Pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

Tuhan dan Kartu Islam dalam Pilpres 2019

Presiden Indonesia Joko Widodo memberikan sertifikat tanah di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi. (Foto: Instagram/@Jokowi)
Berita Internasional >> Tuhan dan Kartu Islam dalam Pilpres 2019

Tuhan terlibat dalam Pilpres 2019 mendatang. Ada yang bilang bahwa jika tidak memilih Jokowi, bisa-bisa masuk neraka. Kedua kandidat dengan demikian menggunakan kartu ‘Islam’. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kubu Jokowi menggunakannya untuk mempromosikan kredibilitasnya sebagai seorang Muslim yang baik, sedangkan kubu Prabowo menggunakannya untuk terus menyerang Jokowi. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka tidak juga menggunakannya untuk mempromosikan kredibilitas Islam milik Prabowo. Itu mungkin terlalu berisiko.

Baca juga: Polemik Istilah ‘Kafir’ dalam Pusaran Pilpres 2019

Oleh: Nadirsyah Hosen (Inside Indonesia)

Di gerbang neraka, seorang lelaki Indonesia, katakanlah Budi, bertemu dengan Hitler yang membunuh enam juta orang Yahudi, dan Pol Pot yang melakukan genosida terhadap hampir dua juta orang Kamboja. Mereka bertanya pada Budi, “Berapa banyak orang yang kamu bunuh?” Budi menjawab, “Tidak ada. Sebenarnya, saya adalah seorang Muslim yang baik yang salat lima kali sehari, memenuhi kewajiban puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan bahkan mengunjungi Mekah untuk naik haji.”

Baik Hitler maupun Pol Pot terkejut mendengar ini. “Jadi, apa tepatnya yang kamu lakukan, kenapa akhirnya masuk neraka?”

“Saya tidak yakin; mungkin itu karena saya tidak mengikuti apa yang dikatakan para pengkhotbah selama khotbah Jumat, untuk tidak memilih Jokowi (Presiden Joko Widodo) dalam Pilpres 2019.”

Dongeng ini menggambarkan kembalinya identitas politik dan agama menjelang pemilihan umum parlemen dan presiden pada April 2019. Ini dimulai pada Pemilihan Presiden 2014 ketika Jokowi mencalonkan diri untuk pertama kalinya. Meskipun dia memenangkan pemilu, namun dia menderita kampanye kotor yang mempertanyakan, antara lain, apakah dia adalah seorang Muslim sejati.

Ketika Jokowi meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Jakarta untuk menduduki kursi kepresidenan, itu membuka pintu bagi wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), untuk mengambil alih jabatan gubernur. Ahok kalah dalam Pemilihan Gubernur Jakarta pada 2017, setelah lawan politiknya berhasil menggunakan sentimen Islam terhadapnya.

Khotbah Jumat penuh dengan pidato kebencian, dan pengkhotbah bahkan memperingatkan orang-orang bahwa mereka akan terbakar di neraka jika mereka memilih Ahok, seorang etnis Tionghoa-Kristen.

Upaya Ahok untuk memperbaiki masalah administrasi dan sosial di Jakarta hampir seluruhnya dibayangi oleh klaim bahwa ia telah menghina ayat Alquran (al-Maidah: 51). Demonstrasi massal diadakan di Jakarta. Pengadilan menjatuhkan hukuman dua tahun penjara kepada Ahok, berdasarkan ketentuan penodaan KUHP Indonesia.

Jokowi tampaknya menyadari bahwa kartu ‘sentimen Islam’ yang sama dapat digunakan untuk melawannya dalam Pilpres 2019. Dalam suatu langkah yang mengejutkan, di bawah tekanan dari partai-partai koalisinya, ia memilih Ma’ruf Amin sebagai pasangannya.

Salah satu alasannya, Ma’ruf dipandang sebagai kandidat yang aman yang dapat mencegah kartu ‘Islam’ dimainkan melawan Jokowi. Sebagai pemimpin senior organisasi massa Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia), Ma’ruf memberi Jokowi kartu yang dapat menguntungkannya.

Pilihan Cawapres Jokowi yang Picu Kontroversi

Presiden Indonesia Joko Widodo (kedua dari kiri) dan wakil presidennya untuk Pemilihan Presiden 2019 Ulama Islam Ma’ruf Amin (kedua dari kanan), bertepuk tangan bersama dengan pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan mantan presiden Megawati Sukarnoputri (kanan) dan anggota partai koalisi lainnya, saat menyambut para pendukung di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 2018. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Tampaknya Jokowi juga memainkan ‘kartu Tuhan’, tidak hanya untuk menyelamatkan posisinya sebagai presiden, tetapi mungkin juga untuk menyelamatkan orang-orang seperti Budi agar tidak masuk neraka.

