Referendum Brexit
Eropa

Peluang Kemenangan Referendum Kedua Brexit dengan Bantuan Eropa

Berita Internasional >> Peluang Kemenangan Referendum Kedua Brexit dengan Bantuan Eropa

Alih-alih kembali mengulangi referendum tahun 2016, Inggris harus memilih antara kesepakatan Perdana Menteri Inggris Theresa May atau bertahan di Uni Eropa yang telah direformasi. Ditolak di Parlemen Inggris maupun Uni Eropa, May akan menyerupai sosok dari drama moralitas abad pertengahan, dicemooh dan ditolak ke manapun ia berpaling. Itulah sebabnya probabilitas referendum kedua, setelah tujuan idealis dan tidak praktis dari segelintir pihak yang menuntut tinggal dengan Uni Eropa dan tidak berhasil didamaikan, terus meningkat setiap harinya. 

Baca Juga: Brexit: Apa yang Akhirnya Disetujui Uni Eropa dan Inggris?

Oleh: Jonathan Freedland (Guardian)

Jika bukan Jacob Rees-Mogg, itu adalah Jean-Claude Juncker, duet laras ganda membidik Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam 24 jam satu sama lain. Tidak lama setelah Juncker meminta May untuk mengundurkan diri setelah dia mendapatkan mosi tidak percaya dari kepala komisi Uni Eropa, yang menuduh perdana menteri menjadi “tidak jelas”, ketika kepala pemerintahan Eropa menolak untuk memberinya bahkan sedikit kenyamanan politik untuk hadiah Natal.

Ditolak di Parlemen Inggris maupun Uni Eropa, May akan menyerupai sosok dari drama moralitas abad pertengahan, dicemooh dan ditolak ke manapun ia berpaling.

Hasilnya adalah munculnya kejelasan yang suram dari Brexit yang berkabut. Tidak ada mayoritas di House of Commons untuk kesepakatan May. Namun kesepakatan itu tidak akan disempurnakan secara substantif oleh Uni Eropa. Jadi Brexit pun terjebak, jumlah minimal parlemen gagal mencapai jumlah maksimal Brussel. Tidak ada kesepakatan yang mungkin diambil, yang dengan pasti menimbulkan kemungkinan Brexit “tanpa kesepakatan.”

Kecuali bahwa para anggota parlemen dan menteri sama-sama bersikeras bahwa mereka tidak akan membiarkan Inggris jatuh dari tebing tanpa kesepakatan pada tanggal 29 Maret 2019. Mereka telah mendengar kata-kata mantan kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO/World Trade Organization) Pascal Lamy memperingatkan warga Inggris bahwa meninggalkan pasar tunggal Eropa kemudian berdagang pada ketetapan WTO akan seperti diturunkan dari Liga Utama Inggris ke divisi keempat lama. Mengingat semua itu, May, atau orang lain, jika dia tidak bisa melakukannya, harus mengusulkan rencana baru.

Itulah sebabnya probabilitas referendum kedua, setelah tujuan idealis dan tidak praktis dari segelintir pihak yang menuntut tinggal dengan Uni Eropa dan tidak berhasil didamaikan, terus meningkat setiap harinya. May tidak perlu dibujuk oleh logika demokrasi untuk mencari persetujuan populer untuk Brexit karena memang benar-benar ada, sebagai lawan dari versi populer yang dipilih oleh publik pada tahun 2016. Semua yang perlu diputuskan adalah bahwa referendum adalah satu-satunya jalan keluar May dari kebuntuan saat ini.

Bukan hanya para pendukung Brexit, yang takut kehilangan hadiah yang mereka menangkan dengan sulit dua setengah tahun lalu, yang tidak menyukai kemungkinan itu. Banyak dari mereka yang terlalu gugup dengan kontes yang mereka khawatirkan akan kalah, sehingga menutup peluang untuk hubungan yang baik dengan Eropa.

Berbagai pihak lain, banyak dari mereka merupakan anggota parlemen dari Partai Buruh di kursi pro-Brexit, merasa khawatir pada permusuhan terang-terangan dari prospek pemungutan suara kedua yang akan bangkit pada orang-orang yang mereka wakili.

