Robert Jeffress
Amerika

Pastor Kontroversial yang Sebut ‘Semua Yahudi Masuk Neraka’ Pimpin Doa di Yerusalem

Robert Jeffress, yang memimpin doa pembukaan di Kedutaan Besar Amerika yang baru di Yerusalem, memiliki sejarah membuat komentar-komentar yang kontroversial. (Foto: The New York Times/Al Drago)
Home » Featured » Amerika » Pastor Kontroversial yang Sebut ‘Semua Yahudi Masuk Neraka’ Pimpin Doa di Yerusalem

Pastor Robert Jeffress, yang memimpin doa pembukaan di Kedutaan Besar Amerika yang baru di Yerusalem, memiliki sejarah membuat komentar-komentar yang kontroversial.  Terlepas dari komentar mereka tentang umat Yahudi, kedua pendeta itu adalah beberapa tokoh pro-Israel terkemuka di dunia Kristen evangelis.

Oleh: Matthew Haag (The New York Times)

Seorang pastor evangelis Dallas yang pernah mengatakan bahwa umat Yahudi akan masuk neraka, dan seorang penginjil gereja besar yang mengklaim bahwa Hitler adalah bagian dari rencana Tuhan untuk mengembalikan umat Yahudi ke Israel, keduanya memainkan peran penting pada Senin (14/5), dalam upacara pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) yang baru di Yerusalem.

Robert Jeffress—yang berbicara di pelayanan doa perdana pribadi Presiden Trump dan merupakan pendeta Gereja First Baptist di Dallas—menyampaikan doa pada upacara pembukaan pada Senin (14/5), sementara Pendeta John C. Hagee—seorang penginjil yang mendirikan Chirstians United for Israel dan memimpin Gereja San Antonio—memberikan doa penutup.

Terlepas dari komentar mereka tentang umat Yahudi, kedua pendeta itu adalah beberapa tokoh pro-Israel terkemuka di dunia Kristen evangelis. Beberapa kalangan evangelis percaya bahwa kebijakan luar negeri Amerika harus mendukung Israel untuk membantu memenuhi ramalan Alkitab tentang kedatangan Kristus yang kedua.

Keputusan oleh Trump untuk memindahkan kedutaan dari Tel Aviv, memenuhi janji kampanye besarnya, dan memberikan kemenangan kepada kaum pro-Israel garis keras Amerika, serta umat Kristen konservatif dan evangelis yang telah lama menginginkan rumah diplomatik Amerika Serikat untuk berada di Yerusalem.

Tetapi para kritikus mengatakan bahwa langkah itu—yang mengakhiri hampir tujuh dekade kebijakan Amerika Serikat—dapat mempertaruhkan perundingan damai antara warga Israel dan Palestina, yang keduanya mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka. Protes massal pecah di sepanjang pagar perbatasan dengan Gaza beberapa jam sebelum pembukaan kedutaan tersebut pada Senin (14/5), dan tentara Israel menembak dan menewaskan lebih dari 50 warga Palestina, Kementerian Kesehatan melaporkan.

Dalam doa mereka di upacara pada Senin (14/5), kedua pendeta tersebut memuji Trump. Jeffress mengatakan bahwa presiden tersebut “berdiri di pihak Anda, Tuhan, ketika menyangkut Israel.” Hagee mengatakan bahwa kedutaan baru itu membuat pernyataan yang jelas: “Biarkan setiap teroris Islam mendengar pesan ini: ‘Israel hidup.’”

Berikut adalah beberapa pernyataan paling kontroversial yang mereka buat sebelumnya.

Jeffress: “Anda tidak bisa diselamatkan dengan menjadi seorang Yahudi”

Jeffress—yang memimpin salah satu gereja Southern Baptist terbesar di negara tersebut—mengatakan dalam sebuah wawancara tahun 2010 dengan Trinity Broadcasting Network, bahwa beberapa gereja mungkin menghindar dari mengatakan “apa pun yang akan menyinggung perasaan orang”, untuk mencoba mengembangkan jemaah mereka. Dia menjelaskan bahwa dia akan memberitakan apa yang dia percaya Alkitab katakan.

