Arab Saudi Deklarasikan Perang terhadap Anggota Kongres Wanita Muslim AS
Amerika

Ilhan Omar Tidak Memahami Mengapa Amerika Mendukung Israel

Berita Internasional >> Ilhan Omar Tidak Memahami Mengapa Amerika Mendukung Israel

Ilhan Omar berpikir bahwa uang tunai atau hipnosis telah membuat Kongres Amerika Serikat tetap mengikuti kebijakan Zionis Israel. Apakah Omar kekurangan imajinasi politik, informasi, atau filter mengenai pemikiran konspirasi untuk melihat alasan nyata dukungan Amerika untuk Israel? Ada alasan kompleks dan sangat politis kenapa Amerika Serikat secara berat sebelah mendukung Israel dibanding Palestina.

Oleh: Evan Gottesman (Haaretz)

Baca Juga: 2 Tahun Trump: Resolusi untuk Partai Demokrat AS

Pada awal pekan, anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Ilhan Omar dari Minnesota terseret ke dalam situasi sulit akibat tweet yang dituliskannya tentang pengaruh Israel dalam politik Amerika. Kali ini, menurut Omar, “Ini semua tentang Benjamin,” uang tunai yang memastikan pegawai negeri Amerika Serikat tetap mengikuti kebijakan Zionis Israel.

Situasi itu menggambarkan bagaimana Omar dengan cepat mundur ke kiasan anti-Semit setelah kontroversi publik yang berkepanjangan atas tweet sebelumnya tentang Israel yang menghipnotis dunia. Situasi tersebut sangat mengganggu ketika menyaksikan politisi Partai Republik seperti Pemimpin Minoritas DPR AS Kevin McCarthy, yang pernah berpendapat bahwa orang Yahudi kaya berusaha untuk “membeli” pemilihan paruh waktu AS, mengambil kesempatan untuk mencetak poin partisan. Omar akhirnya meminta maaf, meskipun hanya setelah mendapatkan kecaman dari pemimpin Demokrat DPR.

Di luar sifat ofensif secara keseluruhan, komentar Omar telah mengkhianati kesalahpahaman serius tentang apa yang membuat dukungan bagi Israel menjadi arus politik yang kuat di Amerika Serikat. Teori konspirasi seringkali memberi tahu kita apa yang ingin kita dengar. Sangat nyaman untuk melihat saingan ideologis seseorang sebagai pesawat nirawak tanpa pikiran yang dapat diaktifkan berdasarkan perintah atau bayaran. Seandainya para penguasa boneka bisa digulingkan, seluruh sistem akan runtuh. Tetapi kenyataannya lebih rumit. Palestina tidak akan mendapatkan apa-apa dengan merangkul pandangan yang terlalu sederhana yang melihat uang lobi Israel Amerika sebagai tuas yang mempertahankan pendudukan Israel.

Sebagian besar stempel politik Israel dalam politik domestik Amerika berasal dari komunitas evangelis Kristen. Keyakinan ideologis mereka nyata dan tidak membutuhkan pembelian. Dukungan Injilijauh lebih tidak kritis daripada dukungan demografis lainnya. Memang, bagian yang jauh lebih besar dari evangelis Kristen daripada Yahudi Amerika percaya bahwa Tuhan memberikan Israel kepada orang-orang Yahudi. Christian United for Israel memberikan keanggotaan terbesar dari institusi pro-Israel di Amerika Serikat.

Banyak politisi AS sendiri berasal dari kalangan evangelis. Mereka yang tidak berasal dari kalangan evangelis masih mengakui kaum evangelis sebagai konstituensi yang signifikan, yakni 25 persen dari populasi Amerika dan kelompok agama tunggal terbesar di Amerika. Tetapi seruan agama Israel tidak eksklusif untuk satu pengakuan saja. Lagipula, banyak orang Yahudi Amerika, minoritas kecil yang memiliki keterlibatan politis, merasakan ikatan yang asli (jika bukan secara filosofis berbahaya) dengan Israel, terlepas dari lobi apa pun.

Lalu ada aspek non-religius dari hubungan dengan Israel yang lebih luas menarik bagi orang Amerika, terutama tetapi tidak secara eksklusif di sayap kanan. Terdapat unsur benturan peradaban: gagasan bahwa Israel adalah pos terdepan demokrasi peradaban Barat di tepi hutan belantara yang tak terjamah, kisah yang menggugah perumpamaan ekspansionis Amerika Serikat tentang manifest destiny.

Gagasan ini adalah hal yang nyaman selama Perang Dingin, ketika Israel yang non-komunis mengalahkan aliansi rezim Soviet di dunia Arab. Gagasan tersebut mengambil wujud baru setelah serangan 11 September 2011, dengan musuh-musuh Israel terwujud kembali dalam cetakan yang sama dengan pembajak fundamentalis Islam yang menjatuhkan Menara Kembar WTC.

Baca Juga: Kutip Trump, Mahathir Mohamad Larang Atlet Israel Masuk Malaysia

Beberapa konsepsi tak berwujud ini telah diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata: misalnya, pemerintahan mantan Presiden AS George W. Bush memberlakukan embargo pada suku cadang helikopter ke Israel sebagai protes atas pembunuhan yang ditargetkan dalam intifada kedua. Setelah serangan 9/11 dan dimulainya “perang global melawan teror,” Bush mencabut larangan itu.

