Wanita Afghanistan Menolak Menyerahkan Hak-Hak Mereka
Timur Tengah

Wanita Afghanistan Menolak Menyerahkan Hak-Hak Mereka

Berita Internasional >> Wanita Afghanistan Menolak Menyerahkan Hak-Hak Mereka

Dalam sebuah wawancara, duta besar wanita pertama Afghanistan untuk Amerika Serikat Roya Rahmani bersikap tegas dalam masalah pembicaraan damai dengan Taliban. Dia menegaskan, Afghanistan telah jauh berubah sejak terakhir Taliban berkuasa, dan bahwa para wanita tidak bersedih menyerahkan hak-hak mereka. Rahmani juga mengatakan, sama sekali belum ada pembicaraan antara pemerintah Afghanistan dengan Taliban.

Oleh: Elias Groll dan Lara Seligman (Foreign Policy)

Baca Juga: Presiden Afghanistan Tawarkan Taliban Kantor Lokal, tapi Mereka Ingin di Qatar

Roya Rahmani tiba di Washington dalam momen yang genting. Sebagai duta besar wanita pertama Afghanistan untuk Amerika Serikat, Rahmani mulai menduduki jabatannya pada bulan Desember 2018, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan niatnya untuk menarik pasukan Amerika dari Afghanistan.

Sejak saat itu, para diplomat Amerika telah bergegas mewujudkan perjanjian damai dengan Taliban yang akan mengakhiri perang terlama AS sepanjang sejarah sekaligus perang sipil di Afghanistan.

Pekan ini, Rahmani duduk bersama Foreign Policy untuk mendiskusikan apa makna kesepakatan dengan Taliban terhadap hak-hak sipil warga Afghanistan. Apakah menurutnya kelompok militant tersebut dapat dipercaya? Akankah pasukan keamanan Afghanistan disibukkan oleh kerugian di medan perang?

Baca Juga: Siapa Pemenang dan Pecundang dalam Perundingan Damai Afghanistan?

Foreign Policy: Amerika Serikat dan Taliban membanggakan putaran negosiasi saat ini sebagai upaya perdamaian paling serius dalam hampir satu dekade, tetapi sejauh ini pemerintah Afghanistan tidak dilibatkan. Apakah mungkin beberapa kesepakatan dapat dinegosiasikan melalui Amerika?

Roya Rahmani: Kami yakin dan memahami bahwa belum ada negosiasi sama sekali. Upaya ini pada dasarnya untuk mencoba memfasilitasi pembicaraan antar-Afghanistan. Amerika Serikat berupaya untuk membawa Taliban ke meja perundingan sehingga mereka dapat berbicara dengan pemerintah Afghanistan.

Jika pemerintah tidak dilibatkan, kami tidak yakin ada negosiasi. Ini adalah masalah yang harus diselesaikan antara pemerintah Afghanistan, yang mewakili rakyat Afghanistan, dengan Taliban.

FP: Taliban menyatakan bahwa pemerintah Afghanistan saat ini tidak sah dan merupakan boneka dari kekuatan asing. Apakah Anda yakin Taliban akan bersedia untuk berpartisipasi dalam negosiasi langsung dengan pemerintah Afghanistan?

RR: Jika mereka ingin menegosiasikan perdamaian, jika mereka ingin memiliki tempat di Afghanistan, ini adalah satu-satunya cara. Orang-orang kami rela melepaskan perasaan berduka dan masa lalu mereka demi masa depan yang lebih baik. Bagaimana kelompok Taliban bisa masuk dan menjadi bagian dari masyarakat jika tidak mau terlibat dengan masyarakat? Masyarakat dan bangsa Afghanistan memiliki pemerintahan terpilih, jadi apa yang mereka pertanyakan?

FP: Apa batasan Anda dalam kemungkinan negosiasi dengan Taliban untuk penyelesaian politik atas perang?

RR: Persatuan Afghanistan, integritas wilayah, dan hak-hak sipil semua warga Afghanistan. Ada banyak hal lain untuk dibahas dan dibicarakan begitu mereka hadir di meja negosiasi.

