Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika
Amerika

Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika

Berita Internasional >> Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika

Amerika Serikat akan kembali melakukan penarikan pasukan secara drastis dari Timur Tengah. Kali ini tempat yang dijadikan opsi adalah Afghanistan, setelah pengumuman penarikan seluruh pasukan AS di Suriah. Jumlah pasti pasukan yang akan ditarik masih dipertimbangkan.

Oleh: Dan Lamothe dan Josh Dawsey (The Washington Post)

Baca Juga: Pentingnya Iran dan Pakistan bagi Afghanistan Setelah Penarikan Pasukan AS

Militer Amerika Serikat sedang menyusun rencana untuk menarik beberapa ribu pasukan dari Afghanistan sambil melanjutkan semua misi besar dalam perang terpanjang dalam sejarah Amerika. Pernyataan tersebut dilontarkan para pejabat AS tiga minggu setelah Presiden AS Donald Trump mencari opsi untuk penarikan pasukan yang lebih drastis.

Perencanaan sedang berlangsung setelah Trump memerintahkan Pentagon untuk mempersiapkan penarikan hingga setengah dari sekitar 14.000 tentara AS yang dikerahkan di Afghanistan, menurut enam pejabat. Para pejabat tersebut, yang bekerja di beberapa bagian pemerintahan, berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas diskusi.

Trump masih ingin mengeluarkan pasukan dari Afghanistan, pada akhirnya semuanya, tetapi penarikan saat ini mungkin akan jauh lebih sedikit dari 7.000 pasukan, kata dua pejabat senior Gedung Putih. Para penasihat militer telah meyakinkan Trump bahwa penarikan yang lebih kecil dan lebih lambat adalah yang terbaik untuk saat ini, meskipun para pejabat memperingatkan bahwa keputusan akhir belum tercapai dan bahwa presiden dapat memerintahkan penarikan penuh kapan saja.

“Percayalah, dia telah mendengar setiap argumen tentang Afghanistan yang bisa dia dengar,” kata seorang pejabat pemerintah, menambahkan bahwa presiden terus mengeluh bahwa banyak penasihatnya ingin dia tetap bertahan di “semua perang ini selamanya.”

Beberapa pejabat yang menggambarkan rencana itu ragu-ragu untuk menyebutkan angka tertentu, mengutip sifat diskusi yang masih terus berkembang. Tetapi beberapa pihak mengatakan bahwa pasukan yang ditarik mungkin sekitar setengah dari apa yang awalnya diinginkan Trump.

Hal itu akan menandai hampir satu kemunduran penuh dari peningkatan 3.900 pasukan yang disahkan Trump pada bulan Agustus 2017, setelah berbulan-bulan perdebatan internal dan advokasi yang kuat dari Menteri Pertahanan Jim Mattis, yang telah mengundurkan diri bulan Desember 2018. Hal itu juga akan menjadi simbol bahwa Trump serius untuk keluar dari perang, bahkan jika dia yakin untuk saat ini bahwa hal itu tidak mungkin.

“Presiden sangat frustasi tentang kemajuan kita di Afghanistan” kata Senator Lindsey O. Graham (Republikan, South Carolina), orang kepercayaan presiden. “Tetapi penarikan segera akan menjadi bencana yang tidak tanggung-tanggung karena Afghanistan adalah pusat gravitasi dalam perang melawan teror.”

Diskusi tentang Afghanistan dilakukan ketika Trump dan penasihatnya lebih terbuka membahas penarikan militer di Suriah, yang diperintahkan pada pekan yang sama ketika Trump meminta rencana penarikan untuk Afghanistan. Mattis mengundurkan diri sesudahnya, mengutip perbedaan pendapat dengan presiden. Trump awalnya mengatakan dia ingin semua 2.000 tentara keluar dari Suriah dalam waktu 30 hari, tetapi sejak itu mengatakan bahwa penarikan pasukan akan dilakukan secara bertahap.

Tetapi perang di Afghanistan, yang jauh lebih mahal dan melibatkan lebih banyak tantara, sebagian besar tidak diperhatikan. Dalam pengecualian yang jarang terjadi, Trump dengan kejam mencemooh hal itu selama pertemuan Kabinet tanggal 2 Januari 2019 dan berusaha mengaitkan kebuntuan militer di sana dengan Mattis.

“Apa yang telah dia lakukan untuk saya? Bagaimana dia melakukannya di Afghanistan? Tidak terlalu bagus. Tidak terlalu bagus,” kata Trump. “Saya tidak senang dengan apa yang dia lakukan di Afghanistan, dan saya seharusnya tidak bahagia.”

Pentagon hampir tidak bersuara tentang situasi tersebut sejak saat itu, karena berusaha untuk membuat perbedaan kecil antara meyakinkan sekutu AS dan mitra Afghanistan dengan tidak berargumen jelas di hadapan presiden.

Jenderal Marinir Joseph F. Dunford Jr., ketua Kepala Staf Gabungan, dan Jenderal Angkatan Darat Austin “Scott” Miller, komandan utama AS di Afghanistan, mengatakan akhir bulan Desember 2018 bahwa mereka tidak menerima perintah baru untuk perang. Tpejabat AS mengatakan pada hari Senin (7/1) bahwa situasinya akan tetap seperti itu.

