idlib
Timur Tengah

PBB Peringatkan Serangan di Idlib Memicu ‘Bencana Kemanusiaan Terburuk’ Abad 21

Home » Featured » Timur Tengah » PBB Peringatkan Serangan di Idlib Memicu ‘Bencana Kemanusiaan Terburuk’ Abad 21

Idlib bertahan sebagai salah satu bagian signifikan terakhir Suriah yang dikuasai oleh oposisi. Setelah perundingan gagal, rezim Assad dan Rusia menggempur Idlib habis-habisan, yang membuat 30 ribu orang terusir, dan 800 ribu orang lainnya berpotensi menimbulkan gelombang pengungsi dan memicu krisis besar. PBB memperingatkan, hal ini bisa jadi bencana kemanusiaan terburuk abad ini.

Baca Juga: Opini: Mesir Mulai Terima Keuntungan dengan ‘Menjual’ Palestina

Oleh: Borzou Daragahi (The Independent)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan tentang potensi “bencana kemanusiaan terburuk” pada abad ke-21 akibat serangan yang akan datang terhadap daerah kantong Idlib yang dikuasai pemberontak oleh Pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Badan PBB yang mengoordinasi upaya bantuan di Suriah yang dilanda perang mengatakan, 30 ribu orang telah terusir di tengah serangan udara oleh pasukan pemerintah Rusia dan Suriah, sedangkan 800 ribu orang lainnya dapat menimbulkan gelombang pengungsi dan memicu krisis besar. Hingga tiga juta warga sipil tinggal di antara lahan pertanian dan pusat pertanian Idlib, yang secara militer didominasi oleh kelompok pemberontak yang mencakup kontingen besar pejuang yang terinspirasi oleh al-Qaeda.

Kepala Koordinator Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa Mark Lowcock memperingatkan krisis yang akan datang akibat serangan pemerintah Suriah terhadap Idlib. (Foto: Denis Balibouse/Reuters)

“Harus ada cara untuk mengatasi masalah ini yang tidak mengubah beberapa bulan ke depan di Idlib menjadi bencana kemanusiaan terburuk dengan korban terbesar di abad 21,” ujar Kepala Koordinator Urusan Kemanusiaan PBB Mark Lowcock pada konferensi pers di Jenewa, Swiss pada hari Senin (10/9). “Kami secara aktif mempersiapkan kemungkinan bahwa warga sipil bergerak dalam jumlah besar ke berbagai arah.”

Lebih dari setengah juta orang telah tewas dan jutaan orang menjadi pengungsi dalam perang tujuh tahun Suriah. Konflik tersebut terjadi antara kelompok oposisi yang didukung oleh Turki, serta negara-negara Teluk dan Barat melawan pemerintah Suriah pimpinan Assad, yang dibantu oleh Rusia dan Iran. ISIS, yang bangkit pada tahun 2014 dan pernah memegang kekuasaan atas sebagian besar wilayah negara itu, masih melanjutkan pemberontakannya.

Baca Juga: AS: Rezim Suriah Rencanakan Serangan Gas di Idlib

Idlib bertahan sebagai salah satu bagian signifikan terakhir Suriah yang dikuasai oleh oposisi. Setelah kemenangan melawan kelompok pemberontak dekat Damaskus dan di Suriah selatan, pasukan darat ibukota dikatakan telah melakukan ekspansi di pinggiran Idlib dan serangan udara oleh jet dan artileri Rusia dan Suriah telah menghantam wilayah tersebut.

Sekolah-sekolah yang dikuasai pemberontak Idlib berhenti beroperasi di beberapa kota karena pengeboman itu. Puluhan warga sipil telah tewas dan terluka, menurut kelompok pemantauan perang Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Tiga rumah sakit, dua markas Pertahanan Sipil Suriah, dan sebuah layanan ambulan telah terkena serangan dan berhenti beroperasi sejak tanggal 6 September 2018, menurut Organisasi Persatuan Bantuan dan Perawatan Medis, kelompok advokasi pro-oposisi.

