Indonesia Bakal Ajukan Masalah Krisis Rohingya di Pertemuan ASEAN
Berita Politik Indonesia

Peran Indonesia dalam Menyelesaikan Perang dan Damai di Afghanistan

Home » Berita Politik Indonesia » Peran Indonesia dalam Menyelesaikan Perang dan Damai di Afghanistan

Indonesia sebelumnya mengajukan dibentuknya komite ulama tiga negara, yang diharapkan dapat menjadi sebuah mekanisme efektif untuk mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Dalam artikel ini, kita akan membahas apakah komite tiga negara ini akan berhasil mewujudkan perdamaian di Afghanistan, akankah ini menjadi mekanisme yang efektif, dan dapatkah Indonesia membuktikan keefektifan dan kegunaannya dalam menyelesaikan masalah regional saat ini?

Oleh: The Kabul Times

Presiden Indonesia telah merekomendasikan agar komite ulama tiga negara dibentuk dalam upaya untuk menyelesaikan konflik Afghanistan.

Presiden Indonesia Joko Widodo, beberapa hari yang lalu saat berkunjung ke Pakistan dan bertemu dengan Presiden Pakistan Mamnoon Hussein, menekankan bahwa negaranya dapat memainkan peran positif dalam proses perdamaian Afghanistan, dan negaranya siap untuk terlibat dalam setiap kerja sama di bidang ini, dan mengatakan bahwa untuk memecahkan masalah di Afghanistan, sebuah komite ulama tripartit (tiga negara) antara Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia diatur dan dijalankan dalam bidang ini.

Berdasarkan sebuah pernyataan dari kantor kepresidenan Pakistan, Presiden Pakistan Mamnoon Hussein telah menyetujui usulan pembentukan komite ulama tiga negara tersebut, dan mengklaim bahwa perdamaian di Afghanistan merupakan isu penting bagi kemajuan dan pembangunan di wilayah tersebut.

    Baca juga: Kunjungan Jokowi ke Afghanistan Pererat Hubungan Bilateral

Sebelum pertemuannya dengan Presiden Mamnoon Hussein, Presiden Indonesia Joko Widodo dalam sebuah pertemuan dengan anggota parlemen Pakistan, menekankan pada pentingnya stabilitas keamanan politik untuk pembangunan ekonomi di wilayah tersebut, dan mengatakan bahwa konflik dan perang tidak menguntungkan siapa pun. Masyarakat, terutama wanita dan anak-anak, menjadi korban dalam kehancuran akibat peperangan dan konflik.

Dalam menekankan solusi damai untuk perang di Afghanistan, Jokowi membahas konflik panjang di negara asalnya, misalnya konflik di wilayah Aceh di Indonesia yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Namun hanya solusi militer saja, gagal untuk menyelesaikan masalah di Aceh.

Walau pemerintah Afghanistan belum memberi tanggapan secara resmi atas usulan ini, namun beberapa kali sebelumnya, sebuah delegasi HPC (Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan) senior yang dipimpin oleh Karim Khalili, melakukan perjalanan ke Indonesia untuk melibatkan Indonesia dalam proses perdamaiannya, dan meminta dukungan dari ulama agama di negara tersebut untuk membantu upaya perdamaian dan mengakhiri konflik di Afghanistan

Dalam artikel ini, kita akan membahas apakah komite tiga negara ini akan berhasil mewujudkan perdamaian di Afghanistan, akankah ini menjadi mekanisme yang efektif, dan dapatkah Indonesia membuktikan keefektifan dan kegunaannya dalam menyelesaikan masalah regional saat ini?

Indonesia dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa dan lebih dari 90 persennya adalah Muslim, adalah salah satu negara dengan populasi Muslim yang paling padat penduduknya, dan telah berhasil dalam hal menjauhkan diri untuk terlibat dalam konflik ekstremisme dan sektarian, dan pemerintahnya telah menunjukkan kepintarannya untuk mengubah negara ini menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang tumbuh pesat di Asia Tenggara.

Jokowi Berada di Kabul dalam Kunjungannya ke Afghanistan

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani (tengah kanan) dan Presiden Indonesia, Joko Widodo berjabat tangan sebelum memulai pertemuan resmi mereka mereka di Istana Kepresidenan Di Kabul, Afghanistan, Senin 29 Januari 2018. (Foto: AP/PTI)

Indonesia telah mengakhiri pengalaman yang serupa dengan Afghanistan, dan sistem politiknya berhasil menyelesaikan konflik Aceh dengan cara terbaik, dan terbukti menjadi salah satu sistem yang paling berpengalaman dalam menyelesaikan konflik dan masalah domestik. Kerja sama Indonesia dalam menyelesaikan dan mengakhiri proses perdamaian di Afghanistan sangatlah penting.

