Penangkapan Ikan Ilegal di Ghana
Afrika

Perairan Dikuasai China, Ghana Hanya Peroleh 5% Keuntungan

Berita Internasional >> Perairan Dikuasai China, Ghana Hanya Peroleh 5% Keuntungan

Ghana hanya mendapat 5 persen dari keuntungan yang didapat nelayan China di perairannya. Dari sekitar 76 kapal pukat yang beroperasi di perairan Ghana, hanya satu yang sepenuhnya dimiliki oleh orang Ghana. Padahal, undang-undang Ghana sebenarnya tidak mengizinkan kapal asing untuk menangkap ikan di perairan mereka.

Oleh: Business Ghana

Menurut Profesor Wisdom Akpalu dari AFAERE (Natural Resource Economist and President of the African Association of Environmental and Resource Economists), undang-undang Ghana tidak mengizinkan kapal asing untuk menangkap ikan di perairannya, sehingga China membeli kapal dan membawa beberapa orang Ghana untuk melakukan fronting untuk mereka.

Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Graphic Online setelah kuliah umum tentang Perdagangan Gelap atas Sumber Daya Kelautan Afrika Barat, yang diselenggarakan oleh Universitas PBB-Institut Dunia untuk Penelitian Ekonomi Pembangunan (UNU-WIDER/United Nations University-World Institute for Development Economics Research) pada hari Jumat (18/1), Profesor Akpalu mengatakan bahwa meskipun semua 76 kapal pukat terdaftar atas nama Ghana, mereka sebenarnya dimiliki oleh orang-orang China.

“Kita tahu pasti bahwa orang-orang Ghana hanya melakukan fronting untuk China. Jadi, mereka masuk ke semacam perjanjian pembelian tinggi. Orang China mendapatkan kapal di sini, mendaftarkannya atas nama Ghana dan mengibarkannya dengan bendera Ghana,” jelasnya.

Baca Juga: Opini: Mengapa Afrika Mencintai China

Sekelompok peserta kuliah umum dalam foto kelompok setelah perkuliahan.

Profesor Akpalu menambahkan bahwa “pada kenyataannya, pemiliknya adalah orang China. Jadi pada akhirnya, kepentingan kapal-kapal pukat ini dikelola oleh orang-orang asing yang adalah orang China, sedangkan orang Ghana yang melakukan fronting untuk mereka hanya menerima jumlah yang sangat sedikit sekitar US$ 1.000 dan beberapa tangkapan sampingan (by-catch).”

Dia menjelaskan bahwa pendapatan yang diperoleh oleh warga Ghana yang melakukan fronting untuk kapal pukat China hanya sekitar lima persen dari yang didapat orang China. Menurut Profesor Akpalu, “karena mereka yang mendapatkan keuntungan nyata bukan warga Ghana, mereka tidak peduli dengan keberlanjutan industri” dan mencatat bahwa “bagi mereka (kepentingan asing), mereka hanya ingin mendapatkan sebanyak mungkin.”

Menurutnya, kapal pukat mengambil terlalu banyak ikan dari laut daripada yang seharusnya mereka bawa, dengan mengatakan “Untuk setiap sumber daya terbarukan, jika laju ekstraksi yang Anda lakukan melebihi tingkat di mana sumber daya mengisi sendiri, seiring waktu stoknya akan menurun dan setiap kapal akan mendapatkan tangkapan yang lebih sedikit.”

Dia mengatakan volume tangkapan ikan di Ghana terus menurun, menekankan bahwa “seperti saat ini, kita mengimpor sekitar 58 hingga 59 persen ikan yang kita konsumsi di Ghana.”

Profesor Akpalu mengatakan bahwa Ghana hanya mampu memproduksi secara lokal sekitar 41 hingga 42 persen dari kebutuhan ikannya, dari sumber darat maupun laut. Menurutnya, beberapa politisi adalah biang keladi dalam hal warga Ghana yang melakukan fronting untuk kapal pukat China.

“Di balik setiap kapal pukat terdapat beberapa kekuatan politik. Jika Anda menangkap pukat yang melakukan kegiatan ilegal atau terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan ilegal, mereka tidak akan pernah dituntut,” jelasnya.

Profesor Akpalu mengatakan bahwa mereka yang dipercayakan dengan tugas untuk memantau sektor perikanan tidak dapat melakukannya karena operasi mereka dipersulit oleh para politisi di balik kapal pukat.

Penangkapan ikan berlebih

Profesor Akpalu menjelaskan bahwa Ghana telah kehilangan sekitar US$ 200 juta dalam lima tahun terakhir karena penangkapan ikan berlebih. Menurutnya, ancaman penangkapan ikan yang berlebihan di Ghana telah sangat endemik. Dia meratapi masalah kapitalisasi berlebihan (overcapitalization), mencatat bahwa telah Ghana kehilangan banyak uang karena menipisnya stok. Dia mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi industri perikanan di Ghana adalah kurangnya kemauan politik dan menambahkan bahwa masalah yang dihadapi industri sudah diketahui.

Profesor Akpalu juga memperingatkan pemerintah untuk berhenti menyubsidi bahan bakar premix. Professor mengatakan bahwa praktik ini berkontribusi pada menipisnya stok. Alih-alih subsidi, professor lebih memilih menyerukan penegakan hukum penangkapan ikan untuk membantu menghilangkan praktik ilegal dari sektor ini.

Baca Juga: Afrika Khawatir Aliran Investasi China akan Surut

Kuliah umum

Kuliah umum yang diselenggarakan oleh Universitas PBB-Institut Dunia untuk Penelitian Ekonomi Pembangunan (UNU-WIDER/United Nations University-World Institute for Development Economics Research) dengan tema: “Perdagangan Ilegal Sumber Daya Kelautan Afrika Barat,” dipresentasikan oleh Profesor Rashid Sumaila, Direktur Ekonomi dan Manajemen Perikanan, Universitas British Columbia. Kuliah itu didukung oleh UNU-Institut untuk Sumber Daya Alam di Afrika (UNU-INRA/UNU-Institute for Natural Resources in Africa) dan Departemen Ekonomi, Universitas Ghana.

Presentasi Profesor Sumaila meneliti secara kuantitatif dan kualitatif terhadap biaya ekonomi dan sosial dari perdagangan gelap sumber daya kelautan di Afrika Barat, serta saluran dan skala perdagangan gelap ikan dan produk ikan. Profesor Sumaila juga mengeksplorasi kerugian ekonomi dan dampak dari perdagangan gelap dan opsi kebijakan untuk menghentikan praktik tersebut.

Keterangan foto utama: Ghana hanya mendapatkan lima persen dari keuntungan penangkapan ikan di perairan mereka yang kini dikuasai China. (Foto: Business Ghana)

 

Perairan Dikuasai China, Ghana Hanya Peroleh 5% Keuntungan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top