Pelarian Wanita Saudi Munculkan Seruan Penghapusan Hukum Perwalian
Timur Tengah

Pelarian Wanita Saudi Munculkan Seruan Penghapusan Hukum Perwalian

Berita Internasional >> Pelarian Wanita Saudi Munculkan Seruan Penghapusan Hukum Perwalian

Pelarian seorang wanita Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, dari keluarganya telah menimbulkan perdebatan yang jarang terjadi di masyarakat Saudi sendiri. Para pria ikut angkat bicara, mendorong agar dihapuskannya sistem perwalian. Para pejabat yang dekat dengan pemerintah mengatakan mereka berusaha membongkar sistem sedikit demi sedikit untuk mencegah serangan dari kaum konservatif.

Oleh: Channel News Asia

Permohonan suaka remaja Arab Saudi lewat live tweet telah memberikan sorotan baru pada hak-hak perempuan, hanya beberapa bulan setelah perempuan memenangkan hak untuk mengemudi, dan memicu kritik langka terhadap ketatnya  undang-undang “perwalian” dari laki-laki.

Rahaf Mohammed al-Qunun, 18 tahun, tiba di Thailand pada akhir pekan kemarin setelah melarikan diri dari kekerasan keluarganya di kerajaan Arab Saudi yang sangat konservatif. Qanun telah menghentikan upaya deportasi dirinya setelah penuturannya di Twitter menarik perhatian global.

Seruan Qunun telah memicu kehebohan media, menuai kecaman marah dan ancaman pembunuhan dari banyak orang di kerajaan Arab Saudi, di mana undang-undang perwalian masih didukung secara luas. Tetapi insiden itu memicu debat online yang jarang terjadi ketika beberapa pemuda Saudi, termasuk pria, memohon pihak berwenang untuk menghapuskan sistem perwalian.

Baca Juga: Dukung Wanita Saudi yang Melarikan Diri, Wanita Australia Protes Telanjang Dada

Tangkapan layer dari video yang dirilis ke AFPTV melalui akun Twitter Rahaf Mohammed al-Qunun menunjukkan Qunun yang berbicara di Bangkok pada tanggal 7 Januari 2019. (Foto: AFP)

Dilihat sebagai bentuk gender apartheid, sistem perwalian berarti perempuan Arab Saudi seringkali hanya sebebas yang diizinkan oleh “wali” laki-laki mereka, suami, ayah, atau kerabat laki-laki lainnya. Para pria dalam kehidupan mereka harus memberikan izin resmi kepada para wanita untuk belajar, menikah, atau bahkan memperbarui paspor mereka.

“Perwalian memberi laki-laki otoritas tertinggi atas perempuan,” kata seorang mahasiswa kedokteran Arab Saudi bernama Bandar dalam sebuah video monolog yang diunggah di Twitter. “Pria dapat mengendalikan wanita, menamparnya, memukulnya, melakukan apa pun yang dia inginkan dan tidak ada kewenangan [pemerintah] yang dapat menghentikannya. Hal ini menyebabkan para wanita bermimpi tentang tinggal di tempat lain, jauh dari tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Mengapa? Karena tinggal di sini menyusahkan mereka.”

Ketika tweet dari Qunun, yang sekarang berada dalam tanggung jawab sebuah badan pengungsi PBB di Thailand, meraih popularitas, sebuah fenomena tanda pagar baru mendapat perhatian di Arab Saudi: “Hapuskan perwalian atau kami semua akan bermigrasi.”

“Masyarakat Arab Saudi, secara umum, sama sekali gagal memahami kenyataan bahwa wanita memiliki hasrat yang sama untuk aktualisasi diri,” tulis seorang pria Saudi di Twitter, Ahmad Nasser al-Shathri. “Gagasan bahwa keinginan bawaan perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga telah melumpuhkan pertumbuhan masyarakat kita.”

Sistem represif

Seruan tersebut muncul setelah dorongan liberalisasi yang luas yang dipelopori oleh putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang bertujuan mengubah negara minyak yang konservatif tersebut, yang sejak lama dikritik karena perlakuan negara terhadap perempuan. Reformasinya mencakup keputusan yang sangat terkenal untuk membatalkan satu-satunya larangan di dunia terhadap pengendara wanita pada bulan Juni 2018.

