Pemakzulan Trump
Opini

Pemakzulan Presiden: Rakyat Amerika versus Donald J. Trump

Berita Internasional >> Pemakzulan Presiden: Rakyat Amerika versus Donald J. Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah jelas terlihat tidak layak menjabat dan perlu segera dimakzulkan. Tunggu apa lagi? Berikut beberapa pertimbangan kenapa pemakzulan Trump harus segera dilakukan. 

Baca juga: Jurnalis Watergate Prediksi Kemungkinan Pemakzulan Trump

Oleh: David Leonhardt (The New York Times)

Sumpah jabatan presiden Amerika Serikat berisi 35 kata dan satu janji utama: untuk “melestarikan, melindungi, dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat.” Sejak saat Donald J. Trump mengambil sumpah itu dua tahun lalu, ia telah melanggarnya.

Trump telah berulang kali menempatkan kepentingannya sendiri di atas kepentingan negara. Trump telah menggunakan jabatan kepresidenan untuk mempromosikan bisnisnya. Trump telah menerima hadiah keuangan dari negara asing. Trump telah berbohong kepada rakyat Amerika tentang hubungannya dengan pemerintah asing yang bermusuhan. Trump telah menoleransi pejabat kabinet yang menggunakan posisi mereka untuk memperkaya diri mereka sendiri.

Untuk melindungi dirinya dari pertanggungjawaban atas semua ini, dan untuk kampanye kepresidenannya yang tidak bermoral, Trump telah berupaya merusak sistem pemeriksaan dan keseimbangan Amerika. Dia telah menyerukan upaya menuntut musuh-musuh politiknya dan melindungi para sekutunya. Dia telah berusaha menghalangi penegakan keadilan. Dia telah mencoba mengguncang kepercayaan publik terhadap satu demi satu lembaga demokratis, termasuk pers, penegak hukum federal, dan peradilan federal.

Kekacauan tiada henti yang diciptakan Trump terkadang dapat mengaburkan gambaran besar. Namun gambaran besarnya sederhana: Amerika Serikat tidak pernah memiliki presiden yang terbukti tidak layak untuk jabatan seperti Trump. Sangatlah jelas bahwa tahun 2019 kemungkinan akan didominasi oleh satu pertanyaan: Apa yang akan kita lakukan mengenai hal ini?

Jawaban yang mudah adalah menunggu, untuk memungkinkan berbagai investigasi terhadap Trump untuk berjalan dan meminta pemilih untuk memberikan keputusan pada tahun 2020. Jawaban itu memiliki satu keuntungan besar. Langkah ini akan menghindari trauma nasional dalam membatalkan hasil pemilu. Namun, pada akhirnya, menunggu akan menjadi tindakan yang terlalu berbahaya. Dampak dari pemakzulan Trump yang masih menjabat akan lebih kecil daripada membiarkannya tetap menjabat.

Trump telah menunjukkan, berulang kali, bahwa dia akan mengorbankan negara demi membantu dirinya sendiri. Dia akan merusak kepentingan Amerika di seluruh dunia dan merusak bagian-bagian penting dari sistem konstitusi AS di dalam negeri. Terdapat risiko yang terus bertumbuh bahwa ia akan menyebabkan lebih banyak bahaya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan para anggota kabinetnya di Gedung Putih pada hari Rabu, 2 Januari 2019. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Beberapa tokoh besar berpengaruh telah meninggalkan pemerintahan AS baru-baru ini. Menteri Pertahanan yang memperjuangkan aliansi Amerika dengan NATO dan Korea Selatan telah pergi. Begitu juga jaksa agung yang menolak untuk membiarkan Trump menghentikan penyelidikan federal atas dirinya sendiri.

Administrasi Trump semakin banyak diisi dengan antek dan pendukung Trump. Trump telah menjadi lebih bebas untuk mengubah tingkahnya menjadi kebijakan, seperti misalnya memberlakukan penutupan pemerintah atas saran pembaca berita Fox News atau menarik pasukan dari Suriah atas saran seorang otokrat Turki.

Risiko terbesar saat ini adalah bahwa keadaan darurat eksternal, perang, serangan teroris, krisis keuangan, bencana alam yang besar, akan muncul. Pada saat itu, sudah terlambat untuk berpura-pura bahwa Trump secara nyata tidak layak untuk memimpin. Demi negara, hanya ada satu hasil yang dapat diterima, seperti halnya setelah Amerika menyadari pada tahun 1974 bahwa seorang penjahat tengah menduduki Kantor Oval: Presiden Trump harus dimakzulkan.

