Amerika

Perang Dagang Trump dengan China: Apa yang Dipertaruhkan?

Home » Featured » Amerika » Perang Dagang Trump dengan China: Apa yang Dipertaruhkan?

Amerika Serikat saat ini sedang menerapkan aksi sepihak yang dapat berujung pada perang dagang bilateral dengan China, yang memiliki dampak global, serta begitu banyak yang dipertaruhkan. Jika terjadi konflik pada perdagangan AS dan China, hal tersebut akan mengganggu hubungan bilateral dalam ukuran dan cakupan yang sangat luas, mengingat China merupakan pasar ekspor yang paling penting bagi AS di luar NAFTA dan merupakan pemegang saham asing terbesar dalam perbendaharaan AS.

Oleh: Mary E. Lovely (World Politics Review)

Pada Kamis (8/3), Presiden Donald Trump menandatangani perintah penerapan tarif untuk impor baja dan alumunium, yang akan diberlakukan 15 hari setelahnya, dan mengecualikan Kanada dan Meksiko untuk sekarang ini, dengan kemungkinan bahwa negara lainnya juga akan dikecualikan. Digabungkan dengan pengunduran diri Gary Cohn—kepala penasihat ekonomi presiden yang merupakan pendukung rencana protektionisme Trump selama ia menjabat menjadi Direktur Ekonomi Nasional—pada awal minggu lalu, menjadi sinyal bahwa Trump telah bersiap untuk membuat kampanye yang akan menjanjikan perlakuan tegas dalam bidang perdagangan—terutama terhadap China.

    Baca Juga : Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

Dengan pencapaian yang berhasil diraih oleh China di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001, negara tersebut tampaknya sedang melangkah menuju integrasi dalam perekonomian global. Satu dekade reformasi yang dilakukan oleh China telah menarik kontrol pemerintah dan lebih menggalakkan status ekonomi-pasar. Selama 15 tahun, perdagangan barang China naik delapan kali lipat, dan menjadi rekan perdagangan terbesar bagi lebih dari 120 anggota WTO. Banyak perusahaan multinasional yang memanfaatkan wilayah di China sebagai tempat produksi lepas pantai, yang menjadikan mereka sebagai negara ketiga terbesar dalam penerimaan investasi langsung asing pada 2016, di belakang Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

Bagaimanapun, konsensus yang lebih luas sekarang mulai berkembang di antara rekan perdagangan China, bahwa kebijakan merkantilis mulai menggantikan komitmen yang didasarkan pada pasar terbuka WTO. Pada Desember 2017, di tengah-tengah pertemuan WTO, Uni Eropa, Jepang, dan AS mengajukan sebuah pernyataan mengenai membludaknya kapasitas di sektor baja dan lainnya di China, sekaligus subsidi, peraturan, dan pendanaan industri dari pemerintah China, yang mengharuskan investor asing untuk berbagi teknologi dengan rekan lokalnya. Tanpa menunggu aksi terlebih dahulu dari WTO, Amerika Serikat—didorong oleh pemerintahan yang memandang perdagangan tersebut melalui sudut pandang hilangnya pekerjaan—sekarang sedang menerapkan aksi sepihak yang dapat berujung pada perang dagang bilateral dengan dampak global.

Mampukah Strategi Pertahanan Nasional Pentagon Persiapkan Amerika Hadapi Kebangkitan China?

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping. (Foto: AFP)

Jika terjadi konflik pada perdagangan AS dan China, hal tersebut akan mengganggu hubungan bilateral dalam ukuran dan cakupan yang sangat luas. Perdagangan barang dan jasa antara rekan-rekan yang terlibat diperkirakan mencapai $649 miliar pada 2016. Sekarang, tujuan utama produk-produk China adalah Amerika Serikat, yang menerima sekitar 19 persen dari ekspor mereka. Mesin-mesin telah menggantikan ekspor China terkemuka berupa tekstil, pakaian, dan sepatu kepada AS, dengan produksi terpadu untuk komputer, peralatan penyiaran, dan telepon seluler yang terjalin di antara kedua negara tersebut.

