Kudeta Papua
Berita Politik Indonesia

Orang Asing dalam Plot Kudeta Papua: Pedagang Senjata atau Turis Petualang?

Berita Internasional >> Orang Asing dalam Plot Kudeta Papua: Pedagang Senjata atau Turis Petualang?

Warga negara Polandia Jakob Skrzypski dituduh bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan menawarkan untuk membantu memasok senjata untuk mereka, serta membantu kudeta Papua. Para pengamat menggambarkannya sebagai pengembara “ekstrem” yang bersemangat terhadap budaya, bahasa, dan masalah kemanusiaan lainnya. Persidangan Skryzypski masih berlanjut dan kemunculannya di pengadilan berikutnya dijadwalkan pada tanggal 29 Januari 2019.

Baca juga: 1,8 Juta Tanda Tangan, Separatis Papua Serahkan Petisi Kemerdekaan ke Dewan HAM PBB

Oleh: Febriana Firdaus (South China Morning Post)

Jakob Skrzypski meninggalkan pekerjaannya yang stabil di Swiss untuk melakukan perjalanan ke Indonesia tahun 2018. Dia mengunjungi Jawa, Sumatra, dan Bali sebelum menuju ke Papua Barat dan Papua yang bergolak.

Namun tiga bulan lalu, pihak berwenang Indonesia menahan warga negara Polandia berusia 39 tahun tersebut di ibu kota Papua, Jayapura. Tanggal 15 Januari 2019, ia didakwa telah melakukan pengkhianatan.

Skrzypski adalah orang asing pertama di Indonesia yang didakwa melakukan pelanggaran tersebut, yang bisa membuatnya menghabiskan hukuman 20 tahun penjara jika terbukti bersalah. Dia dituduh merencanakan kudeta dengan kelompok bersenjata Papua yang pro-kemerdekaan dan menawarkan bantuan pasokan senjata untuk menggulingkan pemerintah Indonesia. Skrzypski, dengan janggut lebat dan rambut diikat ke belakang, telah ditahan di sel penjara kecil yang gelap ketika ia menunggu persidangan di Wamena, sebuah kota terpencil di dataran tinggi Papua.

Sebuah foto yang dilihat oleh South China Morning Post menunjukkan sel penjara dengan garis-garis kotor di dinding dan sketsa tangan Yesus Kristus yang tergantung di kayu salib.

“Tidak ada air panas yang tersedia bebas. Air cucian di sini kotor,” tulis Skrzpski dalam suratnya kepada SCMP, menambahkan bahwa ia berbagi sel dengan hingga empat tahanan lainnya dan ia mendapat satu kali jatah makan nasi dan sayuran sehari.

Jakob Skrzypski mengatakan dia berbagi sel dengan hingga empat tahanan lainnya dan dia mendapat satu kali jatah makan nasi dan sayuran sehari. (Ilustrasi: Adolfo Arranz)

Kasusnya di pengadilan merupakan hal tak terduga dalam perjuangan kemerdekaan Papua menentang pemerintah Indonesia.

Pemberontakan tingkat rendah telah membara di Papua, yang berbagi perbatasan dengan negara Papua Nugini, sejak bekas koloni Belanda itu berada di bawah kekuasaan Indonesia pada tahun 1960-an. Papua mendeklarasikan dirinya sebagai negara merdeka pada tahun 1961, tetapi Indonesia mengambil kendali atas wilayah yang kaya sumber daya tersebut secara paksa pada tahun 1963.

Pemerintah Indonesia secara resmi menjadikan Papua sebagai bagian dari wilayahnya pada tahun 1969 melalui pemungutan suara yang didukung PBB, yang secara luas dianggap sebagai penipuan. Provinsi ini terpecah menjadi dua pada tahun 2003 menjadi Papua dan Papua Barat. Gerakan pro-kemerdekaan di sana hanya memiliki sedikit dukungan internasional, kecuali untuk sejumlah kecil negara Pasifik.

Dalam korespondensinya dengan SCMP, Skrzypski menggambarkan bagaimana Papua telah “menumbuhkan” rasa penasarannya selama beberapa waktu. Dia mengunjungi pusat kota Papua di Sorong, Jayapura, Timika, dan Wamena, mendapatkan teman di setiap tempat tersebut melalui media sosial.

“Papua hampir tidak dikenal, jarang disebutkan di Eropa. Karena sangat berbeda dari bagian lain di Indonesia, Papua telah menumbuhkan rasa ingin tahu saya selama beberapa waktu,” tulisnya.

Skrzypski lulus dari Universitas Warsawa di Polandia, bekerja di Inggris, kemudian belajar di Universitas Lausanne, Swiss, sebelum mendapatkan pekerjaan di sana. Dia telah melakukan perjalanan ke Indonesia beberapa kali, dan juga ke Armenia, Myanmar, dan Irak. Bulan Agustus 2018, ketika dia berada di Wamena, kota terbesar di dataran tinggi provinsi Papua, polisi setempat memintanya untuk melapor kepada mereka.