FP: Apakah Anda khawatir bahwa masuknya Taliban sebagai partai politik akan mengikis hak-hak perempuan?

RR: Afghanistan saat ini bukanlah Afghanistan tahun 2001. Afghanistan telah berubah dan ada perbedaan besar. Rakyat Afghanistan memiliki suara mereka sendiri. Para wanita telah diperlakukan seperti minoritas di masa lalu, tetapi tidak saat ini. Bersama-sama, para wanita dan pemuda sebenarnya adalah mayoritas, dan mereka tidak mau menyerahkan hak-hak mereka. Mereka tidak mau berkompromi dengan hak asasi mereka maupun kembali ke masa lalu.

FP: Apakah Anda khawatir tentang kepergian prematur Amerika Serikat dari Afghanistan?

RR: Kami tidak ingin bergantung selamanya. Kami ingin melanjutkan kemitraan yang kami miliki dengan Amerika Serikat dan tidak terus menjadi negara tergantung. Ini adalah ambisi kami. Karena itu, Afghanistan yang damai dan stabil akan sangat membantu dalam mewujudkan aspirasi kami.

FP: Apakah Anda memiliki keyakinan bahwa pasukan keamanan Afghanistan akan dapat mendukung diri mereka sendiri dan bertahan melawan Taliban tanpa dukungan AS?

RR: Perang melawan terorisme adalah tanggung jawab global. Saat ini, rakyat Afghanistan berjuang di garis depan pertempuran ini dan membayar harga yang sangat besar. Kami menyediakan jaminan melawan terorisme untuk seluruh dunia. Agar perjuangan ini dapat terus berlanjut, perlu ada upaya global melawan ancaman narkotika, terorisme, ekstremisme, maupun enabler kelompok kriminal dan sekutu mereka.

FP: Presiden Ashraf Ghani baru-baru ini mengungkapkan jumlah kematian yang mengejutkan yang diderita pasukan keamanan Afghanistan pada tahun 2018. Apakah tingkat korban saat ini masih berkelanjutan?

RR: Korban terjadi di semua sisi. Kami sangat menderita dan kami sangat khawatir tentang itu. Jangan lupa juga bahwa pasukan keamanan kami secara sukarela bergabung. Mereka secara sukarela terus berjuang untuk keamanan rakyat mereka, dengan harapan bahwa anak-anak mereka akan memiliki masa depan yang lebih baik.

Inilah sebabnya kami siap untuk bergerak maju dan melepaskan perasaan berduka kami untuk menyediakan lingkungan yang lebih damai bagi kami semua untuk memenuhi potensi kami. Konflik ini menggerogoti dan menghambat potensi kami untuk makmur secara ekonomi dan menjadi mandiri.

FP: Apakah Anda memiliki keyakinan bahwa Anda dapat mempercayai Taliban? Mereka dilaporkan telah berjanji, misalnya, bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai titik persiapan untuk plot teroris. Apakah itu janji yang bisa dipercaya?

RR: Jika Taliban tidak mengadakan pembicaraan antar-Afghanistan, melakukan negosiasi dengan pemerintah, bagaimana mereka menawarkan jaminan kepada siapa pun? Bagaimana mereka menawarkan jaminan bahwa mereka tidak akan membiarkan Afghanistan menjadi tempat yang aman seperti ini? Atas dasar apa?

FP: Duta Besar Zalmay Khalilzad, yang memimpin perundingan Amerika dengan Taliban, telah mengklaim bahwa ia telah mencapai kerangka kerja untuk pembicaraan damai dengan Taliban. Tetapi kami hanya tahu sedikit tentang hal itu, dan negosiator Amerika sangat tertutup mengenai perundingan. Bisakah Anda menggambarkan pemahaman Anda tentang kerangka itu?

RR: Saya sendiri belum melihat apa-apa, jadi saya tidak bisa memberikan detil spesifik tentang itu. Saya sama tidak tahunya dengan Anda. Kami hanya berharap bahwa apa pun upaya itu, itu adalah untuk memulai negosiasi yang sebenarnya.

FP: Sepertinya Anda ingin tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya dilakukan Khalilzad.

