Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad
Timur Tengah

PBB: Serang Idlib, Rezim Suriah Timbulkan Perpindahan Manusia yang Tak Terkira

PBB: Serang Idlib, Rezim Suriah Timbulkan Perpindahan Manusia yang Tak Terkira

Para pekerja bantuan memperingatkan kamp-kamp di Suriah barat laut tidak dapat menampung lebih banyak orang yang terlantar lagi menjelang serangan yang akan terjadi. Penyerangan yang dilakukan oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya di Idlib, akan menyebabkan setidaknya 800.000 warga sipil melarikan diri ke perbatasan Suriah dengan Turki, memunculkan bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.

Oleh: Al Jazeera

Suriah telah mengalami tingkat perpindahan warga yang belum pernah terjadi sebelumnya selama konflik tujuh tahun, dengan lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi, kata laporan PBB pada Rabu (12/9).

Laporan setebal 24 halaman oleh Komisi Penyelidikan PBB merinci penderitaan yang dihadapi warga Suriah dalam enam bulan pertama tahun 2018.

“Ketika pasukan-pasukan pro-pemerintah bergerak untuk merebut kembali wilayah dari kelompok bersenjata dan organisasi teroris, lebih dari satu juta orang Suriah, wanita, dan anak-anak terlantar dan sebagian besar dari mereka sekarang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan,” kata laporan itu.

Ia mencatat bahwa para pihak yang berperang gagal mengambil tindakan apa pun untuk melindungi warga sipil.

“Tidak ada yang bertindak sesuai dengan tanggung jawab mereka atau hak asasi manusia,” komisaris Karen Abuzayed mengatakan kepada Al Jazeera.

“Setiap pihak bersalah karena hanya mengikuti kepentingan mereka sendiri. Ini adalah bencana bagi orang-orang yang tidak punya cara untuk membela diri.”

‘Perpindahan wajib’

Warga sipil terpaksa untuk bertahan hidup di tenda atau bangunan kosong di barat laut dan hidup dengan bantuan kemanusiaan yang sangat terbatas, kata laporan itu.

Sejak tahun 2014, pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata telah mencapai serangkaian perjanjian rekonsiliasi di sejumlah daerah yang terkepung, terutama yang bertujuan untuk memungkinkan para pejuang meninggalkan kota-kota yang dikepung pemerintah menuju ke daerah-daerah yang dikuasai oposisi di provinsi Idlib, yang dekat dengat perbatasan utara Suriah.

Baca Juga: Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad

Meskipun pemerintah Suriah menganggap perjanjian rekonsiliasi itu secara positif, kelompok-kelompok bersenjata dan aktivis, bagaimanapun, melihat perpindahan ke Idlib sebagai “perpindahan wajib” yang bertujuan untuk membentuk kembali struktur demografi negara.

Menjelang serangan pemerintah Suriah yang didukung Rusia, komisi PBB yang beranggotakan tiga orang itu juga memperingatkan akan ada serangan besar terhadap Idlib—benteng pemberontak terakhir yang tersisa—dan meminta semua pihak untuk menjamin keselamatan tiga juta warga sipil di sana.

Laporan itu memperingatkan serangan terhadap Idlib “yang tidak terlalu memperhatikan kehidupan warga sipil akan menghasilkan bencana kemanusiaan dan krisis kemanusiaan”.

Laporan itu juga merinci penggunaan gas klorin sebanyak tiga kali oleh pasukan pemerintah Suriah pada Januari dan Februari di pinggiran Damascus di Ghouta Timur, yang pada saat itu di bawah kendali kelompok-kelompok bersenjata oposisi. Dua serangan kimia tersebut melukai 21 orang.

Kejahatan perang di Idlib?

Presiden Bashar al-Assad, yang didukung oleh sekutu Rusia dan Iran-nya, telah berjanji untuk merebut kembali provinsi Idlib. Pemerintah Suriah dan pesawat tempur Rusia telah memulai serangan udara di Idlib pekan lalu.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, eskalasi di Idlib selama 10 hari terakhir ini telah mengakibatkan sedikitnya 30.000 orang melarikan diri dari rumah mereka di wilayah yang dikuasai pemberontak di Suriah barat laut.

