Penembakan di Pasar Natal
Eropa

Penembakan Pasar Natal Prancis: Polisi Berhasil Tangkap Pelaku

Tentara Prancis berjaga di Place Kleber, di pusat Strasbourg, pada Kamis (13/12). (Foto: AFP/Getty Images/Patrick Hertzog)
Berita Internasional >> Penembakan Pasar Natal Prancis: Polisi Berhasil Tangkap Pelaku

Polisi melaporkan telah berhasil menangkap pelaku penembakan di pasar Natal Prancis yang terjadi pada Selasa (11/12), dan menewaskan tiga orang dan melukai 13 orang lainnya. Lebih dari 700 petugas telah memburu tersangka, Cherif Chekatt (29 tahun), yang merupakan warga negara Prancis dan penduduk daerah Strasbourg dengan catatan kriminal yang panjang. ISIS mengklaim pelaku sebagai seorang “tentara” yang “melakukan operasi sebagai tanggapan atas panggilan untuk menargetkan masyarakat internasional.”

Baca juga: Penembakan di Tepi Barat, 7 Orang Terluka, 1 Bayi Lahir Prematur

Oleh: James McAuley (The Washington Post)

Setelah perburuan selama dua hari yang diperluas dari Prancis timur hingga ke Jerman, polisi Prancis mengumumkan pada Kamis (13/12) malam, bahwa perburuan telah berakhir dan mereka telah menangkap pelakunya.

Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner, melaporkan bahwa polisi di Strasbourg telah “melumpuhkan” seseorang yang cocok dengan deskripsi tersangka, dalam serangan pada Selasa (11/12) di pasar Natal.

Castaner tidak mengkonfirmasi bahwa orang yang ditangkap adalah Cherif Chekatt (29 tahun), yang diduga membunuh tiga orang dan melukai 13 orang lainnya di pasar Natal, yang terbesar di Prancis.

Tetapi seorang pejabat di kantor kejaksaan Paris—yang mengawasi investigasi teroris di Prancis—mengatakan kepada surat kabar Prancis Le Monde, bahwa pelaku itu adalah Chekatt dan bahwa dia telah dibunuh.

Wali Kota Strasbourg Roland Ries mengatakan di tweet-nya bahwa, “kami mengetahui bahwa teroris yang menyerang kota kami meninggal selama upaya penangkapan malam ini di distrik Neudorf.”

Itu adalah lingkungan yang sama tempat di mana Chekatt dilaporkan telah diturunkan pada Selasa (11/12) malam, oleh taksi yang dimintanya untuk pergi dari pusat kota.

Badan Berita Amaq milik ISIS mengklaim penyerang Strasbourg sebagai seorang “tentara” yang “melakukan operasi sebagai tanggapan atas panggilan untuk menargetkan masyarakat internasional.” Kelompok ini secara teratur mengklaim afiliasi dengan individu yang mungkin terinspirasi oleh pesan ISIS, tetapi melakukan serangan atas inisiatif mereka sendiri dan tidak memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok teroris tersebut.

Lebih dari 700 petugas telah memburu tersangka, yang merupakan warga negara Prancis dan penduduk daerah Strasbourg dengan catatan kriminal yang panjang.

Peningkatan pemeriksaan keamanan di perbatasan antara Prancis dan Jerman menghasilkan antrean Panjang pada Kamis (13/12) bagi mereka yang bepergian di antara kedua negara.

Dalam iklim politik yang ditentukan oleh keresahan sosial dan protes berkelanjutan terhadap kebijakan ekonomi Presiden Emmanuel Macron, serangan Strasbourg sangat mengejutkan, dan mengingatkan pada kekerasan teroris yang dihadapi Prancis dalam beberapa tahun terakhir dan ancaman yang hampir tidak pernah lenyap, bahkan ketika serangan mengalami penurunan frekuensi.

“Ancaman teroris masih menjadi inti dari kehidupan negara kita,” kata Macron dalam komentar yang dilaporkan oleh juru bicara pemerintah Benjamin Griveaux.

Pada Kamis (13/12), suasana yang meresahkan menyelimuti kota Prancis-Jerman ini—kota yang terkenal akan kesibukannya dan kegembiraan musimannya.

Untuk beberapa orang di sini, apa yang terjadi pada Selasa (11/12) malam hampir tak terelakkan. Hanya masalah waktu, kata mereka, sebelum Strasbourg mengalami kekerasan seperti yang meletus di tempat lain di Prancis sejak tahun 2015—serangan besar-besaran di Paris dan Nice, dan yang lebih kecil di kota-kota seperti Saint-Etienne-du-Rouvray, di mana seorang simpatisan ISIS memotong leher seorang pendeta desa pada bulan Juli 2016.

