Sudan Selatan
Afrika

Pemerkosaan Massal Sudan Selatan: ‘Tak Ada yang Bisa Mendengarku’

Berita Internasional >> Pemerkosaan Massal Sudan Selatan: ‘Tak Ada yang Bisa Mendengarku’

Pemerkosaan telah digunakan secara luas sebagai senjata di Sudan Selatan. Doctors Without Borders mengumumkan bahwa 125 wanita dan anak gadis telah diperkosa, dicambuk, dan dipukuli selama 10 hari bulan November 2018 dalam lonjakan dramatis kekerasan seksual. Mereka diserang ketika mereka berjalan jauh menuju tempat distribusi makanan di Bentiu, negara bagian Unity.

Baca Juga: Pujian Afrika untuk Arab Saudi Tunjukkan Kemampuan Diplomatik Saudi

Oleh: Sam Mednick (AP News)

Menekuk lengan di sekitar perutnya, wanita muda dengan kepala lunglai itu menceritakan hari pada awal bulan November 2018 ketika dia dan seorang temannya diikat, diseret ke semak-semak, dan diperkosa oleh empat pria bersenjata.

“Tubuh saya tak pernah kembali seperti sediakala sejak saat itu,” kata gadis berusia 18 tahun itu. Orang-orang itu menyerang di tengah perjalanan pulang berjam-jam ke desa Nhialdiu, Sudan Selatan. “Saya menangis dan menjerit tetapi saya begitu jauh dari desa sehingga tidak ada yang dapat mendengar saya,” katanya kepada The Associated Press, yang tidak mengidentifikasi para penyintas kekerasan seksual.

Reaksi kaget dan marah muncul ketika badan amal medis Doctors Without Borders mengumumkan bahwa 125 wanita dan anak gadis telah diperkosa, dicambuk, dan dipukuli selama 10 hari bulan November 2018 dalam lonjakan dramatis kekerasan seksual.

“Mengerikan,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

Jumat, 7 Desember 2018, seorang wanita berusia 18 tahun duduk di sebuah rumah sakit di Nhialdu, Sudan Selatan, menceritakan hari di awal bulan November 2018 ketika dia dan seorang temannya diikat, diseret ke semak-semak, dan diperkosa oleh empat pria bersenjata. (Foto: AP Photo/Sam Mednick)

Mereka diserang ketika mereka berjalan jauh menuju tempat distribusi makanan di Bentiu, negara bagian Unity.

Dalam liputan eksklusif setelahnya, AP bergabung dengan patroli penjaga perdamaian PBB di mana serangan itu terjadi saat para humanitarian, kelompok hak asasi manusia, dan pemerintah Sudan Selatan bergegas mencari tahu lebih lanjut.

Pemerkosaan telah digunakan secara luas sebagai senjata di Sudan Selatan. Bahkan setelah kesepakatan damai ditandatangani pada bulan September 2018 untuk mengakhiri perang saudara selama lima tahun yang menewaskan hampir 400 ribu orang, kelompok humanitarian telah memperingatkan tingkat kekerasan seksual yang lebih tinggi ketika semakin banyak orang yang putus asa mencoba untuk mencapai bantuan. Sementara beberapa kelompok bantuan diam-diam mempertanyakan apakah 125 orang dalam laporan Doctors Without Borders memang diperkosa, mereka tidak membantah bahwa masalahnya kian serius.

Gadis berusia 18 tahun itu tidak termasuk dalam laporan itu, dan jumlah nyata korban kekerasan seksual masih belum diketahui.

Bergabung dengan patroli PBB pada hari Jumat (7/12), AP melakukan perjalanan di jalan berlubang di mana serangan baru-baru ini terjadi. Terselubung oleh pepohonan dan rumput gajah, beberapa bagian jalan memberikan perlindungan bagi para pelaku untuk mengintai. Beberapa wanita lokal mengatakan jumlah kekerasan tengah meningkat.

Nyalgwon Mol Moon mengatakan ditodong dengan senjata pada bulan November 2018 sementara dua pria berpakaian sipil dengan penutup wajah mencuri pakaian, sepatu, dan susu yang akan dijualnya di pasar. Berdiri di samping jalan, menunjuk ke sepatu kets pinjaman yang dipakainya, dia berkata dia sekarang mencoba untuk mengambil rute alternatif pada perjalanan mingguannya ke Bentiu.

Dia tidak punya pilihan lain. Makanan di Nhialdiu dan desa-desa di dekatnya masih langka. Kebanyakan orang tidak bisa memanen musim lalu karena perkelahian dan terlalu banyak hujan. Banyak orang yang bergantung pada bantuan bulanan dari Program Pangan Dunia PBB.

Baca Juga: Di Dalam ‘Neraka’ Tahanan Libya, Pengungsi Bakar Diri Hidup-hidup

Artinya, mereka harus berjalan hampir sejauh 40 kilometer ke kota Bentiu. Karena tidak dapat membawa ransum berat kembali dalam satu perjalanan, kebanyakan wanita meninggalkan beberapa bahan makanan di tempat kerabat mereka dan harus melakukan beberapa kali perjalanan sepanjang bulan. Beberapa orang mengatakan mereka melakukan perjalanan selama 11 jam setidaknya enam kali dalam sebulan.

