Pangkalan Rudal Rahasia Korea Utara
Global

Pangkalan Rudal Rahasia Korea Utara, Mata-Mata, dan Twitter Trump

Berita Internasional >> Pangkalan Rudal Rahasia Korea Utara, Mata-Mata, dan Twitter Trump

Pangkalan rudal rahasia Korea Utara. Pembicaraan rahasia di antara mata-mata. Seorang presiden yang tampaknya semakin terputus dari kenyataan. Akhir pekan kemarin terasa luar biasa dalam kebuntuan perjanjian nuklir sejak lama antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Baca juga: Tinjauan Pertahanan Trump: Rudal Korea Utara Jadi ‘Ancaman Luar Biasa’

Oleh: Alex Ward (Vox)

Hari Minggu (20/1), Presiden AS Donald Trump menulis di Twitter bahwa pemerintahannya telah membuat “kemajuan luar biasa” dalam negosiasi dengan Korea Utara tentang mengakhiri program nuklir dan misilnya, meskipun banyak bukti yang mengatakan sebaliknya.

Hari berikutnya, Center for Strategic and International Studies, lembaga think tank Washington, menerbitkan laporan yang mengungkap pangkalan rudal rahasia Korea Utara yang belum diungkapkan. Tampaknya ada 20 pangkalan rahasia seperti itu, menurut laporan tersebut. Penemuan itu menyulitkan upaya AS untuk mendapatkan daftar lengkap kemampuan nuklir dan rudal Korea Utara sebagai langkah itikad baik dalam negosiasi.

The Wall Street Journal juga menerbitkan laporan mendalam pada hari Senin (21/1) yang merinci pembicaraan rahasia antara AS dan mata-mata Korea Utara yang telah dihidupkan dan dimatikan selama sekitar satu dekade. Laporan tersebut menunjukkan bahwa meski diplomasi antara kedua negara jelas telah meningkat di era Trump, pemerintahan AS saat ini telah mendapat banyak manfaat dari upaya pemerintah di masa lalu.

Semua ini terjadi hanya beberapa hari setelah Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un setuju untuk bertemu dalam pertemuan puncak kedua pada akhir bulan Februari 2019. Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bagaimana kebijakan Korea Utara Trump tidak terlalu istimewa dan mungkin malah gagal.

“Ada sedikit perkembangan yang terjadi sejauh ini untuk memberi kami alasan untuk percaya Trump akhirnya akan memecahkan kode Korea Utara,” tutur Michael Fuchs, seorang pejabat tinggi Asia di Departemen Luar Negeri dari tahun 2013 hingga 2016.

Hari Minggu (20/1), Presiden Trump membual di Twitter tentang upaya pemerintahannya untuk meningkatkan hubungan dengan Korea Utara untuk akhirnya melakukan denuklirisasi.

Trump pasti ada benarnya: Meskipun telah melakukan pengujian senjata dengan kecepatan sangat tinggi sejak tahun 2013, Korea Utara belum meledakkan perangkat nuklir sejak bulan September 2017 atau menguji coba rudal sejak bulan November 2017. Bulan Mei 2018, Korea Utara mengembalikan tiga sandera Amerika yang telah ditahan rezim Kim selama berbulan-bulan. Bulan Juni 2018, Trump bertemu Kim di Singapura untuk pertemuan pertama antara para pemimpin kedua negara dengan harapan memulai negosiasi untuk mengakhiri program nuklir dan rudal Korea Utara.

Tetapi Trump juga benar ketika dia mengatakan bahwa media tidak cukup menghargainya atas “kemajuan luar biasa ini.” Meskipun ada ketegangan yang sangat nyata di antara kedua belah pihak, hampir tidak ada kemajuan dalam hal negosiasi nuklir yang sebenarnya.

Sejak KTT Singapura, para pejabat dan pakar AS berpendapat bahwa negara-negara tersebut tidak mengadakan pembicaraan tingkat kerja, yaitu pembicaraan antara pejabat tingkat rendah yang dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah. Kebanyakan bukti yang ada sebenarnya menunjukkan bahwa Korea Utara benar-benar meningkatkan program senjatanya, bukan membongkarnya.

