Perang Suriah: Turki Alami Hari Paling Mematikan dalam Serangan Afrin
Timur Tengah

Perang Suriah: Turki Alami Hari Paling Mematikan dalam Serangan Afrin

Perang Suriah: Turki Alami Hari Paling Mematikan dalam Serangan Afrin

Pasukan Turki mengalami hari paling mematikan dalam ‘Operasi Cabang Zaitun’ di Afrin, di mana lima tentara dari pasukan tersebut tewas saat tank mereka diserang di wilayah Afrin. Perdana Menteri Turki Binali Yildirim, berjanji akan membuat para militan Kurdi “membayar dua kali lipat”, dan beberapa saat setelah itu, jet-jet tempur menyerang target Kurdi di timur laut kota Afrin. Turki saat ini telah kehilangan 14 tentara dalam serangan Afrin, Suriah.

Oleh: BBC

Dalam serangan Afrin, Militer Turki mengalami hari yang paling mematikan dalam serangan mereka terhadap militan Kurdi di Suriah Utara, di mana tujuh tentara tewas.

Lima tentara dari pasukan tersebut tewas saat tank mereka diserang oleh Militan Kurdi di wilayah Afrin.

Perdana Menteri (PM) Turki Binali Yildirim, berjanji akan membuat para militan “membayar dua kali lipat”, dan beberapa saat setelah itu, jet-jet tempur menyerang target Kurdi di timur laut kota Afrin.

Operasi “Cabang Zaitun” Turki ini diluncurkan pada tanggal 20 Januari, untuk mengusir militan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi dari Afrin.

Turki menganggap YPG sebagai kelompok teroris, dan perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang, yang telah berperang untuk mendapatkan daerah otonomi Kurdi di Turki Tenggara selama tiga dekade dengan melancarkan serangan Afrin.

Apa yang Turki katakan tentang kejadian ini?

Pihak militer Turki menyatakan bahwa YPG yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) itu, menyerang tank mereka di Sheikh Haruz, timur laut kota Afrin.

    Baca juga: Operasi Cabang Zaitun: Turki Umumkan Keberhasilan Operasi Militernya di Suriah

Dua tentara yang lain telah terbunuh sebelumnya, kata pihak militer, satu orang di Afrin dan satunya lagi di perbatasan bagian Turki saat penyerangan YPG.

Turki saat ini telah kehilangan 14 tentara dalam pertempuran sengit selama serangan Afrin.

Apa maksud operasi itu?

Yildirim mengatakan untuk kesekian kalinya pada Sabtu (3/2), bahwa tujuan dari Operasi “Cabang Zaitun” tersebut adalah untuk menghapuskan apa yang dia sebut sebagai “sabuk teror” di sepanjang perbatasan Turki.

“Ini adalah operasi yang bertujuan untuk membebaskan kaum Arab, dan kaum Kurdi dan Turkmen, yang telah merintih di bawah penindasan,” katanya kepada anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa.

Pasukan Turki didampingi oleh para  pemberontak pro-Turki dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

Perang Suriah: Turki Alami Hari Paling Mematikan dalam Serangan Afrin

Acara pemakaman untuk masyarakat kurdi yang terbunuh dalam operasi Turki di Afrin. (Foto: AFP)

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Sabtu (3/2), bahwa tentara yang dipimpin oleh Turki telah merebut dataran tinggi dan sekarang sedang menuju ke Kota Afrin, dan mengatakan: “tidak jauh lagi.”

Turki mengatakan bahwa mereka sudah membunuh kurang lebih 900 tentara Kurdi, tetapi hal ini tidak bisa diverifikasi.

Apa yang Dikatakan oleh Laporan Kurdi?

Ribuan masyarakat telah terlantar karena serangan yang dipimpin Turki yang juga melibatkan sekitar 10 ribu pemberontak Suriah.

Seorang petugas kesehatan Kurdi Suriah mengatakan pada Sabtu (3/2), bahwa 150 warga sipil telah terbunuh dan 300 orang terluka sejak dimulainya operasi Turki, tetapi hal ini juga belum bisa diverifikasi.

“Serangan udara dan tembakan meriam Turki sebagian besar menargetkan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak,” kata Angela Rasho kepada TV Kurdi.

Dia mendesak para pengawas internasional untuk “datang dan lihatlah situasinya sendiri”.

Apa Reaksi Masyarakat Internasional?

Negara-negara Barat—termasuk AS dan Prancis—mendesak penahanan diri.

Ribuan masyarakat Kurdi berdemo di depan Dewan Eropa di Strasbourd pada Sabtu (3/2), untuk menentang penyerangan itu.

    Baca juga: Bom-bom Turki Hancurkan Afrin, Warga Sipil: ‘Kami Terpaksa Sembunyi Dalam Gua’

Mereka membawa spanduk bertuliskan “Erdogan pembunuh” dan “Lindungi Afrin”, dan meneriakkan slogan seperti “berdiam diri itu membunuh” di depan Kantor Dewan Eropa.

Salah satu pendemo, Suleyman Akguc, mengatakan pada Agence France-Presse: “Kami ingin menyuarakan kewaspadaan karena masyarakat Kurdi telah berperang melawan ISIS dan sedang dibantai saat ini. Sikap diam dari pemimpin Eropa sangat mematikan.”

Perang Suriah: Turki Alami Hari Paling Mematikan dalam Serangan Afrin

Para pejuang dari kelompok Tentara Pembebasan Suriah berjuang bersama pasukan Turki. (Foto: Reuters)

Demo serupa terjadi di Paris, sekitar dua ribu pendemo bergerak dari Gare de l’Est ke Place de la Republique.
Presiden Erdogan berusaha meyakinkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada Sabtu (3/2), bahwa Turki tidak berusaha untuk merebut wilayah di Suriah Utara.

Dalam sebuah percakapan telepon, dia mengatakan pada Macron bahwa Turki “tidak berminat dengan wilayah negara lain”, dan operasi tersebut “bertujuan untuk membersihkan” Afrin dari “unsur teror”, agensi berita milik pemerintah, Anadolu melaporkan.

Macron membuat gusar pemimpin Turki tersebut pada minggu lalu, saat dia melakukan wawancara dengan sebuah surat kabar, dan mengatakan bahwa Prancis akan mendapat “masalah berat” apabila Turki terlibat dalam sebuah “operasi penyerangan”.

Di saat terpisah, Human Rights Watch pada Sabtu (3/2), menuduh penjaga perbatasan Turki karena menembaki para pengungsi yang mencoba memasuki wilayah Turki dari Suriah.

Seorang pegawai pemerintah menyangkal tuduhan tersebut, dan mengatakan bahwa Turki mempunyai “kebijakan pintu terbuka”.

Turki telah menampung lebih banyak pengungsi Suriah dibandingkan negara lain.

Keterangan foto utama: Turki mengatakan mereka telah mengirim pasukan ke Afrin untuk mengusir para militan Kurdi. (Foto: Getty Images)

Perang Suriah: Turki Alami Hari Paling Mematikan dalam Serangan Afrin

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top