strategi politik global amerika serikat
Amerika

Tahun 2019, Ketika Strategi Global AS Akhirnya Berantakan

Presiden AS Donald Trump dan James Mattis, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, saat penerimaan di Ruang Timur di Gedung Putih, Washington, pada 25 Oktober 2018. (Foto: AP/Manuel Balce Ceneta)
Berita Internasional >> Tahun 2019, Ketika Strategi Global AS Akhirnya Berantakan

Tahun 2019 tampaknya akan menjadi tahun ketika strategi global AS akhirnya menjadi terurai dan berantakan. Bukannya memadukan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang memenangkan Perang Dingin, strategi Amerika menjadi sangat terpusat pada militer. Strategi ini dapat terurai tahun ini seiring tangan-tangan berpengalaman seperti mantan Menteri Pertahanan James Mattis meninggalkan pemerintahan Trump, dan Trump sendiri—yang menghadapi tekanan hukum dan politik yang sangat besar—berfokus untuk mempertahankan dukungan basis politiknya di atas segalanya.

Baca Juga: 10 Peta yang Menjelaskan Strategi Politik Ekonomi Rusia

Oleh: Steven Metz (World Politics Review)

Selama Perang Dingin, strategi global Amerika Serikat (AS) didasarkan pada dua pilar: kepemimpinan dan kerja sama keamanan. Pertama diterapkan hanya ke Eropa, strategi ini kemudian diperluas ke Pasifik dan, pada tahun 1970-an, ke Timur Tengah, yang masih menjadi wilayah paling penting dalam kebijakan luar negeri Amerika.

Kepemimpinan global menempatkan beban ekonomi dan militer pada Amerika Serikat, tetapi kebanyakan orang Amerika percaya bahwa manfaatnya membenarkan biaya tersebut. Walau selalu ada perdebatan tentang bagaimana tepatnya dan di mana menerapkan strategi ini, namun terdapat kesepakatan luas tentang dua pilar inti. Kanan dan kiri politik, Partai Republik dan Demokrat, merasa bahwa kepemimpinan dan kerja sama terbaik mempromosikan kepentingan nasional AS.

Konsensus yang mendasari strategi ini mengembangkan retakan kecil dalam beberapa tahun terakhir yang kini telah tumbuh menjadi celah menganga. Tahun 2019 mungkin merupakan tahun di mana pergolakan dimulai bagi strategi yang melayani AS dengan baik selama tujuh dekade.

Untuk sebagian besar sejarah Amerika, bangsa itu melihat ke dalam atau, paling tidak, berkonsentrasi pada Belahan Barat. Ini berubah pada awal abad ke-20 ketika Amerika Serikat mengembangkan kepentingan keamanan di Pasifik dan kemudian menjadi terlibat dalam Perang Dunia I.

Tetapi banyak dari masyarakat masih ragu dengan keterlibatan di tempat-tempat yang jauh. Perlu diyakinkan bahwa hal itu sepadan dengan biayanya. Ini membutuhkan konsensus di antara para pemimpin politik dan pembentuk opini, terutama di media nasional.

Sejak akhir Perang Dingin, konsensus elit yang diperlukan untuk strategi global Amerika telah membusuk. Sebagian ini disebabkan oleh kurangnya musuh yang nyata. Selama Perang Dingin, sangat mungkin untuk meyakinkan publik Amerika bahwa pengeluaran militer, bantuan asing, dan keterlibatan global adalah penting, karena ada bahaya yang jelas dan mendesak dari Uni Soviet dan komunisme global. Sesaat setelah 9/11, ancaman dari terorisme transnasional menyatukan konsensus elit, tetapi itu tidak ada lagi hampir 18 tahun sejak serangan teroris besar di Amerika Serikat tersebut.

Baca Juga: Pesan Rahasia dalam Strategi Keamanan Amerika Serikat: Upaya Menentang Trump?

Selalu lebih sulit untuk meyakinkan publik bahwa stabilitas, tatanan regional, promosi demokrasi, dan pengentasan kemiskinan global, secara langsung bermanfaat bagi rakyat Amerika. Melakukan hal itu membutuhkan upaya konstan dan bersama dari para pemimpin politik dan komentator berpengaruh di pers—dan itulah masalahnya.