Pada saat yang bersamaan, China merupakan pasar ekspor yang paling penting bagi AS di luar NAFTA. Sekitar setengah ekspor Amerika ke China merupakan mesin, termasuk peralatan komputer dan komunikasi. Empat belas persen merupakan produk agrikultur, dan delapan persen lainnya merupakan mobil. Investasi langsung AS ke negara tersebut bernilai sekitar $92 miliar pada tahun 2016, menurut data resmi, sementara beberapa penelitan lainnya justru menunjukkan angka yang lebih tinggi. Survei Anggota Dewan Bisnis AS-China 2017 menemukan bahwa sebagian besar responden percaya bahwa prospek pertembuhan di China lebih baik ketimbang di pasar lainnya di seluruh dunia.

China juga menjadi pemegang saham asing terbesar dalam perbendaharaan AS, yang hasilnya selalu konstan dalam menunjukkan kerugian perdagangan AS. Kerugian perdagangan AS diperkirakan mencapai $556 miliar pada tahun 2017, yang menjadi angka terbesar semenjak tahun 2008. Lebih lanjut, kerugian dengan China mencapai rekor $375,2 miliar pada tahun 2017, yang semaking mendorong Trump untuk membuat keputusan perubahan dramatis dalam hubungan kedua negara. Walau para pakar ekonomi memandang bahwa kerugian perdagangan tersebut sebagai hasil dari faktor makronekonomi dan bukannya hasil dari sebuah kebijakan perdagangan, namun pemerintah Trump telah menjadikan kerugian hubungan bilateral sebagai tujuan utama bagi kebijakan perdagangan AS ini.

Ketidakseimbangan perdagangan, dumping dan subsidiasi, pencurian kekayaan intelektual, dan pemaksaan transfer teknologi telah menjadi kekhawatiran utama Amerika dan fokus negosiasi bilateral mereka. Sementara itu pihak China, mengklaim bahwa kesempatan akses mereka ke dalam investasi di AS telah secara tidak adil dibatasi.

Ketegangan ini telah diam-diam memuncak selama dekade terakhir. Sekarang ketegangan ini telah tampak secara jelas. Meskipun kebijakan tersebut tidak hanya diterapkan kepada China, kebijakan tarif AS dalam panel surya dan mesin cuci jelas-jelas ditujukan kepada China. Keputusan ini merefleksikan keputusasaan atas kegagalan upaya sebelumnya untuk menahan masuknya barang-barang dari Asia Timur. Kebijakan tarif yang telah ditandatangani Trump kemarin—terlepas dari adanya pertentangan dari Cohn, Sekretaris Pertahanan James Mattis, dan Para petinggi industri—berada dalam kondisi yang sama. Kemungkinan besar kebijakan ini akan menerapkan angka yang tinggi—25 persen untuk baja dan 10 persen untuk aliminium—dan dikenakan di bawah pengawasan yang jarang digunakan berkaitan dengan keamanan nasional. Meskipun China merupakan eksportir baja AS terbesar ke-10, mereka nampaknya menjadi target utama dikarenakan ketidaksukaan Amerika dengan ketidakmampuan dan ketidakmauan China untuk mengurangi kapasitas baja dan alumunium, yang merugikan harga dunia.