Ini adalah emosi yang lebih halus dari yang biasanya digambarkan. Hal itu sering digambarkan dengan cara pengkhianatan yang sederhana, seolah-olah pemilih yang memutuskan meninggalkan Uni Eropa tidak akan memaafkan Brexit yang “dicuri” dari mereka, seperti yang dikatakan Liam Fox.

Baca Juga: Brexit: Theresa May Layangkan Surat Minta Dukungan Publik

Tetapi yang lain menggambarkan sentimen yang lebih tenang, kebencian bahwa anggota parlemen, yang dibayar untuk mengadili isu-isu yang sulit dan rumit, malah melemparkan teka-teki kepada para pemilih yang telah membuat para pemimpin negara itu terseok-seok.

Dengan hal itu dalam pikiran, beberapa tokoh parlemen Inggris yang lebih bijaksana telah mencoba untuk mencari tahu bagaimana referendum kedua, jika itu kelak terjadi, dapat menghindari pemutaran ulang sederhana tahun 2016, dengan semua kerusakan dan perpecahan yang berpeluang ditimbulkan oleh pemungutan suara semacam itu. Saya di sini tidak merujuk pada keteguhan yang telah diperjuangkan para penentang Brexit untuk melakukan kampanye yang lebih baik dan efektif: kurang perhitungan, lebih banyak puisi; kurang berpikir, lebih emosional; kurang memproyeksi ketakutan, lebih banyak memproyeksi harapan; kurang kepemimpinan pasti, lebih revolusioner. Meskipun semua masalah itu sudah ada.

Tidak, yang ada dalam pikiran saya adalah upaya untuk menjadikan referendum itu sendiri sah di mata para pendukung Brexit dan secara substansial berbeda dengan yang pertama. Pada perhitungan pertama, akan membantu jika pemungutan suara dilihat sebagai langkah oleh May, daripada permintaan yang berhasil ditekan oleh kampanye People’s Vote.

Sama seperti yang saya kagumi dari kampanye tersebut, pemilih Brexit lebih mungkin untuk menerima suara yang diserukan oleh perdana menteri Partai Konservatif yang berusaha membuat Brexit terjadi, daripada yang dilakukan oleh para pendukung bertahan dengan UE yang berusaha menghentikannya.

Tetapi hal itu juga akan membantu jika dua proposisi yang bersaing pada pemungutan suara–mari membuat asumsi penuh harapan bahwa tidak ada parlemen yang akan menyajikan tidak ada kesepakatan keluar dari UE seolah-olah itu adalah pilihan yang layak, karena akan menjadi sangat yang tidak bertanggung jawab–yang secara signifikan berbeda dengan pilihan tahun 2016: Pergi atau tinggalkan UE.

Sangat mudah untuk melihat bagaimana Brexit akan berbeda kali ini. Sebagai pengganti gagasan yang abstrak untuk pergi dari UE, yang diberikan pendukung Brexit sebagai iming-imim dana bebas rasa sakit dan obat mujarab untuk semua penyakit Inggris, akan menjadi rencana yang konkret dan mendetail untuk pergi: rencana May, kurang lebih.

Namun, bagaimana dengan sisi lain dari kertas suara itu? Para pihak pendukung tinggal dengan Uni Eropa akan melemah jika menyerukan memutar kembali waktu ke tanggal 22 Juni 2016, seolah-olah status quo ante yang pernah ada sebelumnya adalah nirwana yang tidak dapat diperbaiki. Mereka akan dituduh tidak mendengarkan kata-kata pendukung Brexit tentang mengapa mereka ingin keluar.

Itulah sebabnya beberapa orang berbicara tentang opsi “tetap [dengan UE] yang direformasi,”alternatif untuk meninggalkan tidak memukul keinginan yang berpuas diri untuk berpura-pura Brexit tidak pernah terjadi. Bagi para anggota parlemen Partai Buruh yang mendukung Brexit, harapan utama mereka adalah bahwa mereka dapat memberi sinyal kepada pemilih mereka bahwa baik dan Uni Eropa sendiri telah mendengar keprihatinan mereka pada satu masalah utama: imigrasi.

Saya mengakui upaya ini cukup membuat depresi. Saya lebih suka tinggal di negara di mana gerakan bebas dipandang sebagai hak yang berharga, janji dua kata tentang pembebasan, yang menawarkan warga Inggris kemampuan untuk hidup, bekerja, bepergian, belajar, dan jatuh cinta di mana saja di tempat yang luas, beragam, dan kaya. benua. Tetapi jutaan warga saya tidak melihat gerakan bebas seperti itu. Pilihan untuk tetap dengan UE adalah memberi tahu pemilih bahwa mereka salah, dan kalah dalam referendum lain, atau menghilangkan ketakutan dan menang.