Sejak pencalonannya, Ma’ruf telah melakukan kunjungan ke pondok pesantren milik NU. Dia telah bertemu dengan para pemimpin Islam, terutama dari daerahnya sendiri di Jawa Barat, di mana Jokowi kalah parah pada tahun 2014.

Ma’ruf telah menggunakan istilah-istilah Islam untuk mengkritik lawan-lawan Jokowi, dan bahkan untuk mengklaim bahwa Jokowi juga seorang santri—klaim yang dapat dengan mudah disangkal. Meski begitu, Ma’ruf mungkin tidak melakukan cukup banyak untuk meningkatkan kredibilitas Jokowi di mata para pemilih Muslim.

Yang mengejutkan Jokowi, lawannya Prabowo Subianto mengabaikan rekomendasi wakil presiden yang diberikan oleh Habib Rizieq Shihab dari FPI (Front Pembela Islam) dan kelompok konservatif lainnya. Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai pasangannya—yang tidak memiliki latar belakang sebagai aktivis Muslim—dan bukannya memilih salah satu dari dua kandidat alternatif dengan latar belakang Islam yang kuat: Salim Segaf dan Abdul Somad, yang disarankan oleh kelompok-kelompok Rizieq.

Rumor tentang bagaimana dan mengapa Prabowo memilih Sandiaga Uno—salah satu pengusaha terkaya di Indonesia—telah beredar di media sosial. PKS (Partai Keadilan Sejahtera)—sebuah partai Islam yang telah mendukung Prabowo sejak tahun 2014—dengan cepat merespons dengan melabeli Sandiaga sebagai santri ‘post-Islamisme’, yang berarti dia saleh meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda kesalehan—ini terlepas dari kenyataan bahwa Sandiaga belajar di sekolah Katolik dan bukan di pesantren.

Rizieq dan kelompoknya akhirnya menyetujui Sandiaga sebagai calon pasangan Prabowo, tetapi ini bukan berarti kubu Prabowo akan berhenti menggunakan kartu ‘sentimen Islam’ melawan Jokowi.

Walau dengan hati-hati mendesak para pendukung mereka untuk tidak menyerang Ma’ruf—seorang tokoh Islam yang disegani—namun tim Prabowo-Sandiaga terus menyerang kredibilitas Islam Jokowi, khususnya di media sosial dan pada khotbah Jumat.

Mereka memviralkan masalah ini ketika Jokowi, dalam aksen Jawa-nya, meminta orang-orang untuk melafalkan surat ‘al-Fatekah’ dalam Alquran. Pengucapan yang benar adalah ‘al-Fatihah’. Mereka menyerang Jokowi karena tidak tahu bagaimana cara mengucapkan nama surat ini dengan benar.

Ma’ruf dikritik ketika ia berbicara kepada para pemimpin Kristen menggunakan salam Islam: Assalamu ‘Alaikum wa rahmatullahi wa Barakatuh. Pemahaman umum adalah bahwa salam ini hanya dapat digunakan di antara umat Islam. Menurut para pendukung Prabowo, ini menunjukkan bahwa Ma’ruf telah menjual kepercayaan Islamnya hanya untuk mendapatkan suara dari para pemimpin Kristen.

Mereka mengabaikan fakta bahwa ada banyak pendapat berbeda dalam literatur Islam tentang sambutan tersebut. Ma’ruf dapat berdebat—dengan pengetahuan Islamnya yang luas—bahwa ia memilih pendapat yang memungkinkannya untuk menyapa orang Kristen dengan cara itu.

Kedua kandidat dengan demikian menggunakan kartu ‘Islam’. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kubu Jokowi menggunakannya untuk mempromosikan kredibilitasnya sebagai seorang Muslim yang baik, sedangkan kubu Prabowo menggunakannya untuk terus menyerang Jokowi. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka tidak juga menggunakannya untuk mempromosikan kredibilitas Islam milik Prabowo. Itu mungkin terlalu berisiko.

Baca juga: Siapa Pemenang Pilpres 2019 yang Ideal bagi Amerika?

Diakui selama karier militernya, Prabowo dikenal sebagai anggota faksi militer ‘hijau’, yang terdiri dari para jenderal yang dekat—dan mendukung—kelompok-kelompok Islam. Faksi ‘merah-putih’ militer yang berlawanan, terdiri dari para jenderal yang mengambil posisi netral, tidak memihak Islam atau Negara.

