kamerun
Afrika

Pemberontak Culik 79 Anak Sekolah di Kamerun

Berita Internasional >> Pemberontak Culik 79 Anak Sekolah di Kamerun

Sekurangnya 79 murid sekolah–berusia 10-14 tahun–diculik dari sekolah berasrama mereka di kota Bamenda, Kamerun. Wilayah Barat Laut dan Barat Daya Kamerun telah dilanda pemberontakan separatis dalam beberapa tahun terakhir. Gubernur daerah Adolphe Lele L’Afrique, menyalahkan milisi separatis atas penculikan itu.

Baca Juga: 5 Pemimpin Afrika yang Berkuasa Paling Lama, Selain Robert Mugabe

Oleh: BBC

Puluhan orang—kebanyakan murid sekolah—telah diculik dari sebuah sekolah asrama di barat Kamerun.

Sedikitnya 79 siswa dan tiga lainnya—termasuk kepala sekolah—ditangkap pada Senin (5/11) pagi di Bamenda, ibu kota wilayah Barat Laut, seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada BBC.

Operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan tentara Kamerun sekarang sedang berlangsung.

Wilayah Barat Laut dan Barat Daya Kamerun telah dilanda pemberontakan separatis dalam beberapa tahun terakhir.

Gubernur daerah Adolphe Lele L’Afrique, menyalahkan milisi separatis atas penculikan itu.

Milisi tersebut—yang telah menuntut kemerdekaan dari dua wilayah berbahasa Inggris—telah menyerukan sebuah boikot sekolah.

Tapi tidak ada satu kelompok pun yang mengaku melakukan penculikan di Sekolah Menengah Presbyterian Bamenda, yang memiliki murid berusia antara 10 hingga 14 tahun.

Dalam video anak-anak yang diculik yang dirilis, pria yang memegang kamera menunjukkan dirinya sendiri di bagian akhir. (Foto: via BBC)

Video dari beberapa anak-anak—yang diyakini telah direkam oleh salah satu penculik—disebar di media sosial.

Para siswa—semua anak laki-laki dan berdesakkan dalam sebuah ruangan kecil—semua terlihat gugup ketika pria yang memegang kamera memerintahkan mereka untuk menyebutkan nama mereka dan dari mana mereka berasal.

Mereka juga mengulang kalimat: “Saya dibawa dari sekolah tadi malam oleh orang-orang Amba, saya tidak tahu di mana saya berada.”

Peta Kamerun (BBC)

Amba adalah singkatan Ambazonia, nama negara baru yang ingin dibuat oleh para separatis.

Salah satu siswa—yang berhasil menghindari penangkapan dengan bersembunyi di bawah tempat tidur—mengatakan kepada BBC bahwa peristiwa tersebut berlangsung cepat ketika para penculik memasuki sekolah.

“Salah satu teman saya, mereka memukulinya tanpa ampun. Yang bisa saya pikirkan hanyalah diam saja. Mereka mengancam akan menembak beberapa orang… semua anak laki-laki besar yang mereka tangkap, dan yang kecil yang mereka tinggalkan.”

Seorang guru di sekolah menggambarkan apa yang dia lihat ketika dia memasuki kantor kepala sekolah, setelah para siswa diculik dari asrama yang berbeda.

“Militer datang dan pergi ke rumah kepala sekolah di mana kami menyadari bahwa pintunya telah dibobol dan dimasuki, kacamatanya berada di lantai,” katanya kepada BBC.

‘Berdoa untuk korban yang diculik’

Sebagai moderator Gereja Presbyterian di Kamerun, Pendeta Kanan Fonki Samuel Forba mengatakan kepada BBC bahwa dia telah berbicara dengan para penculik.

Baca Juga: Rahasia Aktivitas Militer Amerika di Afrika Barat yang Disembunyikan dari Publik

“Mereka tidak menginginkan tebusan. Yang mereka inginkan adalah menutup sekolah-sekolah. Kami telah berjanji untuk menutup sekolah-sekolah itu,” katanya kepada BBC.

“Kami berharap dan berdoa agar mereka membebaskan anak-anak dan para guru,” tambahnya.

Ini bukan pertama kalinya para pelajar diculik di daerah itu, yang dikenal sebagai kubu pejuang separatis, lapor wartawan BBC Ngala Killian Chimtom.

Pada tanggal 19 Oktober, lima siswa Sekolah Menengah Atas Atiela diculik oleh orang-orang bersenjata tak dikenal. Keberadaan mereka masih belum diketahui.

Kaum separatis mengatakan bahwa sistem sekolah Kamerun melarang sistem berbahasa Inggris yang diwariskan oleh wilayah Barat Laut dan Barat Daya dari Inggris.

Pemberontakan separatis

Milisi tersebut—yang ingin menciptakan Ambazonia—mulai muncul pada tahun 2017 setelah pasukan keamanan menumpas protes massal, yang dipimpin oleh pengacara dan guru, atas dugaan kegagalan pemerintah untuk memberikan pengakuan yang cukup kepada sistem hukum dan pendidikan Inggris di Barat Laut dan Barat Daya.

Pemerintah dituduh sangat bergantung pada orang-orang yang terlatih dalam tradisi hukum dan pendidikan Prancis untuk bekerja di jabatan-jabatan utama, dan umumnya meminggirkan minoritas Kamerun berbahasa Inggris, yang membentuk sekitar 20 persen dari populasi.

Presiden Paul Biya—yang telah berkuasa sejak tahun 1982—baru-baru ini terpilih kembali untuk masa jabatan ketujuh dengan lebih dari 70 persen suara.

Partai-partai oposisi menuduh bahwa pemungutan suara dicurangi, tetapi upaya hukum untuk membatalkan hasil tersebut gagal.

Kamerun—masih terbagi di sepanjang garis kolonial

Perbatasan Afrika yang “diukir” oleh negara-negara kolonial. (Foto: Alamy)

  • Dijajah oleh Jerman pada tahun 1884.
  • Pasukan Inggris dan Prancis memaksa Jerman untuk pergi pada tahun 1916.
  • Kamerun dibagi tiga tahun kemudian—80 persen milik Prancis dan 20 persen milik Inggris.
  • Kamerun yang dikelola Prancis menjadi independen pada tahun 1960.
  • Setelah referendum, Kamerun Selatan (Inggris) bergabung dengan Kamerun, sementara Kamerun Utara bergabung dengan Nigeria yang berbahasa Inggris.

 

Keterangan foto utama: Seorang tentara elit Rapid Intervention Battalion (BIR) berjalan melewati mobil yang terbakar saat berpatroli di kota Buea di kawasan berbahasa Inggris Kamerun, 4 Oktober 2018. (Foto: Reuters/Zohra Bensemra)

Pemberontak Culik 79 Anak Sekolah di Kamerun

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top