Pembunuhan Jurnalis
Eropa

Pembunuhan Jurnalis: Ketika Membunuh Sang Pembawa Pesan Jadi Kebiasaan

Warga Bulgaria menyalakan lilin untuk mengenang jurnalis televisi Bulgaria Viktoria Marinova di kota Ruse pada 8 Oktober 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Dimitar Dilkoff)
Berita Internasional >> Pembunuhan Jurnalis: Ketika Membunuh Sang Pembawa Pesan Jadi Kebiasaan

Pembunuhan jurnalis saat ini sudah menjadi hal yang biasa. Walaupun banyak jurnalis yang tewas di zona perang, ternyata lebih banyak jurnalis yang tewas di negaranya sendiri, misalnya saat sedang mengungkapkan penindasan pemerintah atau kasus korupsi. Seperti yang terjadi dengan jurnalis Bulgaria baru-baru ini, yang dibunuh saat sedang mengungkap kasus korupsi di negaranya.

Baca juga: Tersangka Pembunuhan Jurnalis Bulgaria Tertangkap di Jerman

Oleh: Amy Mackinnon (Foreign Policy)

Viktoria Marinova bukanlah koresponden perang.

Dia adalah seorang jurnalis televisi Bulgaria yang meliput dugaan skandal korupsi di acara televisinya, sebelum dia dibunuh pekan lalu di kota utara Ruse, dekat Sungai Danube, dalam insiden terakhir yang melibatkan kekerasan mematikan terhadap jurnalis di seluruh dunia.

Motif pembunuhan yang menyebabkan kematian Marinova masih belum jelas. Tapi kekhawatiran bahwa hal itu terkait dengan pekerjaannya menggarisbawahi salah satu realitas suram dari jurnalisme hari ini: Sementara wartawan yang terbunuh di zona perang telah banyak terpatri dalam ingatan kolektif kita, tenyata lebih banyak lagi wartawan yang dibunuh di negara mereka sendiri, dan seringkali berhubungan dengan pekerjaan mereka dalam mengekspos korupsi dan penindasan oleh pemerintah.

Dari 1.322 wartawan yang kematiannya dikaitkan dengan pekerjaan mereka sejak tahun 1992, 848 dibunuh, sementara 298 tewas dalam baku tembak, menurut Komite Perlindungan Wartawan (Committee to Protect Journalists) yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Sangat jarang bagi wartawan untuk dibunuh di Uni Eropa, tetapi Marinova adalah yang ketiga dalam setahun terakhir.

Pada bulan Oktober 2017, jurnalis investigatif asal Malta, Daphne Caruana Galizia, tewas dalam serangan bom mobil. Pada bulan Februari, reporter Slovakia Jan Kuciak ditembak mati di rumahnya—bersama dengan tunangannya—saat melaporkan dugaan hubungan antara pejabat pemerintah dan kejahatan terorganisasi.

Dan minggu lalu, jurnalis Saudi dan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi menghilang setelah masuk ke dalam konsulat Arab Saudi di Istanbul, di mana pemerintah Turki yakin dia terbunuh.

Rob Mahoney—Wakil Direktur Eksekutif di Komite Perlindungan Wartawan—mengatakan bahwa di seluruh dunia, atmosfer untuk jurnalisme telah memburuk.

“Ini bukan hanya di negara-negara yang akan Anda pikirkan. Bahkan di sini di Amerika Serikat, kami melihat sentimen anti-pers yang sangat kuat datang langsung dari atas,” katanya.

“Para pemimpin di seluruh dunia yang senang menutup ruang untuk kebebasan pers telah mengaitkan retorika Trump tentang ‘berita palsu’ untuk menutup laporan yang tidak mereka sukai.”

Menurut Mahoney, di hampir sembilan dari 10 kasus, mereka yang memerintahkan pembunuhan jurnalis akhirnya bebas.