Selain itu, China dan Rusia, dua negara kepada siapa Korea Utara sangat bergantung untuk kelangsungan ekonominya, semakin mendesak untuk menghapus sanksi ekonomi yang ketat yang dilakukan PBB terhadap Korea Utara pada tahun 2017 sebagai tanggapan terhadap uji coba rudal provokatifnya. Sanksi itu sebagian membantu membawa Korea Utara ke meja perundingan. Kini, para pejabat khawatir bahwa jika hukuman itu mulai hilang, Korea Utara mungkin memiliki insentif yang lebih kecil untuk bersedia melanjutkan negosiasi dengan AS.

“Satu-satunya yang membuat kemajuan mantap selama setahun terakhir adalah Kim Jong-un,” tutur Lindsey Ford, mantan spesialis keamanan Asia di Departemen Pertahanan AS.

Bahkan dengan pertemuan puncak kedua yang telah direncanakan pada bulan Feburari 2019, beberapa ahli percaya Trump dan Kim akan dapat melewati jalan buntu saat ini dalam negosiasi dan mencapai kesepakatan. Saat ini, kedua belah pihak terjebak pada satu masalah mendasar: Amerika menuntut Korea Utara untuk menawarkan daftar lengkap inventaris nuklirnya sebelum AS mencabut sanksi terhadap negara itu. Korut, di sisi lain, menuntut agar sanksi dicabut sebelum menawarkan daftar lengkap dan mulai serius menurunkan kemampuan nuklirnya.

Ada kemungkinan bahwa Trump dan Kim akan dapat menemukan solusi untuk kebuntuan ini ketika mereka bertemu tatap muka pada bulan Februari 2019, tetapi para ahli tidak memiliki banyak harapan.

“Presiden Trump tidak tertarik dengan masalah teknis terperinci yang perlu didiskusikan untuk membatasi program-program Korea Utara,” kata Ford.

Pangkalan rahasia militer Korea Utara membuat semua masalah menjadi lebih rumit

Seolah-olah sengaja dimaksudkan untuk mengejek tweet hari Minggu (20/1) Trump, para pakar di CSIS mengeluarkan laporan baru hari Senin (21/1) yang merinci keberadaan sebuah pangkalan rudal yang selama ini telah dirahasiakan Korea Utara.

Mereka menemukan pangkalan rudal Sino-ri, yang terletak sekitar 130 mil utara perbatasan antara Korea Utara dan Selatan, menggunakan foto satelit yang diambil bulan Desember 2018 dan keahlian mereka tentang kekuatan Korea Utara. Instalasi ini adalah salah satu yang tertua dari sekitar 20  pangkalan militer rahasia Korea Utara lainnya yang diyakini ada saat ini oleh para peneliti CSIS.

Laporan itu menambahkan bahwa militer Korea Utara menggunakan Sino-ri sebagai markas untuk salah satu brigade misilnya yang mengoperasikan rudal jarak menengah Nodong. Artinya, jika Kim memerintahkan serangan ke Korea Selatan atau Jepang, kemungkinan beberapa rudal itu, yang dapat membawa hulu ledak nuklir, akan terbang keluar dari Sino-ri.

Korea Utara melakukan uji coba menembakkan dua rudal Nodong pada tanggal 26 Maret 2014. (Foto: Getty Images/Chung Sung-Jun)

Informasi ini penting karena dua alasan. Pertama, sangatlah tidak nyaman ketika mengetahui bahwa Korea Utara masih memiliki situs militer yang penuh dengan senjata berbahaya yang secara aktif berusaha disembunyikan. Dalam situasi perang yang masih belum mungkin terjadi, Korea Utara bisa saja meluncurkan senjata dari lokasi yang tidak diketahui. Artinya, akan sangat sulit untuk menyusun rencana, apalagi bertahan melawan, potensi serangan rudal.

Tentu saja, terdapat kemungkinan bahwa mata-mata di AS, Korea Selatan, Jepang, China, atau di tempat lain mengetahui lokasi semua pangkalan Korea Utara dan kemampuan militer mereka, tetapi untuk alasan yang jelas belum diumumkan kepada publik.