Baca Juga: Bagaimana Kesepakatan Brexit akan Tercapai

Dalam konteks itu, seberapa kuatkah sisa kasus itu jika nanti bisa dikatakan bahwa Inggris yang memilih tinggal di Uni Eropa akan lebih banyak berpendapat tentang migrasi? Tidak ada yang mengharapkan penolakan pada gerakan bebas: Uni Eropa tidak akan pernah memberikan hal seperti itu.

Namun ketika komite pemilihan dalam negeri Yvette Cooper memeriksa tindakan apa yang masih sesuai dengan aturan pasar tunggal, akan ditemukan banyak yang telah digunakan oleh negara-negara anggota Uni Eropa lainnya, berbagai macam kontrol yang, secara misterius David Cameron maupun May tidak pernah terlibat, serta beberapa kemungkinan legal berdasarkan undang-undang perjanjian UE, yang belum pernah dieksplorasi dengan baik. (Sejak referendum, UE telah, misalnya, merevisi aturan-aturannya untuk mencegah gaji dan kondisi pekerja dikurangi oleh karyawan yang ditempatkan dari luar negeri.)

Tentu saja, ada beberapa masalah dengan pendekatan ini. Pertama, siapa sebenarnya yang akan menegosiasikan opsi yang ditingkatkan ini dengan UE? Brussels hanya akan berbicara dengan pemerintah. Pemerintahan Uni Eropa tidak akan membuka jalur paralel dengan panel para pembangkang yang berpikiran terbuka. Proses semacam itu juga akan memakan waktu, meskipun benar untuk setiap langkah menuju referendum: jika ini adalah jalur yang diambil May, dia harus membatalkan atau memperpanjang pasal 50.

Tapi apa yang pasti muncul adalah kemauan politik. Hari Jumat (14/12), Tony Blair menegaskan bahwa Brexit akan merusak proyek Eropa seperti halnya Brexit akan merusak Inggris.

Dengan demikian, EU27 harus berharap dapat meningkatkan daya tarik untuk tinggal dengan Uni Eropa. Tidak perlu, kata Charles Grant, kepala Pusat Reformasi Eropa yang antusias. Swedia, Irlandia, Denmark, Beland, dan mungkin Jerman mungkin ingin membantu, kata Grant, mungkin menambahkan “beberapa dekorasi tinsel dan lampu berwarna” ke berbagai celah di ketetapan Uni Eropa dalam hal migrasi, sehingga tetap dapat membanggakan memiliki gerakan bebas yang direformasi.

Tetapi semakin banyak “federalis garis keras” dalam komisi, dan di Prancis, “memiliki perasaan campur aduk tentang kepergian kami. Selama beberapa dekade, kami menjadi kerikil di sepatu mereka. Kami sudah sangat menderita” sehingga beberapa pihak akan merasa lega ketika keluar dari UE.

Meski begitu, jika warga Inggris menatap ke dalam jurang Brexit dan memutuskan untuk mundur, kemudian memilih dalam referendum kedua untuk tetap menjadi anggota Uni Eropa, hal itu akan menjadi dorongan besar bagi Uni Eropa dan, mengingat ukuran Inggris serta kekuatan keamanan dan intelijennya, menjadi hadiah utama geopolitik.

Sangatlah masuk akal untuk mendesak Uni Eropa melakukan bagiannya untuk memastikan bahwa tetap dengan UE memiliki kesempatan terbaik untuk memenangkan kontes. Kita bias memahami mengapa Juncker dan teman-temannya tidak ingin membantu Theresa May meninggalkan UE. Tetapi mereka memiliki alternatif. Mereka dapat membantu Inggris tetap tinggal.

Jonathan Freedland adalah seorang penulis kolom untuk Guardian.

Keterangan foto utama: Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker dan Perdana Menteri Inggris Theresa May pada KTT Uni Eropa di Brussels, bulan Desember 2018. (Foto: Isopix/Rex/Shutterstock)

Peluang Kemenangan Referendum Kedua Brexit dengan Bantuan Eropa

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top