Perjanjian Iklim Paris
Global

Perubahan Iklim: ‘Efek Trump’ Ancam Perjanjian Iklim Paris

Berita Internasional >> Perubahan Iklim: ‘Efek Trump’ Ancam Perjanjian Iklim Paris

Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang tidak ikut dalam Perjanjian Iklim Paris, setelah Donald Trump menarik negaranya itu keluar tak lama setelah ia menjabat. Sekarang, analis menemukan, tindakan Trump tersebut menimbulkan ancaman dalam upaya global mengatasi perubahan iklim. Laporan baru dari Institute of International and European Affairs (IIEA), menunjukkan bahwa kata-kata dan tindakan Presiden Trump menyebabkan “kerusakan sangat nyata” pada Perjanjian Paris.

Baca Juga: Mengapa Trump dikatakan pintar untuk menunda pakta iklim Paris

Oleh: Matt McGrath (BBC)

Kata-kata dan tindakan Presiden Donald Trump membatasi upaya global untuk memangkas karbon, menurut sebuah penelitian baru. Analisis tersebut mengatakan bahwa penarikan Amerika Serikat (AS) dari Perjanjian Iklim Paris telah menciptakan alasan politik bagi pihak lain untuk melambatkan komitmen mereka.

Penulisnya mengatakan bahwa dunia sedang menyangkal tentang dampak sesungguhnya dari Presiden Trump. Studi ini dilakukan seiring para delegasi memulai pembicaraan dua minggu di PBB tentang masa depan Perjanjian Paris.

Presiden Trump telah membenarkan penarikan negaranya keluar dari perjanjian iklim penting tersebut, dengan menegaskan bahwa ia terpilih untuk melayani warga Pittsburgh dan bukan Paris.

Namun, para pemimpin internasional lainnya berjanji bahwa tidak akan ada jalan mundur, dan bahwa penarikan Amerika Serikat akan membangkitkan upaya untuk mengurangi karbon.

Rasa persatuan itu digarisbawahi pada November 2017, ketika Suriah menandatangani Perjanjian Paris, meninggalkan AS sendirian di dunia sebagai satu-satunya negara yang menolak kesepakatan itu.

Tetapi laporan baru ini dari Institute of International and European Affairs (IIEA), menunjukkan bahwa kata-kata dan tindakan Presiden Trump menyebabkan “kerusakan sangat nyata” pada Perjanjian Paris.

Penulisnya menguraikan tiga bidang utama di mana efek Trump memiliki dampak.

Di bawah Presiden Trump, peraturan lingkungan federal AS tentang minyak, gas, dan batubara telah dibatalkan dan, sebagai akibatnya, beberapa proyek bahan bakar fosil yang paling kotor telah menjadi lebih menarik bagi para investor.

Niat baik rusak

Penulisnya mengatakan bahwa penarikan diri AS dari Perjanjian Paris telah menciptakan “alasan moral dan politik bagi pihak lain untuk mengikuti Trump”, mengutip contoh Rusia dan Turki—yang keduanya menolak untuk meratifikasi Kesepakatan Paris.

Penarikan AS juga “sangat merusak niat baik pada perundingan internasional”—sesuatu yang sangat penting bagi kemajuan perundingan ini di Polandia.

Ketika berbicara tentang bahan bakar fosil, penulisnya mengutip contoh investasi di sektor batubara oleh 36 bank AS, yang melihat penurunan 38 persen pada tahun 2016 setelah Perjanjian Paris ditandatangani, tetapi meningkat sebesar 6 persen pada tahun 2017 setelah Presiden Trump disumpah.

“Ini bukan kebetulan, ada sesuatu yang mendukung tren ini dan itu adalah sinyal politik,” kata Joseph Curtin, seorang rekan pengamat senior di IIEA.

“Perjanjian Paris membuat khawatir para investor institusional secara global, dan membuat mereka mempertanyakan apakah mereka terkena aset terdampar dan apakah para pemimpin politik ini benar-benar serius tentang perubahan iklim.”

Dukungan Presiden Trump untuk industri batubara dijadikan sebagai janji kunci dalam kampanye pemilunya. (Foto: Getty Images)

“Sama sekali tidak ada keraguan bahwa efek Trump telah menciptakan rasa ketidakpastian dalam hal komitmen politik, untuk mencapai target dua derajat celcius.”

Peralihan ke investasi batubara dan minyak telah merugikan investasi energi terbarukan di AS, dan ini telah memiliki efek domino global, kata penulis itu.

Baca Juga: Mengapa keputusan Trump untuk meninggalkan kesepakatan Paris menyakiti AS dan dunia

Di bidang politik, Rusia, Turki, Australia, dan Brasil semuanya menyebut contoh dari Presiden Trump sebagai alasan untuk membatasi tindakan mereka terhadap perubahan iklim. Rusia dan Turki mengatakan bahwa mereka tidak akan meratifikasi perjanjian itu.

Presiden Brasil yang baru terpilih, Jair Bolsonaro, telah mengirim pesan yang membingungkan tentang perubahan iklim. Namun dalam beberapa hari terakhir, pemerintahnya telah mengesampingkan penyelenggaraan konferensi iklim utama tahun depan.

Dampak dari pemerintah populis pada agenda perubahan iklim, juga disorot oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, berbicara baru-baru ini kepada BBC.

“Jelas bagi saya bahwa dunia lebih terpolarisasi, kami memiliki lebih banyak pendekatan nasionalis yang populer dan memenangkan pemilu atau memiliki hasil pemilu yang kuat,” katanya.

“Kami melihat bahwa kepercayaan antara opini publik dan lembaga-lembaga dan juga organisasi internasional mulai terkikis, dan ini telah menyebabkan, menurut saya, kurangnya kemauan politik yang diperlukan.”

Suasana suram

Walau Uni Eropa, China, dan India telah berjanji untuk mengambil langkah yang lebih ambisius untuk mendukung perjanjian Paris, namun penulis studi Joseph Curtin yakin mereka akan enggan mengambil langkah-langkah besar tanpa partisipasi AS.

“Tidak mungkin pemain besar itu akan meningkatkan ambisi mereka tanpa semacam quid pro quo dari AS,” katanya kepada BBC News.

“Kemungkinan bahwa mereka akan memberikan janji yang lebih ambisius dalam jangka pendek tentu telah rusak.”

Namun, beberapa dari mereka yang terlibat dalam proses iklim PBB berpendapat bahwa fokus pada dampak Trump adalah keliru.

“Ini bukan hanya tentang pemimpin politik di Brasil dan AS,” kata Achim Steiner, yang mengepalai Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Dunia memiliki tujuh miliar orang dan lebih dari 190 negara, jadi itu bukan keseluruhan cerita—ada kepemimpinan yang luar biasa dalam masalah ini oleh India dan China, negara-negara yang 10 tahun lalu dikecam karena tidak bertindak terhadap perubahan iklim.”

Penulis studi baru tersebut mengatakan bahwa kesepakatan Paris akan bertahan dalam jangka pendek.

“Tetapi dalam jangka panjang, tanpa dukungan AS, kesepakatan Paris pada akhirnya tidak akan efektif dan kita harus jujur tentang itu.”

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump. (Foto: Getty Images)

Perubahan Iklim: ‘Efek Trump’ Ancam Perjanjian Iklim Paris

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top