Perang Suriah
Timur Tengah

Perang Suriah: Putin Tolak Seruan Gencatan Senjata Erdogan, Idlib Bakal Banjir Darah

Populasi Idlib telah membengkak karena kehadiran pengungsi dari bagian lain Suriah. (Foto: AFP)
Home » Featured » Timur Tengah » Perang Suriah: Putin Tolak Seruan Gencatan Senjata Erdogan, Idlib Bakal Banjir Darah

Presiden Rusia Vladimir Putin menolak seruan Presiden Turki Recep Erdogan untuk melakukan gencatan senjata di Idlib, Suriah, pada pertemuan trilateral antara Turki, Rusia, dan Iran. Gencatan senjata dalam perang Suriah ini dimaksudkan untuk mencegah “pertumpahan darah” di Idlib. Presiden Iran Hassan Rouhani berpendapat bahwa memerangi terorisme di Idlib adalah bagian tak terhindarkan dalam memulihkan perdamaian dan stabilitas di Suriah. Sementara Putin mengatakan bahwa pemerintah Suriah harus menguasai seluruh wilayah nasionalnya.

Baca juga: Moskow Menangkan Perang di Suriah, Tapi Bisakah Menangkan Perdamaian?

Oleh: BBC

Pada pertemuan trilateral dengan Iran dan Turki, Putin mengatakan bahwa Rusia akan melanjutkan perjuangannya melawan “teroris” di Provinsi Idlib.

Idlib adalah benteng pertahanan terakhir oposisi Suriah, dengan hampir tiga juta penduduk.

Pasukan militer Suriah—yang didukung oleh Rusia dan Iran—siap meluncurkan serangan besar di sana segera.

Pertemuan tiga pihak di Teheran tersebut telah dilihat oleh banyak orang sebagai kesempatan terakhir untuk mencegah pertempuran skala besar di Idlib.

Suriah telah berada dalam perang sipil sejak tahun 2011, setelah pemberontakan damai terhadap Presiden Bashar al-Assad berubah menjadi konflik yang telah menewaskan lebih dari 350 ribu orang.

Mengapa negara-negara ini terlibat?

Iran, Rusia, dan Turki memainkan peran sentral dalam perang Suriah.

Turki—yang telah lama mendukung beberapa kelompok pemberontak—khawatir serangan habis-habisan akan memicu krisis pengungsi besar lainnya di perbatasan selatan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada rekannya dari Rusia dan Iran: “Kami tidak ingin Idlib berubah menjadi pertumpahan darah.”

“Setiap serangan terhadap Idlib akan menghasilkan malapetaka. Setiap perang melawan teroris membutuhkan metode berdasarkan waktu dan kesabaran.”

Namun, Rusia dan Iran bersekutu dengan Presiden Bashar al-Assad dari Suriah, dan mengatakan bahwa para kelompok jihadis di Idlib harus disingkirkan.

Perang Suriah: Putin Tolak Seruan Gencatan Senjata Erdogan, Idlib Bakal Banjir Darah

Pengunjuk rasa di Idlib melakukan demonstrasi melawan pemerintah Suriah dan Rusia pada Jumat (7/9). (Foto: AFP)

Serangan udara Rusia, dan ribuan pejuang yang didukung oleh Iran, telah membantu militer Suriah untuk menyerang wilayah pemberontak.

Pada pertemuan hari Jumat (7/9), Presiden Iran Hassan Rouhani berpendapat bahwa “memerangi terorisme di Idlib adalah bagian tak terhindarkan dari misi memulihkan perdamaian dan stabilitas di Suriah.”

Sementara Putin mengatakan bahwa “pemerintah Suriah yang sah memiliki hak dan pada akhirnya harus menguasai seluruh wilayah nasionalnya.”

Mengapa Idlib begitu penting?

Provinsi ini adalah benteng besar terakhir dari kelompok pemberontak dan jihadis yang berusaha menggulingkan Assad selama tujuh tahun terakhir.

Provinsi ini dilintasi jalan raya utama di seluruh Suriah—dan jika direbut kembali oleh pemerintah, akan membuat sisa wilayah yang dikuasai para pemberontak hanya berupa beberapa kantong terpencil di seluruh negeri.

Provinsi ini tidak dikendalikan oleh satu kelompok, melainkan oleh sejumlah faksi yang bersaing, termasuk aliansi jihad yang terkait dengan al-Qaeda, dan saingannya, Front Pembebasan Nasional yang didukung oleh Turki.

Hingga 30 ribu pemberontak dan pejuang jihadis diyakini berada di Idlib.

Tetapi sebagian besar penduduk Idlib adalah warga sipil. PBB mengatakan bahwa wilayah itu adalah rumah bagi sekitar 2,9 juta orang, termasuk satu juta anak-anak.

Lebih dari separuh penduduk sipil telah mengungsi setidaknya sekali dari tempat lain di Suriah, dan tidak punya tempat lagi untuk pergi.

Mengapa kekhawatiran berkembang?

PBB khawatir serangan besar-besaran di Idlib akan mengarah kepada bencana kemanusiaan.

Tanpa solusi politik di Suriah, “kita akan melihat perang ini mencapai tingkat kengerian baru,” menurut utusan khusus PBB di Suriah, Staffan de Mistura.

Baca juga: Opini: Rusia Mempunyai Rencana untuk Suriah. Bagaimana dengan Amerika?

Sementara itu, utusan baru Amerika Serikat (AS) untuk Suriah, Jim Jeffrey, mengatakan bahwa konflik yang diantisipasi tersebut akan menjadi “eskalasi nekat,” dan bahwa “ada banyak bukti bahwa senjata kimia sedang dipersiapkan.”

Dia tidak memberikan rincian bukti yang dia maksud.

Jeffrey mengatakan bahwa “inisiatif diplomatik besar” sekarang diperlukan, dan ada “komitmen baru” oleh Presiden Donald Trump untuk tetap terlibat di Suriah sampai kelompok ISIS dikalahkan dan pejuang Iran meninggalkan negara itu.

Perang Suriah: Putin Tolak Seruan Gencatan Senjata Erdogan, Idlib Bakal Banjir DarahJeffrey mengatakan bahwa Presiden Assad “sudah tak punya masa depan sebagai penguasa” di Suriah, tetapi itu bukan tugas Washington untuk menggulingkannya. Dia mengatakan bahwa AS akan bekerja dengan Rusia pada transisi politik.

Apa yang kita ketahui tentang penggunaan senjata kimia?

Pemerintah Suriah telah membantah pernah menggunakan senjata kimia.

Namun, para ahli dari PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengatakan bahwa pasukan pemerintah Suriah berada di balik serangan yang melibatkan agen saraf Sarin di sebuah kota yang dikuasai pemberontak di selatan Idlib pada April 2017, yang menewaskan lebih dari 80 orang.

Departemen luar negeri AS memperingatkan pada Senin (3/9), bahwa Washington akan menanggapi setiap serangan kimia baru oleh pemerintah Suriah atau sekutu-sekutunya.

Keterangan foto utama: Populasi Idlib telah membengkak karena kehadiran pengungsi dari bagian lain Suriah. (Foto: AFP)

Perang Suriah: Putin Tolak Seruan Gencatan Senjata Erdogan, Idlib Bakal Banjir Darah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top