Dengan proliferasi dan pengaruh sumber-sumber informasi partisan dan konektivitas berbasis internet yang intens, Amerika Serikat telah terperosok dalam hiper-partisan. Banyak masyarakat tidak mempercayai apa pun selain informasi partisan yang memperkuat keyakinan mereka sendiri. Kongres—yang pernah memegang nilai hiper-partisan—juga jatuh ke dalam jurang hiper-partisan. Ini membuat konsensus—yang penting bagi kepemimpinan global AS dan jaringan aliansi dan kemitraannya—menjadi langka dan rapuh, bahkan mungkin mustahil.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan para anggota kabinetnya di Gedung Putih pada hari Rabu, 2 Januari 2019. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Ekonomi juga memainkan peran. Dukungan publik yang sudah rapuh untuk penggunaan kekuatan ekonomi AS di luar negeri telah dilemahkan oleh infrastruktur Amerika yang terabaikan, meningkatnya biaya perawatan kesehatan, dan beban lain dari populasi yang menua. Walau dukungan publik untuk anggaran pertahanan yang masih tinggi belum jatuh secara drastis, namun itu telah menurun dan kemungkinan akan terus berlanjut.

Baca Juga: Pemanasan Global Akan Membakar Pemerintahan Amerika

Dengan menarik Amerika Serikat ke dalam intervensi militer yang mahal di Irak, Afghanistan, dan bagian-bagian lain dunia Islam, “perang global melawan terorisme” Presiden George W. Bush mempercepat hancurnya strategi Amerika. Adalah sebuah kesalahan untuk menggambarkan konflik dengan ekstremisme Islam sebagai “perang”, karena bagi publik Amerika, itu menyiratkan bahwa kemenangan militer diperlukan dan mungkin didapatkan.

Bukannya memadukan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang memenangkan Perang Dingin, strategi Amerika menjadi sangat terpusat pada militer. Dan strategi Bush sangat melebih-lebihkan kemauan dan kemampuan pemerintah dari Arab Saudi hingga Pakistan, untuk melawan ekstremisme yang tidak mengancam mereka secara langsung—lupa bahwa kerja sama keamanan jarang bekerja ketika para mitra memiliki gagasan berbeda tentang ancaman yang mereka hadapi.

Jika terurainya strategi Amerika dimulai oleh Bush, Donald Trump mendorongnya. Selama Pemilihan Presiden 2016, dia merendahkan kepemimpinan global Amerika dan jaringan aliansi yang sudah mapan, melakukan pendekatan keamanan nasional seperti kesepakatan bisnis, di mana setiap interaksi memiliki pemenang dan pecundang, dan sering kali didefinisikan dalam istilah moneter kasar.

Saat kampanye 2016 sedang berlangsung, banyak pendukung Trump berasumsi bahwa ia akan bergerak ke arah sikap yang lebih ortodoks begitu ia mendapat informasi lebih baik dan dikelilingi oleh penasihat berpengalaman. Itu, tentu saja, belum terjadi. Trump yang meremehkan strategi global jangka panjang Amerika dan mereka yang membentuk dan mengimplementasikannya, sangatlah nyata.

Selama dua tahun pertama pemerintahan Trump, dua pilar strategi global AS telah terpukul, tetapi belum hancur. Sistem tatanan dunia telah menunjukkan kelemahan yang melekat, dan kemitraan yang dibangun Amerika Serikat selama beberapa dekade telah terbukti tangguh, seiring elit kebijakan Amerika menentang upaya Trump untuk membongkar strategi lama. Tapi ini mungkin tidak berlaku.

Strategi ini dapat terurai tahun ini seiring tangan-tangan berpengalaman seperti mantan Menteri Pertahanan James Mattis meninggalkan pemerintahan Trump, Senat bingung antara mempertahankan status quo atau membantu Trump membongkarnya, dan Trump sendiri—yang menghadapi tekanan hukum dan politik yang sangat besar—berfokus untuk mempertahankan dukungan basis politiknya di atas segalanya.

Kombinasi dari semua hal ini—tren yang luas, perubahan alami dalam lingkungan keamanan global, dan pilihan yang dibuat oleh Presiden AS—telah menghancurkan konsensus yang membuat strategi global jangka panjang Amerika bisa berjalan. Kolom selanjutnya akan mengeksplorasi bagaimana penguraian tersebut akan terjadi tahun ini, dan di mana.

Steven Metz adalah penulis Iraq and the Evolution of American Strategy. Kolom WPR-nya muncul setiap hari Jumat.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump dan James Mattis, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, saat penerimaan di Ruang Timur di Gedung Putih, Washington, pada 25 Oktober 2018. (Foto: AP/Manuel Balce Ceneta)

Tahun 2019, Ketika Strategi Global AS Akhirnya Berantakan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top