Opini

40 Tahun Revolusi Iran: Mimpi Buruk yang Belum Berakhir

Berita Internasional >> 40 Tahun Revolusi Iran: Mimpi Buruk yang Belum Berakhir

Empat puluh tahun setelah Revolusi Islam, rezim di Iran tampaknya telah berkuasa sepenuhnya berkat penggunaan kekerasan dan sensor yang efektif, meski hal itu mungkin tidak akan berlangsung lebih lama. Penindasan di mana-mana dan terus-menerus sejauh ini memberikan sedikit peluang bagi oposisi untuk menata diri menjadi kekuatan yang kredibel dan kuat. Tetapi ketika Iran merayakan peringatan 40 tahun revolusi, muncul perubahan dalam lanskap politik yang dapat mengarah pada perubahan politik nyata di masa depan.

Baca Juga: Rouhani: ‘Iran Hadapi Tantangan Ekonomi Terburuk Sejak Revolusi 1979’

Oleh: Jamshid Barzegar (Deutsche Welle)

Empat puluh tahun yang lalu, ketika Revolusi Islam berhasil menggulingkan monarki terakhir Iran, Mohammad Reza Shah Pahlavi. Saat itu penulis masih berusia tujuh tahun. Tetapi usia tidak menghentikannya untuk menjadi bagian dari demonstrasi saat itu. Keluarga penulis, lebih tepatnya bagian keluarga yang mendukung revolusi, membawanya ke beberapa orang dari mereka. Keluarga penulis, seperti banyak orang lain di Iran pada saat itu, terbagi menjadi dua kubu: mayoritas menentang Shah dan minoritas menolak revolusi.

Dalam beberapa bulan pertama, diskusi politik di rumah dan di jalanan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sekolah, penulis dan anak-anak lain harus berbaris untuk meneriakkan slogan-slogan yang memuji Ayatollah Khomeini dan sekutu-sekutunya, tetapi di jalanan ada saat-saat ketika para penentang revolusi mengelilingi mereka dan menyuruh meneriakkan pernyataan kritis terhadap para ulama yang berkuasa. Di rumah, anak-anak diperingatkan untuk berhati-hati dan menghindari masalah.

Pertanyaan tentang di pihak mana seseorang harus berada tidak lagi muncul: anak-anak dikeluarkan dari sekolah sehingga dapat menyaksikan “penentang revolusi” dihukum mati di tiang gantungan. Bahkan hari ini “gelar kriminal” ini melekat pada penentang Republik Islam dan cukup menjadi pembenaran terhadap tindakan hukuman yang sangat keras.

Kekerasan terhadap musuh sistem

Eksekusi, pemenjaraan, dan pengasingan adalah alat utama para pemimpin Republik Islam untuk menggagalkan segala oposisi terhadap pemerintahan mereka. Hal ini dimulai dengan eksekusi para pejabat Shah dan beberapa komandan pasukan hanya beberapa hari setelah monarki digulingkan. Tetapi segera setelah itu, tahun 1980-an, ribuan “mantan revolusioner” juga dibunuh, bahkan dalam banyak kasus tanpa diadili terlebih dahulu.

Baca Juga: Seluk-beluk di Balik Strategi Iran Baru Milik Israel

Rezim Islam yang baru tidak pernah keberatan menembaki para pengunjuk rasa setiap kali mereka turun ke jalan, seperti yang terjadi pada tahun 2009 maupun 2018.

Perkembangan lain yang memperjelas bahwa rezim akan berupaya mempertahankan kekuasaan dengan segala cara adalah apa yang disebut pembunuhan berantai, termasuk yang dilakukan terhadap para penulis. Pada waktu itu, penulis artikel ini adalah seorang jurnalis dan anggota asosiasi penulis Iran.

Musim gugur 1998, mayat aktivis politik Dariush dan Parvaneh Forouhar yang telah dimutilasi, ditemukan di rumah mereka. Dua hari kemudian, jasad penulis Mohammad Mokhtari dan Mohammad Jafar Pouyandeh, yang juga anggota asosiasi penulis, ditemukan di gurun di luar Teheran.

Tak lama sebelumnya, ada upaya untuk mendorong jatuh kendaraan yang berisi lebih dari 20 penulis hingga memasuki lereng. Sementara pertemuan asosiasi penulis, yang dipenuhi dengan ketakutan, adalah pengalaman baru bagi anggota muda seperti penulis, yang lebih tua di antara para peserta pertemuan masih mengingat suasana di tahun-tahun pertama setelah revolusi, suatu masa ketika seorang penyair sayap kiri ditangkap di pesta pernikahannya sendiri dan tak lama kemudian dieksekusi oleh regu tembak.

Meskipun kemudian terungkap, atas desakan Presiden Iran saat itu Mohammad Khatami yang berorientasi reformasi, bahwa karyawan Kementerian Intelijen dan Keamanan (MOIS) yang terkenal berada di balik pembunuhan, yang mengarah pada beberapa hukuman, bahwa sistem itu sendiri sama sekali tidak terguncang. Sebaliknya, sensor pers semakin intensif dan timbul gelombang baru penangkapan jurnalis dan penulis yang berorientasi reformasi.

Front politik baru

Penindasan di mana-mana dan terus-menerus sejauh ini memberikan sedikit peluang bagi oposisi untuk menata diri menjadi kekuatan yang kredibel dan kuat. Tetapi ketika Iran merayakan peringatan 40 tahun revolusi, muncul perubahan dalam lanskap politik yang dapat mengarah pada perubahan politik nyata di masa depan.

Baca Juga: Garda Revolusi Iran Luncurkan Rudal ke Suriah atas Serangan Parade Militer

Dalam struktur kekuasaan pemerintah Iran, perpecahan dalam kamp “garis keras” versus “reformis” kian menjadi samar-samar tak seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Tetapi ketika harapan untuk keluar dari situasi ekonomi yang putus asa kian berkurang, para pendukung perubahan sistemik semakin menjauhkan diri mereka dari penjaga yang tidak kenal kompromi dari sistem saat ini dan juga para reformis.

Dengan kata lain, sekarang terdapat dua kubu baru, yang saling berhadapan untuk pertama kalinya selama protes nasional pada pergantian tahun 2017-2018. Di satu sisi adalah pembela status quo dan Republik Islam. Di sisi lain, terdapat para pendukung perubahan yang menjangkau jauh, yang bermaksud menggulingkan rezim saat ini.

Dalam hampir 20 tahun sejak penulis meninggalkan Iran, penulis sering ditanyai dalam wawancara atau oleh teman-teman tentang bagaimana situasi akan berlanjut di Iran. Bahkan sekarang penulis harus mengatakan: tidak ada yang mengetahui jawaban untuk pertanyaan ini. Tetapi situasi hari ini sebanding dengan 40 tahun yang lalu. Dan apa yang terjadi pada saat itu berada di luar imajinasi kebanyakan orang.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Revolusi Iran, yang terjadi 40 tahun lalu, telah berubah menjadi mimpi buruk. (Foto: Reuters/Tima/R. Homavandi)

40 Tahun Revolusi Iran: Mimpi Buruk yang Belum Berakhir

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top