Menteri luar negeri Prancis pada hari Rabu (12/9) mengatakan bahwa pengeboman oleh pasukan Rusia, Suriah dan Iran bisa menjadi kejahatan perang.

Baca Juga: PBB Peringatkan Serangan di Idlib Memicu ‘Bencana Kemanusiaan Terburuk’ Abad 21

“Hipotesis kejahatan perang tidak dapat dikesampingkan… begitu salah satu pihak mulai mengebom tanpa pandang bulu dan menargetkan penduduk sipil dan rumah sakit,” kata Jean-Yves Le Drian kepada legislator.

“Situasinya sangat serius. Kita berada di tengah bencana kemanusiaan dan keamanan yang cukup besar,” katanya.

Pada 7 September, KTT di Teheran gagal menghasilkan kesepakatan yang jelas antara Rusia, Turki, dan Iran mengenai nasib Idlib.

Gencatan senjata yang disarankan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ditolak dan serangan pemerintah penuh akan segera terjadi dalam waktu dekat, dalam apa yang diharapkan menjadi pertempuran paling mematikan di Suriah.

Idlib adalah penghalang terakhir yang berdiri di antara pemerintah Suriah dan kemenangan militernya melawan pemberontakan yang dimulai pada Maret 2011.

“Idlib seharusnya tidak menjadi pembantaian berikutnya, pembantaian akhir dalam pertempuran di Suriah perlu diatasi,” komisaris Hanny Megally mengatakan kepada wartawan setelah rilisnya laporan itu.

‘Bencana kemanusiaan’

Pekerja bantuan di Idlib mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kamp-kamp sudah penuh sesak dan kekurangan pasokan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan para pendatang.

Tamam Atour, yang bekerja dengan organisasi kemanusiaan Turki IHH di daerah Bab al-Hawa dekat perbatasan dengan Turki, mengatakan adanya kekurangan pasokan dasar.

Dari 200-300 keluarga yang datang ke kamp tempat dia bekerja, hanya 40 yang disediakan tenda. Sisanya harus tidur di tempat terbuka.

“Kami mengalami kekurangan pasokan yang sangat parah, kami kekurangan selimut, keranjang makanan, deterjen, peralatan dapur. Besarnya jumlah [pendatang baru] menyebabkan kita sangat kebingungan dan kita tidak tahu bagaimana mengurusi mereka,” katanya.

Khalid Shalas, manajer salah satu kamp di daerah al-Zawf, mengatakan kampnya juga kekurangan pasokan kebutuhan dasar. Dia mengatakan hampir tidak ada susu formula dan obat-obatan yang tersedia sangatlah sedikit.

Shalas dan rekan-rekannya telah mengirimkan seruan mendesak kepada sejumlah organisasi bantuan Barat dan Arab, meminta bantuan pada mereka tetapi mereka hanya menerima jawaban negatif.

“Jika ada serangan terhadap Idlib, serangan itu akan menghasilkan bencana kemanusiaan. Orang-orang akan lebih memilih tinggal di rumah-rumah mereka dan mati karena serangan udara daripada tidur di jalanan tanpa tempat untuk berlindung dari binatang buas dan ular,” kata Shalas.

PBB telah memperingatkan bahwa sebuah serangan akan menyebabkan setidaknya 800.000 warga sipil melarikan diri ke perbatasan Suriah dengan Turki, memunculkan bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.

 

Keterangan foto utama: Asap mengepul di desa Suriah Kafr Ain di daerah selatan provinsi Idlib setelah serangan udara pada 7 September (Foto:AFP/Getty Images/Anas al-Dyab)

PBB: Serang Idlib, Rezim Suriah Timbulkan Perpindahan Manusia yang Tak Terkira

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top