Theresa May menyapa putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di luar Downing Street 10. (Foto: AFP/Getty Images/Tolga Akmen)
Eropa

Pandangan The Guardian tentang Arab Saudi dan Yaman: Aib Inggris, Kewajiban Inggris

Theresa May menyapa putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di luar Downing Street 10. (Foto: AFP/Getty Images/Tolga Akmen)
Home » Featured » Eropa » Pandangan The Guardian tentang Arab Saudi dan Yaman: Aib Inggris, Kewajiban Inggris

Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman ke Inggris, telah menyoroti tanggung jawab Inggris dalam Perang Yaman yang menghancurkan tersebut. Arab Saudi akan segera menutup kesepakatan yang telah lama tertunda dengan Inggris untuk membeli 48 pesawat tempur Typhoon, yang sebagian digunakan di Yaman.

Oleh: The Guardian

    Baca Juga : Apa Kepentingan Kekuatan Dunia yang Terlibat Perang Suriah?

Dua pengumuman menandai akhir dari kunjungan pangeran mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman ke Inggris pada hari Jumat (9/3). Pertama, datang kesepakatan bantuan senilai GBP 100 juta, yang langsung dicap sebagai “aib nasional.” Walaupun DfID mengatakan akan mengumpulkan keahlian untuk meningkatkan infrastruktur di negara-negara miskin, para kritikus mengatakan bahwa hal itu dimaksudkan untuk meniadakan reputasi Arab Saudi, yang membutuhkan PR semacam itu berkat peran utamanya dalam perang di Yaman.

Datanglah pengumuman selanjutnya, dari sistem BAE. Arab Saudi akan segera menutup kesepakatan yang telah lama tertunda dengan Inggris untuk membeli 48 pesawat tempur Typhoon. Militer negara tersebut sudah memiliki 72; beberapa digunakan di Yaman. Kampanye Anti Perdagangan Senjata mengatakan Inggris telah memberi lisensi senilai GBP 4,6 miliar untuk penjualan senjata ke pemerintah Arab Saudi sejak pengeboman tersebut dimulai pada tahun 2015.

Meskipun Theresa May dilaporkan telah mengemukakan “keprihatinan mendalam” tentang perang dengan pangeran mahkota tersebut, Inggris menawarkan bantuan kemanusiaan, sambil memasok senjata yang memicu krisis kemanusiaan buatan manusia yang terburuk di dunia dan mendukung operasi militer udara Arab Saudi.

PBB mengatakan bahwa 8,5 juta orang Yaman berisiko kelaparan. Kepala kemanusiaannya menggambarkan kondisi di sana sebagai “bencana.” Sistem kesehatan hancur dalam pertempuran melawan difteri dan kolera. Utusan khusus baru negara tersebut, mantan diplomat Inggris Martin Griffiths, harus berusaha menghidupkan kembali usaha-usaha yang hampir mati untuk menemukan jalan keluar politik. Apapun harapan pangeran mahkota Arab Saudi, tidak ada solusi militer.

Pemimpin yang berusia 32 tahun tersebut, yang juga merupakan pemimpin de facto negaranya, telah ditunjuk untuk memperkenalkan reformasi sosial dan budaya—yang memungkinkan perempuan untuk mengemudi, dan dibukanya bioskop setelah larangan selama 35 tahun. Dia secara bersamaan mengkonsolidasikan kekuatannya sendiri tanpa ampun.

Di front internasional, dia memimpin tuntutannya ke Yaman (dan baru-baru ini blokade Qatar, sebuah prakarsa nekat lain yang tampaknya menjanjikan kemenangan yang cepat tapi sekarang ada dalam kebuntuan). Hal ini dikenal sebagai “Vietnam-nya Saudi,” sebuah label yang telah disita oleh Iran dengan gembira. Dukungan Teheran untuk pemberontak Houthi telah memikat banyak saingan besarnya ke dalam perang yang menguras pundi-pundi dan menghabiskan ribuan nyawa masyarakat Yaman.

Upaya Arab Saudi untuk menemukan jalan keluar—dengan membujuk sekutu Houthi dan mantan presiden Ali Abdullah Saleh untuk berbalik—tidak berlangsung lama: Houthi membunuhnya. Presiden yang telah diakui secara internasional yaitu Abdu Rabbu Mansour Hadi, yang menggantikan Saleh di musim semi Arab, hanya untuk dipaksa keluar oleh Houthi. Tapi pemerintahannya memiliki sedikit kehadiran. Seperti sebuah laporan yang baru-baru ini memperingatkan, Yaman telah menjadi “negara kacau” di mana “masing-masing wilayah memiliki struktur kepemimpinan, politik internal, dan pendukung eksternal lainnya… kurang seperti negara yang terbagi daripada kumpulan negara-negara kecil yang terlibat dalam suatu konflik intraregional yang kompleks.”

“Tentara Nasional Yaman” benar-benar merupakan koalisi anti-Houthi yang longgar dari kelompok Islam Sunni, separatis selatan, suku utara dan lainnya. Banyak elemen-elemen yang telah membuat kemajuan politik dan teritorial berkat konflik tersebut, dan mengisi kantong mereka berkat ekonomi perang yang berkembang. Baik pemain domestik maupun internasional mempunyai banyak hal untuk dipertaruhkan.

    Baca Juga : Awal Mula Perang Suriah: Bagaimana Konflik Panjang dan Berdarah Bisa Terjadi?

Untuk mencapai keberhasilan dari inisiatif perdamaian perlu melibatkan mereka semua, sekompleks apapun itu; kesepakatan sederhana yang tidak berhubungan dengan apa yang tidak dapat dipertahankan oleh kenyataan. Hal ini juga akan mengharuskan untuk membujuk pemerintah Arab Saudi agar lebih jelas dan lebih realistis mengenai tujuannya. Peran memalukan Inggris di Yaman memberi mereka kewajiban lebih untuk menekan kasus tersebut. Tapi untuk saat ini, nampaknya mereka lebih fokus pada keamanan dan promosi penjualan Typhoon.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Theresa May menyapa putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di luar Downing Street 10. (Foto: AFP/Getty Images/Tolga Akmen)

Pandangan The Guardian tentang Arab Saudi dan Yaman: Aib Inggris, Kewajiban Inggris
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top