Penembakan California
Amerika

Penembakan California: Pelaku Tewaskan 5 Orang dan Dirinya Sendiri

Pemandangan penembakan massal pada tanggal 12 September 2018 di Bakersfield, California, di mana seorang pria membunuh lima orang dan dirinya sendiri. (Foto: AFP/Getty Images/Mark Ralston)
Penembakan California: Pelaku Tewaskan 5 Orang dan Dirinya Sendiri

Penembakan California, AS, terjadi pada Rabu (12/9), di mana sang pelaku menewaskan lima orang dan dirinya sendiri. Enam orang kehilangan nyawa dalam waktu singkat dan belum diketahui motif penembakan itu. Amerika pun menjadi kurang peka dengan peristiwa ini, seiring banyaknya peristiwa penembakan yang telah terjadi sebelumnya. Penembakan ini tidak menarik perhatian, tidak mendapatkan banyak liputan media, dan tidak menjadi tren di media sosial atau penelusuran Google.

Baca juga: Penembakan California: Empat Tewas, Seorang Anak Terluka

Oleh: German Lopez (Vox)

Seorang penembak di Bakersfield, California, pada Rabu (12/9) melakukan apa yang disebut New York Times sebagai “pembunuhan massal di seluruh kota,” menewaskan lima orang, termasuk istrinya dan dirinya sendiri.

Polisi belum merilis lebih banyak rincian terkait penembakan California, termasuk identitas penembak dan korban, atau kemungkinan motifnya. “Jelas ada beberapa jenis situasi yang menyebabkan suami tersebut sangat kecewa,” kata Sheriff Kern County Donny Youngblood dalam sebuah konferensi pers. “Kami mencoba menemukan koneksi. Jelas ini bukan penembakan yang asal-asalan.”

Yang kami ketahui adalah bahwa tersangka dan istrinya memasuki bisnis angkutan truk, berhadapan dengan seorang lelaki, dan kemudian sang suami menembak lelaki itu dan istrinya sebelum mengamuk—termasuk membajak kendaraan dan mengemudi di jalan raya. Dia akhirnya dihentikan oleh wakil sheriff, dan dia menembak dan bunuh diri.

Youngblood mendeskripsikan peristiwa tersebut dalam istilah yang cukup suram: “Enam orang kehilangan nyawa dalam waktu yang sangat singkat. Ini adalah sesuatu yang baru yang dianggap normal.”

Itu benar. Sepertinya seminggu tidak bisa berlalu tanpa kita mendengar tentang peristiwa semacam ini di Amerika Serikat (AS). Menurut data dari Gun Violence Archive, pada tahun 2018 telah ada lebih dari 250 penembakan massal, yang didefinisikan sebagai peristiwa di mana empat orang atau lebih ditembak, tetapi tidak tewas dalam waktu dan tempat yang sama.

Orang-orang Amerika menjadi tidak peka terhadap peristiwa-peristiwa penembakan ini. Seperti pada Kamis (14/9), penembakan Bakersfield ini tidak menarik banyak perhatian—tidak mendapatkan banyak liputan media, dan itu tidak menjadi tren di media sosial atau penelusuran Google. Itu seperti hari biasanya di Amerika.

Amerika tidak peka terhadap kekerasan bersenjata, yang tidak dapat diterima di tempat lain

Ini tidak akan terjadi di negara lain. Tahun ini, misalnya, Australia mengalami penembakan massal di dekat Margaret River, Australia, di mana satu keluarga beranggotakan tujuh orang—termasuk empat anak—tewas.

Penembakan itu merupakan masalah besar—bukan hanya karena itu adalah salah satu penembakan massal yang jarang terjadi setelah Australia meloloskan undang-undang pengendalian senjata yang luas pada tahun 1990-an, tetapi karena kekerasan senjata pada umumnya jauh lebih jarang di negara-negara maju lainnya seperti Australia.

Untuk tujuan ini, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di JAMA menemukan bahwa AS adalah salah satu dari enam negara yang mencakup setengah dari kematian akibat senjata di seluruh dunia. Negara-negara lainnya adalah Brasil, Meksiko, Kolombia, Venezuela, dan Guatemala.

Tingkat kematian senjata AS sebesar 10,6 per 100.000 orang pada tahun 2016, lebih besar dari negara-negara maju yang sebanding: tingkat Swiss adalah 2,8, Kanada 2,1, Australia adalah 1, Jerman 0,9, Inggris 0,3, dan Jepang 0,2.

