KTT G20
Global

Trump Seharusnya Tidak Batalkan Pertemuan dengan Putin di G20

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Paris pada 11 November. (Foto: Guido Bergmann/Bundesregierug/Getty Images)
Berita Internasional >> Trump Seharusnya Tidak Batalkan Pertemuan dengan Putin di G20

Trump seharusnya tidak membatalkan pertemuan dengan Putin di sela-sela KTT G20. Terlepas dari agresi Rusia terhadp Ukraina, keputusan Trump untuk membatalkan pertemuan itu salah arah. Berbicara dengan Putin akan menjadi peluang bagi Trump untuk mengatasi pola perilaku Rusia yang melanggar aturan. Tanpa teguran dan tindakan yang kuat sebagai tanggapan atas provokasi Rusia, hampir pasti bahwa Putin akan terus melanjutkan perjalanannya saat ini, atau mungkin bahkan secara bertahap meningkatkan pelanggarannya.

Baca juga: Presiden Ukraina Minta Trump Sampaikan Pesan ‘Tajam’ untuk Putin

Oleh: Andrea Kendall-Taylor (Foreign Policy)

Dalam perkumpulan para pemimpin dunia di Argentina untuk KTT G20, sebuah pertemuan yang direncanakan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah banyak menarik perhatian. Pertanyaan utamanya adalah, apakah kedua pemimpin ini akan membuat kesepakatan untuk meredakan ketegangan perdagangan—setidaknya untuk sementara—atau apakah Trump akan menaikkan tarif dan meningkatkan perang perdagangan yang sedang berlangsung.

Namun di luar masalah AS-China, terdapat masalah lain yang menyebabkan ketegangan internasional: Rusia menyita tiga kapal Ukraina di lepas pantai Krimea pada Minggu (25/11), yang menyebabkan Trump membatalkan pertemuan yang dijadwalkan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela G-20.

Terlepas dari agresi Rusia, keputusan Trump untuk membatalkan pertemuan itu salah arah. Berbicara dengan Putin di Buenos Aires akan menjadi peluang bagi Trump untuk mengatasi pola perilaku Rusia yang melanggar aturan, dan membendung momentum yang Putin pikir berada di pihaknya.

Tanpa teguran dan tindakan yang kuat sebagai tanggapan atas provokasi Rusia, hampir pasti bahwa Putin akan terus melanjutkan perjalanannya saat ini, atau mungkin bahkan secara bertahap meningkatkan pelanggarannya.

Selama setahun terakhir, Putin telah berulang kali menunjukkan kesediaannya untuk melanggar hukum dan norma internasional yang mengganggu usahanya untuk menegaskan kembali status kekuatan besar Rusia. Ini adalah perkembangan dari upaya lama Kremlin untuk menggambarkan Rusia sebagai negara yang menjunjung hukum internasional, yang Kremlin anggap memperkuat klaimnya sebagai aktor global yang bertanggung jawab. Namun Putin telah menjadi lebih tegas dan tidak dapat diprediksi.

Pada bulan Maret, ia menyampaikan pidato parlemen tahunan yang provokatif, di mana ia memamerkan kemampuan militer Rusia dengan menampilkan apa yang tampaknya adalah beberapa hulu ledak nuklir yang ditujukan untuk negara bagian Florida AS. Insiden pada Minggu (25/11) di Laut Azov dan keracunan seorang pembelot pada bulan Maret di Inggris menggunakan agen saraf, menunjukkan kesediaan Rusia untuk mengambil tindakan drastis.

Perilaku melanggar aturan oleh Putin mencerminkan evolusi yang lebih luas dalam pandangannya tentang urusan dunia.

Pernyataan dan tindakannya baru-baru ini menunjukkan bahwa dia berpikir dunia multipolar yang dia cari telah tiba. Pergeseran dalam pandangan ini terkait dengan terpilihnya Trump, yang dianggap Putin sebagai perubahan yang disambut baik dalam kebijakan luar negeri AS. Kekacauan global yang disebabkan oleh Trump adalah nilai strategis yang cukup besar bagi Rusia.

Preferensi Trump untuk politik ‘kekuatan-besar’ dan pendekatan transaksionalnya, juga membuat Amerika Serikat telah menjadi kurang fokus untuk mempromosikan nilai-nilainya. Ini hal yang baik bagi Putin. Sejak kembali berkuasa pada tahun 2012, ia memprioritaskan upaya untuk melawan dorongan demokrasi AS, yang dilihatnya sebagai upaya terselubung untuk memperluas pengaruh Washington.

