Perjanjian Dagang
Global

Perjanjian Dagang yang China Mau Tak Hanya Buruk, tapi Juga Ilegal

Berita Internasional >> Perjanjian Dagang yang China Mau Tak Hanya Buruk, tapi Juga Ilegal

Dalam pembicaraan terbaru, negosiator China menawarkan untuk menghilangkan surplus perdagangan bilateral dengan membeli USS1 triliun barang-barang Amerika Serikat. Membeli barang-barang senilai $1 triliun dari AS mungkin terdengar seperti tawaran yang menarik, tetapi bisa membuat China terkena miliaran penalti. Perjanjian dagang itu bisa melanggar peraturan dagang dari WTO.

Baca juga: Tindakan Penyeimbangan China: Ekonomi Melambat, Utang, dan Perang Dagang

Oleh: James Bacchus (Bloomberg)

Dalam pembicaraan awal bulan ini, para negosiator China dilaporkan menawarkan untuk menghilangkan surplus perdagangan bilateral negara mereka dengan Amerika Serikat dengan membeli $1 triliun barang-barang Amerika selama beberapa tahun ke depan. Tidak jelas apakah mereka serius mengenai hal ini, atau apakah produsen Amerika Serikat dapat memenuhi permintaan tambahan. Namun, masalah terbesar dari transaksi tersebut adalah kemungkinan bahwa transaksi tersebut ilegal.

Karena China dan Amerika Serikat (AS) adalah anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mereka masing-masing memiliki kewajiban hukum berdasarkan perjanjian WTO untuk tidak memihak pada produk impor dari satu anggota WTO dibandingkan impor dari anggota WTO lainnya. Ini adalah aturan nondiskriminasi—salah satu dasar dari sistem perdagangan dunia berbasis aturan. Setiap keuntungan perdagangan yang diberikan kepada negara tertentu harus diperluas dan tanpa syarat ke semua anggota WTO lainnya.

Perundingan AS-China dilaporkan masih terjebak pada masalah yang lebih sulit: restrukturisasi ekonomi China agar lebih berorientasi pasar dan mencegah pencurian dan pemindahan paksa kekayaan intelektual. Perjanjian yang mengatasi tantangan-tantangan itu kemungkinan besar tidak akan menghadirkan masalah yang terkait dengan WTO. Agaknya, setiap restrukturisasi oleh China atas subsidi, persyaratan perizinan perdagangan, dan pembatasan akses pasar lainnya akan dilakukan dengan cara yang akan menguntungkan semua anggota WTO, bukan hanya AS.

Namun, setiap perjanjian yang semata-mata menguntungkan produk dan produsen Amerika melalui transaksi tertentu di sektor perdagangan tertentu dapat melanggar perjanjian WTO. Misalnya, janji China untuk meningkatkan impor kedelai dari AS kemungkinan besar tidak akan melibatkan peningkatan jumlah total impor kedelai China atau memaksa China untuk mengonsumsi lebih banyak kedelai. Sebaliknya, importir hanya akan mengalihkan pembelian mereka dari negara lain—misal, Brasil—ke AS.

                      Seberapa banyak China bisa membeli?

Seberapa banyak yang bisa China beli? Impor kedelai AS meroket sampai akhir-akhir ini (Sumber: Bloomberg)

Perjanjian seperti itu akan memberi kedelai AS keuntungan perdagangan atas kedelai Brasil dan dengan demikian akan menjadi pelanggaran aturan nondiskriminasi oleh China. Brasil, mungkin bersama dengan negara-negara pengekspor kedelai lainnya, pasti akan mengambil tindakan hukum terhadap China di WTO—dan akan memenangkan tuntutan itu. China akan berhadapan dengan pilihan untuk mengingkari perjanjiannya dengan AS atau menghadapi sanksi perdagangan yang disahkan WTO.

Baca juga: Trump dan Xi Sepakati Gencatan Sementara untuk Batasi Perang Dagang

Di bawah sanksi WTO, China akan kehilangan keuntungan ekonomi yang sebelumnya diberikan Brasil dan negara-negara lain yang mengelilinginya di bawah perjanjian WTO, di sektor lain dari perdagangan mereka dengan China. Sanksi seperti itu telah sering diberlakukan dalam sistem perdagangan berbasis WTO dan dapat merugikan hingga miliaran dolar dalam perdagangan setiap tahunnya.

Apakah China benar-benar bersedia menghadapi konsekuensi seperti itu demi mencoba menenangkan Presiden AS Donald Trump? Akan jauh lebih baik bagi para pemimpin di Beijing dan Washington, DC untuk tidak terlalu fokus pada hasil transaksional dan keuntungan sementara untuk AS, namun lebih fokus pada masalah di jantung konfrontasi mereka: kedua negara melakukan diskriminasi secara tidak adil terhadap impor masing-masing dalam hubungan perdagangan yang vital, tidak hanya bagi mereka tapi juga seluruh dunia.

 

Keterangan foto utama: Membeli lebih banyak kedelai AS akan menyusutkan impor China dari negara lain. (Foto: Bloomberg/Daniel Acker)

Perjanjian Dagang yang China Mau Tak Hanya Buruk, tapi Juga Ilegal

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top