Amerika juga terasingkan jika bicara tentang penembakan massal. Menurut CNN, “AS mencakup kurang dari 5 persen dari populasi dunia, tetapi mencakup 31 persen dari penembak massal global.”

Dengan begitu banyak lagi kekerasan senjata, dan laporan-laporan rutin mengenai penembakan massal, peristiwa-peristiwa semacam ini telah mengambil bentuk yang berbeda di AS—insiden-insiden yang akan mengejutkan publik dan memicu dialog nasional di negara-negara lain, hanya akan datang dan pergi di Amerika, seringkali tidak mendapatkan perhatian sama sekali.

Coba lihat penembakan baru-baru ini di Jacksonville, Florida, dan Cincinnati. Masing-masing mendapat liputan berita pada hari terjadinya dan beberapa hari setelahnya. Tapi butuh waktu kurang dari seminggu untuk perhatian pemirsa dan pembaca akhirnya memudar.

Di sini, sebagai contoh, adalah data pencarian Google terkait penembakan Cincinnati pada tanggal 6 September, yang menunjukkan lonjakan perhatian awal, diikuti oleh penurunan yang sangat cepat– mendekati ke tingkat pencarian normal—pada hari-hari setelahnya:

Penembakan California: Pelaku Tewaskan 5 Orang dan Dirinya Sendiri

Grafik ini menunjukkan tren pencarian Google untuk “Penembakan Cincinnati” setelah penembakan massal pada Kamis, 6 September. (Grafik: Google Trends)

Inilah seperti apa memudarnya kepekaan terhadap kekerasan senjata massal. Di negara-negara maju lainnya, seorang pria yang pergi ke pusat bisnis di wilayah terbuka dan membunuh banyak orang—seperti yang terjadi di Cincinnati—akan menjadi tragedi yang mengerikan yang akan diliput dalam berita selama beberapa minggu dan berbulan-bulan. Di AS, orang-orang begitu terbiasa dengan peristiwa semacam ini sehingga mereka cepat mengalihkan perhatian.

Itu bukan karena Amerika benar-benar tidak berdaya menghadapi tragedi ini. Alasan negara maju lainnya memiliki lebih sedikit kekerasan senjata secara umum adalah, karena mereka memiliki undang-undang senjata yang lebih ketat dan senjata yang lebih sedikit. (Untuk referensi, AS memiliki 120,5 senjata per 100 orang pada tahun 2017—lebih banyak senjata daripada orang—sementara Kanada memiliki 34,7 per 100 orang, Jerman memiliki 19,6 per 100 orang, dan Australia memiliki 14,5 senjata per 100 orang, menurut Small Arms Survey.)

Baca juga: Trump: ‘Para Guru Harus Diberi Senjata untuk Cegah Penembakan di Sekolah’

Penelitian yang baik mendukung hubungan antara lebih banyak kontrol senjata dan lebih sedikit kematian senjata. Sebuah tinjauan tahun 2016 dari 130 penelitian di 10 negara—yang diterbitkan dalam Epidemiologic Reviews—menemukan bahwa pembatasan hukum baru untuk memiliki dan membeli senjata cenderung diikuti oleh penurunan kekerasan senjata—indikator kuat bahwa membatasi akses ke senjata api dapat menyelamatkan nyawa.

Ulasan tersebut menyarankan bahwa tidak ada satu kebijakan pun yang tampaknya memiliki dampak besar dengan sendirinya, tetapi sekumpulan pembatasan senjata dapat menghasilkan efek yang signifikan dari waktu ke waktu.

Demikian pula, kajian terbaru dari penelitian AS oleh RAND Corporation menemukan beberapa bukti bahwa undang-undang senjata ketat—seperti pemeriksaan latar belakang—mengurangi kematian dan cedera akibat senjata, sementara hukum pemberian izin senjata, seperti membawa senjata tersembunyi, meningkatkan kematian dan cedera akibat senjata.

Tetapi dalam lingkungan politik dan budaya di mana sulit untuk meloloskan hampir semua undang-undang kontrol senjata baru di tingkat federal, orang Amerika secara umum baru saja terbiasa dengan tragedi rutin ini—dan penembakan massal di mana enam orang meninggal sekarang adalah “sesuatu yang baru yang telah menjadi normal.”

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pemandangan penembakan massal pada tanggal 12 September 2018 di Bakersfield, California, di mana seorang pria membunuh lima orang dan dirinya sendiri. (Foto: AFP/Getty Images/Mark Ralston)

Penembakan California: Pelaku Tewaskan 5 Orang dan Dirinya Sendiri

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top