Mencapai hasil ini tidak akan mudah. Hal ini akan memerlukan orang-orang terhormat yang telah melayani dalam pemerintahan Trump agar dapat berbagi, secara terbuka, mengenai apa yang telah mereka lihat dan apa yang mereka yakini. (Pada titik ini, kebocoran anonim tidaklah cukup.) Hal ini akan membutuhkan Partai Republik di Kongres untuk mengakui bahwa mereka telah membiarkan penipu mengambil alih partai mereka dan kemudian membela penipu itu. Hal ini akan membutuhkan Partai Demokrat dan para aktivis progresif untuk memahami bahwa pemakzulan yang terburu-buru sebenarnya justru akan membantu Trump untuk tetap menjabat.

Tetapi jika menggulingkannya tidak akan mudah, hal itu juga tidak sesederhana seperti yang terlihat. Sejak awal, Trump telah menjadi presiden yang luar biasa lemah, seperti yang ditunjukkan oleh para pakar politik. Meskipun anggota Kongres AS tidak berbuat cukup banyak untuk membatasi dirinya, tidak ada presiden lain baru-baru ini yang menghadapi kritik publik atau penghinaan pribadi dari partainya sendiri.

Sejak pemilu paruh waktu AS 2018 menunjukkan kerugian politik yang ditimbulkan Trump pada Partai Republik, kritik ini tampaknya berkembang. Mereka memutuskan hubungan dengannya tentang kebijakan luar negeri (di Arab Saudi, Yaman, dan Suriah) dan khawatir tentang penutupan pemerintah. Trump rentan terhadap erosi dalam peringkat persetujuannya yang sudah lemah, mulai dari penurunan ekonomi, lebih banyak pengungkapan dalam investigasi intervensi Rusia, atau hanya pembelotan dari beberapa sekutu utama. Ketika dukungan untuk pemimpin yang tidak populer mulai retak, reputasinya bisa hancur.

Namun, sebelum membahas bagaimana memakzulkan Trump, mari meluangkan sedikit waktu untuk meninjau alasannya, karena bahkan berbicara tentang pemecatan presiden yang terpilih dalam pemilu harus terjadi hanya dalam keadaan yang ekstrem. Sayangnya, Amerika sekarang sangat terpolarisasi sehingga pembicaraan seperti itu malah terjadi pada setiap presiden. Mantan Presiden AS seperti George W. Bush maupun Barack Obama pernah menjadi sasaran seruan sembrono untuk pemakzulan, bahkan dari anggota Kongres AS.

Jadi, mari kita perjelas. Ideologi Trump bukanlah pelanggaran yang tidak bisa memicu pemakzulan. Betapapun Anda mungkin tidak setuju dengan kebijakan pajak Trump, itu bukan alasan untuk mencopotnya dari jabatan. Demikian pula upayanya untuk memotong asuransi kesehatan pemerintah atau mendeportasi imigran yang tidak berdokumen.

Masalah-masalah seperti itu, antara lain, adalah masalah sah perjuangan demokratik, yang akan diputuskan oleh pemilihan umum, debat legislatif, protes, hingga alat demokrasi normal lainnya. Masalah-masalah tersebut bukanlah “pengkhianatan, penyuapan, atau pelanggaran dan kejahatan tingkat tinggi lainnya” yang ditetapkan oleh para pendiri bangsa untuk diselesaikan dengan pemakzulan.

Namun para pendiri bangsa Amerika juga tidak berniat untuk membuat upaya menyingkirkan presiden menjadi hal yang tidak mungkin. Mereka bersikeras memasukkan ayat pemakzulan dalam Konstitusi karena mereka memahami bahwa orang yang tidak kompeten atau korup kemungkinan akan mendapatkan jabatan tinggi.

Mereka mengerti betapa besar kerugian yang bisa ditimbulkan orang semacam itu. Negara ini membutuhkan cara untuk mengatasi apa yang disebut Alexander Hamilton sebagai “pelecehan atau pelanggaran kepercayaan publik” dan disebut James Madison sebagai “ketidakmampuan, kelalaian, atau ketidakjujuran” dari seorang presiden.

