Pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

Oposisi Usulkan Debat Bahasa Inggris dalam Pilpres 2019

Kedua kubu dalam Pilpres 2019. (Foto: The Jakarta Post)
Berita Internasional >> Oposisi Usulkan Debat Bahasa Inggris dalam Pilpres 2019

Jelang Pilpres 2019 pada bulan April mendatang, terdapat kericuhan baru mengenai usulan dari kubu oposisi terkait debat presiden menggunakan bahasa Inggris. Menurut mereka, seorang pemimpin harus mampu berbahasa Inggris untuk berkomunikasi di forum internasional. Usulan tersebut mendapat penolakan dari kubu petahana, bahkan dari calon wakil presiden Prabowo, Sandiaga Uno.

Baca juga: Opini: Pilpres 2019 Bisa Ditentukan oleh Ekonomi, Bukan Agama

Oleh: The Nation/The Jakarta Post/Asia News Network

Sebuah usulan dari kubu oposisi bahwa debat presiden resmi diadakan dalam bahasa Inggris dan bukannya bahasa Indonesia, telah dipenuhi dengan cemoohan dari para pendukung petahana, yang mengatakan bahwa usulan itu tidak masuk akal, sementara dengan bercanda mengatakan bahwa itu dapat berujung pada perdebatan dalam bahasa Arab.

Usulan itu datang dari eksekutif Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto, yang berpendapat bahwa penting bagi kepala negara untuk berbicara bahasa Inggris dengan baik karena ia harus berbaur dengan para pemimpin global dan berbicara di forum internasional.

“Penting bagi seorang kandidat presiden untuk fasih dalam (bahasa Inggris)… untuk memastikan bahwa tidak ada miskomunikasi dengan tokoh-tokoh yang diajak bicara oleh (presiden itu),” kata Yandri.

Koalisi Jokowi tidak menyambut baik usulan itu.

“Jangan buat proposal aneh (…) Debat antara calon presiden harus terus menggunakan bahasa Indonesia,” kata Raja Juli Antoni, sekretaris tim kampanye Jokowi, pada Jumat (14/9).

“Esensi debat (…) adalah agar publik tahu apa yang ada di pikiran calon presiden kita. Publik ingin tahu track record mereka,” kata Antoni seperti dikutip oleh kompas.com.

Baca juga: Analisis: Mampukah Kampanye #2019GantiPresiden Jatuhkan Jokowi di Pilpres 2019?

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani, mengatakan bahwa debat harus dalam bahasa Indonesia karena undang-undang tahun 2009 tentang bendera nasional, bahasa, lambang, dan lagu kebangsaan menetapkan bahwa bahasa Indonesia harus digunakan di setiap forum nasional.

“Saya kira debat presiden adalah forum resmi,” kata Arsul, seraya menambahkan bahwa oposisi tidak boleh menawarkan usulan seperti itu karena dapat mendorong orang lain untuk mengajukan usulan aneh lainnya, seperti berdebat dalam bahasa Arab atau meminta kandidat untuk mengikuti ujian membaca Al-Quran.

Meskipun usulan tersebut berasal dari beberapa pendukungnya, namun calon wakil presiden Prabowo, Sandiaga Uno, mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan usulan tersebut. “Ada beberapa orang yang mengerti bahasa Inggris, tetapi kami ingin menjangkau semua orang Indonesia,” katanya.

Keterangan foto utama: Kedua kubu dalam Pilpres 2019. (Foto: The Jakarta Post)

Oposisi Usulkan Debat Bahasa Inggris dalam Pilpres 2019

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top