“Saya baru beberapa hari yang lalu berbicara dengan seorang penjaga toko,” kata Élisabeth Kneib (55 tahun), yang pindah ke Strasbourg dua tahun lalu. Dia berdiri di lokasi peringatan di Rue des Orfevres—salah satu tempat penyerangan. “Kami mengatakan bahwa, kami hampir menunggu sesuatu.”

Polisi mencari tersangka di lingkungan Neudorf di Strasbourg pada Kamis (13/12). (Foto: EPA-EFE/Shutterstock/Ronald Wittek)

Pasar Natal itu menjadi sasaran dalam paling tidak dua serangan yang gagal, oleh pelaku yang terkait dengan al-Qaeda pada tahun 2000 dan pelaku yang berafiliasi dengan ISIS pada tahun 2016.

Wilayah sekitarnya, Alsace, adalah rumah bagi sejumlah besar orang-orang yang berada dalam daftar “Fichier S”—sebuah basis data pemerintah yang berisi individu-individu yang dianggap menjadi ancaman bagi keamanan nasional.

Jaksa penuntut Paris, Rémy Heitz, menegaskan bahwa Chekatt berada dalam daftar itu. Dia juga mencatat bahwa tersangka memiliki 27 dakwaan pidana di Prancis, Jerman, dan Swiss.

Terdapat sekitar 25.000 nama di Fichier S. Nama-nama tersebut ditinjau dan diperbarui setiap tahun, dan orang-orang tidak diberitahu bahwa mereka ada dalam daftar. Meskipun sejumlah kegiatan politik dapat membuat orang dimasukkan ke dalam daftar Fichier S, namun dalam beberapa tahun terakhir ini telah dianggap sebagai berkas orang-orang yang berpotensi menjadi teroris.

Seorang pejabat senior Jerman—yang berbicara dalam kondisi anonimitas untuk membahas informasi sensitif ini—mengatakan bahwa Chekatt “tampaknya meradikalisasi diri pada tahun 2011 selama masa penjara di Prancis.” Pejabat itu tidak tahu mengapa Chekatt berada di penjara pada saat itu.

Chekatt juga berada dalam tahanan Jerman pada tahun 2016 di kota Konstanz dan di penjara Freiburg hingga bulan Februari 2017, dua kali karena pencurian, kata pejabat itu. Chekatt kemudian diekstradisi ke Prancis.

Otoritas Prancis telah lama berjanji untuk merombak penjara sebagai bagian dari upaya untuk memerangi ekstremisme di kalangan narapidana. Sejumlah besar orang di balik serangan baru-baru ini diduga telah menjadi radikal di penjara Prancis.

“Tidak ada yang memiliki rumus ajaib untuk ‘deradikalisasi,’ seolah-olah Anda menghapus perangkat lunak berbahaya,” kata Perdana Menteri Perancis Édouard Philippe pada bulan Februari. “Tetapi di Prancis dan di tempat lain, ada pendekatan yang baik untuk mencegah dan melepaskan diri.”

Pemerintah telah mendesak dibuatnya ruang terpisah di penjara untuk para narapidana “radikal”.

Masalah selanjutnya, kata para analis keamanan, adalah bahwa hanya sedikit yang bisa dilakukan untuk menghentikan individu dari melakukan serangan skala kecil dengan anggaran rendah seperti penembakan Strasbourg.

Baca juga: Penembakan ‘Black Friday’ di Amerika, 1 Orang Tewas

Pada bulan Maret, seorang pria bersenjata yang merupakan warga Prancis keturunan Maroko berusia 25 tahun, menewaskan empat orang, termasuk seorang perwira polisi, dalam sebuah penyanderaan di supermarket di bagian barat daya Prancis.

“Ada perasaan tak terelakkan,” kata François Heisbourg, mantan penasihat presiden untuk keamanan nasional dan Presiden Institut Internasional untuk Studi Strategis.

Pejabat Kementerian Dalam Negeri Laurent Nunez, mengatakan bahwa polisi pergi ke rumah Chekatt di Strasbourg, pada pagi hari sebelum serangan itu, untuk menangkapnya dalam kasus percobaan pembunuhan. Dia tidak ada di sana. Pencarian itu berhasil mengumpulkan granat, senapan, amunisi, dan pisau.

Beberapa jam kemudian, pihak berwenang mengatakan, Chekatt melepaskan tembakan ke pasar Natal.

Pasar itu dijadwalkan akan dibuka kembali pada Jumat (14/12).

Souad Mekhennet di Washington berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Tentara Prancis berjaga di Place Kleber, di pusat Strasbourg, pada Kamis (13/12). (Foto: AFP/Getty Images/Patrick Hertzog)

Penembakan Pasar Natal Prancis: Polisi Berhasil Tangkap Pelaku

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top