Perang Dingin
Timur Tengah

Pengorbanan Rakyat Afghanistan yang Terlupakan pada Perang Dingin

Pasukan Soviet di Afghanistan. (Foto: Arsip Pemerintah Afghanistan)
Berita Internasional >> Pengorbanan Rakyat Afghanistan yang Terlupakan pada Perang Dingin

Pengorbanan rakyat Afghanistan pada masa Perang Dingin tampaknya telah dilupakan oleh dunia saat ini. Sangat mungkin bahwa rakyat Afghanistan bisa sejak lama membangun negara yang makmur, jika negara itu tidak menjadi arena konfrontasi Perang Dingin. Hilangnya nyawa dan pemindahan warga sipil yang luar biasa di Afghanistan—2 juta orang tewas, antara 4 hingga 6 juta terluka, dan jutaan lainnya menjadi pengungsi—di masa lalu tampaknya benar-benar dilupakan oleh banyak orang di Barat.

Baca juga: Perang Dingin Baru Telah Dimulai

Oleh: M. Ashraf Haidari (The Diplomat)

Pada awal Mei 1992, para pejuang Mujahidin memasuki Kabul, mengajukan klaim ke ibu kota Afghanistan setelah jatuhnya rezim komunis. Pada saat itu, kota itu belum rusak parah oleh peperangan dan pendudukan Soviet. Dua puluh tujuh tahun sejak itu tidak terlalu baik untuk Kabul.

Satu alasan mengapa tidak ada yang bisa menghentikan siklus kekerasan Afghanistan adalah karena kepentingan politik regional dan internasional, selama 40 tahun terakhir, melampaui kepentingan terbaik rakyat Afghanistan.

Menempatkan rakyat Afghanistan di tengah-tengah perdebatan yang sedang berlangsung tentang cara terbaik untuk memerangi ekstremisme dan terorisme, harus menjadi kunci keberhasilan dalam upaya internasional untuk menstabilkan Afghanistan dan memenangkan perdamaian di sana. Sayangnya, kekhawatiran rakyat jarang menjadi bahan diskusi tentang Afghanistan di masa lalu, saat ini, dan masa depan.

Kewajiban moral untuk membantu warga Afghanistan dalam membangun negara yang kuat dan masa depan yang aman, tampaknya menjadi pertimbangan sekunder bagi kekuatan asing ketika mereka berusaha untuk membela kepentingan keamanan nasional mereka di Afghanistan.

Sangat mungkin bahwa rakyat Afghanistan bisa sejak lama membangun negara yang berfungsi, bahkan makmur, jika negara itu tidak menjadi arena konfrontasi Perang Dingin antara bekas Uni Soviet dan Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Tidak hanya itu, kemungkinan juga tragedi teroris 11 September tidak akan pernah terjadi.

Pasukan Pengamanan Publik Afghan (APPF) yang ditugaskan untuk mengatasi perihal keamanan di Afghanistan (Foto: AFP)

Rakyat Afghanistan melakukan pengorbanan ekstrem selama tahun 1980-an atas nama apa yang kemudian dianggap sebagai “Dunia Bebas.” Ini mengecewakan, bahwa pengorbanan era Perang Dingin itu hampir tidak diingat atau diakui di beberapa negara NATO saat ini. Hilangnya nyawa dan pemindahan warga sipil yang luar biasa di Afghanistan—2 juta orang tewas, antara 4 hingga 6 juta terluka, dan jutaan lainnya menjadi pengungsi—selama masa lalu tampaknya benar-benar dilupakan oleh banyak orang di Barat.

Poin ini dibantah dengan menyakitkan ketika, pada pertemuan kabinet pada tanggal 2 Januari, Presiden AS Donald Trump menekankan: “Alasan Rusia berada di Afghanistan adalah karena teroris pergi ke Rusia. Mereka benar untuk berada di sana.”

Baca juga: Bom Hiroshima: Akhiri Perang Dunia II, Awali Perang Dingin

Terlebih lagi, begitu tentara Soviet meninggalkan Afghanistan pada tahun 1989, minat Barat terhadap negara itu menguap. Akibatnya, rekonstruksi sepenuhnya diabaikan saat itu. Jadi, mudah untuk melihat mengapa rakyat Afghanistan waspada terhadap motif internasional dalam fase terakhir perang 40 tahun Afghanistan ini. Mereka semakin percaya bahwa keterlibatan internasional hampir bukan tentang mereka, tentang hak-hak mereka, tentang harapan mereka yang sangat mendasar untuk perdamaian dan keadilan, atau tentang permintaan mereka yang besar akan pelembagaan perdamaian dan demokrasi di Afghanistan.

Seiring mereka mendengarkan setiap hari pernyataan resmi dari mitra asing kami, rakyat Afghanistan mungkin mulai percaya bahwa keterlibatan internasional di Afghanistan lebih tentang keamanan nasional atau kepentingan geostrategis dari negara-negara yang terlibat. Kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling bertentangan ini—rakyat Afghanistan mungkin berpikir—tampaknya menentukan apa yang harus atau bisa dilakukan, atau apa yang tidak boleh atau tidak bisa dilakukan, untuk menstabilkan dan membangun kembali negara tersebut.

Meskipun waspada, rakyat Afghanistan tidak kehilangan harapan pada pasangan mereka, atau pada masa depan negara mereka. Sebuah survei Asia Foundation terhadap rakyat Afghanistan, yang dirilis pada tahun 2018, menegaskan bahwa suasana optimisme dan rasa persatuan yang meluas ada di antara rakyat Afghanistan: “Lebih dari setengah rakyat Afghanistan yang disurvei (59,6 persen) melaporkan bahwa Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) melakukan pekerjaan dengan baik. Persepsi pemerintah provinsi juga meningkat, dengan 61,3 persen melaporkan kinerja mereka sebagai ‘sangat baik’ atau ‘agak baik,’ naik dari 56,9 persen pada tahun 2017.”

Agar upaya pembangunan negara untuk Afghanistan berhasil dalam jangka panjang, itu haruslah yang berpusat pada Afghanistan dan dipimpin oleh Afghanistan. Dengan kata lain, upaya pembangunan perdamaian internasional selanjutnya harus digerakkan oleh tangan Afghanistan, dan tidak hanya memiliki “wajah Afghanistan.”

Tanpa membangun perdamaian oleh dan untuk kepentingan Afghanistan, drama saat ini kemungkinan besar akan berubah menjadi tragedi lagi, tidak hanya untuk Afghanistan, tetapi untuk mitra-bangsa juga.

Ashraf Haidari adalah Duta Besar Afghanistan untuk Sri Lanka.

Keterangan foto utama: Pasukan Soviet di Afghanistan. (Foto: Arsip Pemerintah Afghanistan)

Pengorbanan Rakyat Afghanistan yang Terlupakan pada Perang Dingin

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top