Keanggotaan faksi hijau Prabowo memberinya hubungan lama dengan kaum Islamis yang berasal dari era Soeharto. Meski begitu, banyak orang—termasuk pendukung Prabowo sendiri—mempertanyakan apakah Prabowo adalah seorang Muslim yang taat. Selain itu, banyak keluarga Prabowo bukan Muslim, misalnya saudaranya Hashim. Ini menjelaskan mengapa para pendukungnya memilih untuk menyerang kredibilitas Islam Jokowi, daripada membangun citra Prabowo yang lebih positif sebagai Muslim yang baik.

Profil Prabowo Subianto, Salah Satu Kandidat Kuat dalam Pilpres 2014

Kandidat presiden Indonesia, Prabowo Subianto, berjabat tangan dengan para pendukungnya dalam sebuah kampanye di Kota Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: AFP/Idhad Zakaria)

Dilema yang dirasakan oleh kubu Jokowi adalah apakah mereka ingin menggunakan kartu ‘sentimen Islam’ untuk menyerang Prabowo. Ketika ada saran dari kubu Prabowo bahwa debat presiden harus dilakukan dalam bahasa Inggris (untuk mengejek aksen Jawa Jokowi), kubu Jokowi dengan cepat merespons dengan menyarankan bahwa debat harus dalam bahasa Arab (untuk mengejek label baru Sandiaga sebagai santri meskipun ia tidak bisa berbicara bahasa Arab).

Kubu Jokowi bahkan mengulangi pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada kampanye 2014, yang menyerukan tes membaca Alquran antara Jokowi dan Prabowo. Jokowi mungkin memiliki aksen Jawa, tetapi setidaknya ia dikenal bisa membaca Alquran, sementara publik tidak pernah mendengar Prabowo membaca Alquran.

Walau kedua kandidat telah menggunakan kartu ‘Islam’—meskipun dengan cara yang berbeda—namun belum ada pihak yang mendukung sentimen itu dengan program substantif. Jokowi—dengan fokus infrastruktur dalam program pembangunannya—belum memberi kita gagasan yang jelas tentang apa yang akan ia lakukan mengenai pesantren, bank Islam, universitas Islam, dan organisasi Islam. Bagaimana dia bisa melawan radikalisasi di sekolah dan masjid? Bahkan dengan Ma’ruf di sisinya, ia belum menyajikan program deradikalisasi yang jelas.

Kubu Prabowo—yang kampanyenya berfokus pada masalah ekonomi—juga sibuk mengkritik kinerja Jokowi dan kredibilitas Islam-nya, tetapi program spesifik apa yang dapat mereka tawarkan yang membantu umat Islam, khususnya di daerah pedesaan, yang menderita kesulitan keuangan? Itu masih menjadi elemen yang hilang dari perdebatan saat ini.

Grameen Bank di Bangladesh adalah salah satu model yang bisa diadopsi Prabowo, tetapi sejauh ini kita belum melihat program nyata bagi umat Islam di tingkat akar rumput.

Baca juga: Pilpres 2019: Mengenal Lebih Dekat Dua Kandidat dan Para Cawapresnya

Tentu saja kampanye masih memiliki waktu dan dinamika ini bisa berubah seiring Pilpres 2019 semakin dekat, dan taruhannya meningkat untuk kedua kubu. Sampai saat ini, Jokowi mempertahankan posisi yang nyaman dalam pemilu, meskipun ada serangan terhadap ketaatannya sebagai seorang Muslim. Yang jelas adalah, bahwa kedua belah pihak memainkan kartu Tuhan dengan cara mereka sendiri dalam mengejar keunggulan dalam Pilpres 2019.

Jadi, kembali ke Budi di neraka. Budi mungkin memprotes kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan menempatkan saya di sini di neraka bersama Hitler dan Pol Pot? Tidak bisakah Tuhan melihat bahwa apa yang saya lakukan tidak ada bandingannya dengan mereka? Siapa yang Tuhan pilih dalam Pilpres 2019?”

Tuhan tersenyum. “Maaf, saya golput!”

Nadirsyah Hosen (Nadirsyah.Hosen@monash.edu) adalah dosen senior di Fakultas Hukum di Universitas Monash dan Ketua Dewan Penasihat Nahdlatul Ulama untuk cabang Australia-Selandia Baru. Dia adalah rekan di Pusat Hukum Indonesia, Islam, dan Masyarakat di Melbourne Law School.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo memberikan sertifikat tanah di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi. (Foto: Instagram/@Jokowi)

Tuhan dan Kartu Islam dalam Pilpres 2019

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top