Perang Dagang
Global

Perang Dagang 30 Tahun Amerika-China

Home » Featured » Global » Perang Dagang 30 Tahun Amerika-China

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China dapat berlarut-larut selama beberapa dekade, tetapi fokus China pada Inisiatif Sabuk dan Jalannya dapat mendatangkan bantuan. Jack Ma memperingatkan, perang dagang antara Amerika Serikat dan China bisa berlangsung setidaknya selama 20 tahun. Dalam perang dagang ini, pemerintah China juga tidak hanya akan bermain bertahan.

Baca juga: 5 Fakta Penting Perang Dagang Trump yang Meningkat dengan China

Oleh: Pepe Escobar (Asia Times)

Jack Ma dari Alibaba telah memperingatkan bahwa perang perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang sedang berlangsung dapat berlangsung setidaknya selama 20 tahun. Seperti yang akan kita lihat, perang itu sebenarnya akan berlangsung hingga 30 tahun, tepatnya hingga tahun 2049, peringatan 100 tahun berdirinya Republik Rakyat China (PRC/People’s Republic of China).

Steve Bannon selalu menyombongkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditakdirkan untuk melakukan “bentuk canggih perang ekonomi” untuk menghadapi China. Logika yang mendukung peperangan tersebut ialah jika Anda menekan ekonomi China, pemerintah China akan tunduk dan “bermain sesuai aturan.”

Rencana administrasi Trump, yang sebetulnya merupakan rencana defisit perdagangan agresif Peter Navarro, memiliki tiga target dasar:

  1. Melenyapkan China dari jantung pemasok global.
  2. Memaksa berbagai perusahaan untuk memasok seluruh komponen yang diperlukan dalam produksi barang mereka dari tempat lain di kawasan Global South.
  3. Memaksa korporasi multinasional untuk berhenti melakukan bisnis di China.

Konsep menyeluruh ialah bahwa konfrontasi tanpa henti dengan China pasti akan menakut-nakuti perusahaan/investor. Tidak ada bukti bahwa konglomerat Korea Selatan atau Jerman, misalnya, akan mundur dari pasar dan/atau fasilitas produksi China secara luas.

Bahkan jika Pelarian dari China benar-benar terjadi, bisa dibilang ekonomi Amerika akan menderita sebanyak, jika tidak lebih dari, yang diderita China. Hantaman tarif AS terbaru dapat menurunkan PDB China hanya 0,9 poin prosentase, menurut Bloomberg Economics.

Tetapi China mungkin masih tumbuh sehat sebesar 6,3 persen pada tahun 2019. Ini adalah gambaran umum yang layak, dengan angka, mengenai bagaimana perang perdagangan mungkin akan merugikan China.

Yang pasti ialah bahwa pemerintah China, seperti yang dikonfirmasi oleh banyak editorial di media pemerintah China, tidak akan hanya bermain bertahan. Pemerintah China melihat perang dagang berlangsung “berlarut-larut.”

Suasana Perang Dingin Komersial sekarang tengah berlaku, tetapi China sedang memerangi perang ideologis di dua front. Di dalam negeri, pemerintah China menggunakan bahasa kuat untuk mendefinisikan posisinya melawan AS, tetapi mengambil pendekatan yang jauh lebih lunak di arena internasional.

Sangatlah membantu untuk memahami bagaimana situasi saat ini muncul dengan memeriksa karya Wang Hui, seorang profesor bahasa dan sastra China di Universitas Tsinghua, esais top dan pemain bintang China’s New Left. Hui adalah penulis buku The Rise of Chinese Chinese Thought, diterbitkan pada tahun 2005 dan masih tanpa terjemahan bahasa Inggris.

Beberapa kesimpulan utama Hui masih berlaku 13 tahun kemudian, karena ia menjelaskan bagaimana masyarakat China belum beradaptasi dengan status barunya dalam hubungan internasional, bagaimana ia belum menyelesaikan “kontradiksi terakumulasi” selama proses marketisasi yang sangat cepat, dan bagaimana China masih belum menguasai risiko yang melekat dalam dorongan globalisasi.

Analisis Hui digemakan di banyak editorial China termasuk garis kemunduran yang lezat seperti “penajaman kontradiksi internal” dalam hubungan internasional. Lagipula, “sosialisme dengan karakteristik China,” sebagaimana dikodifikasi oleh Deng Xiaoping dan diperbarui oleh Xi Jinping, unggul dalam mengeksploitasi dan melewati “kontradiksi internal.”

Semuanya ialah tentang Inisiatif Sabuk dan Jalan

Jack Ma juga mengisyaratkan gambaran yang lebih besar ketika dia mengatakan bahwa untuk melawan perang perdagangan, China harus memfokuskan ekspor di Jalur Sutera Baru / Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI/Belt and Road Initiative), secara khusus menyebutkan Afrika, Asia Tenggara, dan Eropa Timur.

