Putin: ‘Rudal Baru Rusia Tak Langgar Perjanjian INF’
Opini

Ucapkan Selamat Tinggal pada Traktat INF

Sebuah rudal Iskander-K Rusia diluncurkan selama latihan militer di Luzhsky Range, dekat St. Petersburg, Rusia. Presiden Vladimir Putin membantah klaim AS bahwa Rusia telah melanggar Perjanjian Angkatan Nuklir Angkatan Bersenjata 1987 dengan mengembangkan rudal jelajah baru, dan mengatakan bahwa Rusia memiliki senjata lain yang memiliki kekuatan dapat melakukan serangan yang sama. (Foto: AP/Russian Defense Ministry Press Service)
Berita Internasional >> Ucapkan Selamat Tinggal pada Traktat INF

Ucapkan selamat tinggal pada traktat INF, karena traktat untuk pengendalian senjata ini tampaknya akan segera runtuh. Dengan Rusia yang tidak akan tunduk pada tekanan AS, dan Amerika sama tidak mungkinnya untuk mengubah tuntutannya, sangat penting untuk mempersiapkan dunia tanpa traktat INF. Traktat INF adalah pilar penting bagi stabilitas global. Seiring hubungan antara Rusia dan Barat penuh gejolak, berbagai upaya harus dilakukan untuk memastikan agar runtuhnya perjanjian tersebut tidak turut meruntuhkan kontrol senjata global.

Oleh: Antoine Got (Asia Times)

Baca Juga: Militer Amerika Bersiap untuk Membayar Tembok Perbatasan Donald Trump

Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) saat ini sedang bersiap untuk hancur. Meski perjanjian kontrol senjata tahun 1987 tersebut belum secara resmi dinyatakan mati, namun tanggal untuk pemakamannya telah ditetapkan.

Tanggal 4 Desember 2018, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengumumkan bahwa Rusia memiliki waktu 60 hari untuk kembali mematuhi traktat INF. Jika gagal, AS akan memicu periode enam bulan penarikan dari perjanjian tersebut, menjadikan tanggal 1 Agustus sebagai potensi titik balik dalam sejarah kendali senjata.

Pengumuman itu tidak muncul begitu saja. Kini hampir lima tahun sejak pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama pertama kali menuduh Rusia melanggar perjanjian itu dan mengikuti tahun-tahun hubungan penuh gejolak antara Rusia dan Barat, terutama sejak aneksasi Krimea pada tahun 2014. Pengumuman tersebut meningkatkan prospek suram dari perlombaan senjata habis-habisan antara kedua negara, menandai titik terendah baru dalam hubungan AS-Rusia.

Di pusat perselisihan itu, terdapat dugaan pengembangan dan pengujian 9M729 Rusia—rudal jelajah yang diluncurkan oleh nuklir, yang diklaim Amerika termasuk dalam jangkauan yang dilarang oleh traktat INF, yakni antara 500 hingga 5.500 kilometer.

Walau beberapa pihak mengharapkan terjadinya kompromi di saat-saat terakhir—terutama setelah Rusia menyerukan perundingan formal—namun kecil kemungkinan bagi kedua belah pihak untuk menemukan solusi diplomatik untuk kebuntuan saat ini dalam durasi 60 hari yang sempit.

Dari sudut pandang Rusia, Amerika adalah pihak sebenarnya yang telah gagal mematuhi perjanjian itu. Kremlin dengan tegas dan rutin menolak tuduhan AS, merujuk pada program drone AS, penyebaran sistem pertahanan rudal Aegis Ashore di Romania, dan penggunaan ICBM yang dinonaktifkan sebagai target pertahanan rudal, sebagai alasan yang cukup untuk penarikannya. Amerika—seperti juga menurut pernyataan NATO—membantah telah melakukan kesalahan apa pun.

Hingga kini belum jelas apakah Amerika Serikat bersedia melakukan upaya untuk menyelamatkan perjanjian itu. Hingga kini masih belum pasti apa yang mendasari keputusan Amerika untuk mundur dari traktat INF. Beberapa pihak menyalahkan John Bolton—penasihat keamanan nasional yang agresif di era Presiden AS Donald Trump—yang sebelumnya bermain-main dengan gagasan membatalkan perjanjian tersebut, karena telah memimpin tuduhan terhadap INF. Beberapa pihak lain merujuk pada persaingan strategis yang berkembang dengan China sebagai kemungkinan alasan penarikan AS.

Terlepas dari motif sebenarnya, sangat jelas bahwa Gedung Putih memandang status quo saat ini sepenuhnya tidak dapat dipertahankan, dan mungkin memang benar demikian. Selain telah melanggar perjanjian INF, Rusia sedang menjalani modernisasi yang kompleks dan mahal atas gudang senjata nuklir strategis dan sistem pengirimannya, yang dianggap semakin mengkhawatirkan oleh para pembuat kebijakan AS. Dengan Amerika khawatir akan tetap menjadi satu-satunya yang mematuhi perjanjian INF, keputusan penarikan AS dari traktat INF tampaknya akan tetap kokoh.