Kelalaian dan ketidaksempurnaan Presiden Trump, kejahatan dan kesalahannya yang tinggi, dapat dipisahkan menjadi empat kategori. Daftar ini konservatif, tidak termasuk kemungkinan bahwa kampanyenya melakukan koordinasi strategi dengan Rusia, suatu hal yang masih belum pasti. Daftar ini juga tidak termasuk pendekatannya yang asal-asalan terhadap jabatan presiden, seperti penolakannya untuk membaca laporan pengarahan atau banyaknya waktu kosong dalam jadwalnya. Sebaliknya, daftar ini berfokus pada cara-cara yang dapat dibuktikan bahwa Trump telah melanggar hukum atau melanggar sumpah konstitusionalnya.

Trump telah menggunakan jabatan kepresidenan untuk memperkaya diri sendiri

Terlepas dari partai apapun mereka berasal, para pendahulu Trump mengambil langkah-langkah rumit untuk memisahkan kepentingan keuangan pribadi mereka dari tanggung jawab pemerintahan yang mereka emban. Mereka merilis laporan pajak mereka, sehingga potensi konflik apapun akan diketahui publik. Para pendahulu Trump menempatkan aset mereka dalam kepercayaan buta, untuk menghindari mengetahui bagaimana kebijakan mereka dapat mempengaruhi investasi mereka sendiri.

Sebaliknya, Trump malah memperlakukan jabatan presiden sebagai peluang branding. Dia terus memiliki dan mempromosikan Trump Organization. Dia telah menghabiskan lebih dari 200 hari di salah satu propertinya dan menagih ratusan ribu dolar AS kepada para pembayar pajak.

The Trump International Hotel di Washington. (Foto: The New York Times/Sarah Silbiger)

Jika pola ini hanya korupsi kecil, tanpa merusak kepentingan nasional, itu mungkin tidak menjamin pemakzulan. Tetapi fokus Trump pada keuntungan pribadi tentu saja tampaknya memengaruhi kebijakan. Yang paling mengkhawatirkan, para pejabat asing dan yang lainnya menyadari bahwa mereka dapat menjilat presiden dengan mengucurkan uang di salah satu propertinya.

Arab Saudi telah menghujani Trump dengan bisnis. Demikian pula, Trump telah mendukung Arab Saudi, terlepas dari perang brutal mereka di Yaman dan pembunuhan mereka terhadap seorang kritikus terkemuka. Sebuah perusahaan milik pemerintah China dilaporkan memberikan pinjaman $500 juta kepada proyek yang didukung Trump di Indonesia. Dua hari kemudian, Trump mengumumkan bahwa ia mencabut sanksi terhadap perusahaan China lain yang memiliki afiliasi khusus.

Contoh-contoh tersebut, dan masih banyak lagi, telah mengkhianati Pasal 1 Konstitusi, yang melarang para pejabat federal untuk menerima “kompensasi” (emolument) dari negara asing mana pun kecuali Kongres AS menyetujui pengaturan itu. Madison, ketika mengajukan ayat pemakzulan, berbicara tentang seorang presiden yang “mungkin mengkhianati kepercayaannya demi kekuatan asing.”

Selanjutnya, tentu saja, terdapat kasus Rusia. Bahkan sebelum penasihat khusus Robert Mueller menyelesaikan penyelidikannya, fakta-fakta yang diketahui telah cukup memberatkan setidaknya dalam satu cara. Trump berbohong kepada rakyat Amerika selama kampanye pemilihan presiden AS 2016 tentang negosiasi bisnis antara perusahaannya dan pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin.

Sebagai presiden, Trump telah mengambil langkah, di Eropa dan Suriah, yang menguntungkan Putin. Singkatnya: Presiden Amerika Serikat berbohong kepada negara tentang hubungan komersialnya dengan pemerintah asing yang bermusuhan, ke arah mana ia memiliki kebijakan yang mengakomodasi dengan tak wajar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada bulan Juli 2018. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Tambahkan tindakan Trump dengan toleransinya terhadap para pejabat kabinet yang tidak etis, termasuk yang telah melakukan perdagangan saham yang curang, menerima tunjangan mewah, maupun menggunakan pemerintah untuk mempromosikan perusahaan mereka sendiri atau teman-teman mereka. Pemerintahan Trump hamper dapat dipastikan merupakan yang paling korup dalam sejarah Amerika. Hal itu membuat skandal Teapot Dome Warren G. Harding terlihat sepele.

Trump telah melanggar hukum keuangan kampanye

Dewan juri pengadilan skandal Watergate dengan terkenal menggambarkan mantan Presiden AS Richard Nixon sebagai “konspirator yang tidak didakwa.” Trump sekarang memiliki label dakwaannya sendiri: “Individual-1.”