Lima tahun setelah Presiden China Xi Jinping meluncurkan BRI, yang awalnya diberi nama One Belt One Road (OBOR), di Astana dan kemudian Jakarta, wajar saja kalau Ma berkonsentrasi pada apa yang telah saya tekankan untuk menjadi strategi kebijakan luar negeri utama China selama tiga dekade berikutnya.

Tidak pernah cukup untuk menekankan bahwa enam koridor konektivitas utama BRI, yang menjangkau hingga 65 negara, sesuai dengan jadwal waktu yang asli, masih dalam tahap perencanaan hingga tahun 2021. Saat itulah penerapan yang sebenarnya dimulai, hingga tahun 2049.

Ma menyinggung ekspansi BRI di negara-negara yang secara strategis diposisikan di Global South, termasuk Asia Tengah, Selatan, dan Tenggara serta Afrika dan Eropa Timur. Cukup banyak dari negara-negara ini telah sangat menerima BRI, termasuk 11 negara yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebut sebagai Negara-negara Terbelakang di Dunia (LDCs/Least Developed Countries), seperti Laos, Djibouti, dan Tanzania.

Proyek-proyek BRI, dan bukan proyek-proyek Bank Dunia dengan ikatan yang melekat, merupakan solusi atas kesengsaraan infrastruktur mereka.

Jadi kita melihat nota kesepahaman penandatangan pemerintah China untuk proyek-proyek BRI dengan tidak kurang dari 37 negara Afrika dan Uni Afrika (AU/African Union). Karena BRI terkait erat dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB/Asian Infrastructure Investment Bank), bank tersebut akan menangani pembiayaan untuk proyek-proyek BRI di Indonesia.

Perang perdagangan AS-China mengekstrapolasikan keuntungan ke negara-negara ketiga seperti Brasil dalam hal ekspor komoditasnya. China secara perlahan tapi pasti berusaha untuk menguasai penyesuaian keuangan untuk proyek-proyek di berbagai koridor konektivitas, termasuk di Bangladesh, Pakistan, Myanmar, dan Kazakhstan.

Pada saat yang sama, perusahaan China mengawasi kesepakatan politik yang harus ditengahi oleh Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO/Shanghai Cooperation Organization) untuk membuka kunci integrasi BRI Afghanistan.

Dalam kasus negara-negara yang secara berlebihan terpapar investasi China, seperti Laos, Djibouti, Tajikistan, dan Kyrgyzstan, China menerapkan berbagai opsi pembiayaan dari penghapusan utang hingga mendapatkan kontrak jangka panjang untuk membeli sumber daya alam.

Apakah China akan memanfaatkan pembiayaan pelabuhan air dalam strategis di Myanmar dan Djibouti untuk membangun “untaian Mutiara” yang menghiasi rantai pasokan Samudera Hindia masih merupakan spekulasi murni.

Vektor kunci yang harus diwaspadai ialah bagaimana Jerman dan Prancis mendekati jalan-jalan BRI di Eropa Tengah dan Timur, misalnya, melalui jalur kereta berkecepatan tinggi Budapest-Belgrade terkait, bergaya BRI, ke pelabuhan Piraeus di Mediterania.

Baca juga: Bagaimana China Perkuat Diri Hadapi Serangan Perang Dagang Trump

Italia ada di jalur tersebut, Laut Adriatik terhubung dengan BRI. Jerman memiliki terminal Eropa utama di lembah Ruhr. Prancis, bagaimanapun juga, masih belum memutuskan.

Rusia juga masuk. Hampir 70 proyek dibiayai bersama oleh BRI dan Eurasia Economic Union (EAEU). Forum Vladivostok sekali lagi membuktikan kemitraan strategis Rusia-China, dan perluasan BRI/EAEU-nya berlaku penuh.

Strategi yang dikembangkan oleh Quad (AS, India, Jepang, Australia) tidak memiliki potensi untuk menggagalkan jangkauan, kompleksitas, kekayaan modal, dan sumber daya manusia BRI.

Untuk semua tantangan keuangan / kekuatan lunak, negara-negara anggota BRI, terutama di seluruh Global South, terkunci pada sisi mereka dari tawar-menawar investasi infrastruktur China “win-win.” Kecaman terhadap BRI tanpa henti saat ini tidak hanya bersifat rabun namun tidak relevan, karena BRI, yang terus-menerus diperbaiki, akan terus berkembang hingga tahun 2049. Apa yang akan terjadi ialah perang dagang selama 30 tahun.

Keterangan foto utama: Kita mungkin berada di awal perang dagang selama beberapa dasawarsa antara China dan Amerika Serikat. (Foto: iStock)

Perang Dagang 30 Tahun Amerika-China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top