Arab Saudi akhirnya mengizinkan perempuan untuk menghadiri pertandingan sepak bola bersama laki-laki dan mengambil pekerjaan yang pernah berada di luar batas sempit peran gender tradisional.

Sebagian besar disebabkan oleh yang disebut para ahli sebagai kepedihan ekonomi karena penurunan harga minyak, reformasi telah memperkenalkan serangkaian hal-hal yang pertama di pasar tenaga kerja Arab Saudi, di mana perempuan menunjukkan sangat sedikit kehadiran.

Para wanita Arab Saudi mengambil foto dengan ponsel mereka menjelang Kejuaraan Formula E-Prix Saudia Ad Diriyah 2018 di Riyadh, tanggal 15 Desember 2018. (Foto: AFP/Fayez Nureldine)

Dalam beberapa bulan terakhir, media Arab Saudi telah memperjuangkan koki restoran wanita pertama, pembawa berita wanita pertama, dan bahkan pembalap wanita pertama.

Untuk pertama kalinya, perempuan terlihat bersama laki-laki dalam konser musik dan pertemuan sosial, di tengah memudarnya pengaruh polisi agama yang dulu pernah ditakuti, yang secara ketat memisahkan gender. Tetapi sementara mengubah kehidupan banyak wanita, dorongan reformasi ini hanya berlaku di permukaan bagi banyak orang lain sampai kerajaan menghapuskan sistem yang memberi wewenang sewenang-wenang kepada laki-laki atas kerabat perempuan mereka, menurut para kritikus.

“Reformasi sosial di Arab Saudi sangat nyata dan mereka akan meningkatkan kehidupan sehari-hari wanita,” tutur Bessma Momani, seorang profesor di Universitas Waterloo Kanada kepada AFP. “Tetapi sistem perwalian tetap represif serta menghalangi hak-hak dan mobilitas perempuan.”

Memicu kecaman

Pemberdayaan perempuan telah memicu kecaman potensial dalam masyarakat tradisional Arab Saudi. Para pejabat yang dekat dengan pemerintah mengatakan mereka berusaha membongkar sistem sedikit demi sedikit untuk mencegah serangan dari kaum konservatif.

Sementara itu, kisah-kisah horor muncul secara teratur. Para narapidana wanita seringkali dilaporkan terjebak di penjara setelah menyelesaikan masa tahanannya karena mereka tidak diklaim oleh wali mereka.

Baca Juga: Wanita Arab Saudi Kini Terima Konfirmasi Cerai Lewat SMS

Wanita Arab Saudi bersorak untuk tim sepak bola mereka selama pertandingan persahabatan antara Arab Saudi dan Irak untuk kejuaraan “Superclassico” di Stadion Universitas King Saud di Riyadh, tanggal 15 Oktober 2018. (Foto: AFP/Fayez Nureldine)

Seorang wanita Arab Saudi mengatakan kepada AFP bagaimana dia terjebak dalam ketidakpastian sistem, bahkan tidak dapat memperbarui paspornya, ketika ayahnya, satu-satunya wali pria, mengalami koma setelah kecelakaan.

Banyak warga Arab Saudi mengutuk Qunun karena menodai kehormatan keluarganya. Tetapi ketika ia menggalang dukungan internasional dalam kampanye di Twitter, banyak orang menyuarakan solidaritas, terutama setelah petugas pengadilan Saudi di Bangkok tertangkap dalam rekaman memberitahu pemerintah Thailand bahwa mereka seharusnya menyita ponsel Qunun.

“Sangat sulit bagi putra mahkota [Mohammed bin Salman] untuk benar-benar menghapuskan undang-undang perwalian karena kelompok konservatif agama yang memiliki kepentingan politik pribadi masih tetap relevan dalam perubahan Arab Saudi,” kata Momani. “Dengan demikian, tekanan sosial dari orang-orang muda seperti Rahaf, yang merasa bahwa reformasi berjalan lambat, mungkin lebih membuktikan tantangan politik daripada konservatif agama.”

Keterangan foto utama: Potret tanggal 3 Juni 2018 menunjukkan Noura dari Arab Saudi sedang bersiap untuk sesi pelatihan di Bikers Skills Institute, sebuah sekolah mengemudi sepeda motor, di pinggiran Riyadh, Arab Saudi. (Foto: AFP/Fayez Nureldine)

Pelarian Wanita Saudi Munculkan Seruan Penghapusan Hukum Perwalian

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top