Para jaksa federal di New York mengajukan dokumen bulan Desember 2018, menuduh bahwa Trump, diidentifikasi sebagai Individu-1, mengarahkan rencana kriminal untuk menghindari undang-undang keuangan kampanye. Pelanggaran itu terjadi selama minggu-minggu terakhir kampanye pemilihan presiden AS 2016, ketika Trump menginstruksikan pengacaranya, Michael Cohen, untuk membayar total uang tutup mulut sebesar $280.000 kepada dua wanita yang memiliki hubungan intim dengan Trump.

Trump dan tim kampanyenya tidak mengungkapkan pembayaran ini, sebagaimana diharuskan oleh hukum. Dalam dua tahun sejak itu, Trump telah berbohong secara terbuka tentang mereka. Trump awalnya mengatakan dia tidak tahu tentang pembayaran itu, kemudian mengubah jalan cerita dalam pernyataannya.

Michael Cohen di belakang kandidat presiden Amerika Serikat saat itu Donald Trump selama kampanye di Cleveland Heights, Ohio, tahun 2016. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

Patut diakui bahwa sebagian besar pelanggaran dana kampanye tidak menjamin dilakukannya pemakzulan. Tetapi pembayaran ini bukan hanya pelanggaran keuangan kampanye. Pelanggaran tersebut melibatkan pembayaran besar dan rahasia dalam minggu-minggu terakhir kampanye pemilu presiden yang, menurut jaksa penuntut, “menipu masyarakat pemilih.”

Keseriusan penipuan itu mungkin merupakan alasan mengapa para jaksa penuntut mengajukan tuntutan pidana terhadap Cohen, bukan menjatuhkan hukuman yang lebih umum berupa denda sipil untuk pelanggaran dana kampanye.

Apa yang harus terjadi pada seorang presiden yang memenangkan jabatan dengan bantuan dari perilaku kriminal? Bapak pendiri bangsa Amerika secara khusus mempertimbangkan kemungkinan ini selama debat mereka dalam Konvensi Konstitusi. Jawaban paling langsung datang dari George Mason: Seorang presiden yang “melakukan korupsi dan dengan cara itu diangkat” harus dikenai pemakzulan.

Trump telah menghalangi penegakan hukum

Apa pun yang akhirnya diungkapkan penasihat khusus Mueller tentang hubungan antara kampanye Trump dan Rusia, Trump telah menghalangi penegakan keadilan untuk memastikan agar Mueller dan pihak-pihak lainnya tidak dapat mengungkapkan kebenaran.

Para pengunjuk rasa berkumpul di depan Gedung Putih, bulan November 2018. (Foto: Associated Press/Andrew Harnik)

Berkali-kali, Trump telah mengganggu penyelidikan dengan cara-cara yang mungkin melanggar hukum dan jelas-jelas melanggar standar perilaku presiden selama puluhan tahun. Trump menekan James Comey, saat menjabat sebagai direktur FBI, untuk menghentikan penyelidikan Rusia, sebagai permohonan bantuan politik.

Ketika Comey menolak, Trump memecatnya. Trump juga berulang kali menekan mantan jaksa agung Jeff Sessions untuk menghentikan penyelidikan dan akhirnya memaksa Sessions untuk mengundurkan diri karena tidak melakukannya. Trump juga secara terbuka mempersekusi beberapa pakar teratas pemerintah dalam hal kejahatan terorganisir Rusia, termasuk Andrew McCabe dan Bruce Ohr.

Trump telah berulang kali berbohong kepada rakyat Amerika. Dia telah mengklaim, secara keterlaluan, bahwa Departemen Kehakiman AS memberi tahu para saksi untuk berbohong dengan imbalan keringanan hukuman. Dia telah menolak, tanpa dasar faktual, temuan berbagai agen intelijen tentang peran Rusia dalam kampanye 2016. Dia dilaporkan membantu putranya, Donald Trump Jr, menyusun pernyataan palsu tentang pertemuan tahun 2016 dengan seorang pengacara Rusia.

Tindakan menghalangi penegakan keadilan tentu saja merupakan alasan untuk pemakzulan presiden. Hal itu adalah subjek dari pasal pemakzulan Nixon pertama yang disahkan oleh Komite Kehakiman DPR AS. Antara lain, pasal itu menuduhnya membuat “pernyataan publik yang salah atau menyesatkan dengan tujuan menipu rakyat Amerika Serikat.”

