Gereja di China
Asia

Penggerebekan Gereja China Jelang Natal Timbulkan Keresahan

Berita Internasional >> Penggerebekan Gereja China Jelang Natal Timbulkan Keresahan

Lonjakan penggerebekan oleh polisi baru-baru ini terhadap gereja-gereja di China, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah semakin keras terhadap aktivitas Kristen yang tidak disetujui. China secara resmi atheis, meskipun mengatakan bahwa negara itu memungkinkan kebebasan beragama. Para saksi mengatakan bahwa mereka menyatakan gereja itu sebagai pertemuan ilegal, menyita Alkitab dan materi lainnya, dan menutup pintu.

Baca juga: China Larang Gereja Protestan Besar Tidak Resmi di Beijing

Oleh: BBC

Salah satu yang ditangkap adalah seorang pendeta terkemuka dan istrinya, dari Early Rain Covenant Church di Sichuan. Keduanya telah dituduh melakukan pemberontakan terhadap negara.

Dan pada Sabtu (15/12) pagi, puluhan polisi menyerbu kelas Alkitab anak-anak di Gereja Rongguili di Guangzhou.

China secara resmi atheis, meskipun mengatakan bahwa negara itu memungkinkan kebebasan beragama.

Tetapi China telah bertahun-tahun berulangkali mengambil tindakan terhadap para pemimpin agama yang dianggap mengancam otoritas atau stabilitas negara, yang menurut Human Rights Watch, “mengejek klaim pemerintah bahwa China menghormati keyakinan agama”.

Pemerintah menekan umat Kristen untuk bergabung dengan salah satu gereja-gereja Three-Self Patriotic—badan-badan yang disetujui negara yang sejalan dengan Partai Komunis dan dipimpin oleh para pendeta yang disetujui.

Membungkam seorang kritikus

Meskipun demikian, populasi Kristen telah tumbuh dengan mantap dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang terdapat sekitar 100 juta umat Kristen di China, banyak dari mereka beribadah di gereja-gereja bawah tanah.

Wang Yi adalah pemimpin salah satu gereja semacam itu, Early Rain Covenant Church di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan barat daya.

Early Rain Covenant Church telah mengunggah gambar di Facebook yang menunjukkan pertemuan doa publik mereka. (Foto: Facebook/Early Rain Covenant Church)

Gereja tersebut tidak biasa karena gereja ini secara terbuka dan teratur mengunggah materi injil secara online. Gereja itu mengatakan memiliki sekitar 800 pengikut yang tersebar di seluruh kota. Gereja ini juga mengelola sebuah sekolah kecil.

Pastor Wang juga dikenal sebagai orang yang blak-blakan—dia telah sangat kritis terhadap kontrol agama oleh pemerintah dan telah mengorganisasi petisi yang tersebar luas dalam melawan undang-undang baru yang dibawa tahun ini, yang memungkinkan pengawasan ketat terhadap gereja-gereja dan sanksi yang lebih keras terhadap mereka yang dianggap telah melanggar batas.

Pada tanggal 9 Desember, polisi menggerebek gereja dan menangkap Pastor Wang dan istrinya Jiang Rong. Selama dua hari berikutnya, setidaknya 100 anggota gereja—termasuk asisten Wang—dibawa pergi.

Salah satu anggota gereja—yang meminta untuk tidak diidentifikasi karena takut akan pembalasan—mengatakan kepada BBC bahwa kunci di sekolah gereja telah dirusak, rumah-rumah para gerejawan telah digeledah, dan beberapa di antaranya “menjadi tahanan rumah atau diikuti sepanjang waktu.”

Gereja itu mengunggah gambar-gambar yang dikatakan menunjukkan cedera yang ditimbulkan selama penahanan polisi. (Foto: Facebook/Early Rain Covenant Church)

Dia mengatakan bahwa polisi dan pejabat lainnya telah pergi ke rumah-rumah jemaah untuk menekan mereka agar menandatangani dokumen yang berjanji untuk meninggalkan gereja dan membawa anak-anak mereka keluar dari sekolahnya.

“Pada Minggu (16/12), beberapa anggota berusaha berkumpul di tempat lain untuk beribadah, tetapi juga dibawa pergi. Bangunan Gereja itu telah dijaga oleh polisi dan petugas pakaian biasa, dan tidak mengizinkan siapa pun masuk untuk melakukan kebaktian.”

Gereja itu menuduh bahwa beberapa dari mereka yang ditahan dan kemudian dibebaskan, dianiaya dalam tahanan.

Empat puluh delapan jam setelah Pastor Wang ditangkap, Early Rain Covenant Church merilis sepucuk surat dari Pastor Wang, yang telah dia tulis sebelumnya untuk dirilis jika sesuatu seperti ini terjadi padanya.

Dalam surat itu, dia mengatakan bahwa dia menghormati otoritas China dan “tidak tertarik mengubah institusi politik atau hukum apa pun di China”.

