Panel Peninjau Inggris Ingin Kunjungi Tahanan Aktivis Saudi yang Diduga Disiksa
Global

Panel Peninjau Inggris Ingin Kunjungi Tahanan Aktivis Saudi yang Diduga Disiksa

Berita Internasional >> Panel Peninjau Inggris Ingin Kunjungi Tahanan Aktivis Saudi yang Diduga Disiksa

Panel peninjauan penahanan meminta diberikannya fasilitas kunjungan terhadap para aktivis Saudi yang ditahan, setelah adanya tuduhan penyiksaan. Beberapa kelompok hak asasi manusia internasional telah menuduh bahwa delapan aktivis perempuan yang telah berkampanye untuk hak perempuan untuk mengemudi, telah disiksa dengan listrik kejut dan dicambuk. Riyadh telah menolak tuduhan tersebut.

Oleh: Al Jazeera

Baca Juga: Brexit 2019: Tanggal-Tanggal Penting dalam Perpisahan Inggris dari Uni Eropa

Sekelompok anggota parlemen Inggris lintas-partai dan pengacara internasional telah meminta untuk mengunjungi para aktivis perempuan yang ditahan di Arab Saudi, untuk menyelidiki tuduhan bahwa mereka disiksa dan ditolak diberikan perwakilan hukum dan kunjungan keluarga.

Dalam sebuah surat kepada Duta Besar Saudi untuk Inggris, anggota parlemen Crispin Blunt—kepala panel peninjau kelompok itu—meminta Pangeran Mohammed bin Nawwaf bin Abdulaziz untuk membantu mereka mengatur kunjungan ke penjara Dhahban dekat Jeddah, untuk berbicara dengan para aktivis yang ditahan di sana.

“Kami berharap dapat mengumpulkan kesaksian langsung dari para tahanan selama kunjungan kami di Arab Saudi,” tulis Blunt pada Rabu (2/1), seraya menambahkan bahwa kelompok itu juga ingin “bertemu dan mewawancarai para pejabat yang bertanggung jawab dan ditugaskan” dalam penahanan para aktivis tersebut.

Beberapa kelompok hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, telah menuduh bahwa delapan aktivis perempuan yang telah berkampanye untuk hak perempuan untuk mengemudi, telah disiksa dengan listrik kejut dan dicambuk dengan “egal”—tali untuk menahan penutup kepala pria.

Laporan-laporan kelompok tersebut juga menuduh bahwa para perempuan menjadi sasaran pelecehan seksual, diancam dengan pemerkosaan, dan dicegah untuk mendapatkan pengacara.

“Tuduhan yang dibuat dan dicatat oleh para pembela HAM ini sangat merusak kredibilitas reformasi progresif yang baru-baru ini diumumkan oleh pemerintah Arab Saudi,” kata surat itu.

Riyadh telah menolak tuduhan tersebut.

“Pemerintah Kerajaan Arab Saudi secara kategoris dan kuat menyangkal tuduhan yang dibuat oleh mereka. Klaim-klaim liar yang dibuat, yang mengutip ‘kesaksian’ atau ‘sumber informasi’ yang tidak diketahui namanya, sama sekali salah,” kata Kementerian Media dalam sebuah pernyataan pada bulan November.

Aktivis yang ditahan telah diidentifikasi sebagai Loujain al-Hathloul, Aziza al-Yousef, Eman al-Nafjan, Nouf Abdelaziz, Mayaa al-Zahrani, Samar Badawi, Nassima al-Saada, dan Hatoon al-Fassi.

‘Urgensi’

Surat itu datang seiring pemerintah Saudi masih bergulat dengan kejatuhan internasional atas kasus Jamal Khashoggi—seorang jurnalis dan kritikus Saudi yang dibunuh secara brutal di Konsulat Kerajaan Saudi di Istanbul, Turki, pada tanggal 2 Oktober.

“Tragedi Khashoggi jelas merupakan bencana total bagi Arab Saudi,” kata Blunt kepada Al Jazeera.

“Tampaknya orang-orang yang bertanggung jawab atas operasi Khashoggi juga bertanggung jawab atas penahanan para aktivis hak-hak perempuan Arab Saudi ini, tepat pada saat yang sama ketika perempuan Arab Saudi mendapatkan hak untuk mengemudi dan langkah-langkah besar ke depan dalam kebebasan mereka, dengan adanya kebebasan dari apa yang disebut hukum wali, dengan cara yang merupakan langkah besar secara internasional dan diarahkan dengan tepat seperti itu.”

Perempuan di Arab Saudi akhirnya diizinkan mengemudi pada Juni 2018.

Panel penahanan tersebut mengatakan bahwa mereka juga ingin mengumpulkan kesaksian para pria yang mendukung para aktivis perempuan tersebut, termasuk Ibrahim al-Modaimegh, Abdulaziz Meshaal, dan Mohammed Rabea.

Surat mereka selanjutnya mengatakan bahwa setelah tinjauan panel ini, mereka akan dapat mendukung Arab Saudi dalam “mendapatkan kembali kepercayaan dari komunitas internasional, bahwa komitmennya untuk reformasi progresif dan perlindungan hak-hak aktivis pro-reformasi damai adalah kredibel dan tulus”.

Kelompok itu meminta Duta Besar Saudi untuk menanggapi pada 9 Januari, “mengingat urgensi masalah ini”.

Panel peninjau tersebut terdiri dari pengacara ITN, sebagaimana diwakili oleh mitra perusahaan Tayab Ali; Dr Tim Moloney QC, Wakil Kepala Doughty Street Chambers; anggota parlemen Layla Moran; dan anggota parlemen Dr Paul Williams.

Baca Juga: Parlemen Inggris Heboh, Saat Oposisi Sebut PM Theresa May ‘Wanita Bodoh’

Keterangan foto utama: Kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional menuduh bahwa delapan aktivis perempuan yang berkampanye untuk hak mengemudi bagi perempuan telah disiksa. (Foto: The Associated Press/Hasan Jamali)

Panel Peninjau Inggris Ingin Kunjungi Tahanan Aktivis Saudi yang Diduga Disiksa

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top