimbangkan:

  1. buat inventaris kebutuhan logistik darurat yang mendesak dan yang tidak begitu mendesak untuk diberikan pada tahap selanjutnya
  2. mengidentifikasi persediaan yang dapat diperoleh secara lokal dan pasokan yang perlu dikirim dari luar daerah yang terkena dampak, termasuk dari luar Indonesia
  3. memetakan kebutuhan logistik darurat bencana bagi korban, baik di tempat penampungan sementara maupun yang tersebar di wilayah lain
  4. Mengurutkan dan mengklasifikasikan jenis-jenis logistik darurat bencana; misalnya kebutuhan dasar (pakaian, obat-obatan, dan peralatan darurat), tempat penampungan sementara, dan alat berat untuk pencarian dan penyelamatan, dan untuk membersihkan daerah yang terkena dampak dari puing-puing
  5. membuat rencana darurat dalam mendistribusikan bantuan dan peralatan kemanusiaan untuk memastikan proses evakuasi dan penyelamatan dilakukan dengan cepat, dan untuk memastikan bahwa semua wilayah yang terkena dampak menerima bantuan kemanusiaan
  6. membangun beberapa depot logistik di tingkat kabupaten/kecamatan yang dapat melindungi pasokan logistik untuk distribusi
  7. Menugaskan agen untuk mengelola sistem logistik darurat bencana di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang terkena dampak di Sulawesi Tengah, di bawah koordinasi Tim Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Sulawesi Tengah.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan yang relevan, harus sangat berkomitmen untuk menerapkan langkah-langkah di atas.

Manajemen bencana di Sulawesi Tengah kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk mempersiapkan lebih lanjut sistem logistik kemanusiaan nasional. Ini akan memperkuat sistem manajemen bencana nasional, terutama di tingkat lokal di Indonesia.

Baca Juga: Gempa Palu, Kampanye Pemilu Harus Dihentikan Sementara

Suprayoga Hadi adalah Wakil Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Ketersediaan terbatas alat berat dan bantuan kemanusiaan menyulitkan korban bencana di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi-Moutong. (Foto: EPA/Hotli Simanjuntak)

Opini: Rawan Bencana, Indonesia Harus Segera Siapkan Sistem Logistik Kemanusiaan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top