Perang Dagang
Asia

Perang Dagang: China Balas Amerika, Umumkan Tarif Balasan $60 Miliar

Sebuah kapal kontainer berlabuh di pelabuhan di Qingdao, di Provinsi Shandong, China timur. (Foto: AP/Chinatopix)
Berita Internasional >> Perang Dagang: China Balas Amerika, Umumkan Tarif Balasan $60 Miliar

Untuk membalas Amerika dalam perang dagang, China mengumumkan ancaman tarif balasan sebesar $60 miliar dolar pada Jumat (3/8). Tarif balasan tersebut akan diberlakukan terhadap produk-produk impor Amerika seperti kopi, madu, dan bahan kimia industri.

Baca juga: Xi Jinping: Tidak Ada Pemenang dalam Perang Dagang

Oleh: Joe McDonald (The Associated Press)

China mengatakan pada Jumat (3/8), bahwa pihaknya siap untuk memberlakukan tarif pembalasan atas impor Amerika Serikat (AS) senilai $60 miliar, termasuk kopi, madu, dan bahan kimia industri, jika Washington melanjutkan perang dagang dengan ancaman perdagangan terbaru.

Kementerian Keuangan China menuduh pemerintahan Trump merusak ekonomi global, setelah AS mengusulkan peningkatan bea atas komoditi China senilai $200 miliar pada putaran kedua perselisihan teknologi.

“China terpaksa mengambil tindakan balasan,” kata pernyataan kementerian tersebut. Dikatakan bahwa tarif balasan antara lima hingga 25 persen akan dikenakan pada 5.207 produk, “jika pihak AS tetap dalam menerapkan langkah tarifnya.”

Washington memberlakukan 25 persen tarif (bea) atas komoditi China senilai $34 miliar pada tanggal 6 Juli 2018, sebagai tanggapan atas tuduhan pencurian oleh Beijing yang dilaporkan telah menekan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan entitas China untuk menyerahkan teknologi mereka. Beijing membalas dengan memberlakukan dakwaan serupa pada jumlah yang sama dari produk AS.

Sekretaris pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders, mengatakan kepada para wartawan pada Jumat (3/8), bahwa “alih-alih membalas, China harus mengatasi kekhawatiran lama tentang praktik perdagangan yang tidak adil.”

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China sebelumnya telah meminta Washington untuk “kembali ke akal sehatnya” dan menyelesaikan perselisihan itu.

Para pemimpin China telah menawarkan untuk mempersempit surplus perdagangan mereka yang sensitif secara politis dengan Amerika Serikat, dengan membeli lebih banyak barang Amerika. Tetapi mereka menolak rencana pengembangan teknologi yang mereka lihat sebagai jalan menuju kemakmuran dan pengaruh global.

Belum ada akhir yang terlihat sejauh ini, dan perselisihan Amerika versus China pada apa yang disebut perang dagang bisa menggoyahkan perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi.

Ancaman baru China yang menargetkan lebih sedikit barang AS mencerminkan fakta bahwa Beijing kehabisan produk untuk pembalasan karena neraca perdagangannya yang tidak seimbang dengan Amerika Serikat.

Impor China dari Amerika Serikat tahun lalu mencapai $153,9 miliar. Setelah mengenakan tarif sebelumnya sebesar $34 miliar atas komoditi AS, sekitar $120 miliar masih tersedia untuk pembalasan.

Hukuman tertinggi pada daftar komoditi baru tersebut akan dikenakan terhadap madu, sayuran, jamur dan bahan kimia, dan penargetannya terhadap daerah pertanian dan pertambangan yang mendukung Presiden Donald Trump dalam pemilu 2016.

Daftar baru tersebut termasuk produk beragam seperti mesin peniup salju dan printer 3-D, menunjukkan bahwa otoritas China sedang berjuang untuk menemukan cukup komoditi impor atas barang yang tak dapat disediakan oleh perekonomian mereka sendiri.

Putaran tarif sebelumnya di Beijing tampaknya dirancang untuk meminimalkan dampak pada ekonomi China dengan menargetkan kedelai, wiski, dan barang-barang lainnya yang tersedia dari Brasil, Australia, dan pemasok lainnya.

Trump awalnya mengusulkan tarif 10 persen pada tambahan impor China senilai $200 miliar, tetapi ia mengatakan kepada para pejabat perdagangan minggu ini, untuk mempertimbangkan menaikkannya menjadi 25 persen. Paling cepat adalah bulan September, sebelum AS memutuskan apakah akan memberlakukan tarif tersebut.

Pihak berwenang China memperingatkan sebelumnya bahwa jika perselisihan meningkat, mereka akan mengadopsi “langkah-langkah komprehensif” yang tidak ditentukan. Hal itu mendorong kekhawatiran di antara perusahaan-perusahaan Amerika bahwa pembalasan mungkin akan meluas hingga mengganggu operasi mereka di China.

Amerika Serikat dan China memiliki hubungan perdagangan terbesar di dunia, tetapi hubungan resmi merek semakin tegang karena keluhan bahwa taktik pengembangan teknologi Beijing merugikan perusahaan Amerika.

Menurut Gedung Putih, tarif Trump menargetkan komoditi yang mendapatkan keuntungan dari kebijakan industri seperti “Made in China 2025,” yang China galakkan untuk mengembangkan produk yang bersaing di bidang robotik, kecerdasan buatan, dan bidang lainnya.

Sengketa ini adalah bagian dari keluhan AS yang lebih luas tentang kondisi perdagangan global yang telah mendorong Trump untuk menaikkan tarif pada baja, aluminium, mesin cuci, atau panel surya dari Kanada, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca juga: Gencatan Senjata Perang Dagang: Trump Buat Kesepakatan dengan Uni Eropa

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengajukan banding ke Washington untuk bernegosiasi, tetapi tidak dapat mengkonfirmasi laporan bahwa kedua belah pihak sedang mengadakan pembicaraan.

“Kami mendesak Amerika Serikat untuk kembali kepada akal sehatnya, mengoreksi tindakan kelirunya, dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk penyelesaian yang tepat sesegera mungkin,” kata juru bicara Geng Shuang.

Trump berkampanye dengan janji untuk menurunkan defisit perdagangan besar-besaran Amerika dengan menegosiasikan ulang perjanjian perdagangan, dan bertindak lebih tegas terhadap negara-negara seperti China, yang menjual barang kepada AS jauh lebih banyak daripada yang mereka beli dari AS.

Namun Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Jumat (3/8), bahwa defisit perdagangan Amerika naik menjadi $46,3 miliar pada Juni dari $43,2 miliar pada bulan Mei. Defisit dalam perdagangan barang dengan China juga meningkat. Sejauh tahun ini, kesenjangan perdagangan naik lebih dari tujuh persen dari Januari-Juni 2017.

Penulis AP Economics Paul Wiseman berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Sebuah kapal kontainer berlabuh di pelabuhan di Qingdao, di Provinsi Shandong, China timur. (Foto: AP/Chinatopix)

Perang Dagang: China Balas Amerika, Umumkan Tarif Balasan $60 Miliar

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top