Tentara pemberontak SUriah dari “Garda Pembebasan Nasional” yang baru dibentuk, berjaga di depan sebuah parit, seiring para pemberontak menyiapkan posisi bertahan sebagai antisipasi dari serangan tentara pemerintah. (Foto: AFP/Getty Images)

“Pemboman belum berhenti dan berlangsung makin ganas,” tutur Ibrahim al-Hamawi, seorang ayah berusia 25 tahun di Idlib kepada Suriah Direct, sebuah organisasi berita independen yang berfokus pada negara tersebut. “Saya tidak tahu di mana keluarga saya dan saya bisa saja pergi sekarang.”

Upaya Assad untuk mengambil Idlib dipersulit oleh Turki, yang menempatkan pasukan dan kelompok pemberontak di seluruh provinsi sebagai bagian dari kesepakatan sebelumnya dengan Iran dan Rusia. Turki dan sekutu-sekutunya juga mengendalikan kawasan perbatasan Suriah di sebelah timur Sungai Eufrat. Sebuah upaya oleh pemerintah Rusia, Turki, dan Iran pada minggu lalu untuk menuntaskan kesepakatan tentang Idlib gagal di tengah ketidaksepakatan yang disiarkan langsung di televisi.

Gerilyawan oposisi Suriah mengatakan bahwa 20 ribu pejuang pemberontak telah diatur untuk memukul mundur serangan yang akan datang ke Damaskus. Banyak pihak yang berperang melawan Assad di bagian lain Suriah, tetapi pindah ke Idlib sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. “Merupakan tugas kami untuk membela Idlib jika terjadi serangan oleh rezim dan milisi sekutunya,” kata juru bicara angkatan bersenjata pemberontak Mohammed Hamadin kepada situs berita oposisi Enab Baladi.

Baca Juga: Perundingan Gagal, Pemerintah Suriah dan Rusia Gempur Idlib Habis-habisan

Berbeda dengan daerah kantong pemberontak di Damaskus, Aleppo, dan Suriah selatan, daerah kantong Idlib tidak menimbulkan ancaman langsung ke daerah-daerah loyalis di dekatnya. Pemerintah Suriah, Rusia, dan sekutu Barat mereka malah memperingatkan bahwa para pemberontak berencana menyerang dengan senjata kimia, sebuah taktik propaganda yang konon digunakan untuk mengaburkan asal-usul taktik perang ilegal yang telah berulang kali dinyatakan oleh pemerintah Barat, PBB dan OPCW sebagai serangan yang diluncurkan oleh pasukan Assad.

Amerika Serikat dan pemerintah Barat lainnya telah memperingatkan rezim Suriah untuk tidak menggunakan senjata kimia dalam serangan Idlib. Jerman bahkan dikatakan telah mempertimbangkan serangan udara balas dendam terhadap posisi rezim jika mereka menyebarkan senjata kimia yang di masa lalu diduga meliputi klorin dan sarin.

“Beberapa hari yang lalu, kami memutuskan untuk memperingatkan rezim dan sekutunya terhadap penggunaan lebih lanjut dari senjata kimia,” kata Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly dalam sebuah wawancara radio pada hari Minggu (9/9). “Kami mengkonfirmasi bahwa hal ini sudah menjadi batasan yang sebaiknya tidak dilanggar. Ketika Anda melewatinya, Anda akan mendapatkan jawaban, khususnya dari Prancis.”

Namun bahkan jika rezim menahan diri dari menggunakan senjata kimia, para pejabat Barat bersiap-siap untuk dampak serangan yang mengganggu. Para pejabat Turki telah memperingatkan bahwa mereka tidak akan mencegah pengungsi melarikan diri dari Idlib dari mencoba untuk mencapai Eropa dan memperparah xenofobia di seluruh kawasan. “Kami khawatir akan potensi bencana kemanusiaan,” kata Parly. “Perancis akan melakukan yang terbaik untuk mencegah pembantaian ini.”

Keterangan foto utama: Seorang demonstran Suriah mengibarkan bendera kelompok oposisi. (Foto: AFP/Getty Images)

PBB Peringatkan Serangan di Idlib Memicu ‘Bencana Kemanusiaan Terburuk’ Abad 21

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top