Druze Israel duduk bersama menyaksikan sisi Suriah dari perbatasan Israel-Suriah, di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, Israel, pada tanggal 7 Juli 2018. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun/File)
Timur Tengah

Perang Suriah: Israel Tak Bantah Kemungkinan Persekutuan dengan Assad

Druze Israel duduk bersama menyaksikan sisi Suriah dari perbatasan Israel-Suriah, di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, Israel, pada tanggal 7 Juli 2018. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun/File)
Home » Featured » Timur Tengah » Perang Suriah: Israel Tak Bantah Kemungkinan Persekutuan dengan Assad

Walau secara resmi netral dalam perang sipil Suriah, namun Israel telah melakukan sejumlah serangan udara atas dugaan penempatan tentara dan transfer senjata oleh Iran atau Hizbullah di Suriah, melihat ini sebagai ancaman yang lebih besar dari Assad, dan memperingatkan Assad untuk tidak bersekongkol dengan mereka di perang Suriah yang tak kunjung usai.

Baca juga: Analisis Perang Suriah: Bashar Al-Assad Kini Menjadi Sekutu Israel

Oleh: Dan Williams (Reuters)

Israel pada hari Selasa (10/7) mengajukan kemungkinan hubungan dengan Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad, sebagai bentuk persetujuan terhadap kemajuan konsolidasi rezim Assad dalam perang sipil tujuh tahun, yang awalnya diprediksi oleh para pejabat Israel akan menggulingkan Assad.

Pasukan Assad yang didukung Rusia telah maju di Suriah barat daya dan berada di jalur untuk mencapai Quneitra—sebuah distrik yang dikuasai pemberontak yang membatasi perbatasan Dataran Tinggi Golan dengan Israel. Hal itu telah memicu kekhawatiran Israel bahwa Assad mungkin mencoba untuk menempatkan pasukan di sana, dengan menyimpang dari kesepakatan demiliterisasi PBB tahun 1974 tentang Golan.

Pemandangan hamparan lembah dengan tenda pengungsi yang didirikan di Suriah dekat perbatasan Israel seperti yang terlihat dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, 3 Juli 2018. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun/File Photo)

Pemandangan hamparan lembah dengan tenda pengungsi yang didirikan di Suriah dekat perbatasan Israel seperti yang terlihat dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, 3 Juli 2018. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun/File Photo)

Dengan mengunjungi Golan yang diduduki Israel, Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman meningkatkan ancaman untuk menggunakan kekuatan bersenjata jika Damaskus menyerang secara militer. “Setiap tentara Suriah yang berada di zona penyangga ini, akan mempertaruhkan nyawanya,” kata Lieberman kepada para wartawan.

Namun, Lieberman tampaknya memberi tanda yang mengakui bahwa Assad akan mendapatkan kembali kendali atas sisi Suriah dari Golan.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah ia mengantisipasi waktu ketika penyeberangan Quneitra akan dibuka kembali di bawah gencatan senjata yang diawasi PBB antara Israel dan Suriah, dan apakah kedua musuh lama itu dapat membangun “semacam hubungan”, Lieberman berkata: “Saya rasa kita jauh dari itu, tetapi kami tidak mengesampingkan apa pun.”

Pernyataannya tersebut bisa menunjukkan pendekatan yang lebih terbuka untuk Assad, menjelang perundingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait Suriah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada Rabu (11/7).

Baca juga: Perang Suriah: 270 Ribu Warga Sipil Melarikan Diri dari Serangan Rezim Assad

Di bawah kekuasaan keluarga Assad, Suriah mengadakan perundingan langsung dengan Israel di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2000, dan perundingan tidak langsung yang dimediasi oleh Turki pada tahun 2008—diskusi-diskusi yang didasarkan pada kembalinya seluruh atau sebagian wilayah Golan yang disita Israel dalam perang tahun 1967.

Tidak ada perjanjian yang ditandatangani, dan setelah perang Suriah meletus pada tahun 2011, para pejabat Israel—termasuk mantan Menteri Pertahanan Ehud Barak—mengatakan bahwa Assad bisa jatuh dalam beberapa minggu. Gelombang berbalik mendukung Assad pada tahun 2015, ketika Rusia melakukan intervensi militer untuk mendukungnya. Iran dan Hizbullah Lebanon juga telah mengirim bala bantuan ke Suriah.

Walau secara resmi netral dalam perang sipil tersebut, namun Israel telah melakukan sejumlah serangan udara atas dugaan penempatan tentara dan transfer senjata oleh Iran atau Hizbullah di Suriah, melihat ini sebagai ancaman yang lebih besar dari Assad, dan memperingatkan Assad untuk tidak bersekongkol dengan mereka.

“Upaya untuk membangun sebuah infrastruktur teroris di bawah bantuan rezim (Suriah), tidak dapat diterima, sejauh yang kami ketahui, dan kami akan mengambil tindakan dengan kekuatan besar terhadap setiap infrastruktur teroris yang kami lihat dan identifikasi di daerah ini,” kata Lieberman saat kunjungannya ke Golan.

Penyuntingan oleh Jeffrey Heller dan William Maclean.

Keterangan foto utama: Druze Israel duduk bersama menyaksikan sisi Suriah dari perbatasan Israel-Suriah, di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, Israel, pada tanggal 7 Juli 2018. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun/File)

Perang Suriah: Israel Tak Bantah Kemungkinan Persekutuan dengan Assad
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top