“Islam itu salah. Itu adalah bidaah dari lubang neraka,” kata Jeffress dalam wawancara. “Mormonisme salah. Itu adalah bidaah dari lubang neraka.”

Dia menambahkan: “Yudaisme—Anda tidak dapat diselamatkan menjadi seorang Yahudi. Anda tahu siapa yang mengatakan itu, ngomong-ngomong? Tiga orang Yahudi terbesar dalam Perjanjian Baru: Petrus, Paulus, dan Yesus Kristus. Mereka semua mengatakan bahwa Yudaisme tidak akan melakukannya. Itu adalah iman kepada Yesus Kristus.”

Dalam satu dekade terakhir, Jeffress telah mengambil peran penting dalam politik konservatif, sering muncul di Fox News, dan mendesak dalam khotbah dan di televisi untuk memilih seorang Kristen sebagai presiden. Agama-agama non-Kristen mengirim para pengikutnya ke neraka, ia berkhotbah dalam khotbah September 2008.

“Tidak hanya agama-agama seperti Mormonisme, Islam, Yudaisme, Hinduisme—tidak hanya membuat mereka menjauh dari Tuhan yang benar, namun mereka membawa orang-orang menuju perpisahan yang abadi dari Tuhan di neraka,” kata Jeffress. “Neraka akan dipenuhi dengan orang-orang religius yang baik yang telah menolak kebenaran Kristus.”

Hagee: Badai Katrina menghukum New Orleans atas dosa-dosa penduduknya

Setelah Badai Katrina menghantam New Orleans pada Agustus 2005, dan menewaskan lebih dari 1.200 orang, Hagee mengatakan bahwa badai tersebut adalah hukuman Tuhan atas dosa-dosanya—sebuah kiasan umum di kalangan evangelis konservatif. Dosa-dosa itu termasuk parade gay pride yang dijadwalkan untuk hari yang sama ketika Badai Katrina terjadi.

“New Orleans memiliki tingkat dosa yang menyinggung Tuhan, dan mereka adalah penerima penghakiman dari Tuhan atas itu,” kata Hagee dalam sebuah wawancara di NPR pada tahun 2006. “Badai Katrina, pada kenyataannya, adalah hukuman Tuhan terhadap Kota New Orleans.”

Dalam wawancara NPR, Hagee berbicara tentang kasih sayangnya untuk Israel, dan bagaimana dia percaya bahwa umat Yahudi akan diselamatkan selama Kedatangan Kedua Yesus Kristus, yang telah lama dia katakan akan segera terjadi. Walau umat Yahudi tidak percaya kepada Yesus sebagai penyelamat mereka, kata Hagee, namun mereka akan menerima Yesus Kristus kembali ketika Dia hadir, dan “mereka akan menangis seperti orang yang menangis untuk putra satu-satunya selama satu minggu.”

Tetapi dia memiliki pandangan yang kurang simpatik terhadap Muslim. “Islam secara umum, mereka yang hidup dengan Al-Qur’an, memiliki mandat tulisan suci untuk membunuh umat Kristen dan Yahudi,” katanya kepada NPR, dan menambahkan bahwa sekitar 200 juta Muslim ingin “datang ke Amerika atau menyerang Israel untuk menghancurkannya.”

Pastor John C. Hagee—yang memberi doa penutup di kedutaan baru—pernah berkata bahwa Tuhan mengizinkan Holocaust untuk mengembalikan umat Yahudi ke Israel: “Karena Tuhan berkata, 'Prioritas utama saya untuk umat Yahudi adalah untuk membuat mereka datang kembali.'” (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Gali Tibbon)

Pastor John C. Hagee—yang memberi doa penutup di kedutaan baru—pernah berkata bahwa Tuhan mengizinkan Holocaust untuk mengembalikan umat Yahudi ke Israel: “Karena Tuhan berkata, ‘Prioritas utama saya untuk umat Yahudi adalah untuk membuat mereka datang kembali.’” (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Gali Tibbon)

Jeffress: Mitt Romney adalah anggota aliran sesat

Tiga bulan sebelum dimulainya pemilihan presiden Partai Republik tahun 2008, Jeffress mengatakan dalam sebuah khotbah bahwa kandidat Mitt Romney—seorang Mormon—adalah bagian dari aliran sesat.

