Berita Tentang Indonesia

Pemerintah Indonesia Pertimbangkan Redenominasi Rupiah

Pemerintah Indonesia Pertimbangkan Redenominasi Mata Uang Rupiah. (Foto: Sirintra Pumsopa/Shutterstock)

Oleh: Aisyah Llewellyn (Asian Correspondent)

Pemerintah Indonesia saat ini mengambil langkah untuk melakukan redenominasi rupiah, atau penyederhanaan nilai mata uang, yang kemungkinan akan menghilangkan empat nol di dalam mata uang tersebut. Rupiah disebutkan telah menjadi sumber rasa malu bagi Indonesia di kancah Internasional, dan merupakan salah satu mata uang dengan nilai terendah di dunia.

Ketika para turis yang ada di Indonesia menukarkan uang untuk pertama kalinya, seringkali mereka merasa terkejut.

Bahkan dengan hanya menukarkan sedikit uang, dimana di wilayah itu hanya sebesar $100, anda akan mendapatkan setumpuk uang kertas dengan total Rp 1,335,774, dan segera menjadi seorang jutawan.

Pada Agustus 2017, $1 sama dengan sekitar Rp 13,357, namun masa-masa dimana dompet yang berisi jutaan rupiah tersebut mungkin akan segera berakhir. Pemerintah Indonesia saat ini mengambil langkah untuk meredenominasi (penyederhanaan nilai mata uang) rupiah, yang kemungkinan akan menghilangkan empat nol di dalam mata uang tersebut.

Pengajuan ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia, namun pemerintah juga mendukung Rancangan Undang-Undang Redenominasi Mata Uang, yang berkoordinasi dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution yang memimpin pengajuan RUU ini.

Saat ini, rupiah Indonesia merupakan salah satu mata uang dengan nilai terendah di dunia

Saat ini, rupiah Indonesia merupakan salah satu mata uang dengan nilai terendah di dunia. (Foto: Shutterstock)

Ia mengatakan, “Kami belum memutuskan apakah kami akan menghilangkan tiga atau empat angka nol di dalam rupiah…jika tiga angka nol dihilangkan, mungkin hasilnya tidak akan jauh berbeda bagi masyarakat; Dimana jika Anda makan di restoran dan melihat harga 40.00 di menu, berarti harga sebenarnya adalah Rp 40,000 (US$3).”

Saat ini, rupiah Indonesia merupakan salah satu mata uang dengan nilai terendah di dunia, dengan uang koin antara Rp 100 hingga Rp 1,000, dan uang kertas dari Rp 1,000 hingga Rp 100,000.

Rupiah adalah mata uang yang relatif baru di dalam dunia global, dan baru diakui sebagai mata uang resmi pada tahun 1949, walau uang kertas pertama telah dicetak pada tahun 1946.

Bentuk pertama dari mata uang Indonesia muncul sekitar abad ke-9, ketika manik-manik digunakan sebagai alat transaksi. Baru pada abad ke-12, koin emas dan perak masuk ke dalam sirkulasi keuangan. Uang kertas pertama, yang disebut ‘duit’, dicetak oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda. Ketika Belanda resmi menjadi negara penjajah di tahun 1800-an, mereka mulai memperkenalkan mata uang gulden.

Namun begitu, dengan kependudukan Jepang selama Perang Dunia II, bank-bank Belanda tertindas dan Jepang mencetak gulden versi mereka sendiri, sebelum akhirnya berpindah ke versi lainnya, ketika Indonesia sudah hampir merdeka.

Rupiah telah menjadi sebuah hal memalukan di dunia internasional

“Rupiah telah menjadi sebuah hal memalukan di dunia internasional.” (Foto: Shutterstock)

Rupiah pertama kali dicetak di Indonesia dan disebut Roepiah Hindia Belanda, yang bisa dibilang merupakan versi awal dari rupiah yang saat ini digunakan di Indonesia. Setelah kemerdekaannya pada tahun 1945, Indonesia menolak menggunakan gulden dan secara bertahap meninggalkan Roepiah Hindia Belanda dan berusaha mencetak uang kertas mereka sendiri.