Resolusi Dewan Keamanan PBB

Dengan AS maupun Rusia tidak mau mengalah, sangat kecil kemungkinan bahwa kedua belah pihak akan siap untuk melakukan tindakan perdamaian yang berarti. Upaya Rusia pada bulan Desember 2018—meskipun dengan segera ditolak—untuk menunda resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan kedua belah pihak untuk memenuhi kewajiban perjanjian mereka, ternyata hanya memberikan kesempatan kepada Amerika.

Langkah itu menempatkan tanggung jawab pada AS untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap traktat tersebut, beberapa hari setelah mengancam untuk menarik diri perjanjian itu, memberi Rusia alasan yang mudah untuk menyalahkan AS atas kebuntuan saat ini. Yang mengejutkan, Rusia telah menolak untuk mengizinkan AS memeriksa rudal yang berada di jantung perselisihan, dengan segera mengesampingkan konsesi utama yang bisa diharapkan AS dalam negosiasi di masa depan.

Spionase

Presiden Rusia Vladimir Putin pada tanggal 27 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Mikhail Svetlov)

Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, pengungkapan rudal sepenuhnya akan sama saja dengan mengonfirmasi tuduhan AS bahwa Rusia secara terang-terangan melanggar kewajiban pengendalian senjata. Hal ini kemungkinan akan semakin memperburuk reputasi Rusia di kancah global, dan mungkin dapat membuka pintu bagi gelombang baru sanksi Barat. Di tengah stagnansi ekonomi baru-baru ini dan menurunnya peringkat persetujuan, skenario ini adalah salah satu hal yang tidak mampu dilakukan Kremlin.

Dengan Rusia yang tidak akan tunduk pada tekanan AS, dan Amerika sama tidak mungkinnya untuk mengubah tuntutannya, sangat penting untuk mempersiapkan dunia tanpa traktat INF.

Prioritas pertama yang harus dilakukan ialah pengendalian kerusakan. Amerika dan Rusia harus mencegah agar runtuhnya traktat INF tidak mengikis komitmen yang lebih luas untuk skenario non-proliferasi. Artinya, komitmen terhadap perjanjian yang telah ada harus dipertegas kembali, seperti perjanjian New START 2011, yang membatasi jumlah gudang senjata rudal mereka menjadi 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan.

Amerika juga dapat memberikan kepastian bahwa mereka akan terus menjunjung tinggi kewajiban non-INF mereka, bahkan jika traktat INF runtuh. Amerika diharapkan dapat menunjukkan keinginannya untuk memperpanjang perjanjian New START melampaui berakhirnya perjanjian tersebut pada tahun 2021 saat ini.

Para pembuat kebijakan di kedua negara harus menolak kembalinya mentalitas Perang Dingin. Hal ini berarti menolak godaan strategis—yang sudah diungkapkan oleh kedua negara—untuk menggunakan runtuhnya traktat INF sebagai dorongan untuk mengerahkan rudal berbasis darat di seluruh Eropa. Penarikan AS dari traktat INF tidak perlu membawa dunia kembali ke era di mana senjata nuklir kembali menjadi bagian dari perhitungan strategis kekuatan global, seperti Rusia, AS, atau bahkan China.

Di tengah ketegangan yang hebat antara Rusia dan Barat, setiap langkah awal yang provokatif akan melipatgandakan risiko memicu perlombaan senjata baru antara kedua musuh dan memperluas kemungkinan konsekuensi kesalahan perhitungan strategis, sehingga berpotensi mengorbankan keamanan jutaan warga Eropa.

Krisis Euromissiles tahun 1980-an—yang menimbulkan protes berskala besar dan terkadang dengan kekerasan di seluruh Eropa Barat dan Eropa Tengah, yang bertujuan mengecam laju penyebaran rudal Pershing II AS yang mengkhawatirkan—berfungsi sebagai pengingat kuat akan keresahan sosial yang dapat memicu ketidakpastian yang dapat ditimbulkan oleh masalah nuklir. Setiap penyebaran nuklir semacam itu hari ini dapat memicu gelombang ketidakpuasan rakyat yang sama besar dan akan menyulut kembali sentimen anti-Amerika yang tersebar luas.

Traktat INF adalah pilar penting bagi stabilitas global. Seiring hubungan antara Rusia dan Barat penuh gejolak, berbagai upaya harus dilakukan untuk memastikan agar runtuhnya perjanjian tersebut tidak membawa serta kejatuhan skenario global terhadap kontrol senjata.

Baca Juga: Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika

Antoine Got memegang gelar master dalam Hubungan Internasional, menulis bersama Danny Anderson yang memiliki gelar master dalam Kajian dan Diplomasi internasional.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Sebuah rudal Iskander-K Rusia diluncurkan selama latihan militer di Luzhsky Range, dekat St. Petersburg, Rusia. Presiden Vladimir Putin membantah klaim AS bahwa Rusia telah melanggar Perjanjian Angkatan Nuklir Angkatan Bersenjata 1987 dengan mengembangkan rudal jelajah baru, dan mengatakan bahwa Rusia memiliki senjata lain yang memiliki kekuatan dapat melakukan serangan yang sama. (Foto: AP/Russian Defense Ministry Press Service)

Ucapkan Selamat Tinggal pada Traktat INF

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. anicodein

    February 16, 2019 at 4:03 am

    Wah wah wah negara ini dari dulu gak pernah akur.

Beri Tanggapan!

To Top