Theresa May Gagal Loloskan Perubahan pada Kesepakatan Brexit-nya
Eropa

Theresa May Gagal Loloskan Perubahan pada Kesepakatan Brexit-nya

Perdana Menteri Inggris Theresa May. (Foto: Reuters)
Berita Internasional >> Theresa May Gagal Loloskan Perubahan pada Kesepakatan Brexit-nya

Perdana Menteri Inggris Theresa May telah gagal meloloskan perubahan pada kesepakatan Brexit-nya. Sumber perdebatannya—dan alasan mengapa begitu banyak anggota parlemen yang begitu keras menentang kesepakatan itu—adalah backstop alias batu sandungan terkait Irlandia, rencana untuk menghindari perbatasan ketat di Irlandia dalam keadaan apa pun. Ia menaruh harapannya pada lebih banyak jaminan di tahun baru ini.

Oleh: The Economist

Baca Juga: Perdana Menteri Inggris Theresa May Lolos dari Mosi Tidak Percaya

Tak akan mungkin Theresa May akan mendapatkan sesuatu dari KTT Uni Eropa minggu ini, hanya tiga hari setelah dia menarik pemungutan suara pada kesepakatan Brexit di Parlemen dan hanya sehari setelah dia memenangkan suara kepercayaan yang ketat di partainya.

KTT ini membutuhkan lebih banyak persiapan dan waktu daripada yang dia lakukan. Namun, meskipun dia dengan tegas bersikeras bahwa kesimpulan pertemuan itu “diterima”, namun kenyataannya adalah bahwa mereka menawarkan kurang dari yang dia harapkan. Peluangnya untuk mengamankan lebih banyak perubahan dalam waktu beberapa minggu tidak terlihat bagus.

Sumber perdebatannya—dan alasan mengapa begitu banyak anggota parlemen yang begitu keras menentang kesepakatan itu—adalah backstop alias batu sandungan terkait Irlandia, rencana untuk menghindari perbatasan ketat di Irlandia dalam keadaan apa pun.

Dengan ketetapan backstop, Kerajaan Inggris secara keseluruhan akan tetap berada di serikat pabean dengan Uni Eropa, dan Irlandia Utara akan mempertahankan keselarasan peraturan yang hampir lengkap dengan aturan pasar tunggal kelompok itu.

Para pemimpin Uni Eropa menegaskan pekan ini bahwa backstop itu tidak dimaksudkan untuk digunakan, dan bahwa jika memang dimaksudkan demikian, backstop itu akan berlaku hanya sementara.

Tetapi mereka menolak permintaan May untuk menetapkan batas waktu satu tahun untuk berapa lama backstop itu bisa berlangsung, dengan alasan bahwa untuk melakukannya akan meniadakan tujuan backstop.

Yang lebih buruk lagi, para pemimpin KTT itu mengeluarkan dari draf kesimpulan resmi mereka, setiap referensi pada backstop yang tidak diinginkan oleh Uni Eropa, serta referensi apa pun kepada mereka yang siap untuk menawarkan jaminan lebih lanjut untuk membantu May meratifikasi kesepakatan di Parlemen.

Suasana hati mereka jadi masalah bagi Perdana Menteri Inggris itu. Donald Tusk—Presiden Dewan Eropa—menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada ruang bagi renegosiasi dari kesepakatan Brexit. Dan Jean-Claude Juncker mengkritik May dengan menuduh bahwa orang-orang Inggris “tidak tahu apa-apa dan tidak (memahami dengan) tepat” tentang apa yang mereka inginkan.

Tanpa Brexit, Inggris Kehilangan Pemerintah dan Jalan Keluar

Demonstran Pro-Brexit melakukan aksi dengan membawa plakat di luar Gedung Parlemen, Westminster, London, Inggris, tanggal 10 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Jack Taylor)

Di luar perdebatan panas ini, para pemimpin Uni Eropa ingin membantu May mendapatkan kesepakatan itu. Ada dua hal yang membatasi mereka. Yang pertama adalah bahwa mereka tidak mau melakukan perubahan hukum terhadap teks perjanjian penarikan diri Brexit yang dirancang dengan saksama, yang termasuk backstop.

Yang akan mereka lakukan hanyalah menyetujui beberapa bentuk klarifikasi, keputusan atau mungkin teks interpretatif bersama yang akan memenuhi syarat, tetapi tidak mengubah bentuk hukum perjanjian tersebut.

Yang kedua adalah rasa takut bahwa tidak peduli apa pun dokumen baru yang mungkin mereka terbitkan, kesepakatan itu masih akan dibatalkan di Westminster—suatu pandangan yang secara alami membatasi kesiapan mereka untuk membantu sekarang.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? May berbicara tentang perlunya bekerja lebih lanjut dalam minggu-minggu mendatang, tetapi dia juga mengulangi bahwa dia akan menempatkan kesepakatan Brexit pada pemungutan suara di Parlemen sebelum tanggal 21 Januari (pemerintah sekarang mendorong untuk tanggal 14 Januari).

Akan sulit bagi Uni Eropa untuk menghasilkan lebih banyak jaminan tentang backstop sebelum itu. Jadi kemungkinannya adalah, bahwa anggota parlemen akan memilih kesepakatan. May kemudian harus kembali ke Brussels—mungkin untuk pertemuan darurat pada akhir Januari—untuk meminta bantuan lebih lanjut. Terutama jika kekalahannya besar, dia mungkin tidak mendapatkannya.

Karena Brexit akan terjadi pada tanggal 29 Maret 2019, jadwal ini pasti menimbulkan kekhawatiran di kedua sisi, bahwa Inggris akan berakhir dengan tidak ada kesepakatan. Komisi Eropa minggu depan akan mempublikasikan rencana lebih lanjut untuk mengatasi Brexit no-deal. Tidak ada pihak yang menginginkan ini.

Tentu saja, karena Brexit akan terjadi pada saat ekonomi Eropa rapuh, itu bisa memicu bukan hanya kekacauan, tetapi juga resesi di Inggris dan di beberapa negara Uni Eropa lainnya. Suara-suara dari penjuru di Brussel dan London memberi pendapat yang meyakinkan tentang beberapa cara untuk menghindari hasil yang merusak seperti itu, mungkin dengan memperpanjang jadwal waktu. Tetapi seperti yang dipahami dengan baik oleh para sejarawan Eropa, hal buruk dapat dan tentu terjadi.

Baca Juga: Nasionalis Skotlandia Tawarkan Bantu Oposisi Gulingkan Theresa May

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Perdana Menteri Inggris Theresa May. (Foto: Reuters)

Theresa May Gagal Loloskan Perubahan pada Kesepakatan Brexit-nya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top