Saat ini, dengan adanya wacana untuk meredenominasi mata uang, rupiah nampaknya akan berubah bentuk sekali lagi. Namun begitu, ini bukanlah pertama kalinya terdapat rencana untuk menghilangkan beberapa angka nol dari mata uang rupiah. Pada tahun 2010, Indonesia meninjau rencana redenominasi, namun rencana tersebut dibatalkan mengingat kekhawatiran kondisi makroekonomi yang pada saat itu tidak cukup stabil.

Namun begitu, bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, rencana ini sudah lama tertunda, dan rupiah telah menjadi sumber rasa malu di dunia internasional. Menurut Darmin Nasution: “Langkah ini bertujuan untuk efisiensi dan juga demi nama baik…Coba tanyakan kepada turis asing yang menukarkan US$300 dan mendapatkan setumpuk uang kertas rupiah,” ujarnya. “Mereka mungkin akan berpikir, ‘negara macam apa ini?’”

Namun tidak semua orang merasa terburu-buru untuk memperbaiki mata uang tersebut. Karena bagaimanapun juga, ketika mantan presiden Sukarno tiba-tiba mendevaluasi rupiah hingga 75 persen pada tahun 1959, hal tersebut menyebabkan kemunduran yang tersebar luas, dimana banyak masyarakat Indonesia yang tidak mau menerima uang kertas yang didevaluasi.

Hal ini yang menyebabkan kekacauan politik pada tahun 1965, yang membuat banyak masyarakat Indonesia merasa waspada terhadap setiap perubahan terhadap mata uang, walaupun denominasi dan devaluasi adalah dua hal yang sangat berbeda.

Kritik terhadap pemerintah saat ini salah satunya dikeluarkan oleh Fadli Zon, yang merupakan Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra, “Pemerintah seharusnya fokus terhadap defisit anggaran (yang hampir mencapai tiga persen batas hukum defisit anggaran),” ujarnya.

Namun begitu, terlepas dari kekhawatiran Fadli Zon, saat ini nampaknya adalah waktu yang tempat untuk membuat perubahan dalam mata uang rupiah, dimana Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo berusaha untuk menekankan situasi positif dalam perekonomian Indonesia saat ini. “Indonesia secara ekonomi maupun politik sangat stabil…dan rencana ini akan sangat baik bagi perekonomian. Namun tentu saja, hal ini akan memakan waktu bertahun-tahun, mengingat Indonesia adalah negara yang besar dan masyarakatnya memiliki berbagai tingkatan pendidikan.”

Berapa tahun tepatnya rencana ini akan terwujud? Ya, jika Indonesia memutuskan untuk menghilangkan tiga angka nol dari mata uangnya esok hari, maka periode awal perubahan akan membutuhkan waktu antara satu atau dua tahun. Kemudian dapat semakin panjang menjadi sekitar enam atau tujuh tahun bagi bisnis agar dapat menyesuaikan diri dengan langkah ini, dan bagi uang kertas rupiah yang lama untuk dapat benar-benar dihilangkan dari sirkulasi mata uang.

Redenominasi akan membuat mata uang menjadi lebih sederhana, baik bagi masyarakat lokal maupun turis

Redenominasi akan membuat mata uang menjadi lebih sederhana, baik bagi masyarakat lokal maupun turis. (Foto: Shutterstock/Artem Beliaikin)

Yang penting, langkah untuk melakukan redenominasi ini tidak akan mempengaruhi nilai mata uang rupiah. Hal ini hanya untuk membuat mata uang tersebut menjadi lebih sederhana, baik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung. Selain itu, hal ini juga memainkan peran penting dalam menambah kebanggaan nasional terhadap mata uang negaranya.

Walaupun banyak masyarakat Indonesia yang tidak harus menjelaskan banyaknya angka nol di uang kertas mereka kepada para turis, namun bagi beberapa pegawai yang melayani di garis depan seperti Indra Nugroho, yang bekerja di sebuah bank di Jakarta, rupiah telah menjadi masalah yang sangat menyebalkan: “Mata uang kami telah lama dijadikan bahan ejekan dan kami merasa malu.”

Pemerintah Indonesia Pertimbangkan Redenominasi Rupiah
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top