Opini: Trump Bukan Boneka Rusia, Ini Alasannya

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin tiba dalam jumpa pers gabungan di Istana Presiden di Helsinki, Finlandia, Senin, 16 Juli 2018. (Foto: Associated Press/Jussi Nukari)

Pandangan positif Putin tentang Trump telah memberi andil pada perasaannya bahwa momentum geopolitik berada di pihaknya, meskipun terdapat serangan ekonomi dan diplomatik. Inggris sedang bersiap untuk keluar dari Uni Eropa pada bulan Maret, Swedia tidak dapat membentuk pemerintahan sejak pemilu September, Hungaria dan Polandia menguji ketahanan lembaga-lembaga Uni Eropa, dan pemerintah kerakyatan Italia mendukung dengan vokal pencabutan sanksi di Rusia.

Selain itu, Amerika Serikat tidak membantu mengatasi tantangan ini, tetapi justru terus mengkritik sekutu-sekutu NATO-nya. Ketika Putin melihat Eropa dan Amerika Serikat, dia melihat celah dan perpecahan yang menurutnya dapat terus ia eksploitasi untuk memajukan kepentingan Rusia.

Mereka yang mendukung langkah Trump untuk membatalkan pertemuannya dengan Putin, mengakui bahwa Putin sangat menghargai pertemuan dengan Presiden AS itu. Pertemuan-pertemuan ini memungkinkan Putin untuk menggambarkan dirinya sebagai pemimpin dengan kedudukan yang setara dengan Presiden Amerika Serikat bagi para penonton domestik dan asing. Dengan membatalkan pertemuan itu, menurut argumen tersebut, pemerintah AS menghukum Rusia karena perilaku agresifnya dengan membatalkan sesuatu yang Putin nilai secara pribadi.

Beberapa juga berpendapat bahwa membatalkan pertemuan itu adalah tindakan yang tepat karena Trump tidak tertarik untuk bersikap keras terhadap Putin dan tidak mau menyampaikan pesan yang tumpul. Inilah yang terjadi di pertemuan puncak Trump dengan Putin di Finlandia selama musim panas, di mana Trump menantang kesimpulan komunitas intelijen AS tentang campur tangan Rusia dalam Pemilihan Presiden AS 2016.

Hal yang sama yang terjadi di G-20 mungkin dapat menunjukkan bahwa Trump mendukung permusuhan Putin terhadap kapal Ukraina, yang menandakan bahwa Rusia tidak akan menghadapi pertanggungjawaban atas agresinya.

Baca juga: Bentrokan Laut Ukraina-Rusia, Trump Mungkin Akan Batalkan Pertemuan G20 dengan Putin

Tetapi Rusia akan membawa pulang pesan yang sama dari pembatalan yang akan mereka dapatkan dari sifat lemah Trump—Kremlin melihat Trump mundur sebagai tanda bahwa pemerintah AS tidak memiliki keinginan atau keputusan untuk melawan Putin. Ini adalah kesempatan bagi Trump untuk menyampaikan peringatan yang jelas terhadap agresi lebih lanjut Rusia terhadap Ukraina.

KTT G-20 menyajikan pengaturan yang ideal untuk menyampaikan pesan semacam itu, karena peringatan AS kepada Putin kemungkinan akan sangat efektif ketika mereka mengirim kedua presiden secara pribadi. Berbicara dengan cara ini memberi Putin keleluasaan untuk menyesuaikan perilakunya tanpa terlihat lemah di mata publiknya.

Ini juga merupakan peluang yang terlewatkan bagi Trump untuk mengatasi stabilitas strategis, terutama rencananya untuk perjanjian kontrol senjata antara Amerika Serikat dan Rusia: Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF)—di mana Trump ingin mundur dari perjanjian tersebut—dan New START, yang bisa memiliki masa depan yang lemah.

Jika Trump tetap berkomitmen untuk menarik diri dari Perjanjian INF, dia seharusnya bertemu Putin dan mendiskusikan strategi Washington untuk mengelola apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan mengusulkan mekanisme kontrol senjata baru daripada menunggu untuk bereaksi terhadap respons Rusia, Trump akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk membentuk kontur tatanan pasca-INF.

Putin akan menganggap ketidakmampuan Trump untuk menyampaikan peringatan kuat di G-20 sebagai izin untuk meneruskan langkah berbahaya dan tidak stabil saat ini di Rusia. Dia cenderung melihat adanya lingkungan permisif bukan hanya terkait Ukraina, tetapi juga terkait rencananya untuk melemahkan kepemimpinan AS secara lebih luas.

Dengan semua mata tertuju pada Trump dan Xi di G-20, Trump akan lebih bijaksana untuk menyampaikan kepada Rusia bahwa Amerika Serikat mengawasi dan berniat untuk bertindak.

Andrea Kendall-Taylor adalah rekan pengamat senior dan direktur program keamanan trans-Atlantik di Pusat Keamanan Baru Amerika.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Paris pada 11 November. (Foto: Guido Bergmann/Bundesregierug/Getty Images)

 

Trump Seharusnya Tidak Batalkan Pertemuan dengan Putin di G20

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Posoidon

    December 2, 2018 at 2:04 am

    Berita-mu junk…apa web ini, agen AS?

Beri Tanggapan!

To Top