Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum
Berita Politik Indonesia

Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Berita Internasional >> Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Pelecehan seksual di tempat umum sudah bukan hal yang asing lagi di Indonesia. Para aktivis di Indonesia memperkirakan bahwa jutaan insiden pelecehan di tempat umum tidak dilaporkan setiap tahunnya. Sejumlah kelompok aktivis dan relawan pun menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan: mengungkap masalah yang telah lama terjadi terkait pelecehan di jalan, trotoar, kereta, dan bus, di seluruh Indonesia.

Oleh: Joe Cochrane (The New York Times)

Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Tunggal Pawestri, yang pernah mengalami pelecehan seksual di bus umum saat berusia 14 tahun, bekerja untuk sebuah organisasi perempuan. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

JAKARTA, Indonesia—Tunggal Pawestri mengatakan bahwa ia tidak akan pernah melupakan ketika ia diraba-raba di sebuah bus umum dalam perjalanan menuju sekolahnya di Jakarta, yang merupakan ibu kota Indonesia, ketika ia berusia 14 tahun.

Walau Tunggal telah terbiasa menahan pelecehan sehari-hari dalam perjalanan pulang dan menuju sekolahnya—sebagian besar dengan ujaran godaan (catcall) atau pandangan dan komentar yang berbau seksual—namun ketika seorang pria tiba-tiba mulai bergerak-gerak di belakangnya, ia mengatakan, “saya membeku.”

“Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan—saya bahkan tidak tahu kalau saya seharusnya berteriak,” ujar Tunggal, yang saat ini bekerja untuk sebuah organisasi perempuan.

Dua dekade setelah saat-saat kelam tersebut, sejumlah kelompok aktivis dan relawan seperti Tunggal mulai menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan: mengungkap masalah yang telah lama terjadi terkait pelecehan di jalan, trotoar, kereta, dan bus, di seluruh Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia.

“Ini adalah sebuah wabah, dan sayangnya, saat ini, Indonesia tidak memiliki perlindungan hukum tentang pelecehan seksual,” ujar Yuniyanti Chuzaifah, Wakil Ketua Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan, yang mengatakan bahwa ia pernah diraba-raba setelah ia tertidur di sebuah bus umum.

Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Pawestri memeriksa aplikasi Hollaback, untuk melaporkan pelecehan di tempat umum. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

“Perempuan harus berani untuk melaporkannya, dan polisi di sini tidak ramah terhadap korban,” ujarnya. “Terdapat banyak yang menyalahkan korban, seakan itu adalah salah korban.”

Menurut Komisi Perempuan tersebut, hanya 268 pelecehan seksual di tempat umum yang dilaporkan pada tahun lalu kepada polisi, organisasi non-pemerintah, atau komisi itu sendiri, di seluruh Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 260 juta orang.

Padahal, lebih dari 200 wanita di wilayah Jakarta saja, mengunggah melalui akun mereka dalam 12 bulan terakhir—baik menggunakan nama mereka atau anonim—mengenai pelecehan atau perabaan di jalan atau transportasi publik, ke situs Indonesia Hollaback, yang merupakan inisiatif internasional melawan pelecehan di tempat umum.

“Saya merasa bahwa pelecehan di tempat umum sudah menjadi hal yang normal dalam masyarakat kami,” ujar Anindya Restuviani, koordinator Feminist Festival Indonesia, yang mengelola acara-acara terkait masalah perempuan, termasuk pelecehan.

Para aktivis di Indonesia memperkirakan bahwa jutaan insiden pelecehan di tempat umum tidak dilaporkan setiap tahunnya.

“Kami yakin masalah ini hanya dilihat dari yang ada di permukaan,” ujar Angie Kilbane, seorang guru Sekolah Menengah Atas Amerika di Jakarta, dan ketua Hollaback cabang Jakarta, merujuk pada ratusan unggahan di situs tersebut.

Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Gerbong kereta khusus perempuan di Jakarta. Gerbong-gerbong ini diperkenalkan pada tahun 2010, untuk mencegah pelecehan seksual di kereta. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Kepolisian Republik Indonesia tidak membalas beberapa permintaan untuk memberikan data resmi terkait kasus-kasus pelecehan di tempat-tempat umum. Untuk mencegah pelecehan seksual di tempat umum, pemerintah telah menyediakan gerbong khusus wanita di kereta komuter, dan ruang yang disediakan khusus penumpang wanita di bus-bus umum, namun para aktivis mengatakan bahwa harus terdapat tindakan lebih—baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Kilbane, yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 10 tahun, mengatakan bahwa ia terlibat dalam memberantas pelecehan, setelah seorang pengendara sepeda motor berkendara di sebelahnya ketika Kilbane sedang bersepeda, memegang payudara sebelah kanannya dan berkata, “Hai, sayang”, sebelum pengendara tersebut pergi.