Trump telah menggoyahkan demokrasi

Trump disumpah atas Konstitusi yang menegakkan prinsip pengawasan dan keseimbangan. Hal itu tergantung pada gagasan bahwa presiden bukanlah raja. Presiden adalah warga negara yang terhadapnya, seperti semua warga negara lainnya, berlaku hukum negara. Trump menolak prinsip ini. Dia malah mencoba merongrong kredibilitas sumber kekuatan atau informasi independen yang tidak melayani kepentingannya.

Ini jauh lebih dari sekedar penyelidikan Rusia. Trump telah mencoba untuk mendelegitimasi hakim federal berdasarkan etnis mereka atau berdasarkan presiden yang menunjuk mereka, yang memicu teguran langka dari Ketua Hakim John Roberts. Trump telah mengkritik Departemen Kehakiman AS karena mendakwa politisi Republik selama tahun pemilihan. Trump telah menyerukan agar Comey, Hillary Clinton, dan lawan politiknya yang lain untuk dipenjara.

Trump menggambarkan jurnalis sebagai “musuh rakyat,” sebuah penghinaan yang biasanya dilontarkan oleh otokrat. Dia telah menolak temuan faktual dasar dari CIA, Kantor Anggaran Kongres, ilmuwan riset, dan pihak lainnya. Dia telah mengatakan kebohongan tentang penipuan pemilu.

Secara individual, dosa-dosa ini tampaknya tidak pantas untuk menyebabkan pemakzulan. Namun, secara kolektif, mereka sangat merugikan masyarakat Amerika. Mereka menyebabkan rakyat Amerika kehilangan kepercayaan yang menjadi dasar demokrasi, keyakinan atas pemilihan umum, sistem peradilan, dan gagasan dasar tentang kebenaran.

Tidak ada presiden lain sejak Nixon yang pernah terlibat dalam perilaku seperti Trump. Menerima perilakunya tanpa menjatuhkan sanksi berarti mendukungnya. Meskipun tidak menyenangkan untuk memakzulkan presiden, dampak dan risiko berlanjutnya kepresidenan Trump jauh lebih buruk.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Preseden yang paling relevan untuk pemakzulan Trump adalah Nixon, satu-satunya presiden Amerika yang dipaksa keluar dari jabatannya karena perilakunya. Dua aspek dari kepergian Nixon cenderung diabaikan saat ini. Pertama, dia tidak pernah dimakzulkan. Dua, sebagian besar Partai Republik, pemilih maupun kalangan elit, terjebak olehnya sampai hampir akhir. Peringkat persetujuannya di kalangan Republik masih sekitar 50 persen hingga, ketika menyadari pada musim panas 1974 bahwa nasibnya di ujung tanduk, ia mengundurkan diri.

Dinamika politik saat ini memiliki beberapa kesamaan dengan situasi Nixon. Apakah DPR AS, di bawah kendali Partai Demokrat, akan memakzulkan Trump bukanlah pertanyaan besar. Pertanyaannya adalah apakah Trump kehilangan dukungan dari sebagian Partai Republik yang berarti.

Para demonstran di Trump Tower di New York tahun 2018. (Foto: Pacific Press/LightRocket/Getty Images/Erik McGregor)

Kita tahu bahwa banyak kritikus Trump yang menyerah berharap bahwa ia akan kehilangan dukungan Republik. Mereka beranggapan bahwa para senator Republik akan sesekali mengkritiknya tanpa melakukan konfrontasi dengannya. Tapi para kritikus itu tidak seharusnya menyerah. Taruhannya terlalu besar dan peluang keberhasilannya terlalu nyata.

Pertimbangkan deskripsi Trump berikut: “sangat tidak layak,” “tidak menentu,” “sembrono,” “terburu-buru,” “tidak stabil,” “pembohong patologis,” “berbahaya bagi demokrasi, “kekhawatiran bagi siapa pun yang peduli dengan bangsa kita.” Setiap deskripsi tersebut ini berasal dari anggota Kongres dari Partai Republik7i atau dari administrasi Trump sendiri.

Mereka tahu dia tidak layak untuk menjabat. Mereka tidak perlu diyakinkan akan kebenarannya. Mereka hanya perlu dibujuk untuk menindaklanjutinya.

Partai Demokrat tidak akan membujuk mereka dengan memakzulkan Trump. Melakukannya mungkin akan menggalang pendukung presiden. Tindakan ini akan mengalihkan fokus dari perilaku Trump ke sekelompok pemimpin Partai Demokrat yang tidak akan disukai oleh Partai Republik. Pendekatan yang lebih cerdas adalah serangkaian audiensi yang berpikiran jernih untuk menyoroti kesalahan Trump. Partai Demokrat harus fokus pada masalah-masalah yang mudah dimengerti yang kemungkinan besar akan mengganggu bagi pendukung Trump, seperti korupsi.