Skrzypski mengatakan dia telah melapor dengan ditemani oleh seorang pria yang menjadi pemandu wisatanya. Dia mengatakan bahwa polisi menawarinya tiket untuk meninggalkan Indonesia, tetapi dia menolak. Mereka kemudian meminta pemandu untuk tinggal di kantor polisi, sementara mereka mengizinkan Skrzypski untuk kembali ke hotel.

Keesokan harinya, polisi menjemput Skrzypski di hotel dan membawanya ke ibu kota Papua, Jayapura, satu jam perjalanan dari Wamena dengan penerbangan, di mana ia ditangkap. Pemandu wisata itu kemudian dibebaskan.

Menurut Skrzypski, polisi menuduhnya bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sebuah kelompok militan dan salah satu dari empat organisasi separatis aktif. Mereka mengutip persahabatan online Skrzypski dengan Simon Magal, seorang siswa yang memiliki hubungan dengan aktivis hak asasi manusia Papua Barat Mama Yosepha Alomang, sebagai bukti.

Mama Yosepha menerima pengakuan internasional setelah dia melobi menentang perusahaan pertambangan Amerika Freeport McMoRan, yang dituduh menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dalam operasi tambang tambang raksasa Grasberg selama beberapa dekade.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat juga melakukan serangan terhadap Freeport, dengan mengatakan bahwa integrasi provinsi tersebut dengan Indonesia adalah konspirasi antara pemerintah dan raksasa perusahaan tambang Freeport. Skrzypski mengatakan bahwa ia mendiskusikan Freeport dengan Simon. Tetapi komisaris polisi Jayapura Ahmad M. Kamal mengatakan mereka memiliki bukti dari obrolan Facebook Messenger dan kesaksian video dari tiga pejuang pro-kemerdekaan bahwa Skrzypski telah menyatakan dukungannya terhadap gerakan kemerdekaan Papua yang militan.

Magal kemudian ditangkap dan juga didakwa dengan pengkhianatan.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pengacara Skrzypski Latifa Anum Siregar dan beberapa kelompok hak asasi manusia mengatakan polisi menuduh warga negara Polandia itu sebagai pedagang senjata dan mengandalkan foto dirinya memegang senjata sebagai bukti. Tetapi menurut salah satu teman Skrzypski, foto-foto itu diambil dalam arena olahraga tembak dalam ruangan di Vaud, Swiss, tempat ia tinggal. Polisi juga mengklaim telah menyita lebih dari 130 butir amunisi dari Skrzypski dan tiga warga negara Indonesia lainnya.

Veronica Koman, seorang pengacara untuk Komite Nasional Papua Barat (KNPB), yang berkampanye untuk referendum nasional, mengatakan polisi menjadi paranoid ketika orang asing melakukan kontak dengan orang Papua. Akses ke wilayah tersebut terbatas untuk media internasional.

Baca juga: OPM Lirik Papua Nugini untuk Bantu Perundingan dengan Indonesia

“Berdasarkan korespondensi saya dengan keluarga (Skrzypski) dan teman-teman dekat, dia hanyalah turis yang menggilai wisata adrenalin,” katanya.

Tapol, sebuah LSM yang memantau masalah-masalah hak asasi manusia di Indonesia, menggambarkan Skrzypski sebagai petualang yang “ekstrem” yang bersemangat terhadap budaya, bahasa, dan masalah kemanusiaan lainnya.

Dalam suratnya, Skrzypski mengklaim akses ke pengacaranya terhambat dan pihak berwenang mengadakan persidangan di Wamena, alih-alih ibu kota Jayapura di mana kasusnya akan mendapat lebih banyak perhatian dari media dan komunitas diplomatik. Dia mengaku merasa terisolasi dan tertekan, tidak tahu kapan dia akan pergi ke pengadilan berikutnya. Untuk mengisi waktu, Skrzypski telah membaca majalah-majalah National Geographic dan buku-buku lawas tentang budaya Papua.

“Setiap langkah investigasi dilakukan secara diam-diam. Saya tidak pernah diinformasikan sebelumnya. Setidaknya tidak oleh polisi,” tulisnya.

Polisi bersikeras ini bukan masalahnya. Selama penyelidikan mereka terhadap Skrzypski, para pejabat kementerian luar negeri di Jakarta terus diberi informasi dan berkomunikasi dengan kedutaan Polandia di sana. Persidangan Skryzypski masih berlanjut dan kemunculannya di pengadilan berikutnya dijadwalkan pada tanggal 29 Januari 2019.

Keterangan foto utama: Jakob Skrzypski, dengan janggut lebat dan rambut diikat ke belakang, ditahan di sel penjara kecil yang gelap sembari menunggu persidangan. (Foto: Febriana Firdaus)

Orang Asing dalam Plot Kudeta Papua: Pedagang Senjata atau Turis Petualang?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top