Cabang yang dipimpin Kilbane mengelola diskusi dan seminar tentang pelecehan seksual, dan melakukan pelatihan perlindungan diri dan menyerang pihak lawan. Namun tetap saja, katanya, “saya tidak lagi bersepeda ke tempat kerja.”

Seorang mahasiswi berusia 19 tahun di Universitas Indonesia—yang meminta agar namanya tidak disebutkan karena ia takut secara terbuka menghadapi penyerangnya—telah secara anonim mengunggah dua cerita mengenai pelecehan di situs Hollaback Jakarta, yang salah satunya mengenai pelecehan yang dilakukan dua kali oleh seorang rekan keluarga dekat, ketika ia berada di Sekolah Dasar, dan cerita lainnya mengenai catcall yang baru-baru ini terjadi di jalan.

Walau pun ia mengatakan bahwa ia ingin membagi ceritanya dengan kelompoknya, ia tidak pernah mengatakannya kepada orang tuanya mengenai apa yang terjadi, namun harus memperingatkan adik perempuannya yang berusia 14 tahun, mengenai masalah ini. Ia mengatakan bahwa masalah ini masih dianggap tabu di Indonesia, dan ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya kepada mereka.

Pada tahun 2014, Kate Walton, seorang aktivis Australia dan penulis yang berbasis di Jakarta, memulai sebuah kelompok diskusi online setelah mengalami pelecehan di tempat umum yang terjadi hampir setiap hari. Ia juga pernah diraba-raba.

Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Anindya Restuviani, yang mengelola acara-acara terkait masalah perempuan, mengatakan bahwa pelecehan di tempat umum telah menjadi sesuatu yang “normal”. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Pada bulan Januari, ia melakukan sebuah penelitian untuk mengukur skala masalah ini, dengan berjalan dari rumahnya di Jakarta Selatan ke sebuah pusat perbelanjaan yang berjarak sekitar empat kilometer. Ia dilecehkan 13 kali dalam 35 menit, dan mengunggah di Twitternya setiap insiden pelecehan tersebut terjadi.

Kelompok diskusi Walton memiliki lebih dari dua ribu anggota Indonesia dan ekspatriat, dan cerita-cerita pelecehan di jalan adalah topik rutin dalam percakapan mereka.

“Semakin banyak cerita yang dilihat orang, semakin berani mereka untuk bertindak,” ujarnya, menyampaikan kemarahan atas apa yang selama ini ditahan-tahan oleh perempuan Indonesia di tempat-tempat umum. “Hal ini semakin bertambah karena terjadi setiap hari. Sangat melelahkan.”

Sebuah laporan tahun 2014 oleh Thomson Reuters Foundation menemukan bahwa Jakarta memiliki sistem transportasi umum paling berbahaya bagi perempuan kelima di dunia, dan kedua terburuk di Asia setelah New Delhi.

Wulan Danoekoesoemo, seorang psikolog klinik dan salah satu pendiri Lentera Sintas Indonesia—yang melakukan pembimbingan dengan korban kekerasan seksual—mengatakan bahwa masalah pelecehan di jalan di negara tersebut berasal dari masyarakat yang patriarki, dimana pria secara tradisional memiliki wewenang atas perempuan.

Anak laki-laki remaja, ujar para aktivis, melakukan pelecehan terhadap wanita di jalan-jalan di Indonesia, sama seringnya seperti pria dewasa.

“Mereka melihat teman sebayanya yang menggoda atau berbicara tidak pantas kepada perempuan, dan tidak ada konsekuensinya,” ujar Wulan, dimana organisasinya telah melakukan kampanye edukasi di 78 sekolah di Jakarta, berharap akan mengubah generasi selanjutnya.

“Ini telah menjadi sesuatu yang sangat biasa. Dan bagi anak laki-laki, ini adalah salah satu cara untuk membuktikan bahwa anda macho, dan bahwa anda pintar menggoda, yang tentu saja sebenarnya mereka tidak seperti itu,” ujarnya.

 

Perempuan Indonesia Harus Mulai Lawan ‘Wabah’ Pelecehan Seksual di Tempat Umum

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top