Pemberontak Suriah
Timur Tengah

Pemberontak Suriah Langgar Perjanjian dan Tetap Berjuang di Idlib

Berita Internasional >> Pemberontak Suriah Langgar Perjanjian dan Tetap Berjuang di Idlib

Kelompok-kelompok bersenjata seharusnya mundur dari zona penyangga, sebagai syarat terakhir untuk menerapkan perjanjian Rusia-Turki.  Hanya beberapa jam sebelum batas waktu berakhir, para pemberontak Suriah berjanji akan terus berjuang. “Kami tidak meninggalkan pilihan jihad kami dan berjuang untuk melaksanakan revolusi kami yang diberkati,” kata Hay’et Tahrir al-Sham (HTS), aliansi yang dipimpin oleh bekas afiliasi al-Qaeda di Suriah.

Baca juga: Garda Revolusi Iran Luncurkan Rudal ke Suriah atas Serangan Parade Militer

Oleh: Al Jazeera

Para pemberontak suriah di Idlib, Suriah, telah gagal memenuhi batas waktu untuk meninggalkan zona penyangga yang direncanakan, di sekitar kubu pemberontak terakhir negara itu, sebagaimana diatur dalam kesepakatan Rusia-Turki.

Kelompok-kelompok bersenjata seharusnya mundur dari zona penyangga tersebut pada Senin (15/10), sebagai syarat terakhir untuk menerapkan perjanjian Rusia-Turki untuk mencegah serangan pemerintah Suriah di wilayah barat laut Idlib.

Nasib kesepakatan itu dipertaruhkan pada Senin (15/10) pagi, di tahun ketujuh perang saudara yang telah membunuh ratusan ribu orang dan membuat jutaan orang mengungsi.

Hanya beberapa jam sebelum batas waktu berakhir, para pemberontak berjanji akan terus berjuang.

“Kami tidak meninggalkan pilihan jihad kami dan berjuang untuk melaksanakan revolusi kami yang diberkati,” kata Hay’et Tahrir al-Sham (HTS), aliansi yang dipimpin oleh bekas afiliasi al-Qaeda di Suriah.

“Kami menghargai upaya semua orang di dalam dan di luar negeri untuk melindungi daerah yang dibebaskan,” katanya, yang secara nyata merujuk pada Turki.

“Tetapi pada saat yang sama, kami memperingatkan tentang tipu daya penjajah Rusia,” katanya tentang sekutu Presiden Bashar al-Assad.

Berdasarkan kesepakatan itu, senjata berat harus sudah ditarik dari zona penyangga yang berbentuk tapal kuda pada tanggal 10 Oktober, dan para pejuang harus sudah meninggalkannya pada Senin (15/10).

Mencari Pertempuran?

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa mereka tidak mengamati adanya pejuang yang meninggalkan wilayah demiliterisasi yang digariskan tersebut, pada tengah malam.

“Para jihadis tidak mundur, dan itu memberi rezim Suriah dan Rusia alasan untuk melakukan operasi militer setidaknya dalam zona demiliterisasi tersebut,” kata kepala Observatorium, Rami Abdel Rahman.

HTS kemungkinan “mencoba untuk mengulur waktu dengan tidak secara eksplisit menolak atau menerima kesepakatan” antara Rusia dan Turki, katanya.

Sabtu (13/10) malam, “peluru mortir berat” ditembakkan dari zona penyangga yang direncanakan tersebut, ke wilayah rezim, yang menewaskan dua tentara, menurut Observatorium Suriah.

Para pemberontak dilaporkan memenuhi bagian pertama dari kesepakatan itu, di mana para pejabat Turki, faksi bersenjata, dan Observatorium melaporkan bahwa wilayah itu bebas dari persenjataan berat.

Tetapi tembakan mortir yang menyerang posisi tentara di Provinsi Hama tampaknya telah melanggar kesepakatan itu.

Tidak jelas kelompok mana yang menembakkan mortir pada Sabtu (13/10) malam, seiring Front Pembebasan Nasional (NLF) yang didukung Turki dan faksi-faksi yang bersaing, ada di daerah itu. NLF memegang sekitar setengah dari wilayah Idlib dan telah menyambut kesepakatan itu.

‘Konsekuensi besar’

Bagian terbesar dari Idlib dipegang oleh Hay’et Tahrir al-Sham, begitu juga pejuang garis keras lainnya seperti Hurras al-Deen dan Ansar al-Islam.

Kelompok-kelompok itu juga mengendalikan lebih dari dua pertiga dari zona penyangga yang direncanakan dan seharusnya mundur pada Senin (15/10).

Hurras al-Deen secara terbuka menolak perjanjian itu, meskipun tampaknya menarik kembali senjata beratnya dari daerah itu minggu lalu.

HTS—yang secara luas dianggap sebagai kekuatan paling kuat di Idlib—telah diam-diam mematuhi batas waktu kesepakatan pertama, dan menempatkan senjata berat di tempat lain.

Baca juga: Menlu Suriah: Perang Kami Melawan Terorisme “Hampir Berakhir”

Namun, membuat kelompok itu menyetujui bagian kedua dari kesepakatan itu terbukti lebih sulit.

Dalam laporan terbaru untuk Omran Centre yang berbasis di Turki, analis Nawar Oliver menggambarkan persetujuan HTS sebagai “ujian” akhir dari kesepakatan itu.

“Jika HTS bertindak sebagai perusak perjanjian di lapangan, ini mungkin akan mengarah pada salah satu dari dua skenario: baik Turki maupun NLF meluncurkan tindakan militer terhadap HTS, atau Rusia akan merebut peluang dengan dukungan rezim dan sekutu-sekutunya untuk masuk ke Idlib,” kata Oliver.

“Konsekuensi dari langkah itu bisa sangat luas,” tambahnya.

Bencana Kemanusiaan

Al-Assad dan para pejabat tinggi pemerintah lainnya telah memperingatkan bahwa kesepakatan Idlib hanyalah tindakan “sementara”.

Pada Jumat (12/10), penduduk di sekitar Idlib menerima pesan peringatan di ponsel mereka dari tentara Suriah. “Menjauhlah dari para pejuang. Nasib mereka sudah berakhir dan sudah dekat,” kata seseorang.

Perjanjian yang ditandatangani pada 17 September itu, menghindari serangan besar-besaran, yang menurut PBB bisa menyebabkan perpindahan besar dan pertumpahan darah.

PBB memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan memprovokasi bencana kemanusiaan di kawasan itu, di mana sebanyak 800.000 orang—setengah dari mereka secara internal mengungsi dari serangan sebelumnya—dapat dipaksa untuk melarikan diri lagi oleh serangan rezim di Idlib dan daerah sekitarnya.

Hampir tiga juta orang tinggal di zona itu sekarang, di mana ratusan ribu dari mereka sudah terlantar akibat perang tujuh tahun yang brutal, dan yang lainnya sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Keterangan foto utama: Para pejuang pemberontak Suriah dari Provinsi Quneitra, berjalan dengan senapan mereka ketika mereka menunggu di titik persimpangan Morek untuk dipindahkan ke daerah yang dikuasai pemberontak di Provinsi Idlib dan Aleppo, pada tanggal 21 Juli 2018. Pemerintah Suriah merebut kembali wilayah barat daya negara itu dalam serangan kilat melawan pemberontak dan jihadis yang mencari dukungan internasional. (Foto: AFP/Getty Images/Aaref Watad)

Pemberontak Suriah Langgar Perjanjian dan Tetap Berjuang di Idlib

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top