Ulama Indonesia yang memiliki posisi penting di negara yang jarang menghadapi ekstremisme agama dan sektarian, dapat memainkan peran yang efektif dan berguna dalam upaya perdamaian di Afghanistan. Dipercaya bahwa komite tiga negara ini dapat menjadi salah satu mekanisme efektif untuk berhasil menyelesaikan proses perdamaian di Afghanistan.

Dengan menggunakan pengaruh spiritual mereka—ulama Indonesia—dan juga memanfaatkan pengalamannya dalam penyelesaian konflik domestik, pemerintah Indonesia dengan hubungan politiknya yang baik dengan Afghanistan dan Pakistan, mengakhiri tantangan di Afghanistan dan mengakhiri perundingan damai, perang, dan kekerasan di Afghanistan secara positif.

Namun sejumlah orang percaya, bahwa harapan semacam itu dari komite ulama tiga negara ini tidaklah tepat. Karena mereka berpendapat bahwa ulama Pakistan tidak terlepas dari pemerintah Pakistan dan khususnya ISI (badan intelijen Pakistan), dan secara prinsip ISI tidak mengizinkan ulama untuk bebas dari kebijakan resmi pemerintah. Pengalaman telah menunjukkan bahwa ulama Pakistan memiliki kepercayaan serupa terhadap ISI. Mereka diperintahkan oleh ISI yang terkenal buruk. Ulama agama Pakistan ini telah menyebut ledakan dan serangan bunuh diri sebagai ilegal dan anti-Islam di Pakistan, namun legal di Afghanistan.

    Baca juga: Jokowi di Pakistan: Usulkan Pembentukan Komite Ulama Indonesia, Pakistan dan Afghanistan

Menurut para ulama ini, pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah dan perang melawan sistem hukum yang sah di Afghanistan adalah jihad, namun membangkang dengan tindakan kecil sekalipun untuk melawan pemerintah Pakistan adalah ilegal. Pendapat ini telah diperintahkan kepada ulama ini oleh ISI dan pemerintah. Baru beberapa hari yang lalu, sekitar dua ribu ulama Pakistan memboikot bunuh diri di Pakistan, sementara berkali-kali sejumlah ulama ini mengeluarkan fatwa jihad dalam melawan pemerintah Afghanistan dan menyebut serangan bunuh diri sebagai syahid.

Menurut pendapat lainnya, perang saat ini di Afghanistan sebenarnya bukan perang agama dan jihad, tapi perang intelijen dan proxy.

Perang ini tidak memiliki tujuan keagamaan, namun bermaksud untuk mencapai tujuan politik pemerintah dan badan mata-mata, yang diluncurkan dengan sumber daya mereka dan sesuai dengan rencana mereka. Inilah satu-satunya alasan kuat mengapa hal ini diartikan sebagai perang proxy.

Beberapa pemerintah daerah berinvestasi dalam perang ini, dan telah mempekerjakan para militan yang berjuang untuk mereka dalam melawan pemerintah dan rakyat Afghanistan untuk mencapai tujuan buruk mereka. Berdasarkan pendapat ini, Pakistan telah mencari kedalaman strategisnya di Afghanistan, telah menciptakan militan termasuk jaringan Taliban dan Haqqani, serta mendukung dan mendanai mereka untuk mencapai dan menerapkan kedalaman strategis ini. Saat ini Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar negara lain, sangat percaya bahwa Pakistan telah menyediakan tempat yang aman bagi para teroris ini di wilayahnya, dan membuka pusat pelatihan untuk mereka.

Saat ini, di bawah tekanan global—khususnya strategi baru AS—Pakistan telah dibuat untuk berbicara mengenai perdamaian dan keamanan di Afghanistan, untuk meyakinkan masyarakat dunia, dan mencoba untuk mengalihkan opini publik. Di bawah tekanan bersama, Pakistan secara verbal mendukung upaya perdamaian.

Meski demikian, ulama tidak bisa mewujudkan perdamaian sendiri. Konflik Afghanistan bukanlah konflik domestik yang sederhana. Perang kotor melawan rakyat Afghanistan ini adalah perang proxy skala penuh, dari agen mata-mata regional tidak hanya dari Pakistan, tetapi juga sejumlah negara lain yang juga terlibat secara mendalam.

Berakhirnya konflik dan perang di Afghanistan baru-baru ini, membutuhkan kesepakatan terkait banyak isu regional lainnya. Semua pihak harus diyakinkan bahwa bukan berlanjutnya perang di Afghanistan, melainkan perdamaian, stabilitas, dan keamanan, yang bisa menjamin kepentingan mereka. Mereka harus percaya bahwa perdamaian dan stabilitas di Afghanistan tentu berarti perdamaian dan stabilitas regional, dan Afghanistan yang aman dan stabil akan menjadi kepentingan semua orang.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo. (Foto: Reuters)

Peran Indonesia dalam Menyelesaikan Perang dan Damai di Afghanistan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top