Sejumlah buruh menggelar aksi Hari Buruh Internasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, 1 Mei 2018. (Foto: Antara Foto/Rivan Awal Lingga)
Berita Politik Indonesia

Perayaan dan Demonstrasi: Hari Buruh Internasional di Indonesia

Sejumlah buruh menggelar aksi Hari Buruh Internasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, 1 Mei 2018. (Foto: Antara Foto/Rivan Awal Lingga)
Home » Berita Politik Indonesia » Perayaan dan Demonstrasi: Hari Buruh Internasional di Indonesia

Diperkirakan sebanyak tiga juta pekerja Indonesia turun ke jalan, di seluruh negeri, untuk berdemonstrasi hari itu. KSPI mengatakan bahwa mereka mengorganisir demonstrasi di 200 kabupaten dan kota di 25 provinsi, dengan partisipasi sekitar satu juta pekerja.

    Baca Juga : Tak Akan Dihentikan, Hukuman Cambuk di Aceh Akan Dilakukan Tertutup

Oleh: Indonesia Investment

Demonstrasi, yang damai, diselenggarakan oleh beberapa serikat buruh termasuk Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).

Diperkirakan sebanyak tiga juta pekerja Indonesia turun ke jalan, di seluruh negeri, untuk berdemonstrasi hari itu. KSPI mengatakan bahwa mereka mengorganisir demonstrasi di 200 kabupaten dan kota di 25 provinsi, dengan partisipasi sekitar satu juta pekerja.

Intinya, ada tiga hal penting yang menjadi inti dari demonstrasi tersebut:

(1) pemerintah didesak untuk meningkatkan subsidi (dengan demikian menurunkan harga beras, listrik, bahan bakar dan juga perumahan dan pendidikan),

(2) pemerintah didesak untuk menentang pekerja berketerampilan rendah (atau tidak terampil) dari China,

(3) pemerintah didesak untuk menentang upah yang rendah.

Selain masalah utama yang disebutkan di atas, serikat pekerja juga mengkritik pemerintah atas program “masyarakat tanpa uang tunai” karena program ini menimbulkan PHK di beberapa industri seperti jalan tol, perbankan, ritel dan industri otomotif.

Sementara itu, ada juga ratusan aktivis hak-hak perempuan yang mendesak pemerintah untuk melakukan lebih banyak upaya untuk menghentikan diskriminasi, ketidaksetaraan gender, serta kekerasan (termasuk pelecehan seksual) terhadap perempuan di masyarakat Indonesia (terutama di tempat kerja).

Pengunjuk Rasa Mendesak Pemerintah untuk Meningkatkan Subsidi

Selama masa kepresidenan Joko Widodo, pemerintah dengan bersemangat telah memangkas belanja subsidi dan mengalihkan dana yang tersedia ke ekonomi struktural (terutama pada infrastruktur) dan pembangunan sosial. Meskipun kebijakan pemerintah tersebut memperkuat ekonomi makro Indonesia, tetapi berdampak negatif bagi para pekerja karena mereka dilanda oleh tekanan inflasi, dan menyebabkan berkurangnya daya beli mereka.

Isu/Berita Palsu Pekerja Asing Tidak Terampil di Indonesia

Kedua, ada banyak protes terhadap Peraturan Presiden No. 20/2018 tentang Penggunaan Tenaga Asing di Indonesia. Peraturan ini memudahkan para pekerja asing terampil untuk masuk dan bekerja di Indonesia. Namun, pekerja Indonesia khawatir bahwa meningkatnya jumlah pekerja asing di Indonesia juga akan berarti bahwa pekerjaan mereka akan diambil alih oleh orang asing.

Memang benar bahwa jumlah pekerja asing terampil sedang meningkat di Indonesia karena investasi asing langsung (FDI) terus meningkat. Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan FDI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta membuka lapangan kerja baru bagi penduduk setempat. Namun—meskipun data antara berbagai lembaga pemerintah bervariasi­­—jumlah pekerja asing di Indonesia relatif rendah, dan dengan demikian cerita tentang berlimpahnya pekerja tidak terampil China hanyalah berita palsu (dirancang untuk motif politik).

Para pengunjuk rasa berpendapat bahwa Peraturan Presiden No. 20/2018 bertentangan dengan UUD 1945 negara, dan juga bertentangan dengan aspirasi rakyat Indonesia. Sementara itu, pengunjuk rasa juga menentang peraturan presiden tahun 2016 yang memberikan akses visa bebas ke warga dari banyak negara (strategi untuk meningkatkan kedatangan turis asing di Indonesia). Namun, peraturan ini memudahkan orang asing masuk ke Indonesia dan bekerja secara ilegal. Ini memang masalah. Baru-baru ini, ada beberapa laporan mengenai pekerja asing tidak terampil ilegal di Indonesia.

Isu tentang Upah Minimum Rendah

Pada akhir tahun 2015, Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah no. 78/2015 tentang Upah. Salah satu bagian dari peraturan ini adalah batas atas pertumbuhan upah minimum. Pada tahun-tahun sebelum peraturan tersebut, upah minimum telah berkembang pesat di beberapa provinsi (menyentuh angka dua digit). Ini membuat iklim investasi tidak menarik dan oleh karena itu beberapa perusahaan (misalnya perusahaan alas kaki) memutuskan untuk merelokasi pabrik mereka ke bagian lain di Asia Tenggara untuk menikmati upah minimum yang lebih rendah. Relokasi pabrik berarti ratusan atau ribu pekerja kehilangan pekerjaannya.

    Baca Juga : Indonesia dan Ancaman Ekstremisme Kekerasan

Peningkatan upah minimum yang tajam di Indonesia menjadi perhatian besar bagi investor (baik yang ada maupun yang berpotensi di masa depan) dan menyebabkan tingkat ketidakpastian keuangan yang tinggi. Oleh karena itu, sebuah formula diperkenalkan untuk membatasi pertumbuhan upah minimum (tingkat inflasi tahunan + tingkat pertumbuhan PDB tahunan menjadi atas tertinggi).

Politisasi Hari Buruh Internasional

Meskipun tidak diizinkan oleh peraturan (karena periode kampanye akan dimulai akhir tahun ini), calon presiden Prabowo Subianto menggunakan hari buruh untuk kampanye kepresidenannya, menjanjikan dia akan melakukan 10 langkah untuk meningkatkan kehidupan para pekerja jika dia akan dipilih sebagai presiden untuk periode 2019-2024. Said Iqbal, Ketua KSPI, mengatakan bahwa persatuannya akan mendukung Prabowo dalam pemilihan 2019.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Sejumlah buruh menggelar aksi Hari Buruh Internasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, 1 Mei 2018. (Foto: Antara Foto/Rivan Awal Lingga)

Perayaan dan Demonstrasi: Hari Buruh Internasional di Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top