Trump dan Rouhani
Opini

Opini: Trump dan Rouhani Perlu Bicara

Presiden Iran Hassan Rouhani tiba di Parlemen Iran di ibu kota Teheran, pada bulan Agustus. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Atta Kenare)
Home » Opini » Opini: Trump dan Rouhani Perlu Bicara

Trump dan Rouhani perlu bicara, seiring jalur diplomasi antara Iran dan Amerika masih mungkin terjadi. Trump mengatakan pada bulan Juli, bahwa dia “pasti” bersedia untuk bertemu dengan Iran “tanpa prasyarat.” Rouhani awalnya menepis kemungkinan itu, tapi tampaknya kemungkinan tersebut bisa menjadi nyata. Sebuah KTT Iran-AS mungkin bukanlah ide yang segila kedengarannya.

Baca juga: Hassan Rouhani: Trump Penuh ‘Kebencian’ dan ‘Kata-Kata Konyol’

Oleh: Kaveh Afrasiabi dan Nader Entessar (The New York Times)

Seiring pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan meningkatkan sanksi dan perencanaan—dalam kata-kata John Bolton yang tidak menyenangkan, “hal-hal lain”—mungkin sulit untuk membayangkan bahwa diplomasi antara Teheran dan Washington masih mungkin terjadi. Namun itu mungkin. Atau bahkan, itu perlu.

Timur Tengah tidak mampu lagi melakukan perang yang dipenuhi bencana, tetapi itu adalah kemungkinan yang tidak menguntungkan jika kedua negara ini tidak keluar dari jalur mereka saat ini.

Pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB pada akhir bulan ini memberikan kesempatan yang unik dan tepat untuk pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Hassan Rouhani dari Iran. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres—yang memiliki hubungan baik dengan kedua pemimpin tersebut—dapat dan harus bertindak sebagai lawan bicara.

Trump mengatakan pada bulan Juli, bahwa dia “pasti” bersedia untuk bertemu dengan Iran “tanpa prasyarat.” Pemerintah Rouhani menepis prospek tersebut pada awalnya, tetapi ada sinyal bahwa itu mungkin dilakukan: Mahmoud Vaezi—kepala staf Rouhani—baru-baru ini mengklaim bahwa pada Majelis Umum tahun lalu, para pejabat dari pemerintahan Trump berulang kali meminta pertemuan dengan Rouhani. Dengan memberikan informasi ini, Vaezi memicu perdebatan di media Iran mengenai apakah pertemuan semacam itu diinginkan.

Pada bulan Agustus, Rouhani berkata, “Jika ada ketulusan, Iran selalu menyambut dialog.”

Majelis Umum tahun lalu hampir tidak melihat hubungan yang baik antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua presiden tersebut menggunakan pertemuan tahunan itu untuk saling menjelekkan satu sama lain, di mana Trump menggambarkan Iran sebagai “rezim jahat” dan menyebut perjanjian nuklir tahun 2015 dengan Iran sebagai “memalukan”, dan Rouhani menanggapi dengan memanggil Presiden Amerika itu sebagai “pendatang baru yang jahat dalam politik internasional.”

Sejak itu, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memburuk. Pada bulan Mei, Trump mengumumkan penarikan Washington dari kesepakatan nuklir tersebut. Gedung Putih telah menerapkan kembali sanksi terhadap Iran dengan harapan—klaimnya—untuk mendapatkan “kesepakatan yang lebih baik” serta “perubahan perilaku” yang signifikan dari pemerintah Iran. Sebuah sanksi yang lebih keras lagi mungkin akan berlaku pada bulan November.

Opini: Trump dan Rouhani Perlu Bicara

Presiden Donald Trump berjalan kembali ke Kantor Oval dari Marine One, di South Lawn Gedung Putih pada bulan Mei. (Foto: The New York Times/Al Drago)

Tetapi kesepakatan nuklir tersebut bukan satu-satunya masalah dalam hubungan Iran-Amerika. Kedua negara itu juga memiliki kepentingan di Afghanistan dan dalam perang melawan ISIS; di Suriah, baik Iran maupun Amerika Serikat harus khawatir tentang rekonstruksi, seiring perang sipil selama tujuh tahun di sana berakhir. Dan baik Iran maupun Amerika Serikat terlibat dan berinvestasi dalam perang di Yaman, yang telah menjadi bencana kemanusiaan.

Ini semua adalah topik yang bisa dan seharusnya dirundingkan pada pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Rouhani.

Ada kekuatan-kekuatan lain yang mendorong diplomasi Iran-Amerika. Walau pemerintahan Trump mungkin percaya bahwa mereka dapat mereplikasi koalisi internasional terhadap Iran yang ada menjelang kesepakatan nuklir 2015, namun kenyataannya adalah bahwa komunitas internasional sekarang sebagian besar berada di pihak Iran setelah keputusan sepihak Amerika Serikat untuk membatalkan kesepakatan tersebut, yang disetujui oleh Dewan Keamanan PBB.

Yang pasti, ada suara-suara kuat di kedua negara yang menentang pertemuan semacam itu. Anggota pemerintahan Trump yang ganas akan melihat KTT semacam itu sebagai penghalang bagi agenda sejati mereka: perubahan rezim di Iran. Demikian juga, faksi garis keras di Iran akan melihat pertemuan dengan Trump sebagai tanda kelemahan Rouhani. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah menyebut dialog dengan “si penindas Amerika Serikat” tidak berguna.

Namun, posisi Ayatollah Khamenei mungkin berubah. Mengingat tekanan yang sangat besar yang dirasakan Iran di bawah sanksi yang semakin meningkat, dia cenderung memberi lampu hijau untuk ide ini, jika dia yakin bahwa Trump benar-benar tertarik untuk mengeksplorasi opsi alternatif dengan Iran.

Baca juga: Bagaimana Donald Trump Dapat Membawa Iran Kembali ke Meja Perundingan

Pertemuan antara Trump dan Rouhani mungkin tidak akan mengarah pada terobosan drastis dalam hubungan keduanya. Tetapi kedua negara itu tidak perlu menyelesaikan semua sengketa mereka untuk mengurangi ketegangan berbahaya.

Bahkan kesepakatan bersama untuk menghentikan serangan verbal akan cukup untuk membangun kepercayaan dan menciptakan landasan bagi diplomasi lebih lanjut, seperti pertemuan antara Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif.

Terlebih lagi, sebuah pertemuan dapat membuat Trump merasa seperti dengan Korea Utara, bahwa dia telah berhasil mempengaruhi perilaku Iran yang susah dikendalikan. Dan komunitas internasional tentu akan menghargai upaya kedua pemimpin tersebut untuk melakukan upaya yang sejalan dengan semangat Piagam PBB.

Untuk semua alasan ini, Trump dan Rouhani harus mendengarkan alasan dan mengambil kesempatan bulan ini untuk duduk bersama dan melakukan percakapan tatap muka. Itu akan menjadi hal yang benar-benar berani untuk dilakukan.

Nader Entessar, seorang profesor ilmu politik di University of South Alabama, dan Kaveh Afrasiabi, mantan penasihat tim negosiasi nuklir Iran, adalah penulis “Iran Nuclear Accord and the Remaking of the Middle East.”

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial The New York Times dan Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Iran Hassan Rouhani tiba di Parlemen Iran di ibu kota Teheran, pada bulan Agustus. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Atta Kenare)

Opini: Trump dan Rouhani Perlu Bicara

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top