Pembangunan di Papua
Berita Politik Indonesia

Pertempuran TNI dan Separatis Papua, Ratusan Penduduk Desa Lari ke Hutan

Berita Internasional >> Pertempuran TNI dan Separatis Papua, Ratusan Penduduk Desa Lari ke Hutan

Ratusan penduduk desa di Papua terpaksa melarikan diri dan bersembunyi di hutan. Mereka mengkhawatirkan keselamatan seiring pecahnya pertempuran antara pasukan keamanan Indonesia dan kelompok separatis Papua. Pihak militer Indonesia telah berusaha meyakinkan warga bahwa aman bagi mereka untuk kembali ke rumah.

Baca juga: Militer Indonesia Akan Ambil Alih Pembangunan di Papua

Oleh: Reuters

Setidaknya 300 penduduk desa bersembunyi dalam salah satu hutan di provinsi Papua, Indonesia, pada hari Jumat (14/12). Mereka melarikan diri dari pertempuran yang pecah antara tentara Indonesia (TNI) dengan para separatis Papua yang telah membunuh sekelompok pekerja yang sedang membangun jembatan di area tersebut bulan ini.

Mereka kedinginan dan kelaparan setelah berada 11 hari di dalam hutan, ujar Pastor Benny Giay, kepala dari Gereja Kemah Injil Papua, kepada Reuters melalui telepon.

“Mereka berlindung tepat di atas lereng Puncak Trikora,” ujarnya, mengacu pada gunung setinggi 4.750 meter di area Nduga.

Pasukan keamanan Indonesia tengah memburu sayap militer dari Organisasi Pembebasan Papua (OPM), yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan setidaknya 16 pekerja dan seorang tentara di area Nduga bulan ini.

Pihak militer mengatakan dalam sebuah pernyataan, mereka sedang berusaha meyakinkan warga untuk kembali ke rumah mereka dan menjanjikan pasukan keamanan tidak akan menembak ke arah mereka.

“Kami, tentara Indonesia, akan melindungi masyarakat. Kami semua bersaudara, anak-anak Tuhan. Bahkan untuk Organisasi Pembebasan Papua, jika mereka mau menyerah, kami akan memaafkan mereka,” ujar komandan angkatan darat lokal Kolonel Jonathan Binsar Sianipar.

Para pemberontak telah menolak seruan untuk menyerah dan meminta dilakukannya referendum untuk menentukan masa depan area kaya sumber daya alam yang terus dihantui konflik. Papua telah diinkorporasikan dengan Indonesia setelah referendum kontroversial yang didukung oleh PBB pada tahun 1969.

OPM telah mengatakan, mereka menganggap para pekerja sebagai anggota militer dan korban dalam perang melawan pemerintah. Jakarta mengatakan, para pekerja itu adalah penduduk sipil yang bekerja untuk  proyek jalan Trans Papua untuk mengembangkan keterhubungan di provinsi miskin itu.

Baca juga: Baku Tembak Militer dan Separatis Papua Persulit Pengambilan Jenazah Pekerja

Pastor Giay mendesar pemerintah untuk menunda konstruksi pada proyek itu yang telah meningkatkan ketegangan di Papua.

“Saya meminta agar pekerjaan konstruksi proyek jalan nasional agar secara umum dihentikan, sebelum trauma yang telah diciptakan oleh negara ini muncul kembali,” ujarnya.

Pastor Protestan itu mengatakan, dia takut akan terjadi pengulangan dari operasi 1996 di mana penduduk sipil, termasuk anak-anak, terbunuh ketika pasukan keamanan menyerang pemberontak yang menawan sandera warga Indonesia dan asing.

Presiden Joko Widodo telah berikrar untuk melanjutkan pembangunan jalan itu. Sejak menjabat pada tahun 2014, Presiden Jokowi telah berusaha untuk mengurangi ketegangan di Papua dengan membebaskan tawanan, menjawab beberapa permasalahan hak asasi manusia dan meningkatkan investasi.

Dilaporkan oleh Agustinus Beo Da Costa; Ditulis oleh gayatri Suroyo; Disunting oleh Ed Davies dan Darren Schuettler.

Keterangan foto utama: Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat di Nduga. (Foto: TPNPB)

Pertempuran TNI dan Separatis Papua, Ratusan Penduduk Desa Lari ke Hutan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top