Mahoney mencatat bahwa pada tahun sejak Caruana Galizia terbunuh, hanya ada sedikit kemajuan dalam penyelidikan.

“Itu mengirimkan sinyal yang sangat kuat kepada orang-orang, bahwa ini adalah pekerjaan yang berbahaya, dan Anda mungkin tidak terlindungi,” katanya.

jamal khashoggi washington post

Anggota Asosiasi Media Turki-Arab memegang poster dengan foto-foto penulis Arab yang hilang Jamal Khashoggi, di dekat konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada tanggal 8 Oktober 2018. (Foto: AP/Lefteris Pitarakis)

Dalam kasus Marinova, otoritas Jerman menangkap seorang pria sehubungan dengan pembunuhan itu, tetapi rinciannya masih belum jelas.

Menteri Dalam Negeri Bulgaria mengatakan bahwa DNA tersangka ditemukan di TKP. Kepala Jaksa Penuntut Sotir Tsatsarov mengatakan bahwa serangan terhadap Marinova tampak sebagai serangan seksual spontan, tetapi dia mengatakan bahwa semua kemungkinan masih dipertimbangkan.

Penelitian oleh Transparency International telah menunjukkan korelasi yang kuat antara korupsi di suatu negara dan risiko yang ditimbulkan kepada wartawan yang bekerja di sana. Dengan menggunakan data dari Committee to Protect Journalists, mereka menemukan bahwa sejak tahun 2012, sembilan dari 10 jurnalis yang dibunuh, tewas di negara-negara yang dianggap sangat korup.

Indeks Persepsi Korupsi kelompok telah menetapkan Bulgaria sebagai anggota Uni Eropa yang paling korup, sementara Reporters Without Borders menetapkan negara tersebut dalam peringkat ke-111 dari 180 dalam indeks kebebasan pers dunia tahunan terbaru.

Ketika Bulgaria bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2007, negara itu menempati peringkat ke-51 dari 169 pada indeks tersebut. Uni Eropa memasukkan Bulgaria dan satu negara lainnya yang bergabung tahun itu, Romania, dalam pengawasan khusus untuk memberantas korupsi dan kejahatan terorganisasi pada kedua negara.

Baca juga: Hilangnya Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi adalah Tamparan bagi Amerika

Direktur Transparency International cabang Uni Eropa, Carl Dolan, mencatat bahwa sementara Romania membuat kemajuan signifikan di bidang tersebut, namun Bulgaria tertinggal.

“Kami melakukan survei, yang menunjukkan bahwa orang lebih skeptis dari sebelumnya. Orang-orang tampaknya telah kehilangan harapan akan adanya terobosan di sini,” katanya.

“Bulgaria adalah jenis masalah yang lebih umum, yang mirip dengan Polandia dan Hungaria, bahwa begitu Anda menjadi anggota, ada sangat sedikit imbalan dan hukuman untuk mendorong reformasi.”

Marinova adalah pembawa acara televisi “Detektor,” yang saat ini baru diluncurkan kembali. Dalam penampilan terakhirnya pada program tanggal 30 September 2018, Marinova mewawancarai wartawan investigasi Bulgaria Attila Biro dan Dimitar Stoyanov, yang sedang menyelidiki dugaan penipuan yang melibatkan dana Uni Eropa. Keduanya telah ditangkap pada awal bulan Oktober saat sedang melakukan reportase berita.

“Jumlah topik terlarang (di Bulgaria) terus berkembang sepanjang waktu,” kata Marinova dalam program tersebut. “Wartawan investigasi sedang disingkirkan secara sistematis.”

Amy Mackinnon adalah wartawan di Foreign Policy.

Keterangan foto utama: Warga Bulgaria menyalakan lilin untuk mengenang jurnalis televisi Bulgaria Viktoria Marinova di kota Ruse pada 8 Oktober 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Dimitar Dilkoff)

Pembunuhan Jurnalis: Ketika Membunuh Sang Pembawa Pesan Jadi Kebiasaan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top