Perdagangan Manusia
Global

PBB: Perdagangan Manusia Memburuk, Anak-Anak Dijadikan Budak Seks

Seorang gadis Irak yang terlantar berdiri di dekat sebuah kamp di Irak pada tanggal 24 April 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Ahmad Al-Rubaye)
Berita Internasional >> PBB: Perdagangan Manusia Memburuk, Anak-Anak Dijadikan Budak Seks

PBB dalam laporannya mengatakan bahwa perdagangan manusia kian memburuk, di mana anak-anak kerap dijadikan budak seks dan bentuk eksploitasi lainnya. Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) menemukan bahwa perdagangan manusia banyak ditemukan di wilayah konflik, karena dalam situasi yang ditandai dengan kekerasan, kebrutalan, dan pemaksaan, para pedagang manusia dapat beroperasi dengan impunitas yang lebih besar. UNODC pun mendesak dunia untuk menghentikan penggunaan pemerkosaan sebagai senjata perang.

Baca juga: Opini: Bagaimana Kebijakan Satu Anak China Berujung Jual Beli Manusia

Oleh: Middle East Monitor

Perdagangan manusia menjadi lebih “mengerikan” di zona konflik, di mana kelompok-kelompok bersenjata menjadikan perempuan sebagai budak seks, dan menggunakan tentara anak-anak untuk menyebarkan ketakutan, kata PBB, dan memperingatkan akan impunitas (kekebalan hukum) yang meluas.

Dari gadis-gadis yang dipaksa menikah, hingga anak laki-laki yang dipaksa untuk memasak dan bersih-bersih, para militan menggunakan perdagangan manusia sebagai alat untuk meningkatkan kontrol mereka di daerah-daerah di mana aturan hukum lemah, Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengatakan dalam laporan yang dikutip Reuters.

Polisi dan jaksa sering tidak diperlengkapi untuk menangani perekrutan dan eksploitasi anak-anak oleh kelompok-kelompok ekstremis—sementara dakwaan global terhadap para pedagang manusia masih sangat rendah—menurut laporan tahunan UNODC tentang perdagangan manusia.

“Perdagangan ditemukan berhubungan dengan sebagian besar konflik bersenjata,” kata Yury Fedotov, Direktur Eksekutif UNODC. “Dalam situasi yang ditandai dengan kekerasan, kebrutalan, dan pemaksaan, para pedagang manusia dapat beroperasi dengan impunitas yang lebih besar.”

“Tentara anak-anak, kerja paksa, perbudakan seksual—perdagangan manusia telah mengambil dimensi yang mengerikan ketika kelompok-kelompok bersenjata dan teroris menggunakannya untuk menyebarkan ketakutan dan mendapatkan korban sebagai insentif untuk merekrut pejuang baru,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Pedagang Manusia Memangsa Anak-anak Rohingya di Kamp-kamp Bangladesh

Fedotov mengatakan, penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian 2018 untuk Nadia Murad—mantan budak seks Daesh yang berubah menjadi aktivis Yazidi dan Duta Besar PBB—adalah sebuah “pengakuan penting”, dan mendesak dunia untuk menghentikan penggunaan pemerkosaan sebagai senjata perang.

Laporan UNODC mengatakan bahwa walau negara-negara menemukan lebih banyak korban—kebanyakan perempuan yang diperdagangkan untuk seks—dan menghukum lebih banyak pedagang manusia, namun jumlah total hukuman tetap sangat rendah di banyak negara—terutama di Afrika dan Timur Tengah.

“Di beberapa negara … tampaknya hampir tidak ada risiko bagi para pedagang untuk menghadapi keadilan,” kata laporan itu.

Sekitar 40 juta orang di seluruh dunia hidup sebagai budak—terperangkap dalam kerja paksa atau pernikahan paksa—menurut perkiraan oleh kelompok hak asasi Australia Walk Free Foundation dan Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO).

Keterangan foto utama: Seorang gadis Irak yang terlantar berdiri di dekat sebuah kamp di Irak pada tanggal 24 April 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Ahmad Al-Rubaye)

PBB: Perdagangan Manusia Memburuk, Anak-Anak Dijadikan Budak Seks

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top