Miller, berbicara dalam pertemuan yang disiarkan bulan Desember 2018 oleh stasiun televisi Afghanistan Tolo, berusaha meyakinkan warga Afghanistan bahwa bahkan jika ada penarikan sebagian pasukan, pasukan AS akan tetap bersama rekan-rekan Afghanistan mereka.

“Jika saya mendapatkan perintah, saya pikir penting bagi Anda untuk mengetahui bahwa kami masih bersama pasukan keamanan,” kata Miller. “Bahkan jika saya harus memiliki lebih sedikit pasukan, kita akan baik-baik saja. Kita telah memikirkan hal ini sebelumnya, dan kita akan dapat melakukan hal-hal yang Anda perlukan dalam hal dukungan.”

Laporan bulan Desember 2018 tentang rencana Trump untuk Afghanistan, dan komentar keras berikutnya tentang arah perang, memicu kekhawatiran di Afghanistan dan di antara para pejabat AS dan mantan pejabat AS. Para diplomat Amerika, yang dipimpin oleh utusan Zalmay Khalilzad, telah berusaha untuk menegosiasikan penyelesaian damai dengan Taliban, dan posisi mereka sebagian bergantung pada gagasan bahwa militer AS tidak akan pergi hingga kondisi di lapangan stabil.

Seorang juru bicara Pentagon, Kolonel Angkatan Darat Rob Manning, memberikan tanggapan untuk pertanyaan tentang di mana posisi militer saat ini mengenai rencana penarikan pasukan dari Afghanistan.

“Departemen Pertahanan tetap mendukung upaya rekonsiliasi Duta Besar Khalilzad di Afghanistan,” katanya.

Christopher D. Kolenda, seorang pensiunan kolonel Angkatan Darat yang terlibat dalam putaran-putaran perundingan damai sebelumnya dengan Taliban, mengatakan para pejabat AS sekarang mungkin mencoba untuk mengembalikan laporan-laporan tentang penarikan Afghanistan yang curam ke tempat semula, dengan mempertimbangkan kerugian yang dapat disebabkan dalam negosiasi. Penarikan pasukan, katanya, harus terjadi hanya setelah Taliban membuat janji dalam negosiasi dan menindaklanjuti beberapa aspek dari mereka.

“Penarikan pasukan sepihak hanya akan menghilangkan pengaruh dari negosiator kami,” kata Kolenda, yang sekarang memimpin Strategic Leaders Academy, sebuah perusahaan pengembangan kepemimpinan. “Saat Anda berada dalam negosiasi, kehilangan lebih banyak pengaruh Anda secara sukarela adalah malpraktik strategis.”

Erik Goepner, seorang pensiunan kolonel Angkatan Udara yang sekarang menjadi pakar di Cato Institute libertarian, mengatakan bahwa ia tetap mendukung penarikan pasukan dari Afghanistan, tetapi menyatakan bahwa perilaku Trump menunjukkan masalah kurangnya perhatian terhadap detil.

“Dalam lingkungan pertempuran, ketika Anda tidak peduli dengan detil, itu dapat menyebabkan hilangnya nyawa,” kata Goepner, yang memimpin unit di Afghanistan pada tahun 2010. “Setiap kali Anda pindah ke posisi akhir, dan dalam kasus ini, posisi akhirnya adalah mengurangi kekuatan kita, dan Anda tidak koheren dalam bagaimana Anda melakukan itu, Anda akan mendatangkan sejumlah besar risiko, meliputi nyawa orang-orang Amerika dan beberapa orang Afghanistan rekan perjuangan kita.”

Hari Senin (7/1) malam, Trump menyoroti upaya bertahan dalam konflik AS di luar negeri dalam sebuah tweet lain.

“Perang Tak Berujung, terutama yang diperjuangkan karena kesalahan penilaian yang dibuat bertahun-tahun yang lalu, dan perang di mana kita mendapatkan sedikit bantuan keuangan atau militer dari negara-negara kaya yang sangat diuntungkan dari apa yang kita lakukan, pada akhirnya akan berakhir dengan mulia!” tulisnya.

Baca Juga: Setelah Perang 17 Tahun, Amerika Diskusikan Penarikan Pasukan dari Afghanistan

Kontributor laporan: Anne Gearan dan Missy Ryan.

Dan Lamothe bergabung dengan The Washington Post pada tahun 2014 untuk meliput militer AS dan Pentagon. Dia telah menulis tentang Angkatan Bersenjata selama lebih dari satu dekade, melakukan perjalanan secara luas, mengikuti setiap layanan dan meliput pertempuran di Afghanistan beberapa kali.

Josh Dawsey adalah reporter Gedung Putih untuk The Washington Post. Dia bergabung pada tahun 2017. Dawsey sebelumnya meliput Gedung Putih untuk Politico serta Balai Kota New York dan Gubernur New Jersey Chris Christie untuk Wall Street Journal.

Keterangan foto utama: Pasukan Amerika Serikat berpatroli di pangkalan militer Afghanistan di provinsi Logar. Foto: (Reuters/Omar Sobhani)

Penarikan Pasukan di Afghanistan akan Gagalkan Rencana Militer Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top