Pasukan Koalisi Amerika Bersihkan Sisa-Sisa ISIS di Suriah
Timur Tengah

Pasukan Koalisi Amerika Bersihkan Sisa-Sisa ISIS di Suriah

Pasukan Koalisi Amerika Bersihkan Sisa-Sisa ISIS di Suriah

Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang didukung AS meluncurkan fase ketiga dan terakhir dari operasi Anti-ISIS. Fase terakhir ini bertujuan untuk membersihkan sisa ISIS di Suriah, tepatnya Hajin, di daerah Deir Ezzour di Suriah timur, dekat perbatasan Suriah dengan Irak. Para pejabat militer Amerika Serikat memperkirakan fase perjuangan melawan ISIS ini bisa memakan waktu berbulan-bulan

Oleh: Gordon Lubold (The Wallstreet Journal)

Pasukan yang didukung Amerika Serikat (AS) di Suriah telah mulai menargetkan kantong terakhir para pejuang Negara Islam (ISIS) di negara itu.

Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang didukung AS meluncurkan fase ketiga dan terakhir dari operasi Anti-ISIS yang dimulai pada bulan Mei. Fase terakhir ini bertujuan untuk membersihkan sisa ISIS di Suriah yang berada di sekitar Hajin, di daerah Deir Ezzour di Suriah timur, dekat perbatasan Suriah dengan Irak.

Para pejabat militer AS memperkirakan fase ini—yang ketika selesai akan mengakhiri tiga tahun upaya pemberantasan ISIS di Suriah—bisa memakan waktu berbulan-bulan.

SDF, gabungan dari para pejuang Kurdi, Arab, dan lainnya, sedang melakukan operasi bersama dengan pasukan AS yang mendukung mereka, kata para pejabat militer AS.

Baca Juga: Amerika: Petinggi ISIS Tewas dalam Serangan Udara di Afghanistan

“Kami akan terus mendukung mitra SDF kami dalam perjuangan bersama kami untuk melawan ISIS di Suriah, dan kami berterima kasih kepada SDF atas kontribusi dan pengorbanan luar biasa yang telah mereka buat atas nama masyarakat internasional,” kata Mayor Jenderal Patrick Roberson, yang memimpin operasi tersebut.

Operasi itu berlangsung di saat yang sama saat AS dan yang lainnya sedang mengawasi apakah rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutu-sekutunya meluncurkan serangan berskala besar terhadap pemberontak anti-pemerintah di Suriah barat laut.

Bahkan setelah operasi ini berhasil terselesaikan, AS dan sekutunya mungkin masih harus memerangi ISIS dengan cara lain. Analis memperkirakan bahwa ISIS akan tetap menjadi kelompok militan yang mampu melakukan serangan teroris bahkan tanpa memiliki wilayah yang menjadi dasar operasi mereka.

Penyelesaian operasi anti-ISIS ini juga menimbulkan pertanyaan tentang apa yang kira-kira 2.000 personel militer Amerika di Suriah akan lakukan setelah operasi selesai. Unit AS sekarang berada dalam peran pelatih-penasihat-pembantu, dan tidak secara langsung turut memerangi pasukan ISIS.

Presiden Trump belum lama ini mengatakan pada bulan April bahwa ia ingin memindahkan pasukan segera setelah ISIS dikalahkan. Namun para penasihat Trump—termasuk Menteri Pertahanan Jim Mattis—telah merekomendasikan agar beberapa pasukan di Suriah tetap dipertahankan di sana untuk memastikan kelompok ekstremis itu tidak mencoba untuk bangkit kembali.

Pejabat pemerintahan selama ini mengatakan bahwa pasukan AS akan tetap berada di sana untuk saat ini. Hal tersebut telah membuka kemungkinan bahwa pasukan AS akan memfokuskan kembali upaya mereka dan berfungsi sebagai benteng terhadap pasukan Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Iran di dalam Suriah.

Mattis pada hari Selasa (11/9) menolak untuk mengatakan apa yang telah dia merekomendasikan kepada presiden.

“Saya siap untuk mengadakan perundingan, tetapi itu akan menjadi keputusan presiden Amerika Serikat,” katanya kepada wartawan di Pentagon.

Sementara itu, para pejabat AS di Washington sedang mengawasi kemungkinan serangan Suriah-Rusia-Iran terhadap kubu pemberontak provinsi Idlib, tempat puluhan ribu pejuang oposisi rezim Suriah bersembunyi. Assad telah menyetujui penggunaan gas klorin untuk menyerang kubu terakhir para pemberontak tersebut, menurut pejabat AS.

Baca Juga: Pemimipin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi Sebut Kekalahan Ujian dari Allah

Penggunaan senjata semacam itu kemungkinan akan memicu AS dan sekutunya untuk melakukan serangan udara lagi terhadap rezim sebagai tanggapan. Para pejabat AS tersebut telah mengatakan secara pribadi bahwa jika pasukan koalisi menanggapi serangan klorin itu, serangan tanggapannya akan lebih besar daripada dua serangan tanggapan pertama terhadap rezim ketika rezim tersebut menggunakan senjata kimia.

Mattis menolak untuk mengatakan apa yang akan dilakukan AS.

“Saya tidak akan memberi tahu apa yang akan kita lakukan,” katanya, “Assad sudah diperingatkan dan kita akan lihat apakah dia akan patuh.”

Di PBB, para pejabat internasional berusaha menghalangi Suriah, Rusia, dan Iran agar tidak melakukan serangan itu.

“Sangat penting untuk menghindari pertempuran skala penuh di Idlib,” kata Sekretaris Jenderal PBB Nónónio Guterres. “Pertempuran semacam itu akan mewujudkan mimpi buruk kemanusiaan yang lebih buruk dari konflik Suriah yang berlumuran darah.”

 

Keterangan foto utama: Seorang anggota Pasukan Demokrat Suriah yang didukung AS mengawasi helikopter Chinook pada hari Selasa (11/9). (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Delil Souleiman)

Pasukan Koalisi Amerika Bersihkan Sisa-Sisa ISIS di Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top