Namun yang lebih mengancam hubungan kedua negara tersebut ketimbang kebijakan baja dan aluminium adalah, penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah Trump pada musim gugur lalu terhadap praktik China yang dipercaya membatasi ekspor AS secara tidak adil. Daftar pengaduan yang diajukan AS sangatlah panjang, namun yang paling menonjol mungkin adalah klaim bahwa China memaksa perusahaan asing untuk melakukan transfer teknologi kepada perusahaan lokal sebagai ganti atas akses terhadap pasar. Memuncaknya kekhawatiran mengenai spionase industri, pelanggaran kekayaan intelektual, dan pemblokiran akses terhadap pasar lokal telah mengubah pertentangan dari perusahaan Amerika menjadi sebuah respon yang kuat oleh pemerintah Amerika. Dalam kasus ini, kemungkinan besar kita akan melihat aksi langsung oleh AS untuk melawan China, bisa saja dengan pembatasan impor secara luas, dan pengetatan pemeriksaan untuk aliran investasi bilateral baik masuk maupun keluar.

Ketegangan di antara kedua negara mungkin saja dapat ditenangkan melalui negosiasi oleh para petinggi. Bagaimanapun, sebuah kunjungan oleh salah satu penasihat terdekat Presiden China Xi Jinping ke Washington untuk membahas tarif baja dan aluminium dengan Pemerintahan Trump gagal memberikan titik terang. Oleh karenanya, kecuali jika terdapat kelonggaran pada detik-detik terakhir oleh China, Trump kemungkinan besar akan mengandalkan perlindungan impor untuk memenuhi janji kampanyenya untuk “bersikap tegas” terhadap praktik China yang diduga tidak adil.

4 Alasan Trump Tetap Teguh dalam Aturan Perdagangan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: AFP/Getty Images/Brendan Smialowski)

China telah menunjukkan sinyal bahwa mereka akan menanggapi proteksionisme yang diterapkan Amerika. Mereka juga memiliki senjata andalan untuk menyeselaikan masalah mereka, terutama pembatasan dan impor China mengenai produk agrikultur dan suku cadang Amerika. Pelaku industri yang sampai sekarang masih berada di garis tepi, cepat atau lambat akan ikut terseret dalam konflik ini dengan cara yang sangat merugikan.

Negara yang mampu menyediakan produk yang menggantikan ekspor Amerika akan mendapatkan keuntungan dari konflik tersebut, mungkin saja menggantikan produsen AS dalam beberapa tahun ke depan. Argentina, sebagai contohnya, akan mendapatkan untung dari kebijakan China terhadap AS dalam bidang kedelai. Negara lain juga akan merasakan akibatnya, terutama meraka yang menjadi eksportir barang setengah jadi ke China, yang tujuannya adalah untuk diubah menjadi produk yang akan dikirim ke pasar Amerika, di mana kenaikan harga akan berujung pada penuruan permintaan di pasar Amerika.

    Baca Juga : Resmi Hapus Masa Jabatan, China Buka Jalan bagi Xi Jinping untuk Menjabat Seumur Hidup

Sebagai dua negara terdepan dalam sektor perdagangan, China dan Amerika Serikat berbagi tanggung jawab atas situasi pendanaan dan perdagangan global yang masih belum tentu arahnya. Kedua pihak tidak dapat begitu saja menarik diri dari hubungan perdagangan yang sangat dalam dan luas. Kegagalan penyelesaian permasalahan di masa lalu telah mengubah keputusasaan Amerika menjadi sebuah kebijakan agresif yang ditujukan kepada China. Bagaimanapun, seiring berjalannya waktu, pentingnya pasar China yang besar dan terus berkembang bagi kesehatan ekonomi global akan semakin jelas.

Mary E. Lovely adalah seorang Profesor Ekonomi dan penerima beasiswa Fakultas Melvin A. Eggers di Maxwell School of Citizenship and Public Affairs di Syracuse University, dan pengajar senior tidak tetap di Peterson Institute for International Economics.

Keterangan foto utama: Presiden Donald Trump mengangkat sebuah pernyataan terkait impor baja dan aluminium dalam sebuah acara di Gedung Putih, Washington, pada tanggal 8 Maret 2018. (Foto: AP/Susan Walsh)

Perang Dagang Trump dengan China: Apa yang Dipertaruhkan?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top