Tentu saja, banyak musuh Israel merupakan teroris fanatik agama dan, dalam insiden yang disiarkan televisi secara luas, beberapa warga Palestina di wilayah pendudukan merayakan serangan 9/11. Israel adalah mitra strategis dan intelijen utama Amerika di Timur Tengah. Tidak semua hal tentang gagasan populer Amerika tentang Israel tidak benar karena mereka telah menjadi mitologi sipil yang terdistorsi, di mana tindakan Israel dipandang dengan kurang kritis serta konflik Israel-Palestina diperlakukan dalam ketentuan zero sum.

Berbagai organisasi pro-Israel seperti AIPAC tentu memanfaatkan tema-tema ini, tetapi mereka tidak semata-mata bertanggung jawab dalam menciptakannya. Para politisi AS dengan antusias memainkan dukungan untuk Israel kepada konstituen mereka dengan cara yang tidak mereka lakukan dengan sekutu Amerika lainnya, bahkan demokrasi liberal lainnya. Kapan terakhir kali seorang anggota Kongres AS memimpin rapat umum untuk mendukung hubungan AS-Jerman?

Faktanya ialah bahwa para pemimpin terpilih tidak hanya mendorong Israel untuk mendapatkan uang. Mereka melakukannya karena itu menarik bagi konstituen dari banyak garis politik. Dukungan Partai Republik lebih keras dan berani terhadap semangat keagamaan yang lebih besar, tetapi dukungan Demokrat untuk Israel juga cukup stabil, menurut jajak pendapat Gallup 2018.

Terdapat lobi negara pro-Teluk di Amerika (yang setara atau bahkan melebihi pengaruh lobi pro-Israel). Pengeluaran untuk lobi dan upaya public relation atas nama beberapa pemerintah Arab juga melampaui pengeluaran pro-Israel yang sama pada tahun 2018. Namun Anda tidak melihat pejabat Amerika memamerkan dukungan mereka untuk Arab Saudi atau Uni Emirat Arab di depan para pemilih.

Dalih untuk tweet pertengkaran anggota Kongres baru Ilhan Omar adalah ancaman Kevin McCarthy untuk memberlakukan tindakan hukuman terhadap Omar dan Rashida Tlaib atas kritik mereka terkait Israel. McCarthy memperingatkan kedua representatif Demokrat itu di depan umum karena hal itu memobilisasi basis Republik dan mengobarkan masalah ganjalan di kalangan Demokrat. Bertentangan dengan Omar, tidak ada “Benjamin” yang diminta mengambil langkah politis seperti itu untuk GOP, bahkan ketika hal itu membantu mengubah Israel menjadi permainan partisan.

Kapan dan jika tren historis yang mendukung hubungan Amerika-Israel dibatalkan, hal itu sebagian akan disebabkan oleh politisasi ini (di mana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpartisipasi), yang dikombinasikan dengan ketidaksabaran yang tumbuh terhadap para pemimpin Israel yang tidak ragu dengan niat mereka untuk melakukan aneksasi terhadap Tepi Barat dan secara pasti menutup kemungkinan solusi dua negara.

Kemampuan Palestina untuk memasukkan diri mereka ke dalam kesadaran Amerika dengan menarik momen-momen bersejarah seperti hak-hak sipil dan gerakan anti-apartheid juga akan sangat penting di negara di mana sangat mudah untuk mengidentifikasi diri dengan Israel. Organisasi pro-Israel seperti AIPAC memang memiliki pengaruh nyata, tetapi mereka hanyalah sebagian dari cerita.

Sementara itu, imajinasi politik Ilhan Omar tampaknya tidak menjelaskan gagasan bahwa Israel dapat memberikan daya pikat sejati bagi orang Amerika tanpa bergantung pada campur tangan artifisial, tunai maupun hipnosis. Omar mengabaikan bagaimana unsur-unsur dukungan AS yang tidak kritis terhadap Israel telah berevolusi dari motif budaya yang sangat Amerika. Ironisnya, membangun dukungan untuk perdamaian Israel-Palestina yang adil dan berkelanjutan akan membutuhkan upaya mengatasi prasangka-prasangka ini.

Awalnya, Ilhan Omar, seperti pemimpin Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn, tampak puas dengan token dan refleks pembelaan diri ketika ia dianggap anti-Semit. Permintaan maafnya merupakan perkembangan yang disambut baik, tetapi ini adalah insiden kedua dalam dua bulan. Oleh karena itu, Omar sebaiknya dapat memperbaiki rekam jejaknya dengan tindakan nyata dan dengan mengganti pemikiran konspirasi dengan pemahaman yang kuat tentang pemicu nyata yang mendasari hubungan Amerika dengan Israel.

Baca Juga: Israel Terus Usir Warga Palestina, Rampas Rumah Mereka untuk Pemukim

Evan Gottesman adalah Rekan Direktur Urusan Kebijakan dan Komunikasi di Israel Policy Forum. 

Keterangan foto utama: Anggota Kongres Ilhan Omar berbicara kepada sekelompok sukarelawan di Minneapolis, Minnesota, pada 13 Oktober 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Kerem Yucel)

Ilhan Omar Tidak Memahami Mengapa Amerika Mendukung Israel

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top