“Mitt Romney adalah seorang Mormon, dan jangan biarkan orang lain mengatakan sebaliknya kepada Anda,” kata Jeffress pada September 2007, menurut The Dallas Morning News. “Meskipun dia berbicara tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya, namun dia bukan seorang Kristen. Mormonisme bukanlah Kekristenan. Mormonisme adalah aliran sesat.”

Setelah pendeta itu mengatakan pada Fox News pada akhir pekan lalu bahwa dia akan memberikan doa pembukaan di upacara kedutaan, Romney menyebutnya sebagai seorang “fanatik agama.”

Hagee: Hitler adalah bagian dari rencana Tuhan untuk Israel

Hagee juga telah mengambil peran utama dalam politik konservatif, dan memberikan dukungannya di balik Senator John McCain dari Arizona dalam pemilihan presiden 2008. Tetapi McCain kemudian menyangkal dukungan Hagee, setelah komentar Pastor tersebut tentang Hitler dan Holocaust muncul.

Dalam sebuah khotbah di akhir tahun 1990-an, Hagee mengatakan bahwa Alkitab menjelaskan bahwa Hitler dan Holocaust—ketika sekitar enam juta umat Yahudi terbunuh—adalah bagian dari rencana Tuhan untuk mengembalikan umat Yahudi ke Israel. “Bagaimana hal itu terjadi? Karena Tuhan membiarkan itu terjadi,” katanya, mengacu pada Holocaust. “Kenapa ini terjadi? Karena Tuhan mengatakan, bahwa prioritas utama saya untuk umat Yahudi adalah membuat mereka kembali ke tanah Israel.”

Jeffress: ‘Gay Tidak Benar’

Sebelum Jeffress bergabung dengan First Baptist Dallas, ia memimpin Gereja First Baptist di Wichita Falls, Texas, dekat perbatasan Oklahoma. Dia menjadi berita nasional pada tahun 1998, ketika dia menolak untuk mengembalikan dua buku tentang anak-anak dengan orang tua gay, ke perpustakaan kota.

Seorang anggota gereja memberinya dua buku tersebut—“Heather Punya Dua Ibu” dan “Teman Sekamar Ayah”—dan kemudian Jeffress mengirimkan cek sebesar $54 ke perpustakaan tersebut untuk biaya buku itu. “Kami ingin menyoroti masalah di komunitas kami,” kata Jeffress kepada The Associated Press pada Mei 1998. “Saya sangat berharap orang-orang akan melihat buku ini dan melihat apa yang didukung oleh pajak mereka.”

Dia mengatakan bahwa dia berusaha melindungi anak-anak, karena homoseksualitas menyebabkan “kematian terhadap puluhan ribu orang setiap tahunnya karena AIDS.”

Satu dekade kemudian di Dallas, dia memberikan khotbah berjudul “Gay Is Not O.K.” (Gay Tidaklah Benar), yang menyebabkan protes di luar gereja. “Meskipun budaya berubah, namun kata-kata Tuhan tidak berubah,” katanya kepada The Dallas Morning News.

Keterangan foto utama: Robert Jeffress, yang memimpin doa pembukaan di Kedutaan Besar Amerika yang baru di Yerusalem, memiliki sejarah membuat komentar-komentar yang kontroversial. (Foto: The New York Times/Al Drago)

Pastor Kontroversial yang Sebut ‘Semua Yahudi Masuk Neraka’ Pimpin Doa di Yerusalem
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top