RR: Saya tahu apa yang Anda ketahui. Dia telah memberikan pernyataan, dan kami didorong oleh pernyataan bahwa dia memberikan bahwa “tidak ada yang disepakati sampai semuanya disepakati.” Dia telah menjelaskan baru-baru ini bahwa belum ada jadwal penarikan. Saya terdorong oleh hal itu.

FP: Sepengetahuan Anda, sudah adakah perintah yang diberikan terhadap pasukan Amerika untuk meninggalkan Afghanistan?

RR:  Belum

FP: Khalilzad mengatakan pada hari Jumat (8/2) bahwa ia berharap untuk mendapatkan perjanjian damai pada bulan Juli 2019, sebelum pemilihan Afghanistan. Apakah menurut Anda lini waktu itu realistis?

RR: Saya harap begitu. Saya tidak punya ide spesifik apakah itu akan berhasil atau tidak. Jika kami mencapai kesepakatan damai kemarin, saya pasti akan lebih bahagia.

FP: Bagaimanapun, apakah Anda berharap bahwa pemilihan Afghanistan yang dijadwalkan akan terwujud?

RR: Sangat penting dan meyakinkan bagi orang-orang kami bahwa apa yang telah kami peroleh akan terus berlanjut. Kesinambungan adalah jaminan bagi stabilitas kami. Inilah yang diinginkan rakyat Afghanistan, dan mereka baru saja menunjukkan hal itu selama pemilihan parlemen baru-baru ini. Jangan lupa bahwa pemilihan parlemen terakhir diamankan oleh pasukan kami. Bagi kami untuk mempertahankan hasil, sangat penting untuk bergerak mewujudkan pemilihan ini.

Jika kami ingin mencapai penyelesaian damai, kami membutuhkan mekanisme untuk implementasi. Kami membutuhkan badan yang kuat dan terpusat untuk memastikan bahwa terlepas dari tantangan yang akan ditimbulkan, hal itu tetap dapat dikelola. Itu hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan terpilih.

FP: Rusia juga melakukan upaya perdamaian paralel. Apa pendapat Anda tentang upaya itu?

RR: Secara pribadi, saya pikir lebih baik untuk berkoordinasi dan memiliki satu jalur daripada membaginya. Beberapa pengumuman dan pernyataan yang dibuat Taliban tidak serta merta mendorong menjelang pertemuan Rusia. Itulah pandangan pribadi saya. Sebagai perwakilan pemerintah saya, kami tidak berpartisipasi.

FP: Pemerintahan Trump telah membangun industri pertambangan Afghanistan sebagai pusat retorikanya tentang Afghanistan. Dukungan atau arahan seperti apa yang Anda dapatkan dari administrasi untuk masalah ini?

RR: Pertambangan dan sumber daya alam adalah industri yang sangat penting di Afghanistan. Kami berupaya menemukan cara-cara yang menetapkan mekanisme, peraturan, dan juga mereformasi undang-undang dan prosedur kami untuk memfasilitasi penggunaan industri ini dan pada saat yang sama menarik peluang investasi dari negara-negara mitra.

Kami melakukan segala hal yang kami bisa untuk memfasilitasi keterlibatan ini untuk investor Amerika khususnya, mengingat bahwa Amerika Serikat telah menjadi mitra dasar kami.

FP: Apakah Anda berharap untuk menandatangani perjanjian pertambangan tambahan?

RR: Kami sedang mengerjakan sejumlah inisiatif berbeda dan berharap memiliki lebih banyak perjanjian dan minat dari para investor Amerika.

Baca Juga: Memahami Taliban akan Jadi Kunci Perdamaian di Afghanistan

Elias Groll dan Lara Seligman adalah staf penulis di Foreign Policy.

Keterangan foto utama: Roya Rahmani, duta besar Afghanistan untuk Amerika Serikat, melambaikan tangan sebelum dipotret selama pertemuan Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS di Kementerian Luar Negeri di Washington, 6 Februari 2019. (Foto: AP/Alex Brandon) 

Wanita Afghanistan Menolak Menyerahkan Hak-Hak Mereka

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top