Hal itu membawa kita ke alasan kedua, yang jauh lebih segera: Seperti yang dinyatakan dalam laporan CSIS, Sino-ri “tampaknya tidak menjadi subjek negosiasi denuklirisasi antara Amerika Serikat dan Korea Utara.”

Itu adalah masalah, karena seperti disebutkan di atas, salah satu poin utama dalam pembicaraan nuklir AS-Korea Utara adalah bahwa pemerintahan Trump ingin melihat daftar lengkap semua senjata dan situs nuklir Korea Utara. Tetapi mendapatkan daftar itu tampaknya mustahil jika rezim Kim tidak akan mengakui keberadaan beberapa dari mereka. Jadi apa yang benar-benar ditunjukkan oleh penemuan Sino-ri adalah betapa sulitnya untuk membuat kemajuan nyata dalam negosiasi AS-Korea Utara.

Amerika dan Korea Utara telah melakukan pembicaraan selama 10 tahun

Tampaknya beberapa kemajuan yang telah dibuat Trump dengan Korea Utara disebabkan setidaknya sebagian dari upaya pendahulunya, mantan Presiden AS Barack Obama. The Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin (21/1) bahwa CIA di bawah pemerintahan Obama membuka “saluran belakang,” yaitu cara rahasia untuk berkomunikasi antara kedua pemerintah, yakni melalui mata-mata Korea Utara. Hal itu menyebabkan setidaknya tiga perjalanan rahasia ke Pyongyang oleh pejabat tinggi CIA, termasuk dua perjalanan oleh Direktur CIA saat itu, Michael Morell, pada tahun 2012.

Saluran belakang itu pada dasarnya tak lagi digunakan menjelang akhir kepresidenan Obama, lapor the Wall Street Journal. Tetapi tim Trump tampaknya masih mendapat manfaat dari upaya-upaya itu, khususnya pada bulan Agustus 2017 ketika Direktur CIA saat itu, Mike Pompeo menggunakan saluran belakang yang sama untuk mengatur pertemuan antara seorang pejabat CIA dan Korea Utara.

Amerika dan Korea Utara telah berbicara selama bertahun-tahun melalui apa yang disebut saluran New York, saluran belakang terpisah yang digunakan AS untuk bertukar pesan dengan kementerian luar negeri Korea Utara. Hal itu penting karena kedua negara tidak saling memiliki kedutaan.

Baca juga: Perluas Pangkalan Rudal, Korea Utara Bisa Serang Amerika

Masalahnya adalah bahwa Kementerian Luar Negeri Korea Utara kurang berpengaruh daripada mata-mata rezim Kim atau, tentu saja, para pejabat di lingkaran dalam Kim. Keuntungan dari komunikasi yang dipimpin CIA adalah bahwa mereka memungkinkan Amerika untuk berbicara langsung dengan mereka yang memiliki akses ke Kim, yang banyak di antaranya menolak meningkatkan hubungan AS-Korea Utara.

Pembicaraan rahasia ini, yang dimulai sekitar tahun 2009, telah bermanfaat bagi kedua pihak pada berbagai kesempatan selama bertahun-tahun. Mereka membiarkan penurunan ketegangan selama krisis. Mereka memungkinkan mantan Presiden AS Bill Clinton untuk melakukan perjalanan ke Pyongyang pada bulan Agustus 2009 dan membawa kembali jurnalis Amerika yang ditahan. Berbagai pembicaraan rahasia tersebut juga telah berfungsi sebagai cara untuk membahas jalur menuju kesepakatan denuklirisasi.

Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton bersama almarhum pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il pada tanggal 4 Agustus 2009. (Foto: Associated Press/KNS/KCNA)

Tentu saja, jalur komunikasi itu gagal dalam normalisasi hubungan AS-Korea Utara. Tetapi keberadaannya memainkan peran penting dalam menetapkan panggung bagi pencairan hubungan AS-Korut selama pemerintahan Trump. Dengan kata lain, setiap keberhasilan Trump dalam masalah Korea Utara akan memaksanya untuk berkata, “Terima kasih, Obama.”

Keterangan foto utama: Surat kabar Jerman meliput KTT Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, 12 Juni 2018. (Foto: Getty Images/Sean Gallup)

Pangkalan Rudal Rahasia Korea Utara, Mata-Mata, dan Twitter Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top