Khawatir dengan serangan seksual, Program Pangan Dunia PBB mengatakan mereka siap untuk membawa titik distribusi lebih dekat ke masyarakat. PBB sekarang sedang membersihkan puing-puing jalanan dari Bentiu ke Nhialdiu untuk mempermudah akses.

Tidak ada siapapun yang mengaku bertanggung jawab atas gelombang penyerangan yang dituduhkan PBB dan Uni Afrika sebagai “menjijikkan” dan “predator.” Pemerintah Sudan Selatan telah mengakui serangan terjadi di daerah yang dikuasai, di jalan antara Nhialdiu dan Bentiu dan desa-desa sekitarnya.

Jumat, 7 Desember 2018, pasukan penjaga perdamaian PBB di sebuah kendaraan pengangkut personel lapis baja memimpin patroli dari Bentiu menuju desa Nhialdiu, sebagai bagian dari peningkatan patroli sejak peningkatan laporan serangan kekerasan di jalanan dekat Nhialdu di Sudan Selatan. (Foto: AP Photo/Sam Mednick)

Namun, pemerintah Sudan Selatan menyalahkan “pemuda yang tidak diatur” yang berjuang bersama faksi-faksi yang berseteru sebelum kesepakatan damai, tutur Laraka Machar Turoal, wakil gubernur negara bagian Liech Utara yang dulunya merupakan bagian dari Unity, kepada AP.

Para pemuda yang tidak pernah secara resmi terintegrasi dengan kelompok-kelompok bersenjata telah dibiarkan menganggur, memiliki senjata, dan dapat merampas apapun yang mereka inginkan dengan kekerasan, kata Turoal.

Pemerintah Sudan Selatan telah meminta semua pihak untuk mendemobilisasikan pemuda. Mereka mengatakan telah mengerahkan pasukan ke daerah-daerah di negara bagian Unity yang dicurigai menyembunyikan para penjahat.

Namun, tentara di Nhialdiu tidak menahan siapapun dalam serangan dan menyangkal tanggung jawab untuk menemukan para pelaku, kata John Dor, komandan tentara untuk daerah tersebut. Dia mengatakan mereka terjadi jauh dari kota, di luar yurisdiksinya.

Tetapi beberapa orang lokal mengatakan mereka tahu serangan di desa-desa terjadi kurang dari 15 kilometer dari pangkalan militer. Beberapa yang diserang di bawah todongan senjata mengatakan mereka percaya pemuda bersenjata berafiliasi dengan pasukan pemerintah. Pemerintah belum melakukan apapun sejauh ini untuk menghentikan kekerasan, menurut penuturan seorang perempuan.

PBB, yang telah meningkatkan patroli, mendorong pemerintah Sudan Selatan untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab. Dewan Keamanan PBB dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (8/12) mencatat kesediaannya untuk menjatuhkan sanksi kepada mereka yang mengancam perdamaian, termasuk dengan kekerasan seksual.

“Mereka harus memastikan bahwa semua orang terlindungi, tidak cukup hanya duduk di satu tempat dan tidak terlibat,” kata Paul Adejoh Ebikwo, pejabat urusan sipil senior misi PBB di Bentiu.

Negara bagian Unity adalah salah satu daerah yang paling terdampak dalam perang saudara, dan Bentiu telah berpindah tangan beberapa kali. Pemerintah dan kekuatan oposisi tetap bersitegang, bahkan ketika faksi di seluruh penjuru negara mencoba untuk berdamai.

Pertemuan pada hari Kamis (6/12) yang bertujuan membangun kepercayaan telah dibatalkan karena setiap pihak tidak dapat menyetujui tempat tertentu untuk bertemu, menurut kelompok pemantau independen yang ditugasi mengawasi pelaksanaan perjanjian perdamaian.

Sementara itu, banyak perempuan dan anak gadis yang ketakutan. Dengan hati-hati mengintip melalui pepohonan, beberapa dari mereka dengan ragu muncul dari semak-semak, beringsut menuju sisi jalan.

“Kami berjalan di sini karena kami merasa takut ke jalur utama,” kata Nyachieng Gatman. Tiga hari yang lalu, katanya, dia bertemu ibu menyusui dan gadis muda yang telah diperkosa di kota terdekat.

Berdiri di sampingnya, Sewan Dood, 11 tahun, menurunkan kantongnya yang berat dan minum dari sebotol air.

“Jarak pergi ke Bentiu dan pulang dari sana jauh,” kata gadis itu. “Tetapi kami melakukannya karena kami membutuhkan makanan dan kami tengah menderita.”

Keterangan foto utama: Jumat, 7 Desember 2018, para wanita dan anak gadis berjalan kembali setelah mendapatkan makanan di Bentiu, 38 kilometer perjalanan melalui semak-semak karena takut diserang di jalan utama, dekat Nhialdu di Sudan Selatan. (Foto: AP Photo/Sam Mednick)

Pemerkosaan Massal Sudan Selatan: ‘Tak Ada yang Bisa Mendengarku’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top