Namun dia mengatakan bahwa dia “dipenuhi dengan amarah dan rasa jijik terhadap penganiayaan gereja oleh rezim Komunis ini.”

“Sebagai seorang pendeta dari gereja Kristen, saya harus mengutuk kejahatan ini secara terbuka dan secara kuat. Panggilan yang telah saya terima mengharuskan saya untuk menggunakan metode tanpa kekerasan untuk melanggar hukum-hukum manusia yang tidak taat pada Alkitab dan Tuhan,” katanya.

Pastor Wang dan istrinya—yang memiliki seorang putra berusia 11 tahun—telah dituduh menghasut pemberontakan terhadap kekuasaan negara, yang merupakan salah satu kejahatan paling serius terhadap negara dan dakwaan yang sering digunakan untuk membungkam para pembangkang. Ini menimbulkan kemungkinan hukuman penjara 15 tahun. Beberapa anggota senior gereja menghadapi tuduhan serupa.

Jin Mingri menolak tekanan pemerintah untuk memasang kamera pemantauan di Gereja Sion di Beijing. (Foto: Getty Images)

Di seluruh negeri di Guangzhou, pintu-pintu juga telah disegel di Gereja Rongguili, sebuah komunitas lain yang tidak disetujui.

Pada Sabtu (15/12), kelas Alkitab anak-anak terganggu oleh kedatangan puluhan petugas polisi.

Para saksi mengatakan bahwa mereka menyatakan gereja itu sebagai pertemuan ilegal, menyita Alkitab dan materi lainnya, dan menutup pintu.

Petugas mencatat nama-nama dan alamat, dan memerintahkan semua orang yang hadir untuk menyerahkan telepon mereka.

Pada bulan September, Gereja Sion—salah satu gereja tidak resmi terbesar di Beijing—tiba-tiba ditutup. Gereja itu baru-baru ini menolak permintaan dari pemerintah untuk memasang kamera keamanan untuk memantau kegiatannya.

“Saya khawatir tidak ada cara bagi kami untuk menyelesaikan masalah ini dengan pihak berwenang,” kata Pastor Jin Mingri kepada kantor berita Reuters pada saat itu.

Ada juga serangkaian pembongkaran gereja, pemindahan paksa salib, atau penangkapan lainnya sepanjang tahun.

Human Rights Watch mengatakan bahwa penggerebekan di Early Rain dan di Gereja Rongguili adalah tanda lebih lanjut bahwa di bawah Presiden Xi Jinping, China berusaha untuk memperketat kontrol atas semua aspek masyarakat.

China ingin umat Kristennya beribadah di gereja-gereja yang didukung oleh negara dan diawasi secara ketat. (Foto: Getty Images)

“Seiring hari libur besar di berbagai belahan dunia—Natal dan Tahun Baru—semakin dekat, kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk terus memperhatikan situasi gereja-gereja independen China dan bersuara menentang penindasan oleh pemerintah China,” kata peneliti dari kelompok tersebut yang berbasis di Hong Kong, Yaqiu Wang.

Anggota Early Rain yang tidak ingin diidentifikasi mengatakan, bahwa gagasan dari gereja-gereja Three-Self Patriotic sangat “lucu”, dan mengatakan bahwa mereka “tidak menyebarkan Injil yang asli, tetapi menyebarkan pikiran untuk mencintai Partai, mencintai negara”.

Karena gereja mereka ditutup, anggota Early Rain beribadah di luar rumah pada hari Minggu lalu. (Foto: Early Rain)

Seorang umat Kristen lainnya di Chengdu mengatakan kepada BBC, bahwa gereja-gereja itu “menentang Yesus, melawan Injil”.

Dia menggambarkan skala operasi melawan Early Rain sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sebelumnya”, tetapi mengatakan bahwa yang lebih buruk akan terjadi, dan menambahkan: “Saya sangat beruntung mereka belum menemukan saya.”

Baca juga: Nasionalisme Agresif di Balik Lonjakan Penindasan Agama

Komunitas Early Rain akan bertahan hidup, katanya, tetapi sekarang akan beraktivitas di bawah tanah.

“Kami akan melanjutkan pertemuan. Gereja ditutup sehingga tidak mungkin mengadakan pertemuan besar, tetapi akan ada pertemuan kecil pada hari Minggu dan pada Hari Natal.”

Pada akhirnya, katanya, penindasan bahkan mungkin meningkatkan keyakinan di China.

“Tanpa penindasan, orang-orang mungkin meragukan agama kami. Tetapi ketika penindasan terjadi, reaksi para pendeta dan anggota akan membuat orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus menyadari pesona Kekristenan.”

Keterangan foto utama: Wang Yi adalah pemimpin yang blak-blakan dari gereja tidak resmi yang berpengaruh. (Foto: Facebook/Early Rain)

Penggerebekan Gereja China Jelang Natal Timbulkan Keresahan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top