Jika pendekatan ini bekerja, atau jika temuan Mueller mengubah opini, atau jika masalah terpisah muncul, seperti ekonomi, para sekutu Trump dari Partai Republik akan mendapati diri mereka berada di tempat yang sangat sulit. Pada peringkat persetujuannya saat ini sekitar 40 persen, Partai Republik terpuruk di pemilu paruh waktu AS 2018. Jika peringkatnya terus jatuh, sejumlah besar anggota Partai Republik di Kongres AS akan menghadapi kemungkinan buruk pemilihan ulang yang panjang pada tahun 2020.

Dua contohnya adalah Cory Gardner dari Colorado dan Susan Collins dari Maine, senator yang, tidak secara kebetulan, telah menunjukkan tanda-tanda tentatif putus hubungan dengan Trump pada penutupan pemerintah. Kritik baru-baru ini dari Mitt Romney, yang berganti-ganti posisi antara bersikap kritis dan menjilat, tergantung pada kepentingan politiknya sendiri, adalah tanda lain kelemahan Trump.

Untuk saat ini, sebagian besar Partai Republik khawatir bahwa pemutusan penuh dengan Trump akan menyebabkan mereka kalah dalam primary election, dan hal itu mungkin saja terjadi. Tapi bertahan dengannya bukanlah hal cuma-cuma.

Baca juga: Opini: ‘Pemakzulan Donald Trump Jauh Lebih Serius daripada Kasus Bill Clinton’

Tanyakan saja kepada 27 petahana Republik yang dikalahkan tahun lalu dan sekarang adalah mantan anggota Kongres. Dengan margin yang lebar, pemilih di pinggiran kota dan pemilih yang lebih muda merasa jijik terhadap Trump. Partai Republik perlu mempertahankan diri di antara para pemilih ini, mulai tahun 2020.

Bukan hanya Trump tidak layak menjadi presiden dan juga diketahui Partai Republik. Mungkin juga mereka akan segera memiliki kepentingan politik untuk meninggalkannya. Jika mereka melakukannya, akhirnya akan datang dengan cepat.

DPR AS kemudian bisa memakzulkan Trump, mengetahui bahwa Senat AS mungkin akan bertindak untuk menjatuhkan hukuman. Bisa jadi, negosiasi bisa dimulai lagi mengenai apakah Trump layak mengundurkan diri demi mendapatkan semacam kekebalan hukum.

Akhirnya, ada harapan, meskipun tampaknya naif, bahwa beberapa orang di Partai Republik akan memilih untuk bertindak berdasarkan prinsip. Sekarang ada klub kecil mantan pejabat administrasi Trump yang dihormati secara luas sebelum bergabung dengan pemerintahan dan yang telah dinodai Trump, pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil.

Mereka termasuk Rex Tillerson, Gary Cohn, H.R. McMaster, dan Jim Mattis. Bayangkan jika salah satu dari mereka melakukan wawancara televisi dan mengatakan yang sebenarnya tentang Trump. Melakukan hal itu akan menjadi layanan bagi Amerika pada saat dibutuhkan. Hal itu akan menjadi ilustrasi mereka dalam menunaikan tugas negara.

Sepanjang karirnya, Trump telah bekerja keras untuk menemukan realitasnya sendiri, dan sebagian besar upayanya berhasil. Hal itu telah membuatnya sangat kaya dan, dengan segala rintangan, membawanya menjadi presiden. Tetapi apa pun yang terjadi pada tahun 2019, versi realitasnya yang keliru tidak akan bertahan dalam sejarah, seperti halnya Nixon. Di sisi mana dari sejarah Partai Republikan ingin berpihak saat ini?

David Leonhardt adalah mantan kepala biro Washington untuk the New York Times. Leonhardt merupakan editor pendiri The Upshot dan kepala The 2020 Project, tentang masa depan ruang berita The New York Times. Leonhardt memenangkan Pulitzer Prize 2011 untuk komentar dan kolom tentang krisis keuangan.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pemakzulan Donald Trump. (Ilustrasi: Mike McQuade, foto oleh: Damon Winter/The New York Times)

Pemakzulan Presiden: Rakyat Amerika versus Donald J. Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top