Perang Yaman
Timur Tengah

Perang Yaman: Pemimpin Pemberontak Houthi Bersumpah ‘Tidak Menyerah’

Perang Yaman: Pemimpin Pemberontak Houthi Bersumpah ‘Tidak Menyerah’

Abdel-Malik al-Houthi mengatakan dia tidak akan menyerah ketika pasukan pro-pemerintah maju menuju kota pelabuhan utama. Kelompok pemberontak Houthi semakin tersudut setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melipatgandakan serangan mereka untuk merebut kota Hodeidah. Yaman kini menjadi rumah krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Baca Juga: Apa yang Terjadi dalam ‘Perang yang Terlupakan’ di Yaman

Oleh: Al Jazeera

Kepala pemberontak Houthi di Yaman mengatakan dia “tidak akan pernah menyerah” kepada pasukan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi, ketika pertempuran sengit untuk menguasai kota pelabuhan penting kian memperburuk krisis kemanusiaan.

“Apakah musuh berpikir bahwa menembus daerah ini atau itu, atau merebut daerah ini atau itu, berarti kami akan yakin bahwa kami harus menyerah dan menyerahkan kendali?” tanya Abdel-Malik al-Houthi pada hari Rabu (7/11) di sebuah pidato yang disiarkan televisi. “Hal itu tidak terjadi dan tidak akan pernah terjadi,” katanya, dilansir dari kantor berita AFP.

Hodeidah adalah pelabuhan strategis untuk bantuan kemanusiaan dan merupakan titik masuk bagi lebih dari 70 persen impor ke Yaman, negara termiskin di dunia Arab. Hampir 200 pejuang telah tewas dalam pertempuran sengit di pinggiran Hodeidah yang dikuasai pemberontak sejak pekan lalu, termasuk setidaknya 27 pemberontak Houthi dan 12 pejuang pro-pemerintah dalam 24 jam terakhir.

Para pemberontak Houthi tampaknya mengakui bahwa mereka mulai kalah dalam pertempuran untuk mempertahankan Hodeidah dan menuduh pasukan pro-pemerintah memprovokasi eskalasi kekerasan.

“Musuh mendapat manfaat dari jumlah kekerasan yang semakin meningkat untuk menekan kota Hodeidah,” kata kepala pemberontak Houthi.

Pernyataannya terlontar tak lama setelah pasukan yang didukung Arab Saudi mengatakan mereka telah menggempur posisi pemberontak dengan serangan udara dan serangan darat, dan sekarang mengendalikan jalan utama menuju kota pelabuhan.

Para pejabat militer Yaman dan saksi di kedua sisi garis depan Hodeidah pada hari Rabu (7/11) mengatakan aliansi itu mengamankan sebuah daerah perkotaan di sepanjang 50th Street, yang mengarah ke pelabuhan Laut Merah sekitar 5 kilometer jauhnya. Bentrokan terjadi ketika PBB mendorong untuk memulai kembali perundingan antara pihak yang bertikai, setelah pembicaraan bulan September 2018 di Jenewa runtuh, bahkan sebelum negosiasi dimulai.

Pekan lalu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menuntut “segera” menghentikan pertempuran, memperingatkan bahwa negara itu berdiri di “jurang” dan dapat menghadapi “kelaparan terburuk” di dunia selama beberapa dekade terakhir jika kekerasan terus berlanjut.

Konflik di Yaman dimulai dengan pengambilalihan ibukota Sana’a di tahun 2014 oleh Houthi, yang menggulingkan pemerintahan Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Pasukan koalisi, yang meliputi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dan didukung oleh Amerika Serikat, melakukan intervensi pada tahun 2015 untuk kembali menempatkan pemerintah Hadi. Bulan Juni 2018, koalisi meluncurkan serangan baru untuk merebut kembali Hodeidah, yang dikuasai oleh Houthi sejak 2014.

Baca Juga: Houthi Yaman: Tawaran Ali Abdullah Saleh ke Saudi ‘adalah Sebuah Kudeta’

‘Krisis kemanusiaan’

Yaman kini menjadi rumah bagi krisis kemanusiaan terburuk di dunia, yang telah menewaskan sedikitnya 10 ribu orang sejak tahun 2015, menurut PBB. Namun, jumlah korban tewas belum diperbarui dalam beberapa tahun dan kemungkinan akan meningkat jauh.

Proyek Data Peristiwa dan Lokasi Konflik Bersenjata, sebuah lembaga pengawas independen, baru-baru ini mengatakan sekitar 56 ribu warga Yaman tewas dalam kekerasan itu.

Pada hari Selasa (6/11), UNICEF mengatakan pertempuran untuk Hodeidah menyebabkan “kehidupan 59 anak, termasuk 25 anak di unit perawatan intensif, pada risiko kematian.”

Komite Palang Merah Internasional pada hari Rabu (7/11) meminta partai-partai yang bertikai untuk “menyelamatkan warga sipil dan infrastruktur sipil” termasuk ambulans, rumah sakit, listrik, dan sistem pengolahan air bersih.

Keterangan foto utama: Api terlihat di dekat puing-puing sebuah mobil yang dilaporkan hancur dalam serangan udara di kota pelabuhan Hodeidah. (Foto: AP/Abdo Hyder)

Perang Yaman: Pemimpin Pemberontak Houthi Bersumpah ‘Tidak Menyerah’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top